Translate

Tampilkan postingan dengan label esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label esai. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 April 2016

Gen Z; di antara Kegaduhan Teknologi Informatika dan Identitas Diri


Oleh: Hidayat Raharja*

"Dialog Pagi" -karya Hidayat Raharja
Perubahan adalah pasti. Masa depan adalah wujud dari pertemuan antara masa lalu dengan masa kini. Masa depan tidak akan lahir tanpa kehadiran saat ini. Maka, pastinya semua berharap perubahan itu terjadi secara sinambung sehingga tidak menimbulkan gegar bagi kehidupan. Hal ini jadi penting dalam perbincangan mengenai generasi mutakhir yang dikenal dengan generasi Z (Gen Z). Bahwa mereka hadir tidak tiba-tiba tetapi dilatarbelakangi oleh generasi sebelumnya. Sebuah generasi yang mewarisi genetika dari generasi pendahulu. Artinya secara genetis generasi mutakhir membawa sifat-sifat genetis dari pendahulunya yang akan berinteraksi dengan lingkungan yang memunculkan sifat fenotif atau perilaku pada suatu individu.

Sebegitu menarikkah Gen Z? Sangat menarik. Sebuah generasi yang hadir di era puncak kemajuan teknologi informatika, di saat dunia berada dalam genggaman tangan mereka. Dalam waktu serentak mereka bisa menyaksikan hiburan dari kamar pribadi, sekaligus bisa mengirimkan informasi ke belahan dunia lainnya. Mereka yang bergerak dari genaggaman tangan untuk melihat daerah yang akan dituju atau pun untuk mengabarkan wilayah yang tengah dilintasi.

Teknologi komunikasi telah berbaur dengan fotografi serta seperangkat piranti untuk memenuhi seluruh hasrat kaum muda dalam membangun komunikasi dan menyatakan eksistensi diri. Selfie adalah cara ungkap dan cara mengekspresikan diri yang unik. Sebuah narsisme yang menegaskan mereka berada di antara keberadaan orang lain yang tengah berrebut ruang pribadi.

Meski tak cukup bagus memiliki telinga untuk dijadikan sebagai indera pendengaran dengan gawai yang pintar yang mereka miliki tinggal pencet ikon perekam untuk menyimpan seluruh informasi yang tengah didengarkan. Ketika malas untuk mencatat keterangan guru atau narasumber yang ada di white board mereka cukup menekan tombol kamera di perangkat telpon pintar di genggaman. Sebuah zona hidup yang memberikan kenyamanan sekaligus merupakan ancaman,ketika merekatelah diperbudak oleh teknologi dan kehilangan inisiatif serta kreativitas dalam menyelasaikan persoalan-persoalan hidup yang mereka hadapi.

Gen Z adalah generasi yang lahir di tahun 2000 dan setelahnya. Generasi yang lahir di tengah hirup pikuk produk teknologi informatika dan globalisasi yang meretas batas-batas wilayah geografis, kebangsaan dan agama mereka. Generasi yang membuat lembaga pendidikan menata ulang  sistem pendidikan yang dijalankannya. Guru menta ulang pola komunikasi dengan peserta didik dan orang tua menata ulang pendekatan terhadap anak-anaknya. Dalam pertarungan aneka ideologi yang dipicu oleh perkebangan teknologi informatika,tidak sedikit dari penentu kebijakan dalam dunia pendidikan yang kebablasan sehingga kehilangan batas-batas antara  guru dan murid antara orangtua dengan anak.

Banyak memberikan petuah kepada mereka, tidak akan banyak digubris, sebab mereka telah banyak menyerap informasi dari lingkungan dan ruang pribadi yang terhubung ke dunia luar yang jauh tak tertempuh. Mereka yang merasa lebih tahu, dengan berbagai jejaring yang telah mereka pergunakan. Mereka berada dalamasuhan masyarakat maya, yang ada tetapi tidak nyata. Tidak nyata tapi ada. Generasi yang tidak lepas dari genggaman gawai untuk menyatakan eksistensi mereka dengan berbagai status yang setiap saat diunggah di media sosial untuk menandakan keberadaanya.

Beri mereka kesempatan untuk memaparkan gagasan atau pendapatnya dan ajaklah berdialog dengan pendapat yang dikemukakannya. Guru dan orangtua patut menjadi pendengar yang baik. Pendengar yang sabar untuk merekam penuturan dan tingkah mareka, dan bila tiba waktunya ajaklah mereka bertukar pendapat. Mereka punya impian yang jauh melampaui pemikiran guru dan orangtua.

