Translate

Jumat, 04 Januari 2013

Pelajaran Menggambar,Apresiasi,dan Aktualisasi Diri

Perahu,Karya Hidayat Raharja, 1994.
Pelajaran menggambar adalah mata pelajaran yang amat menyenangkan bagiku. Aku merasa senang karena guru gambarku ketika masih Sekolah Dasar amat menghargai karya siswa apapu bentuknya.Aku mamahami kalau kegaiatan menggambar baginya bukan menjadikan anak-didiknya menjadi seorang pelukis atau semacamnya, tetapi menjadikannya sebuah pelajaran untuk mengeksplorasi keberanian mengungkapkan melalui media gambar. Setiap gambar baginya adalah bagus, sehingga tidak ada anak merasa takut untuk menggambar. Jadilah aneka macam gambar dengan anekamacam cerita.
Setelah selesai menggambar, guruku akan menyuruh setiap anak untuk menceritakan gambar yang telah dibuatnya. Suasana kelas jadi riuh dengan berbagai cerita,dan kadang ceritanya mengalahkan keindahan gambar yang telah dibuatnya. Jadilah aku senang menggambar, kadang “ngeblat“ gambar yang kusukai dengan cara mengunakan minyak tanah yang dioleskan kepermuakaan kertas sehingga tembus pandang dan gambar yang akan ditiru ditaruh di bawah kertas yang telah transparan.
Aku menyadari kalau pada saat itu kegiatan menggambar adalah kegiatan belajar yang benar-benar penuh dengan kegiatan kreatif dan rekreatif. Kegiatan kreatif, karena kami bersama teman-teman diajak untuk menggunakan (menaklukkan) bahan yang ada. Papan tulis bisa kami gunakan media menggambar secara bergantian. Kertas yang warnanya kekuningan dengan kualitas yang amat buruk produksi kertas “Letjes”. Pada saat itu merupakan media yang amat mewah. Kadang aku menggambar di permukaan tanah sembari bercerita mengenai apa yang aku gambar. Menggambar menjadi kegiatan rekretaif, karena yang dituntut bukan hasil bagus atau jelek, tetapi bagaimana aku dan teman-teman berproses dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan yang telah dibuat.
Kadang aku dan teman-teman menirukan gambar yang ada lembaran kertas yang dijual di halaman sekolah.kertas bergambar petinju Mohammad Ali yang bertarung dengan Ken Norton.Kertas tersebut merekam gambar pertarungan selama dua belas ronde dan menjadi bahan mainan yang menarik bagi teman spermainanku karen masih sangat jarang televisi di kampungku.
Tak kalah menariknya ketika pelajaran menggambar tiba, guru kami sering menyuruh kami untuk menggambar di luar kelas.Gambar anak-anak yang tengah bermain di halaman sekolah, gambar penjual  makanan dan minuman yang ada di samping gedung sekolah, atau gambar perbukitan yang ada di sebelah selatan gedung sekolah dengan anekapohon buah yang memenuhi lereng bukit. Kalau menggambar pemandangan temanku Sawir, jagonya. Teapi kalau menceritakan hasil gambar, Raheman jagonya. Aku sendiri hanya senang menggambar, menirukan gambar yang sudah ada.
Ketika menggambar, aku seperti menemukan ruang baru untuk menembus batas kejenuhan dan menemukan ruang baru untuk menumpahkan segala yang mengganjal dalam pikiranku. Saking senangnya kadang smapai di rumah gambar-menggambar mengisi di antara waktu belajar. Karenanya, aku kadang dimarahi ayahku.
Aku bayangkan kelak akan menjadi pelukis. Tetapi, selalu dinasehati ayahku untuk tidak menjadi pelukis, karena pelukis hidupnya tak jelas. Ya, di lingkungan tempat aku tinggal tak ada pelukis. Kakekku melukis kaligrafi diatas kaca (lukisan kaca) hanya menjadikan aktivitas tersebut sebagai hobi untuk mengisi waktu luang di antara kesibukannya sebgai pegawai pengairan. Tetapi aku membayangkan, betapa enaknya menjadi pelukis, bebas mengekspresikan ide kedalam bentuk dan warna, memajang karyanya, ditonton orang, dikerubuti media massa dan di kenal orang. Keinginan itu selalu ada dan selalu menghentak jantungku sesekali waktu.
