Translate

Minggu, 08 April 2012

Taman Kota dan Budaya Kaum Muda

Taman kota adalah ruang terbuka hijau yang sejuk dan asri merupakan ruang sirkulasi udara yang menyegarkan. Tak ayal jika taman kota menjadi jujukan orang-orang atau  keluarga untuk mencari udara segar serta mengajak anak-anak bermain di taman. Dalam perkembangannya taman kota memiliki fungsi yang lebih kompleks, mulai dari fungsi sosial, ekonomi, dan politis. Dalam hal ini saya menyoroti perkembangan taman kota sebagai ruang perkembangan budaya kaum muda.
Di kota Sumenep, taman kota terletak di depan masjid agung yang megah dengan perpaduan arsitektur gaya Eropa, Cina dan Jawa. Suatu penempatan taman yang sangat estetik dan artistik sehingga ketika keluar dari gerbang masjid para jamaah akan bertatapan dengan hamparan taman yang sejuk dan hijau di seberang jalan. Sebaliknya jika para pengunjung taman mengadap ke arah barat di seberang jalan berdiri megah bangunan masjid  agung Sumenep.
Taman ini terlihat ramai orang melakukan aktivitas olah raga di hari minggu pagi. Tetapi  jika hari lain pagi hari terlihat sepi. Namun bila sore tiba, taman kota mulai  ramai oleh beberapa pedagang yang menawarkan aneka jualan mulai dari asesoris, pakaian,  vcd, es juice, dan aneka jenis makanan. Mereka berjualan di bawah tenda yang disediakan oleh Dinas UKM Sumenep mengelilingi taman kota yang lebih dikenal oleh masyarakat sebagai Taman Bunga. Mereka berjualan dari sore hari sampai malam sekitar pukul 22.00-23.00 WIB.
Sore adalah pemandangan yang amat indah aneka mainan mulai mendekat di area parkir sebelah barat taman, sejumlah odong-odong dengan aneka hiasan dan bentuk hiburan menarik bagi anak-anak. Untuk naik odong-odong dengan kuda-kudaan dan mobil-mobilan tarifnya Rp.1000,- untuk sekali naik ukurannya dua putaran lagu. Sementara kereta dengan aneka hiasan dan motif menarik tarif Rp.1000,-untuk satu penumpang mengelilingi taman bunga.
Di seberang jalan, parkir masjid agung yang ada didepan gerbang kerap dijadikan tempat mangkal beberapa  komunitas kaum muda, antara lain komunitas sepeda ontel, dan vespa modif. Mereka sesama komunitas memajang kendaraan vespa hasil modifikasi, menarik perhatian pengunjung yang lewat di jalan raya, atau pun yang ada di taman kota. Dan di sisa lahan pojok selatan taman komunitas skater melakukan latihan dengan berbagai perlengkapan mereka berlatih bergantian menjadi tontonan menarik tersendiri. Anak-anak muda yang memanfaatkan ruang untuk berlatih dan megembangkan kecakapan mereka.
Jika ditelusuri lebih jauh, aktivitas-aktivitas yang mereka lakukan adalah sebentuk refleksi dari kaum muda yang tengah mengekspresikan diri. Refleksi yang mengingatkan pada kita bahwa, pertama di perkotaan fasilitas umum yang menjadi hak warga telah terampas oleh kepentingan ekonomi. Mereka tak  memiliki tempat untuk berlatih skate, karena di gelanggang olah raga yang ada tak tersedia fasilitas untuk itu. Sementara olahraga atraktif tersebut mulai diminati oleh kaum muda di perkotaan (kota kecil seperti sumenep).
Kedua, kreativitas kaum muda dengan memanfaatkan keterbatasan fasilitas yang ada untuk mengembangkan bakat dan kreativitas mereka. Alangkah baiknya jika sekecil apapun aktivitas kreativitas yang mereka lakukan adalah hal positif yang harus direspon dengan baik. Kaum muda yang harus diselamatkan dari perilaku kontra produktif, terlebih jika nanti mereka terjerumus pada aktivitas-aktivitas yang merusak masa depan mereka, drug, narkona dan semacamnya.
Ketiga, mobilitas kaum muda dan akselerasi informasi telah meretas kesenjangan antara remaja di kota ebsar dan dikota kecil. Aktivitas kaum muda yang semula banyak ditemukan di kota besar, ditemukan pula di kota Sumenep dengan memanfaatkan taman kota.
Ternyata sebuah taman kota bukan hanya ruang hijau dengan aneka bunga yang menyegarkan. Tetapi taman kota dapat memberikan ruang makna yang lebih luas sebagai tempat berbagai aktivitas kaum muda untuk mengekpresikan diri. Ekspresi yang bermanfaat bagi pemerintah daerah untuk menjadikannya sebagai dasar penentuan kebijakan sehingga lebih bermanfaat dan aplikatif. Memang, kaum muda adalah kaum yang banyak menentukan arah perkembangan kota di masa depan. Maka, jangan lupa belajarlah dari kehidupan mereka….****(Hidayat Raharja)