Tidak salah jika Soekarno menuturkan”Beri aku lima orang pemuda, maka akan aku guncangkan dunia” Sebab anak muda adalah agen perubahan. Orang muda adalah generasi yang akan menggantikan estafet kepemimpinan di waktu yang akan datang. Mereka dengan strategis menentukan sikap dan langkah hidup untuk menentukan masa depan. Mereka yang dengan serius menggeluti kesukaan mereka, untuk mengubah main-main menjadi sebuah kerja profesional.

Bukankah penemuan-penemuan besar diawali dengan sebuah main-main? Ya, yakinlah bahwa penemuan besar itu berawal dari sebuah mani-main yang tak  dinyana, main-main yang mustahil tetapi kemudian berhasil menjadi sebuah temuan menakjubkan. Para pendiri bangsa ini mulai bermain-main dengan dunia politik dari usia belasan tahun yang beberapa tahun kemudian menjadi tokoh yang ditakuti dan disegani para pemimpin dunia.

Bagaimana dengan remaja kita yang populer disebut Gen Z? mereka telah bermain-main dengan mengusung perpustakaan (telpon pintar) di genggaman tangan. Bila mereka awas maka, tak ada yang tak bermanfaat di setiap putaran detak jam. Sekedar narsis dimedia sosial untuk sekedar selfie atau update status sebelum dan setelah bangun dari tempat tidur. Realitas menunjukkan bahwa dari sebagian mereka dapat menjadikan main-main di media sosial menjadi sebuah peluang untuk menjadi sebuah profesi yang menggiurkan. Bayu Skak yang rutin mengunggah video kreatifnya banyak mendapatkan pengikut (follower) dan menjadi salah satu penghuni Youtube dengan bayaran yang terus meningkat. Seorang pemuda diJawa tengah mengajari anak-anak dan remaja dikampungnya untukngeblog dan menjadikan blog untuk mendapatkan penghasilan dariiklan yang ditayangkan di blognya.

Barangkali yang patut dicermati adalah bagaimana dengan generasi mutakhir dalam berinteraksi dengan sosial media. Mereka yang gamang dengan dirinya. Mereka yang narsis namun tidak menunjukkan jati dirinya. Sebab, dari gaya narsis yang mereka lakukan sebenarnya terkover apa yang ada dalam diri yang bersangkutan. Inilah sebenarnya peran orangtua dan sekolah dalam menentukan karakter dan identitas mereka sebagai kaum muda yang berpijak pada akar budaya yang unik dan menjadi bagian dari masyarakat dunia.

Mereka secara genetis mewarisi akar budaya lokal dengan berbagai kearifannya untuk tetap eksis dan bergumul dengan identitas yang jelas di tengah pergumulan peradaban masyarakat dunia. Gen Z Indonesia yang diwarnai identitas lokal (kesukuan), dan keragaman keberagamaan  yang sangat santun terhadap kehadiran orang lain yang berbeda. Maka, yang patut dipahami adalah bagaimana anak-anak muda dalam pertarungan peradaban masyarajat dunia, mampu menunjukkan identitas sebagai bangsa Indonesia yang unik dengan keragaman budayanya yang luhur. Kerifan dan kesantuan yang menjadi identitas tidak hilang ditelan kegaduhan teknologi informatika dalam arus globalisasi yang bertarung dengan glokalisasi.

                                                                                                                   Sumenep, 12 Maret 2016.

*Penulis, adalah guru, penikmat budaya pop dan kisah sehari-hari.