Keinginanku untuk bisa menggambar kian menggebu ketika melihat kepala sekolahku – Bapak Abdullah Fagi menggambar candi Brobudur dan Prambanan dengan mempergunakan alat gambar dan tinta hitam. Lukisan hitam-putih di atas kertas karton, kemudian dipigora dengan bilahan bambu dan dengan cantelan kawat digantung di dinding ruang kelas dijadikan media belajar sejarah.
Bila malam tiba usai belajar mengaji di langgar, aku dan teman-teman biasanya menggamabr di atas aspal jalan dengan mempergunakan  batu putih yang biasanya dijadikan bahan bangunan. Potongan batu tersebut dijadikan alat tulis untuk menggambar di sepanjang jalan.Waktu itu amat memungkinkan, karena belum ada penerangan listrik dan dilakukannya saat bulan terang di angkasa malam. Aku dan teman-teman mengambar anekamacam tulisan grafiti di antara lukisan yang dibuat di aspal jalan. Grafiti yang muncul hampir seragam, biasanya tulisan di jalan dijadikan olok-olok untuk teman yang lain. Waktu itu, umumnya anak laki danperempuan telah dijodohkan oleh orangtuanya sewaktu masih kanak-kanak. Maka jalanan menjadi media ungkap denga grafiti yang begitu menarik, karena tulisannya tidakfromalsehiongga menimbulkan estetika tertentu.”BLiroh BKL Muzakki”(salah satu contoh grafiti yang muncul di aspal jalan).BKL merupakan singkatan dari “bakallah” (Madura) artinya Tunangannya. Grafiti lainnya yang hadir adalah nama-nama yang mengidentifikasi kampung atau kelompok tertentu.
Peristiwa dan pengalaman macam itu menguatkan aku untuk bisa menggambar. Aku yakin dengan menggambar bisa menyampaikan sesuatu lewat bentuk dan warna. Meski, kurang berkenan bagi orangtuaku, diam-diam aku belajar menggambar sesuka hatiku. Namun lamunan untuk bisa menggambar dan menjadi pelukis buyar berantakan ketika memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP) di kota Sampang.
*****
Pelajaran Menggambar (Kesenian) di SMP Negeri 1 Sampang memberikan pengalaman baru bagi aku, karena gurunya berbeda dan metode mengajarnya berbeda. Seorang guru yang displin dan tegas kadang membuat aku takut, karena ketika masih di Sekolah Dasar pelajaran ini amat santai dan menyenangkan. Aku ingat betul diawali dari pelajaran menggambar bentuk benda tiga dimensi. Gambar yang menyenangkan bagiku karena aku bisa membuatnya meski tidak bagus. Di minggu-minggu berikutnya menggambar ornamen daun dan bunga dengan mempergunakan pensil. Namun ketika disuruh menggunakan warna dan pewarnanya ditentukan berupa ”Waterproof”, aku tak menguasainya. Warnanya berlepotan sehingga melebihi kontur dan  gambar menjadi rusak. Aku ulangi lagi membuat sket dari pensil di lembaran kertas gambar yang lain. Aku mewarnainya dengan sangat hati-hati supaya tidak melewati garis batas yang telah aku buat. Namun karena jenis “waterproof” kualitas jelek, maka yang muncul di permukaaan gambar seperti butiran tepung dengan warna pucat, meski aku coba memilih warna cerah.
            Habi, teman sebangkuku tak lebih bagus, mengalami nasib yang sama, gambarnya berlepotan dan warnanya meleleh melewati kontur pada ornamen yang dibuat. Dia buat gambar lagi sepertiku. Namun malang bagiku, ketika guru gambar memeriksa gambar yang aku buat, kepalaku kena jitak. Rupanya, guruku taksuka dengan warna norak. Aku pilih warna merah, hijau dan kuning. Warna yang kerap aku lihat di lingkunganku, bahkan dapat dikatakan warna tersebut warna favorit di daerahku. “Orang gunung turun kota” kata guruku. Namun aku tak risih meski sedikit jengkel, karena warna itulah yang selalu mencolok mataku, jadi pilihan utama ketika aku memilih warna. 
Aku jadi takut ketika pelajaran menggambar karena teringat dengan jitakan di kepala. Maka, setiap pelajaran mengambar yang paling aku rasakan adalah bagaimana secepatnya aku menyelsaikan gambar dan guruku tak memeriksanya. Kalau guruku memeriksanya, pasti dia akan tersenyum sinis dan keluar lagi ucapannya, warnanya norak. Aku menyerah, dan di akhir semester nilai pelajaran menggambar (kesenian) di buku rapor=4,5,yanilai mepat setengah (jaman segitu ada nilai tengahan).