Sabtu, 07 April 2012

Peserta Didik, Anak Manusia yang Unik


Di Saat jam istirahat seorang teman guru mengeluh karena hasil ulangan harian yang diperoleh peserta didiknya banyakyang tidak memuaskan. Payah selalu hasilnya begitu, banyak yang tidak tuntas. Pada hal soal ulangannya gampang, mereka banyak yang tidak bisa menjawab dengan benar. Vonis salah seorang guru ketika melihat hasil ulangan peserta didik  kurang memuaskan. Peserta didik  selalu menjadi obyek, dan sumber kesalahan.
Hasil  ulangan adalah salah satu cara mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Apabila hasil ujian tidak memenuhi ketuntasan, maka ada kemungkinan kesalahan di dalam proses pembelajaran atau ketidak sesuaian soal ujian dengan materi yang telah diberikan. Sehingga kegagalan itu tidak bisa ditimpakan kepada peserta didik semata.
Namun, teman guru itu tidak bisa menerima penjelasanku. Tidak, bukan proses  dan materi yang tidak sesuai, tetapi mereka yang malas belajar. Mereka sudah jarang baca buku. Tapi kalau Chating-an, facebook-an mereka bisa betah berjam-jam. Mereka lebih suka main game yang banyak tersedia di internet daripada membaca dan mengerjakan tugas sekolah. Macam-macamlah yang diutarakan oleh kawan guruku.
Saya tidak mengingkari jika peserta didik saat ini sangat akrab dengan handphone, komputer dan internet. Mereka menjadi bagian dari benda teknologi tersebut dan bahkan merupakan bagian “konsumsi” dari keseharian mereka. Internetan dengan menggunakan handphone adalah sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari hidup kaum  muda berkomuniaksi lewat jejaring sosial yang tersedia. Sesuatu yang tak bisa dihindari. Peserta didik yang lahir tahun 90-an amat dekat dunia teknologi tersebut di sekolah dasar mereka sudah menjadikan handphon sebagai alat komunikasi denganorang lain. Dunia digital adalah dunia baru mereka dan menyerbu dalamkehidupan mereka.
Kehadiran produk teknologi akan berpengaruh bagi kehidupan peserta didik. Paling tidak berpengaruh terhadap cara merekaberinteraksi dan berkomunikasi. Bukan hal yang ganjil jika murid mengirimkan pesan singkat (sms) kepada guru untuk memberikan informasi, pun sebaliknya. Hubungan semacam ini adalah bentuk interaski dengan mempergunakan produk teknologi komunikasi. Pun  juga  dalam proses pembelajaran media teknologi merupakan salah satu kebutuhan dalam menyampaikan informasi. Media audiovisual, cara-cara pembelajaran interaktif adalah pilihan yang dapat mengakomodir kecakapan siswa dan penyajian yang variatif,  membuat siswa nyaman dan menyenangkan.
Dalam mengakomodir kecakapan tersebut, sangat meanrik ketika siswa diberi kesempatan untuk  menyampaikan hasil belajarnya kepada temannya yang lain menurut cara mereka belajar. Pemberian kebebasan cara belajar dan tanggungjawab untuk mempresentasikan hasil belajarnya, mampu membuat sajian yang menarik, interaktif, dan menyenangkan.
