Translate

Senin, 26 Maret 2012

Guru, Ketulusan, dan Keterbukaan

Pada suatu ketika saya didatangi oleh seorang wali murid. Kedatangannya adalah untuk melaporkan kepada kepala sekolah bahwa ada salah seorang guru (teman saya) yang memberikan nilai tidak ssuai dengan hasil ujian yang diperoleh si anak. Orangtua siswa tersebut sdah mendatangi rumah Bu Guru yang dimaksud untuk meminta hasil pekerjaan anaknya. Sebuah upaya untuk memastikan bahwa nilai yang diberikan guru tersebut sesuai dengan perolehan hasil belajar anak. Namun, sayang Bu Guru tidak bisa menunjukkan hasil ujian si anak, dan bahkan mengatakan bahwa berkasnya sudah tidak ada.

Orangtua siswa tersebut datang ke sekolah untuk melaporkan Bu Guru yang dianggapnya tidak adil dalam memberikan penilaian. Namun sayang, pada saat itu Bapak Kepala Sekolah sedang berada di luar kota. Aku diminta teman-teman untuk menemuinya, karena orangtua siswa itu dalam keadaan emosi. Teman guru BK yang menemuinya ditolak, karena dia hanya mau bertemu dengan kepala sekolah. Akhirnya karena diminta oleh beberapa orang teman guru, aku menemui orangtua siswa yang berada di ruang lobby.

Di hadapannya aku utarakan, bahwa hari ini kepala sekolah sedang tugas ke luar kota, apabila ada hal-hal yang ingin disampaikan khusus kepada kepala sekolah, aku mengharap beliaunya datang esok pagi. Namun beliaunya menolak, karena kesibukannya. Aku tawarkan, jika tidak keberatan aku bersedia untuk menyampaikan keluhannya kepada Kepala sekolah. Sebelumnya aku menyampaikan banyak terimakasih kepada beliau karena mau mengutarakan permasalahan putranya ke sekolah, sehingga dengan demikian akan ditemukan jalan keluar, dan memberikan masukan yang berarti bagi sekolah untuk membenahi diri di dalam sekolah.

Mulailah si Bapak bercerita kalau bu guru putranya berbuat tidak adil. Anaknya merasa mampu mengerjakan soal-soal ujian, bahkan ulangan hariannya selalu mendapat angka di atas tujuh. Ujian semester juga bisa mengerjakan dengan baik, namun nilai yang tertera di dalam rapor hanya angka 7. Si anak tidak puas, dan orangtua mencoba mencari tahu kepada Bu Guru pengajar. Namun jawabannya tidak memuaskan. Bu gur u tidak mampu menunjukkan bukti hasil ujian semester yang katanya jelek. Ketika orangtua siswa ingin melihat hasil ujian semester, Bu guru beralasan kalau berkasnya ada dalam tumpukan berkas dalam lemari. Sulit untuk mengambilnya. Orangtua siswa tersebut berupaya kepada Bu Guru untuk bisa melihat hasil ujian anaknya. Namun, hasilnya hampa belaka.

Orangtua siswa itu meluapkan emosinya di hadapanku. “Masa di jaman keterbukaan seperti saat ini, masih ada guru yang tertutup dan merahasiakan nilai siswanya. Bukankah hak siswa untuk mengetahui hasil ujian yang diperolehnya. Dengan mengetahui hasilnya siswa bisa introspeksi diri untuk memperbaiki cara belajarnya, sehingga dapat meninkatkan hasil belajarnya. “ Orangtua siswa itu begitu berapi-api menyampaikan kekesalannya, dan hal itu cukup aku pahami. Aku memberikan respek terhadap orangtua siswa tersebut, karena beliau adalah salah satu orangtua yang peduli terhadap pendidikan anaknya. Apa yang dilakukannya adaah merupakan sebuah hak yang harus diperoleh setelah beliau memenuhi kewajibannya sebagai orangtua siswa.