Aku kecewa dengan nilai yang kuperoleh, tetapi apa boleh buat, aku sudah dicap tidak bisa menggambar. Aku lampiaskan rasa tidak puas dengan menggambar kesenanganku, gambar mickymouse atau menirukan gambar kartun yang ada di koran “Jawa Pos” langganan ayahku. Aku gambar karikatur Mario Kempes pesepakbola Argentina yang menjadi bintang lapangan hijau di piala dunia pada saat itu. Aku gambar wajah Slamet Rahardjo, Christin Hakim yang menjadi aktor dan aktris terbaik peraih pila citra Festival Film Indonesia (FFI)  saat itu. Apa pun tugasnya gambar itulah yang aku serahkan.Sudah dapat dipastikan nilaiyang kuperoleh takbergeser dari 4 dan 5.
Ayahku tidak marah,karena dia tahu kalau aku sudah berusaha.Bahkan,diamemotivasi aku untuk belajar menggambar potret atau pemandangan (lanskap).Tetapi aku hanya boleh latihan menggambar di hari minggu.
Saat sekolah di SMA, aku menemukan kembali keasyikan mengggambar. Aku sekolah di SMA Negeri 1 Pamekasan. Aku ingat benar,pak Suharto guru gambarku di sekolah.Beliau juga pelukis dan cukupdikenaldi kota Pamekasan.Beberapaposter dan baliho dipinggiran jalan adalah karyanya. Senangnya lagi, dia tidakmuluk-muluk dalam mengajar,tidak memaksa siswa untukmenjadi tukang gambar atau pelukis, tetapimengajari siswadengan melukis untuk bertanggungjawab dan menghargai karya seni. Cukupmenarik cara dia menanamkan apresiasi bagi siswanya. Setiap karya yang sudah dinilai dikembalikan lagi kepada siswa untuk disimpan, dan di akhir semester semua karya yang telah dikembalikan dikumpulkan kembali (harus lengkap). Apabila karya yang dikumpulkan kurang jumlahnya, maka akan dikurangi sebanyak jumlah kekurangan. Sebuah upaya untuk menamkan sikap bertanggungjawab dan menghargai karya seni. Dia pernah bilang bahwa penghargaan terhadap karya seni (atau lainnya) harus dimulai dari diri sendiri. Jika diri sendiri tidak bisa menghargai karya yang telah dihasilkan, bagaimana oranglain bisa menghargai. Pesan yang selalu aku ingat dalam mengapresiasi karya seni. Sayang beliau hanya mengajarku selama satu tahun.
Di tahun kedua,saat aku kelas 2 SMA, ada guru menggambar yang baru-Bapak Helmy menggantikan pak Harto karena dia guru pinjaman dari sebuah SMP di kota Pamekasan. Pak Helmy seorang guru muda yang tampan dan sangat akrab dengan murid. Disini aku menemukan kembali kebebasan kreatif dalam mengambar. Guru kreatif dalam bidang seni. Aku diajarinya mneggambar hias batikdi atas. Aku diajarinya mneggambar hias batikdi atas kertas dan kemudian permukaannnya dilapisi denganlilin supaya kedap air. Kami diajarinya bikinpatung dari sabun batangan dan juga dari batu bata.Hebatnyauntukmengapresiasikarya siswa, karya yang terilih akan dipamerkan  di akhir semester sebelum orangtua murid mengambil rapor.
Aku senang karena setiappenugasan meski bukan yang terbaik, karyaku terpilih untuk dimasukkan dalam materi pameran. Suatu ketika materi ajarnya menggambar sketsa, makasemua siswa disuruh keluar kelas dengan membawa perlengakapan buku gambar dan pensil. Semua siswa wajib keluar dan mencari obyek yang akan digambar di lingkungan sekolah. Setiapsiswa diperiksa perlengkapannya sebelumkeluar kelas.
Setelah enampuluh menit,siswa dimita kembali kedalam ruangan dan beberapasiswa diminta untuk menceritakan apa yang telah digambarnya diluar kelas. Dari sketsa kemudian dilanjutkan dnegan tugas rumah untuk mewarnai gambar yang telah dibuat.Sungguh menyenangkan dan aku semakin intens untuk melukis meski hanya di hari minggu atau senggang ketikatak ada ulangan. Dari sini ketertarikanku untuk menggambar kian menggebu, namun sayang aku dianjurkan orangtuaku untuk melanjutkan ke pendidikan Biologi bukan kependidikan seni rupa. Namun disini pula aku menemukan banyak hikmah sehingga kemudian aku bukan hanya senang menggambat tetapi juga senang menulis. (Hidayat Raharja).