Suatu ketika penulis memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari mengenai aneka macam perkembangan bioteknologi. Siswa diberi kebebasan untuk memilih anggota kelompoknya dan kami hanya membagi menjadi beberapa konsep, dan setiap konsep diberikan kepada setiap kelompok. Hasil belajar itu mereka sajikan di hadapan teman-temannya dengan aneka macam bentuk sajian. Sebelum menyajikan mereka mengkonsultasikan sajian materi yang akan dipresentasikan. Sungguh menakjubkan, setiap kelompok menyajikan dengan cara yang berbeda.
Presentasi yang sangat menarik, di antara mereka ada yang mempresentasikan  teknologi Bayi Tabung dalam bentuk teatrikal. Mereka membuka sajian dengan konflik rumah tangga karena sekian tahun menikah belum mendapatkan keturunan.  Kemudian salah satu dari pemeran menawarkan pada pasangan keluarga tersebut untuk mengikuti program bayi tabung. Dalam bentuk dramatikal, mereka menyajikan teknologi bayi tabung. Sajian yang memukau dan kelas menjadi sebuah ruang pertunjukan dan kemudian dilanjutkan dengan diskusi antara penyaji dengan kelompok yang lain.
Sajian mengenai Pembuatan Antibiotik dipresentasikan dengan cara yang unik, yaitu dengan mempergunakan  wayang karton. Dalam kelompok ada yang berperan sebagai narator, dan sebagai dalang. Ada beberapa wayang antara lain: wayang guru,wayang murid, wayang jamur dan wayang bakteri. Pentas dibuka dengan iringan musik yang biasa mengiringi pertunujukan “Topeng Dhalang- Sumenep”. Narator membacakan kisah yang akan dipentaskan. Kemudian muncullah wayang guru dan diikuti wayang murid. Kemudian muncul dialog antara guru dengan murid mengenai kemajuan bioteknologi. Dialog berlanjut pada proses pembuatan antibiotik dengan dilatari iringan musik pertunjukan topeng dhalang,sehingga jadi sajian yang menarik.
Sebagian kelompok menyajikannya dengan mempergunakan media power point, memanfaatkan fasilitas sound dan video, sehingga sajiannya  menjadi sajiaan yang filmis dan musikal. Sebagian besar dari kelompok mencari pendalaman materi dari browing di internet.
Kelompok  yang lain lagi menyajikan pembuatan antibiotik dengan mempergunakan teater boneka. Kelompok ini memanfaatkan sejumlah boneka mainan yang ukurannya kecil untuk mempresentasikan pembuatan  antibiotik. Sebagian memerankan  bakteri patogen yang menyerang hewan yang sehat sehingga menjadi sakit.Kemduian dilanjutkan dengan pembuatan antibitiotik dengan mempergukan sejumlah boneka kecil. Penjelasan jadi menarik karena diperagakan dengan memprgunakan boneka sehingga materi yang abstrak menjadi riel .
Sebentuk sajian yang menegaskan bagi kita setiap anak memiliki keunikan, yang menunjukan kecerdasannya. Maka, ada alasan bagi guru untuk menelusurikecakapan setiap peserta didik, memasuki  keunikannya untuk kemudian dimanfaatkannya dalam pembelajaran sehingga pembelajaran menjadi menarik, interaktif dan menyenangkan. Tentu hal yang menyenangkan akan membawa hasil test yang lebih baik,  karena peserta didik  belajar merasa lebih enjoy dan tanpatekanan.***(hr).

Sumenep, 8 April 2012.