Sabtu, 13 Juli 2013

Perubahan Mindset Guru

Kelompok siswa tengah asyik mengerjkan Fossil Artwork Project
Hidayat Raharja| Pendidik dan Pelaku Kebudayaan|
Memasuki tahun pelajaran 2013/2014 beberapa sekolah sasaran bersiap menyelenggarakan penerapan kurikulum baru. Beberapa guru dan kepala sekolah telah mendapatkan pelatihan dan diterapkan pelaksanaannya pada tahun ini. Hal yang sangat menarik adalah ketika mengikuti perkembangan pemberitaan dari pelaksanaan pelatihan tersebut. Banyak peserta yang tidak puas terhadap hasil pelatihan karena mereka hanya mendapatkan teori dan telaah terhadap buku pegangan guru dan buku pegangan siswa. Mereka tidak mendapatkan praktik bagaimana mengubah pola pembelajaran yang menekankan kepada proses. Jika ini yang benar terjadi, bisakah pelaksanaan kurikulum 2013 berlangsung sukses?
Kesuksesan pelaksanaan kurikulum 2013 sangat ditentukan oleh guru sebagai pelaksana di lapangan. Peran guru sebagai pelaku akan sangat menentukan terhadap perubahan pola pembelajaran yang diinginkan. Hal ini amat penting untuk dipahami sebab jika guru tidak bisa melakukan perubahan diri maka perubahan kurikulum yang dikehendaki juga tidak akan pernah terjadi secara riel.
Masih segar dalam ingatan penulis katika kurikulum 1994 disosialisasikan dan diterapkan disitu sudah dicanangkan perubahan pola pembelajaran yang berorientasi kepada pembelejaran siswa aktif –Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Ada instruktur nasional yang dipersiapkan, guru inti yang sudah dilatih kemudian menularkan kepada guru-guru pengajar yang ada di sekolah. Proyek ini diikuti dengan pendirian Balai Pelatihan Guru dan di setiap kabupaten didirikan Sanggar Pemantapan Kerja Guru IPA dan Matematika.
Ternyata upaya-upaya ini tidak banyak memberikan perubahan bagi kegiatan pembelajaran di sekolah, disamping karena keterbatasan fasilitas belajar, kadang cara pembelajaran yang seragam sebab analisis materi dan lembar kerja siswa sudah tersedia. Perangkat tersebut kadang tidak sesuai dengan ketersediaan yang ada  di sekolah. Akibatnya pembelajaran yang berlangsung kembali kepada hal-hal verbal dan selalu di dominasi oleh guru. CBSA diplesetkan menjadi Catat Buku Sampai Abis.
Pada kurikulum 2013 buku pegangan guru dan buku pegangan siswa disediakan oleh pusat, dengan harapan guru tidak lagi diribetkan dengan silabus dan materi ajar tinggal menyusun rencana pembelajaran yang akan dipersiapkan. Jika yang dikeluhkan oleh para guru peserta pelatihan yang menjadi sasaran pelaksanaan kurikulum 2103 diawal tahun ajaran baru mengenai bagaimana cara mempraktikan pola pembelajaran yang mengedepankan pembelajaran proses dan berkarakter serta penilaian yang variatif dan kompleks. Maka dapat dipastikan penyelenggaraan di awal tahun ajaran akan menimbulkan keraguan dan kerancuan, akan menemui banyak hambatan dan sudah tentu perlu pendampingan yang berlasung secara kontinyu.
Mengubah cara mengajar yang telah mengakar bagi para guru bukan hal mudah. Membuang kebiasaan-kebiasaan yang sudah dianggap nyaman oleh guru adalah hal paling sulit, kecuali dengan contoh kongkrit di hadapan mereka secara terus-menerus dan meyakinkan bagi mereka bahwa apa yang ditawarkan (perubahan) tersebut lebih bagus daripada yang mereka lakukan selama ini.
Menjadi guru adalah panggilan hati, mengajar  adalah seni.
Profesi guru adalah profesi yang mengemban amanat untuk mencerdaskan peserta didik juga mempengaruhinya untuk menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur, sehingga menunjukkan perubahan dari hasil belajarnya. Maka setiap yang dihadapi dalam menjalakan profesinya adalah sebuah tantangan yang harus dilewati sehingga tetap memiliki peran aktual dalam tutntutan perkembangan sains, teknologi dan seni.
Tuntutan perubahan pola pembelajaran adalah sebuah tuntutan perubahan yang harus diterima dan dijalani. Sebab, tuntutan perkembangan sains,teknologi dan seni telah menunjukkan perkembangannya yang sangat signifikan. Perkembangan sains dan teknologi telah mengubah cara belajar peserta didik. Mereka bisa mengakses informasi (ilmu pengetahuan) dari ruang pribadi mereka, dan bahkan sangat terbuka kemungkinan informasi yang dimiliki oleh peserta didik lebih daripada yang dimiliki oleh guru. Peran guru tidak bisa lagi mendominasi siswa, tetapi lebih tepat berperan sebagai patner belajar yang bisa mendampingi dan memberikan motivasi belajar, sehingga berkembang seiring dengan perkembangan usia dan norma yang berkembang dalam bermasyarakat.
Pilihan sumber belajar yang bervariasi dan latar belakang peserta didik yang beragam menjadikan mengajar sebagai sebuah seni menyampaikan dan mempengaruhi siswa belajar. Seni yang menuntut kreativitas guru dalam menentukan pilihan cara yang bervariasi dengan tetap mengedepankan pengalaman belajar siswa yang beragam, senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang diampunya sehingga menguasai(tangguh) dalam penguasaan materi.
Perubahan itu tidak seperti membalikkan telapak tangan, tetapi perlahan dan pasti. Sedikit demi sedikit untuk membuang kebiasaan lama dengan membuka keberanian untuk mencoba hal-hal baru. Serta yang paling penting adalah berani untuk memulai.
Sumenep,14 Juli 2013