Sabtu, 22 Desember 2012

Dari Pengeroposan Bahasa, Surmadu dan Masa Depan Kebudayaan Madura


 
Kongres Kebudayaan Madura II kembali digelar setelah lima tahun kongres I. Kongers yang semula akan dibuka olehPresiden RI ke-5 Megawati Soekarno Putri urung dilakukan karena sesuatu danlain hal.Akhirnya kongres tersebut dibuka oleh Dewan Pembina Said Abdullah Institute – MH.Said Abdullah dengan membacakan sambutan (pidato kebudayaan) Mengawati. Pembukaan yang dihadiri sekitar 2000 undangan yang datang dari utusan 4 kabupaten di Madura serta beberapa undangan dari luar Madura.
Acara berlangsung sangat meriah dibuka dengan tari “Rokat Polay’ Koreografi Agus Gepeng dan penata musik Iyan Perawas, kemudian dilanjutkan panduan suara – Ghai’ Bintang Voices menyanyikan lagu “OlleOllang” dan “Ke’ rangke’” yang dinyanyikan oleh band Plat-M. Acara tersebut disiarkan secara life di TV-One dihadiri sekitar 2000 undangan yang datang dari berbagai kota dan dari luar daerah Madura.
Kongres akan berlangsung mulai tanggal 21-23 Desember 2012 di Gedung Zansibar dan Hotel Utami Sumekar dengan narasumber: Prof.Dr.Mien.A Rifai, Dr. A. Latief Wiyata,Prof.A.Syukur Ghazali, M,Pd.,Wiwik Afifah,dan D. Zawawi Imron. Acara seminardilkan dilangsungkan di hari jumat pukul 19.00-22.00 diaula hotel Utami Sumenep dan pagi harinya sabtu (22/12) dilakukan sidang komisi sampaidengan siang hari,meliputi Komisi: Bahasa dan sastra, Budaya dan Pariwisata Madura, Komisi Perempuan, Suramadu dan Kebijakan Publik. Sidang pleno dilakukan pada pukul15.00-17.00 WIB.
Seminar di malam hari berlangsung hangat dan penuh keakraban dipandu oleh Abrari Alzael (Pemimpin Redaksi – Koran Madura) diawali oleh Pemaparan Syukur Ghazali yang membeberkan pengeroposan bahasa Madura yang antara lain disebabkan oleh serbuan bahasa prokem dan bahasa Inggris yang telah diajarkan semenjak di bangku sekolah dasar,sedangkan bahasa Madura diajarkan di SD dan SMP dengan segala keterbatasannya (sarana dan prasarana).
            Keterpengaruhan ini disebabkan bahasa Madura sendiri banyak yang mengadosi dari bahasa Jawa,  Melayu, Cina, Arab dan Belanda,serta dalam perkembangannya takmampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan sains dan teknologi. Kendala lainnya adalah dengan memanfaatkan bahasa Madura dengan sebaik-baiknya,sebab saat ini lembaga pendidikan di Madura belum sepenuhnya memanfaatkan kearifan lokal.
            Salah satu alternatif untuk mempertahankan dan mengembangkan bahasa Madura dibutuhkan keberanian para penentu kebijakan di masing-masing kabupaten di daerah Madura untuk mewajibkan Bahasa Madura sebagai salah satu mata pelajaran yang diampukan di sekolah,mulai dari Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah Menengah Atas.
            Berbeda dengan penyampaian Mien A Rifai mengenai keberadaan Bahasa Madura yang kian berjarak dengan masyarakatnya, karena bahasa Madura dengan unggah-ungguhnya bersifat feodalistik. Konon, menurutnya kondisi ini menyebabkan anak muda Madura enggan mempergunakan bahasa Madura, karena takut disalahkan oleh orangtua karena tidak sesuai dengan tatanan penggunaan bahasa Madura yang benar.
            Alternatif yang ditawarkan Mien A Rifai adalah dengan memasyarakatkan bahasa Madura “Bagongan”yaitu bahasa Madura yang tidak memakai unggah-ungguh,atau bahasa kasaran yang banyak dignakan oleh masyarakat. Hal ini lebih sesaui dengan kondisi kaum muda saat ini di tengah perkembangan demokratisasi.