Jumat, 06 April 2012

Menghargai Kejujuran Anak

Pada suatu siang anakku mengirim SMS mengabarkan kalau hasil ulangannya hanya mendapatkan nilai 70 lebih rendah dibandingkan dengan teman-temannya yang lain.Tapi percayalah, aku mengerjakan dengan jujur. Temanku kebih bagus dari aku, mereka berbuat curang nyontek dan bekerjasama dengan yang lain. Bapak percaya, kalau aku berkata jujur?
Begitulah kebiasaan curhat anakku sepulang sekolah. Apa dialaminya di sekolah saban hari diceritakannya kepadaku saat nonton TV atau saat jalan bersama di sore hari. Jika tak dapat bertemu langsung denganku dia akan mengirimkan pesannya lewat sms. Aku memahami kegelisahan anakku, karena kegiatan mencontek, bekerjasama pada saat ujian di sekolah seakan menjadi hal yang lumrah. Tidak banyak guru yang peduli dengan kejadian semacam ini.
Aku balas sms itu bahwa aku senang berapa pun nilai ujian yang diperoleh karena aku tahu anakku sudah belajar sungguh-sungguh untuk mendapatkan nilai paling bagus. Maka, berapapun nilai yang diperoleh aku sangat menghargainya. Aku memberinya reward ngajak makan bakso atau membeli buku fiksi terbaru. Aku ingin merawat kejujuran yang dilakukannya,meski kadang terasa pahit di hadapan teman-temannya yang lain. 
Untuk aku sendiri jika menemui kejadian curang di dalam kelas, bekerjasama, mencontek, dan semacamnya, maka wajib bagi siswa bersangkutan untuk mengikuti ujian remedial. Sehingga nilai yang diperolehnya hanya sebesar nilai ketuntasan minimal. Sebuah sangsi untuk menyadarkan bagi mereka bahwa mereka harus berproses dengan jujur. Mereka harus berusaha dengan jujur untuk mendapatkan atau menjadi yang terbaik.
Bekerjasama, mencontek di saat ujian atau ulangan harian adalah peristiwa yang kerap ditemukan dalam ruangan kelas. Sebuah upaya dari mereka untuk mendapatkan nilai baik, sehingga mendapatkan peringkat kelas yang baik,dan akan melancarkan dalam seleksi masuk ke Perguruan Tinggi melalui jalur penelusuran minat dan kemampuan. Alasan lain yang mereka kemukakan karena kalau nilainya jelek dimarahi oleh orangtuanya. Namun, alasan kedua ini kurang fair. Ketika aku tanyakan apakah orang tuanya mengontrol aktivitas belajarnya? Jawabnya, tidak! Amat disayangkan memang, orangtua tak sempat mengontrol belajarnya dan berdialog dengan anaknya mengenai hala-hal yang ditemukan di sekolah mereka, namun menuntut hal terbaik dari anaknya.
Ada beberapa kasus, anak yang mendapatkan nilai mata pelajaran karena curang mendapatkan nilai rapor yang bagus dan diterima di perguruan tinggi yang bagus, tetapi setelah 2 -3 semester kemudian DO karena tidak dapat mengikuti jalannya perkuliahan. Mereka berhenti, karena kemampuan yang dimiliki tak sebagus nilai yang tertera dalam rapor mereka. 
Persoalan bekerjasama, mencontek dalam ujian persoalan kecil, tetapi eksesnya sangat besar terhadap kepribadian anak. Pertama, perbuatan semacam itu akan mengurangi rasa percaya diri si anak, sehingga dia akan selalu melakukan hal yang sama pada saat ujian. Mereka akan sellau merasa tidak mampu mengerjakan tanpa mencontek atau bertanya keopada teman yang lain. Kedua, bahwa belajar bagi mereka ukuran utamanya adalah nilai yang baik tanpa mau berproses dengan benar. Sikap yang akan menumbuhkan budaya instan dalam diri mereka yang akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Keempat, mereka tidak bisa menghargai jerih payah orang lain. Perbuatan curang dalam ujian akan merugikan mereka yang berbuat jujur.
Maka, tidak berlebihan jika kita memberikan penghargaan bagi anak atau peserta didiik yang berbuat jujur dalam mengerjakan tugas atau ujian. Reward yang akan menyadarkan dan menguatkan bagi mereka bahwa jujur juga ada harganya. Sikap jujur yang kelak akan mereka bawa dalamkehidupan nyata,sentah sebagai anggota masyarakat,pejabat pemerintah,atau sebagai anggota lembaga legislatif yang bisamembawa manah dari rakyat yang diwakilinya.
Jujru, memang sepertinya jadi barang langka dalam kehidupan kita. Namun bertapa berharganya jika barang langka itu kita rawat dalam kehidupan kita. Lebih-lebih kejujuran yang ditunjukkan anak-anak kita dan kelak akan menjadi penerus kehidupan berbangsa dan bernegara. Tentu, semua bermula dari diri kita sendiri. Sebab, jika guru kencing berdri, murid kencing berlari. Jangan sampai guru kencing berdiri,hanya nyaring bunyinya yang menandakan guru sudah sudah tak diikuti oleh anak dan peserta didiknya.*****