Aku berterimaka kasih kepada orangtua siswa tersebut. Orangtua macam inilah yang dibutuhkan untuk memajukan sekolah. Oragtua yang peduli terhadap kemajuan belajar anaknya dan ingn mengetahui perkembangannya. Sangat disayangkan emmang, apabila guru menutup diri untuk memberikan hak-hak yang harus diterima oleh siswa atau orangtua siswa. Karena proses belajar juga tidak mungkin tanpa melibatkan orangtua siswa. Keterbukaan, kejujuran adalah kunci keberhasian belajar siswa dan juga kemajuan guru dalam pembelajaran.

Bapak, andai semua guru bisa bersifat terbuka dan bisa bekerja sama dengan orangtua siswa betapa menyenangkan. Interaksi antara guru dan orangtua siswa terjadi secara harmonis dan informasi perkembangan anak dapat diketahui oleh orangtua murid setiap saat adalah idaman dan dambaan setiap pengguna jasa layanan pendidikan. Hal itu bukan sesuatu yang mahal dan tidak mungkin. Idaman semacam itu hanya membutuhkan keterbukaan si guru dan kelapangan dada untuk berbagi dan menerima masukan dari orang tua murid sebagai klien.

Setelah panjuang lebar aku dengarkan keluhannya dan aku tanggapi secara positif. Aku dukung apa yang dilakukannya, kemarahan yang mengwali perjumpaan kami berubah menjadi suasana yang nyaman. Kami kemudian saling tertawa dan kemudian berbagi alamat, dan beliaunya mengajakku untuk mampir di rumah makan yang dimilikinya untuk menyantap menu yang disediakannya.

Aku semakin yakin betapa besar manfaat ketulusan dan keterbukaan bagi seorang guru untuk memajukan pendidikan anak-anak yang dibinanya.

Menulislah dari Hal yang Paling Dekat

Sebuah Catatan Harian:

Tidak akan pernah terlupakan saat itu, saat mengajak anak-anakku belajar menulis. Umumnya mereka mengeluh tidak bisa menulis. Pertanyaan yang selalu muncul: Berapa halaman, Pak? Apa temanya? Betapa kegiatan menulis selama ini mereka jadikan beban. Pada hal seandainya percakapan mereka dengan teman karibnya yang berlangsung setengah jam, dipindahkan ke dalam teks woow…. beberapa halaman akan sudah tertulis.

Menghadapi berondongan pertanyaan yang disodorkan anak-anakku, aku berpikir bagaimana menulis tidak menjadi beban dalam kehidupan mereka. Kuajak mereka untuk menuliskan hal yang paling menyenangkan dalam kehidupan mereka atau hal yang paling menyedihkan atau menjengkelkan. Pilihan semacam itu dilatari bahwa anak-anakku akan benyak cerita yang akan dituang jika berkenaan dengan hal yang menyenangkan atau hal yang menyusahkan.

Waktu pun dimulai. Setiap anak boleh memilih tempat di luar ruangan atau tetap di dalam ruangan. Pak saya akan menulis tentang sepak bola. Pak, saya akan menulis tentang sejarah, pak saya akan… Banyak usulan yang akan mereak tuliskan. Tulislah, yang penting kamu harus memulai dari hal-hal yang paling dekat dengan diri kamu, sehingga kamu menguasai persoalannya dan tidak kesulitan untuk memaparkannya.

Waktu terus bergerak, dan kulihat anak-anak itu begitu menikmati kegiatan menulis. Ada yang duduk di lantai, di luar ruangan, dan ada pula yang menulis seabari diiringi dendang musik dari Hand Phone mereka. Semuanya menulis. Waktu 30 menit, tidak lama. Maka, semua tugas pun dikumpulkan. Semua menyerahkan hasil tulisannya. Ada yang hanya setengah halaman, ada yang sampai satu halaman. Aku tata lembaran tugas itu, sambil aku baca judul yang dituiskan mereka.