            Jembatan Suramadu,menjadi sorotan A,Latief Wiyata, sebab dia melihat kontras antara suramadu di daratan Madura dan Suramadu di dataran Jawa (Surabaya).Di dataran Surbaya secara ekonomis jauh lebih mapan.sedangkan di sisi pulau Madura, hanya didominasi dengan lapak penjual sovenir yang berderet dan jenisnya sama, sehingga terlihat sangat monoton dan seragam tak terlihat pengaruh dan perkembangan Suramadu.
            Tingkat pendidikan, dan kreativitas serta mentalitas masyarakat amat berpengaruh terhadapperubahan dan perkembangan Suramadu di kawasan Madura. Artinya perlu penanganan yang terencana dan serius sehingga bisa berkembang baik secara sosial mau pun secara ekonomi. Bila kita menelaah dan memaknai lagu “Olle Ollang” yang diciptakan di masa lampau dan sampai sekarang masih populer sebagailagu daerah Madura, dalam salah satu bait syairnya mengisyaratkan ‘Alajara ka Madura” berlayar ke Madura. Makna yang meniscayakan Madura sebagai tujuan – Madura yang didatangi bukan yang ditinggalkan.
            Pembicara terakhir D Zawawi Imron menyampaikan makalahnya yang taktercetak dalam kumpulan Makalah mengenai “Kebudayaan Menghadapi Tantangan Masa Depan”. Kebudayaan harus didialogkan untuk menghadapi masa depan. Jika tidak,maka kebudayaan akan mati.Melaluidialog maka komponen-komponen kebudayaan akan berinteraksi yang cocok akan tersu berkembang dan yang tidak cocok dengan sendirinya akan ditinggalkan.       
            Jika di negara barat ada culture exebition maka yang hadir adalah Teknologi. Pada awal perdebatan mengai tradisi dan modernisme Sutan Takdir Alisyahbana mengkontraskan antara tradisi dan modernitas. Baru pada tahun 1980-an WS Rendra megemukakan warisan tradisi perlu dipertimbangkan, dipilih yang baik untuk masa depan. Pun juga mengenai kebudayaan Madura perlu dipertimbangkan secara dialogis mana yang baik untuk masa depan dan mana yang harus ditingalkan sebab kebudayaan bersifat dinamis bukan statis. Untukitu dibutuhkan kerja nyata dan kerja keras untuk menggerakkan kebudayaan. Sebab,hanya dengan optimisme dan kerja keras akan diperoleh ahsil yang bermakna.
            Dibutuhkan kesadaran kebudayaan, kesadaran untuk melakukan perubahan atau mengubah nasib.Potensi manusia 100% dari Allah sehingga manusia ditempatkan sebagai khalifah di permukaan bumi. Manusia sebagai pengelola alam semesta. Disini dibutuhkan etos belajar dan etos bekerja dalam kosa kata Madura “Bajeng”. Pendidikan kedepan adalah pendidikan yang memberdayakan putra-putri di Madura agar bisa mengurus Sumber Daya Alam yang ada di Madura.
****
Kongres Kebudayaan Madura II kali ini bagi saya amat menarik, karena: pertama, para penggagasnya anak-anak muda dan pesertanya banyak kaum muda, namun disayangkan mereka tak diberi tempat di depan panggung. Pada hala mereka kelak yang akan melanjutkan dinamika kebudayaan Madura. Para pembicara sebagai narasumber usianya di atas 60 tahun hanya seorang pembicara dari Koalisi Perempuan Indoensia yang masih muda. Sangat menarik! Kedua, komisinya lebih jelas dibanding kongres I dan sepertinya mendapat respon positif dari Bupati Sumenep dan Wakil Bupati Sampang yang sebentar lagi akan dilantik jadi Bupati. Ketiga, Suasana seminar dan diskusi lebih nyaman dibanding tahun lalu dan lebih tertata,seperti moderator (Abrari) yang mampu mengatur jalannya diskusi menjadi lebih familiar.Keempat, disiarkan langsung (live) oleh TVOne meski kabarnya itu harus mengeluarkan dana yang cukup besar ratusan juta rupiah untuk tayangan seremonip  pembukaan yang taklebih dari 1 jam. Kelima, kongres ini didanai dengan dana yang cukup besar, harapannya semua rekomendasi dapat menjadi acuan kebijakan bagi pemerintah daerah setempat.(Hidayat Raharja)