Selasa, 03 April 2012

Sebungkus Sarcophagus di Pagi Hari

Pagi ini aku  bersiap untuk berangkat ke tempat mengajar, karena kebetulan hari ini aku tak ada jam mengajar sehinga berangkat dari rumah pukul 07.30. Saat berkemas suara dering handphone berunyi, ada sms masuk. SMS dari seorang kawan penyair yang tengah menjalani terapi penyembuhan dari serangan stroke. Aku buka sms-nya. Ah, kiriman  puisi yang cukup panjang. Barisan kata yang mengingatkanku pada pengirimnya. Seorang penyair naratif yang sangat produktif di tahun 70- sampai awal tahun 90-an. Karena terbenam dalam kesibukan kantor dan menjadi humas pemkab dia kemudian lebih banyak jadi penikmat dan pembaca yang baik.

Kenangan yang terus merambat pada suatu waktu ketika mendapat kabar dari seorang kawan yang lain bahwa sang penyair mengalami stroke dan di rawat di rumah sakit daerah. Aku mengunjunginya, ada nada resah dan gamang. Bagaimana kejadiannya, mas? Tanyaku. Dia bercerita panjang lebar riwayat sebelum kejaidan ketika dia tidak mampu menjaga pola makan sehat.

“Mas, usiamu tidak lagi muda, 55 tahun usia yang cukup matang kalau tak mau dikatakan tua.” Jawabku.

“Tapi bukan kartena makanan. Aku sakit karena beban pikiranku  memberat!”

“Maksud, Mas?!”

“Aku bulan depan akan memasuki pensiun. Apa yang harus aku lakukan kalau aku tak lagi ngantor. Semua akan berubah. Aku menajdi kesepian, sendiri, ditinggal teman-teman,” keluhnya.

“Kalau kau kesepian tulislah puisi untuk menumpahkan resahmu. Karena disitu duniamu.”

Beberapa hari kemudian dia mengirimiku humor tentang KPK dan Melinda Dee, lelucun mengenai masa pensiun atau seseakali mengirimiku beberapa informasi mengenai penegtahuan populer. Aku senang karena dia bisa menghilangkan kesepiannya. Dia bisa berceriota banyak tentang hidup dan kehidupan.

Pagi ini ia mengirimiku sebungkus “Sarcophagus” lewat SMS. Bungkusan puisi yang amat menyentuh dan aku bisa menikmatinya. Terkenang akan kelihaiannya dalam memilih dan mengolah kata dan meraciknya dengan sentuhan kepenyairannya yang tak diragukan lagi.