From Six to Five” salah satu judul yang dituliskan salah seorang anakku; Dony Arisandy. Judul yang sangat menarik, kare4na berbeda dengan teman yang lain. Judul itu mencuri perhatianku untuk membacanya sejenak. Sebuah penglaman Dony dengan diberlakukannya full day di sekolah tempatku mengajar. Dia bercerita bagaimana dia mempersiapkan diri ke sekolah semenjak pukul 06.00 pagi sampai kemudian balik ke rumah pukul 17.00. Pengalaman baru yang melelahkan baginya. Dengan cara sederhana, dia menjelaskan kecapaian tubuhnya berada di sekolah sampai sore hari. Ada beban yang kemudian dilepaskan dalam tulisan.

Beda dengan Wiillibrodus yang menyenangi olah raga sepakbola, dituliskannya mengenai sepakbola.”Bisnis dalam Sepakbola” judul tulisan yang dibuatnya. Dengan singkat dalam satu lembar kerts dengan tulis tangan diceritakannya bagaoimana sepak bola sebagai cabang olah raga yang menjadi lahan bisnis. Sepakbola yang dikemas dalam sebuah entertain sehingga disitu kita bisa melihat sebuah dance (tarian), music, dagangan (sponsor), jual-beli pemain. Tulisan yang cukup menarik mengingatkanku pada kemeriahan pertandingan sepakbola yang selain berfungsi sebagai bisnis yang menghibur, juga menumbuhkan semangat kebangsaan. Semangat yang dimiliki para pendukung Tim Nasional PSSI yang tetap dibanggakan meski tak pernah menang.

Usai menata seluruh hasil pekerjaan anak-anakku, sampai di rumah aku baca ulang. Aku urutkan tulisan mereka dari yang paling menarik. Aku beri catatan kecil kelebihan dan potensi yang bisa dikembangkan dlam tulisan itu. Dari beberapa ide yang aku baca, sesampai di tempurung kepalaku, ide tersebut berbiak lagi, sehingga menghasilkan ide baru dalam tulisanku. Kenyataan yang meyakinkan asumsiku bahwa setiap oarang pada dasarnya bisa menulis, hanya kerena mereka tidak berani untuk memulainya. Buktinya anak-anak yang semula keberatan itu terbukti bisa mengungkapkan ide dan pengalamannya.

Pada pertemuan berikutnya naskah yang telah aku baca dan koreksi, aku kembalikan lagi kepada mereka. Kemudian satu per satu dari mereka diminta untuk membacakan tulisannya di depan kelas, dan menceritakan latar beakang ide dalam tulisannya. Suasana kelas jadi riuh dan mereka memberikan applaus setiap temannya selesai membacakan tulisannya di depan kelas. Bahkan, ada salah seorang siswa yang dicap “nakal” oleh beberapa orang guru tidak percaya kalau tulisannya memiliki keunikan. Eko, anak yang dioanggap “Nakal” ternyata memiliki ide yang liar dan spontan, sehingga ada sesuatu yang saya rasakan lain dengan teman-temannya. Tidak salah jika ada sebuah adagium menyatakan bahwa kenakalan seorang adalah sebuah kecerdasan atau kreatvitas yang dimilikinya.

Beberapa tulisan yang aku pilih kemudian aku minta diketik kembali oleh mereka dan kemudian filenya aku satukan. Aku kumpulkan jadi sebuah buku, diberi ilustrasi , dan hard cover. Buku itu kemudian aku simpan sebagai dokumen ditaruh di perpustakaan sekolah. Aku hanya ingin mendokumentasikan tulisan mereka, siapa tahu bisa memberikan manfaat dan ide bagi teman-temannya yang membaca di perpustakaan.

Minggu, 25 Maret 2012

Menulis: Pengalaman, Impian, dan Perubahan

Realitas kehidupan menunjukkan bahwa pada umumnya orang bekerja tidak semua berhubungan dengan keilmuan (kecakapan akademik) yang dimilikinya. Dari beberapa pakar menyebutkan bahwa hanya 20 % dari keilmuan yang diperoleh dalam persekolahan atau perkuliahan diterapkan di lapangan kerja. Sedangkan 80 % keilmuan mereka dalam pekerjaan diperolehnya dari pengalaman dalam pekerjaan dan kehidupan. Juga dalam kemampuan menulis,tidakadahubungannya dengan banyak dan sedikitnya teorimenulis yang dikuasainya.