Senin, 17 Desember 2012

BUKU, BUS ANTAR KOTA, DAN PEMBAJAKAN

Oleh: Hidayat Raharja.
Di suatu masyarakat yang dianggap tidak membaca, tentu ada hal-hal yang patut dicatat bahwa di antara yang tak dianggap masih ditemukan hal-hal yang ganjil yang mencoba menawarkan tradisi membaca di masyarakat yang katanya tak membaca.

Suatu hari ketika pulang dari diklat di hotel Utami Surabaya saya menunggu bus di terminal Bungurasih. Saya harus menunggu beberapa lama menunggu jadwal pemberangkatan bus ke Madura. Di antara waktu menunggu, pedagang asongan keluar masuk bus menawarkan aneka barang dagangannya.Makanan, minuman, aneka macam pisau dapur yang diekmas dengan harga 10 ribu rupiah , alat tulis pulpen dan pensil,dan juga pedagang buah-buahan dan koran.Satu halyang ditawarkan mereka dan mengusik pikiran saya untuk mencatat peristiwa ini adalah menawarkan buku bacaan dengan harga miring. Buku-buku yang dicetak dengan kertas dan cover yang tak terllau bagus.

Asongan buku ini menawarkan buku resep masakan, tuntunan shalat, kisah para nabi, perihalpijat refleksi, pengibatan herbal sampai buku motivasi Mario Teguh dan buku si Anak Singkong – Chairul Tanjung tentu dua buku terakhir ini bukan terbitan aslinya alias “Bajakan”.
Di tengah fenomena yang meramaikan minat baca masyarakat, kehadiran buku di dalam bis kota merupakan sebuah gejala yang menepis anggapan masyarakat yang tak membaca. Usaha gigih para pedagang asongan bukan tak ada yang membeli. Satu-dua penumpang bus ada yang tertarik dan berminat membeli. Sebuah realitas yang memberikan ruang baru bahwa bus antar kota dan bisa menjadi ruang persebaran buku.

Namun juga keadaan ini membuat tidak nyaman,sebab buku-buku yang ditawarkana dalah buku bajakan. Kenyataan yang menejlaskan bahwa para pembajak kian getol melakukan invasinya bukan hanya di toko buku, tetapi secara agresif memasuki ruang publik yang takpernah dipikirkan oleh penerbit buku. Dapat dibayangkan buku Mario Teguh yang aslinya seharga di atas 50ribu rupiah dalam bus hanya ditawarkan seharga 15 ribu.Buku Chairul Tanjung yang dibandrol 70.000 rupiah ditawarkan 40ribu rupiah.
Dapat dibayangkan berapa kerugian para penulis yang bukunya dibajak. Kondisi yang membaut penulis kian terpuruk karena hasil jerih payahnya dan keuntungannya dinikmati orang lain. Fakta yang menguatkan banyaknya pembajakan buku di negeri ini, tapi tak pernah dikenakan sangsi hukum yang tegas.

Di antara semangat menulis dan bercita-cita membuat buku, ternyata pembajak sudah mengintai di berbagai sudut dan siap mengambilalih buku-buku laris untuk dibajak dan mengambil keuntungan tanpa pernha memberikan royalti kepada penulisnya.(HR).