Sarcopagus : berapa lama aku disini/ keheningan membangun kesunyian yang abadi/tanpa gemuruh/ meski terasa nafas semesta deras mengalir dalam deru denyut nadiku/ meski aku seperti petapa asing dii lembah/angin setia mendesir  jejak berita leluhur/mereka mengabarkan kota dunia yang menjauh/ terbenam dalam kabut peradaban/berapa lama aku disini/waktu tak terhitung/ hanya lolong serigala menjertikan kematian demi kematian/ melapaskan roh meregang di jalan-jalan  hotel-hotel/rumah-rumah/lewat jendela yang terbuka/di halaman luas kanak-kanak tetap berlarian tanpa tahu orangtua pergi ke utara/ melesat ke negeri pekat kelam/ tak pernah kembali// (Arya Mustafa , Sumenep 4 April 2012 pukul 07:20:42

Aku tak meragukan kelihaian dalam mengolah kata yang menari-nari dalam imajinasinya. Juga aku tak ragu dengan kegelisahan sepinya yang menerkam  perlahan. Sebuah kegelisahan seseorang yang akan pergi ke arah utara dan meninggalkan anak-anaknya yang bermain di halaman tanpa pernah paham ketika orang yang dicintai pergi ke utara dan tak pernah kembali. Dunia riuh yang menjauh dan sayatan lolongan serigala yang memanggil kematian. Sunyi yang mencekam. Dan sunyi itu bisa datang di sembarang tempat di jalan, rumah di hotel.

Puisi yang mengingatkan hiruk pikuk dunia, sekaligus kesunyian yang mengintai di baliknya. Betapa sepi dan gelisah temanku. Aku hanya sempat mengucapkan selamat berkarya kembali. Aku yakin  dengan mengembalikan kebiasaan menulis yang pernah dilakukannya akan mampu mengurangi beban berat yang bergelantung dalam pikirannya. ***
Sumenep, 4 April 2012 09:46