Jumat, 04 Januari 2013

Pelajaran Menggambar,Apresiasi,dan Aktualisasi Diri

Perahu,Karya Hidayat Raharja, 1994.
Pelajaran menggambar adalah mata pelajaran yang amat menyenangkan bagiku. Aku merasa senang karena guru gambarku ketika masih Sekolah Dasar amat menghargai karya siswa apapu bentuknya.Aku mamahami kalau kegaiatan menggambar baginya bukan menjadikan anak-didiknya menjadi seorang pelukis atau semacamnya, tetapi menjadikannya sebuah pelajaran untuk mengeksplorasi keberanian mengungkapkan melalui media gambar. Setiap gambar baginya adalah bagus, sehingga tidak ada anak merasa takut untuk menggambar. Jadilah aneka macam gambar dengan anekamacam cerita.
Setelah selesai menggambar, guruku akan menyuruh setiap anak untuk menceritakan gambar yang telah dibuatnya. Suasana kelas jadi riuh dengan berbagai cerita,dan kadang ceritanya mengalahkan keindahan gambar yang telah dibuatnya. Jadilah aku senang menggambar, kadang “ngeblat“ gambar yang kusukai dengan cara mengunakan minyak tanah yang dioleskan kepermuakaan kertas sehingga tembus pandang dan gambar yang akan ditiru ditaruh di bawah kertas yang telah transparan.
Aku menyadari kalau pada saat itu kegiatan menggambar adalah kegiatan belajar yang benar-benar penuh dengan kegiatan kreatif dan rekreatif. Kegiatan kreatif, karena kami bersama teman-teman diajak untuk menggunakan (menaklukkan) bahan yang ada. Papan tulis bisa kami gunakan media menggambar secara bergantian. Kertas yang warnanya kekuningan dengan kualitas yang amat buruk produksi kertas “Letjes”. Pada saat itu merupakan media yang amat mewah. Kadang aku menggambar di permukaan tanah sembari bercerita mengenai apa yang aku gambar. Menggambar menjadi kegiatan rekretaif, karena yang dituntut bukan hasil bagus atau jelek, tetapi bagaimana aku dan teman-teman berproses dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan yang telah dibuat.
Kadang aku dan teman-teman menirukan gambar yang ada lembaran kertas yang dijual di halaman sekolah.kertas bergambar petinju Mohammad Ali yang bertarung dengan Ken Norton.Kertas tersebut merekam gambar pertarungan selama dua belas ronde dan menjadi bahan mainan yang menarik bagi teman spermainanku karen masih sangat jarang televisi di kampungku.
Tak kalah menariknya ketika pelajaran menggambar tiba, guru kami sering menyuruh kami untuk menggambar di luar kelas.Gambar anak-anak yang tengah bermain di halaman sekolah, gambar penjual  makanan dan minuman yang ada di samping gedung sekolah, atau gambar perbukitan yang ada di sebelah selatan gedung sekolah dengan anekapohon buah yang memenuhi lereng bukit. Kalau menggambar pemandangan temanku Sawir, jagonya. Teapi kalau menceritakan hasil gambar, Raheman jagonya. Aku sendiri hanya senang menggambar, menirukan gambar yang sudah ada.
Ketika menggambar, aku seperti menemukan ruang baru untuk menembus batas kejenuhan dan menemukan ruang baru untuk menumpahkan segala yang mengganjal dalam pikiranku. Saking senangnya kadang smapai di rumah gambar-menggambar mengisi di antara waktu belajar. Karenanya, aku kadang dimarahi ayahku.
Aku bayangkan kelak akan menjadi pelukis. Tetapi, selalu dinasehati ayahku untuk tidak menjadi pelukis, karena pelukis hidupnya tak jelas. Ya, di lingkungan tempat aku tinggal tak ada pelukis. Kakekku melukis kaligrafi diatas kaca (lukisan kaca) hanya menjadikan aktivitas tersebut sebagai hobi untuk mengisi waktu luang di antara kesibukannya sebgai pegawai pengairan. Tetapi aku membayangkan, betapa enaknya menjadi pelukis, bebas mengekspresikan ide kedalam bentuk dan warna, memajang karyanya, ditonton orang, dikerubuti media massa dan di kenal orang. Keinginan itu selalu ada dan selalu menghentak jantungku sesekali waktu.