Minggu, 23 September 2012

Menemani Anakku Bekerja dari Balik Pinhole Camera

Gedung Tennis in Door
Membuat foto dengan mempergunakan kamera lubang jarum adalah suatu aktivitas yang memiliki nilai manfaat bukan hanya menyalurkan hobi dan memanfaatkan barang bekas (kaleng bekas,dan semacamnya). Mempergunakan kamera lubang jarum adalah bekerja dengan melibatkan rasa (batin) dan pikiran sehingga dapat diperoleh gambar secara optimal.
Bekerja dengan mempergunakan rasa, pekerjaan yang menuntut dan mengembangkan kepekaan anak-anakku  untuk memperkirakan intensitas sinar matahari pada saat pengambilan obyek atau gambar. Intensitas sinar matahari yang akan berpengaruh kepada kualitas gambar. Maka dari sini kepekaan dan kesabaran akan terlatih sehingga dapat mengembangkan kepribadian yang sabar.
Pengalaman kerja dengan anak-anakku yang praktik mengambil gambar dengan mempergunakan kamera lubang jarum menjelaskan bahwa hasil gambar yang diperoleh berhubungan dengan bagaimana anak-anakku bekerja untuk  mendapatkan gambar. Jika mereka bekerja tanpa aturan yang benar,dapat dipastikan takakan ada gambar yang dihasilkan.
Ada salah seorang siswa yang setiap pengamblan gambar mengambil dari sudut pandang yang berbeda sehingga hasilnya unik. Mereka menaruh “Camera” di antara rimbun rerumputan untuk mengambil obyek pagar depan sekolah. Ketika hasil gambar dicetak terlihat efek dari rerimbun daun rerumputan yang menghias di salah satu sisi gambar. Sesuatu yang diluar dugaan kadang muncul dengan hadirnya gambar yang pada salah satu ujungnya seperti ada lubang yang disebabkan posisi kertas tidak tepat ditengah-tengah lubang kamera. Disinilah muncul estetika gambar karena keterbatsan alat dan kadang karena kesalahan yang tidak disengaja.
Maka, tak ada yang salah dalam pinhole camera jika ini ditujukan sebagai “proses Pendidikan” mengajak anak-anak untuk berproses mulai dari membuat kamera dan kemudian mencetaknya di ruang gelap. Seringkali karena kesalahan-keslahan yang tidak disengaja memunculkan keindahan yang menyenangkan. Dalam dunia pendidikan instan di sekolah, kadang siswa lupa untuk berproses mereka menginginkan sesuatu dengan mudah tanpaharus bersusah payah. Aktivitas yang sangat memungkinkan menghilangkan kepekaaan dan kreativitas yang seharusnya ditumbuhkan dalam diri mereka.
Disinilah sebenarnya Pinhole Camera dapat menjadi salah satu aktivitas mengenalkan proses pada siswa untuk menghasilkan sebuah produk. Suatu proses yang melibatkan perasaan untuk dengan sabar dan bekerja dengan sepenuh hati sehingga dihasilkan gambar yang bagus. Bagaimana mereka memanfaatkan perasaannya bahwa obyek yang akan diambil nanti posisinya  sesuai dengan yang diinginkan. Saat menentukan perspektif gambar yang akan diambil, disitulah perhitungan logika mereka berjalan.
Kegagalan dan hasil yang mereka peroleh dari setiap hasil kerja menyebabkan mereka berpikir dan mengevaluasi. Suatu kegagalan akan mmeotivasimerekauntuk melakukan lagi dan memperbaiki kesalahannya sehingga diperoleh hasil yang lebih bagus. Sementara keberhasilan yang mereka dapatkan akan memotivasi mereka untukmengubah sudut apndang sehingga diperoleh hasil yang berbeda atau unik.
Pinhole camera sebagai aktivitas untuk mengajak siswa berproses, maka yang tumbuh adalah apresiasi. Tidak ada hasil gambar yang jelek, tetapi adalah sebuah gambar yang menunjukkan bagaimana mereka (harus) bekerja. Tidakjarang hasil gambar yang gagal justru menunjukkan keindahan artistik yang unik. Seunik anak-anak itu dalam mengembangkan kepribadian dan memainkan imajinasi melampaui batas-batas waktu menuju impian dan masa depan mereka.(Hidayat Raharja)
Jalan Payudan Timur   




Jumat, 21 September 2012

Pinhole Camera at School

-->