Senin, 02 April 2012

Menulis; Pengalaman, Impian, dan Perubahan

Realitas kehidupan menunjukkan bahwa pada umumnya orang bekerja tidak semua berhubungan dengan keilmuan (kecakapan akademik) yang dimilikinya. Dari beberapa pakar menyebutkan bahwa hanya 20 % dari keilmuan yang diperoleh dalam persekolahan atau perkuliahan diterapkan di lapangan kerja. Sedangkan 80 % keilmuan mereka dalam pekerjaan diperolehnya dari pengalaman dalam pekerjaan dan kehidupan. Juga dalam kemampuan menulis,tidakadahubungannya dengan banyak dan sedikitnya teorimenulis yang dikuasainya.
Menulis sebagai aktivitas atau keterampilan tidak ditentukan oleh seberapa banyak penguasan teori menulis, tetapi lebih banyak ditentukan oleh pengalaman atau pembiasaan. Menuliskan pengalaman adalah hal yang banyak terekamdalam memori otak atau pemikiran. Pengalaman baik atau buruk, sebuah pengalaman yang dimilikimoleh setiapdan memberikan kesan yang amat mendalam. Pengalaman baik akan mmeberikan kenangan yang tidak akan pernah habis untuk dibuka, sementara pengalaman buruk juga akan sulit dihilangkan karena goresan yang mendalam di dalam hati.
Kedua pengalaman tersebut bila diungkapkan,diceritakan ke dalam sebuah tulisan akan banyak memberikan detail cerita dan pengalaman yang dialami.ha lbaik, hal yang sangat menyenangkan sehingga bisa diungkap dan diceritakan secara menarik,dan menuliskannya dengan rasa menyenangkan. Sedangkan menuliskan pengalaman buruk,juga akan banyak memberikan cerita atau ungkapandan menjadi ruang pelepas beban yang selama ini mengganjal dalam pikiran. Beban menjadi lebih ringan, tersebab unek-unek tersebut telah terlontar dalam tulisan.
Beberapa pengalaman di masa lampau para penulis, menjadi sesuatu yang menarik ketika diungkapkan kembali dalam sebuah kisah yang diolah secara menarik. Ayat-ayat Cinta Karya Habiburrahman el Zirazy, adalah karya novel yang dilatAr belakangi oleh pengalamannya saat menempuh studi di Universitas al-Azhar – Kairo. Sebuah hasrat yang juga diniatkan untuk mengisi kekosongan bacaan remaja yang saat itu banyak diserbu oleh bacaan teenlit yang berasal dari terjemahan bahasa asing.
Laskar Pelangi karya Andrea Hirata adalah sebuah pengalaman kongkret Andrea di masa sekolah dasar dan menengah di Belitong. Sebuah rekaman pengalaman pendidikan dengan segala keterbatasan fasilitas dan banguan gedung sekolah yang hampir ambruk.Tetapi pengalaman berinterkasi dengan bu Muslimah dan Pak Harun sebagai Kepala Sekolah Dasar Muhammadiyah menanamkan dan menumbuhkan semangat yang tak penah surut dalam impiannya.
Buku yang semula ingin dipersembahkan sebagai rasa terimakasihnya keada Bu Muslimah,diam-diam dikirimkan oleh salah seorang temannya kepada penerbit komersial.Kopi buku yang diserahkan menarik minat penerbit untuk mencetak dan memperdagangkannya. Buku Laskar Pelangi menjadi best seller.Sebuah penglaman nyata nyata dan diolah secara menarik dalamsebuah novel mampu memberikan inspirasi bagi jutaan orang pembaca.Betapa dahsyat sebuah pengalaman ketika diungkapkan dalamsebuah tulisan.Pengalaman tersebut bukan hanya menjadi pengungkap kenangan tetapibisa memberikan inspirasi bagi jutaan orang.
Tetsuko Kuroyanagi menuliskan novel “Gadis Cilik di Tepi Jendela” adalah tulisan yang mengungkapkan pengalaman diamsa kecil.Pengalaman ketika dirinya dikeluarkan dari sekolah karena dianggap nakal dan tidakbisa diatur. Hanya sekolah dasarTomo Gakoen dengan bapakKobayasi sebagai kepala sekolah. Sebuah penerimaan, yang membuka kesadaran,semangat dan impiannya untukmenjadi orang yang berhasil atau sukses. Pengalaman belajar tersebut kemudian diungkapkan dalam sebuah tulisan yang dibukukan dan disebar keberbagaipelosok dunia. Tulisan yang menginspirasi jutaan orang pembaca di berbagai negeri.
Betapa bermakna sebuah pengalaman yang diungkap, memberikan banyak inspirasi dalam menjalani kehidupan.Pengalaman tersebut lebih bermakna ketika dituangkan ke dalam sebuah tulisan atau berbentuk buku . Sebab, tulisan bisa mempengaruhi sesorang untuk merealisasikan bacaannya dalam imaji mereka.Imaji yang akan membangun impian baru, akan menggerakkan pembaca untuk melakukan perubahan. (Hotel Utami Sidoarjo, 25 Maret 2012)