Keinginanku untuk bisa menggambar kian menggebu ketika melihat kepala sekolahku – Bapak Abdullah Fagi menggambar candi Brobudur dan Prambanan dengan mempergunakan alat gambar dan tinta hitam. Lukisan hitam-putih di atas kertas karton, kemudian dipigora dengan bilahan bambu dan dengan cantelan kawat digantung di dinding ruang kelas dijadikan media belajar sejarah.
Bila malam tiba usai belajar mengaji di langgar, aku dan teman-teman biasanya menggamabr di atas aspal jalan dengan mempergunakan  batu putih yang biasanya dijadikan bahan bangunan. Potongan batu tersebut dijadikan alat tulis untuk menggambar di sepanjang jalan.Waktu itu amat memungkinkan, karena belum ada penerangan listrik dan dilakukannya saat bulan terang di angkasa malam. Aku dan teman-teman mengambar anekamacam tulisan grafiti di antara lukisan yang dibuat di aspal jalan. Grafiti yang muncul hampir seragam, biasanya tulisan di jalan dijadikan olok-olok untuk teman yang lain. Waktu itu, umumnya anak laki danperempuan telah dijodohkan oleh orangtuanya sewaktu masih kanak-kanak. Maka jalanan menjadi media ungkap denga grafiti yang begitu menarik, karena tulisannya tidakfromalsehiongga menimbulkan estetika tertentu.”BLiroh BKL Muzakki”(salah satu contoh grafiti yang muncul di aspal jalan).BKL merupakan singkatan dari “bakallah” (Madura) artinya Tunangannya. Grafiti lainnya yang hadir adalah nama-nama yang mengidentifikasi kampung atau kelompok tertentu.
Peristiwa dan pengalaman macam itu menguatkan aku untuk bisa menggambar. Aku yakin dengan menggambar bisa menyampaikan sesuatu lewat bentuk dan warna. Meski, kurang berkenan bagi orangtuaku, diam-diam aku belajar menggambar sesuka hatiku. Namun lamunan untuk bisa menggambar dan menjadi pelukis buyar berantakan ketika memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP) di kota Sampang.
*****
Pelajaran Menggambar (Kesenian) di SMP Negeri 1 Sampang memberikan pengalaman baru bagi aku, karena gurunya berbeda dan metode mengajarnya berbeda. Seorang guru yang displin dan tegas kadang membuat aku takut, karena ketika masih di Sekolah Dasar pelajaran ini amat santai dan menyenangkan. Aku ingat betul diawali dari pelajaran menggambar bentuk benda tiga dimensi. Gambar yang menyenangkan bagiku karena aku bisa membuatnya meski tidak bagus. Di minggu-minggu berikutnya menggambar ornamen daun dan bunga dengan mempergunakan pensil. Namun ketika disuruh menggunakan warna dan pewarnanya ditentukan berupa ”Waterproof”, aku tak menguasainya. Warnanya berlepotan sehingga melebihi kontur dan  gambar menjadi rusak. Aku ulangi lagi membuat sket dari pensil di lembaran kertas gambar yang lain. Aku mewarnainya dengan sangat hati-hati supaya tidak melewati garis batas yang telah aku buat. Namun karena jenis “waterproof” kualitas jelek, maka yang muncul di permukaaan gambar seperti butiran tepung dengan warna pucat, meski aku coba memilih warna cerah.
            Habi, teman sebangkuku tak lebih bagus, mengalami nasib yang sama, gambarnya berlepotan dan warnanya meleleh melewati kontur pada ornamen yang dibuat. Dia buat gambar lagi sepertiku. Namun malang bagiku, ketika guru gambar memeriksa gambar yang aku buat, kepalaku kena jitak. Rupanya, guruku taksuka dengan warna norak. Aku pilih warna merah, hijau dan kuning. Warna yang kerap aku lihat di lingkunganku, bahkan dapat dikatakan warna tersebut warna favorit di daerahku. “Orang gunung turun kota” kata guruku. Namun aku tak risih meski sedikit jengkel, karena warna itulah yang selalu mencolok mataku, jadi pilihan utama ketika aku memilih warna. 
Aku jadi takut ketika pelajaran menggambar karena teringat dengan jitakan di kepala. Maka, setiap pelajaran mengambar yang paling aku rasakan adalah bagaimana secepatnya aku menyelsaikan gambar dan guruku tak memeriksanya. Kalau guruku memeriksanya, pasti dia akan tersenyum sinis dan keluar lagi ucapannya, warnanya norak. Aku menyerah, dan di akhir semester nilai pelajaran menggambar (kesenian) di buku rapor=4,5,yanilai mepat setengah (jaman segitu ada nilai tengahan).