KEARIFAN LOKAL DALAM BUMBU MASAKAN


Kita adalah bangsa yang besar. Bangsa yang pernah melahirkan peadaban maju dalam bidang teknologi arsitektur, pelayaran, dan kesenian. Aneka peninggalan budaya di masa silam menunjukkan kebesaran itu. Sebuah kearifan yang kini tergeser dan tergerus oleh peradaban baru yang seraba instan.
Sdalam hal makanan negeri kita dikenal dengan negeri yang berlimpah bahan alam. Sehingga tak kekurangan bahan pangan. Serta hampir dis etiap daerrah dikenal dengan mnakanan pokok dengan olahannya yang khas. Di pulau Jawa dikenal dengan bahan makanan pokok beras. Di Papua dengan ubi, di maluku terkenal dengan makanan berbahan sagu, dan semacamnya. Sebuah kekayaan yang berlimpah yang m,embuat negeri ini tahan pangan dengan diversifikasi pangan yang ada. Orang madura tidak malu makan jagung dan singkong sebagai makanan utama, bahkan kadang diolah dengan bahan kacang-kacangan atau dengan cacahan umbi ketela.
Namun, sayang entah kapan terjadinya ada perubahan makanan pokom pada swetiap daerah. Semual setiap daerah memiliki makanan pokok yang khas, tiba-tiba mereka berubah menjadi pengkonsumsi beras. Makan beras dianggap lebih makmur dibandfingkan mekanan pokok yang lainnya. Asumsi yang kemudian meningkatkan eskali kossumsi beras di tanah air. Tak dapat dihindari semenjak tahun 70-an intensifikasi pertanian dikenalkan, Indonesia hanya swasembada beras di tahun 1984 dan mendapatkan penghargaan dari FAO. Setelahnya sampai sekarang, kita menjadi pengimpor beras untuk konsumsi.
Bukan hanya makanan pokok yang menjadi identintas lokal tetapi juga tercipta pula aneka bumbu masakan yang menjadi ciri khas setiap daerah. Bumbu yang menggunakan rempah-rempah yang dihasilkan di bumi Nusantara. Negeri kita dikenal dengan penghasil rempah terbesar di dunia, sehingga pada awal abad ke 16 Indonesia bagian timur seperti daerah Maluku dan Ambon lebih dahulu dikuasai oleh Portugis. Sebuah ekspansi yang dikarenakan berlimpahnya kekayaan rempah-rempah. Bahkan negeri ini semenjak dulu dikenal dengan “Pulau Rempah-rempah”.
Rempah atau bumbu seperti pala, cengkeh, laos adalah tanaman asli Indonesia; sementara lada hitam, kunyit, sereh, bawang merah, kayu manis, kemiri, ketumbar, dan asam jawa diperkenalkan dari India sebagaimana jahe, daun bawang, dan bawang putih yang diperkenalkan dari China. Tanaman bumbu dari benua Asia itu telah dikembangkan sejak zaman dahulu kala, dan telah menjadi bagian integral seni kuliner Indonesia.
Di masa lampau Kesultanan Banten dikenal sebagai penghasil utama lada hitam dengan kualitas terbaik. Sriwijaya dan Majapahit juga berkembang berkat perdagangan rfempah antara pulau rempah Maluku di Nusantara dengan India, China,  Serta VOC kemudian memperoleh keuntungan besar dari perdagangan rempah dunia.
Dalam bumbu masakan khas negeri ini ternyata bukan merupakan “asli” Indonesia melainkan juga ada perpaduan dan pengaruh dari China, Eropa, India dan Timur tengah. Sebuah budaya masakan atau kuliner yang mengajak kita untuk bersikap terbuka terhadap datangnya busdaya luar dengan mengadaptasi dan mengadopsi sehingga menjadi identitas atau cita rasa lokal. Citarasa lokal yang kemudian menjadi identitas kebangsaan.
Rasa Asam dan manis pada umumnya didiominasi oleh masakan Jawa. Pedas masakan Padang, Mentahan sayur banyak didominasi oleh masakan Sunda. Bumbu Asin cukup terasa dalam olahan masakan asli daerah  Madura.
Racikan bumbu yang dibuat dalam bahan makanan bukan hanya menyajikan kelezatan, tetapi juga secara implisit olahan makanan  tersebut menyehatkan. Makanan sayur mentahan yang semula banyak dikonsumsi oleh masyarakat kita adalah sebuah pola makan sehat yang meneyediakan serat, enzim dan vitamin yang memicu metabolisme di dalam tubuh. Metabolisme yang memacu kerja enzimatis, hormonal dan sistem kekebalan tubuh.
Setiap mengolah bahan makan yang berbau amis, dapat dipastikan disitu akan dipergunakan bumbu kunuyit untuk menghilangkan bau amis. Bumbu yang juga berfungsi sebagai antiseptik di dalam tubuh. Apabila dalam bumnbu tersebut mempergunakan santan, maka akan ditemukan pula bumbu bawang, daun jeruk purut dan daun salam.
Namun sayang. Dalam perkembangan makanan dan amsuknya aneka jkenis masakan ke negeri ini telah mengubah masyarakat kita menajdi konsumtif. Mereka telah beruabah dari masyarakat yang bijak dalam memilih dan mengbolah makanan, menjadi masyarakat yang konsumtif. Makan menjadi bagian dari gaya hidup yang tak lagi mempertimbangkan aspek  gizi dan pemenuhan kebutuhan tubuh.