Aku kecewa dengan nilai yang kuperoleh, tetapi apa boleh buat, aku sudah dicap tidak bisa menggambar. Aku lampiaskan rasa tidak puas dengan menggambar kesenanganku, gambar mickymouse atau menirukan gambar kartun yang ada di koran “Jawa Pos” langganan ayahku. Aku gambar karikatur Mario Kempes pesepakbola Argentina yang menjadi bintang lapangan hijau di piala dunia pada saat itu. Aku gambar wajah Slamet Rahardjo, Christin Hakim yang menjadi aktor dan aktris terbaik peraih pila citra Festival Film Indonesia (FFI)  saat itu. Apa pun tugasnya gambar itulah yang aku serahkan.Sudah dapat dipastikan nilaiyang kuperoleh takbergeser dari 4 dan 5.
Ayahku tidak marah,karena dia tahu kalau aku sudah berusaha.Bahkan,diamemotivasi aku untuk belajar menggambar potret atau pemandangan (lanskap).Tetapi aku hanya boleh latihan menggambar di hari minggu.
Saat sekolah di SMA, aku menemukan kembali keasyikan mengggambar. Aku sekolah di SMA Negeri 1 Pamekasan. Aku ingat benar,pak Suharto guru gambarku di sekolah.Beliau juga pelukis dan cukupdikenaldi kota Pamekasan.Beberapaposter dan baliho dipinggiran jalan adalah karyanya. Senangnya lagi, dia tidakmuluk-muluk dalam mengajar,tidak memaksa siswa untukmenjadi tukang gambar atau pelukis, tetapimengajari siswadengan melukis untuk bertanggungjawab dan menghargai karya seni. Cukupmenarik cara dia menanamkan apresiasi bagi siswanya. Setiap karya yang sudah dinilai dikembalikan lagi kepada siswa untuk disimpan, dan di akhir semester semua karya yang telah dikembalikan dikumpulkan kembali (harus lengkap). Apabila karya yang dikumpulkan kurang jumlahnya, maka akan dikurangi sebanyak jumlah kekurangan. Sebuah upaya untuk menamkan sikap bertanggungjawab dan menghargai karya seni. Dia pernah bilang bahwa penghargaan terhadap karya seni (atau lainnya) harus dimulai dari diri sendiri. Jika diri sendiri tidak bisa menghargai karya yang telah dihasilkan, bagaimana oranglain bisa menghargai. Pesan yang selalu aku ingat dalam mengapresiasi karya seni. Sayang beliau hanya mengajarku selama satu tahun.
Di tahun kedua,saat aku kelas 2 SMA, ada guru menggambar yang baru-Bapak Helmy menggantikan pak Harto karena dia guru pinjaman dari sebuah SMP di kota Pamekasan. Pak Helmy seorang guru muda yang tampan dan sangat akrab dengan murid. Disini aku menemukan kembali kebebasan kreatif dalam mengambar. Guru kreatif dalam bidang seni. Aku diajarinya mneggambar hias batikdi atas. Aku diajarinya mneggambar hias batikdi atas kertas dan kemudian permukaannnya dilapisi denganlilin supaya kedap air. Kami diajarinya bikinpatung dari sabun batangan dan juga dari batu bata.Hebatnyauntukmengapresiasikarya siswa, karya yang terilih akan dipamerkan  di akhir semester sebelum orangtua murid mengambil rapor.
Aku senang karena setiappenugasan meski bukan yang terbaik, karyaku terpilih untuk dimasukkan dalam materi pameran. Suatu ketika materi ajarnya menggambar sketsa, makasemua siswa disuruh keluar kelas dengan membawa perlengakapan buku gambar dan pensil. Semua siswa wajib keluar dan mencari obyek yang akan digambar di lingkungan sekolah. Setiapsiswa diperiksa perlengkapannya sebelumkeluar kelas.
Setelah enampuluh menit,siswa dimita kembali kedalam ruangan dan beberapasiswa diminta untuk menceritakan apa yang telah digambarnya diluar kelas. Dari sketsa kemudian dilanjutkan dnegan tugas rumah untuk mewarnai gambar yang telah dibuat.Sungguh menyenangkan dan aku semakin intens untuk melukis meski hanya di hari minggu atau senggang ketikatak ada ulangan. Dari sini ketertarikanku untuk menggambar kian menggebu, namun sayang aku dianjurkan orangtuaku untuk melanjutkan ke pendidikan Biologi bukan kependidikan seni rupa. Namun disini pula aku menemukan banyak hikmah sehingga kemudian aku bukan hanya senang menggambat tetapi juga senang menulis. (Hidayat Raharja).

Senin, 17 Desember 2012

BUKU, BUS ANTAR KOTA, DAN PEMBAJAKAN

Oleh: Hidayat Raharja.
Di suatu masyarakat yang dianggap tidak membaca, tentu ada hal-hal yang patut dicatat bahwa di antara yang tak dianggap masih ditemukan hal-hal yang ganjil yang mencoba menawarkan tradisi membaca di masyarakat yang katanya tak membaca.

Suatu hari ketika pulang dari diklat di hotel Utami Surabaya saya menunggu bus di terminal Bungurasih. Saya harus menunggu beberapa lama menunggu jadwal pemberangkatan bus ke Madura. Di antara waktu menunggu, pedagang asongan keluar masuk bus menawarkan aneka barang dagangannya.Makanan, minuman, aneka macam pisau dapur yang diekmas dengan harga 10 ribu rupiah , alat tulis pulpen dan pensil,dan juga pedagang buah-buahan dan koran.Satu halyang ditawarkan mereka dan mengusik pikiran saya untuk mencatat peristiwa ini adalah menawarkan buku bacaan dengan harga miring. Buku-buku yang dicetak dengan kertas dan cover yang tak terllau bagus.

Asongan buku ini menawarkan buku resep masakan, tuntunan shalat, kisah para nabi, perihalpijat refleksi, pengibatan herbal sampai buku motivasi Mario Teguh dan buku si Anak Singkong – Chairul Tanjung tentu dua buku terakhir ini bukan terbitan aslinya alias “Bajakan”.
Di tengah fenomena yang meramaikan minat baca masyarakat, kehadiran buku di dalam bis kota merupakan sebuah gejala yang menepis anggapan masyarakat yang tak membaca. Usaha gigih para pedagang asongan bukan tak ada yang membeli. Satu-dua penumpang bus ada yang tertarik dan berminat membeli. Sebuah realitas yang memberikan ruang baru bahwa bus antar kota dan bisa menjadi ruang persebaran buku.

Namun juga keadaan ini membuat tidak nyaman,sebab buku-buku yang ditawarkana dalah buku bajakan. Kenyataan yang menejlaskan bahwa para pembajak kian getol melakukan invasinya bukan hanya di toko buku, tetapi secara agresif memasuki ruang publik yang takpernah dipikirkan oleh penerbit buku. Dapat dibayangkan buku Mario Teguh yang aslinya seharga di atas 50ribu rupiah dalam bus hanya ditawarkan seharga 15 ribu.Buku Chairul Tanjung yang dibandrol 70.000 rupiah ditawarkan 40ribu rupiah.
Dapat dibayangkan berapa kerugian para penulis yang bukunya dibajak. Kondisi yang membaut penulis kian terpuruk karena hasil jerih payahnya dan keuntungannya dinikmati orang lain. Fakta yang menguatkan banyaknya pembajakan buku di negeri ini, tapi tak pernah dikenakan sangsi hukum yang tegas.

Di antara semangat menulis dan bercita-cita membuat buku, ternyata pembajak sudah mengintai di berbagai sudut dan siap mengambilalih buku-buku laris untuk dibajak dan mengambil keuntungan tanpa pernha memberikan royalti kepada penulisnya.(HR).