Menulis sebagai aktivitas atau keterampilan tidak ditentukan oleh seberapa banyak penguasan teori menulis, tetapi lebih banyak ditentukan oleh pengalaman atau pembiasaan. Menuliskan pengalaman adalah hal yang banyak terekamdalam memori otak atau pemikiran. Pengalaman baik atau buruk, sebuah pengalaman yang dimilikimoleh setiapdan memberikan kesan yang amat mendalam. Pengalaman baik akan mmeberikan kenangan yang tidak akan pernah habis untuk dibuka, sementara pengalaman buruk juga akan sulit dihilangkan karena goresan yang mendalam di dalam hati.

Kedua pengalaman tersebut bila diungkapkan,diceritakan ke dalam sebuah tulisan akan banyak memberikan detail cerita dan pengalaman yang dialami.ha lbaik, hal yang sangat menyenangkan sehingga bisa diungkap dan diceritakan secara menarik,dan menuliskannya dengan rasa menyenangkan. Sedangkan menuliskan pengalaman buruk,juga akan banyak memberikan cerita atau ungkapandan menjadi ruang pelepas beban yang selama ini mengganjal dalam pikiran. Beban menjadi lebih ringan, tersebab unek-unek tersebut telah terlontar dalam tulisan.

Beberapa pengalaman di masa lampau para penulis, menjadi sesuatu yang menarik ketika diungkapkan kembali dalam sebuah kisah yang diolah secara menarik. Ayat-ayat Cinta Karya Habiburrahman el Zirazy, adalah karya novel yang dilatAr belakangi oleh pengalamannya saat menempuh studi di Universitas al-Azhar – Kairo. Sebuah hasrat yang juga diniatkan untuk mengisi kekosongan bacaan remaja yang saat itu banyak diserbu oleh bacaan teenlit yang berasal dari terjemahan bahasa asing.

Laskar Pelangi karya Andrea Hirata adalah sebuah pengalaman kongkret Andrea di masa sekolah dasar dan menengah di Belitong. Sebuah rekaman pengalaman pendidikan dengan segala keterbatasan fasilitas dan banguan gedung sekolah yang hampir ambruk.Tetapi pengalaman berinterkasi dengan bu Muslimah dan Pak Harun sebagai Kepala Sekolah Dasar Muhammadiyah menanamkan dan menumbuhkan semangat yang tak penah surut dalam impiannya.

Buku yang semula ingin dipersembahkan sebagai rasa terimakasihnya keada Bu Muslimah,diam-diam dikirimkan oleh salah seorang temannya kepada penerbit komersial.Kopi buku yang diserahkan menarik minat penerbit untuk mencetak dan memperdagangkannya. Buku Laskar Pelangi menjadi best seller.Sebuah penglaman nyata nyata dan diolah secara menarik dalamsebuah novel mampu memberikan inspirasi bagi jutaan orang pembaca.Betapa dahsyat sebuah pengalaman ketika diungkapkan dalamsebuah tulisan.Pengalaman tersebut bukan hanya menjadi pengungkap kenangan tetapibisa memberikan inspirasi bagi jutaan orang.

Tetsuko Kuroyanagi menuliskan novel “Gadis Cilik di Tepi Jendela” adalah tulisan yang mengungkapkan pengalaman diamsa kecil.Pengalaman ketika dirinya dikeluarkan dari sekolah karena dianggap nakal dan tidakbisa diatur. Hanya sekolah dasarTomo Gakoen dengan bapakKobayasi sebagai kepala sekolah. Sebuah penerimaan, yang membuka kesadaran,semangat dan impiannya untukmenjadi orang yang berhasil atau sukses. Pengalaman belajar tersebut kemudian diungkapkan dalam sebuah tulisan yang dibukukan dan disebar keberbagaipelosok dunia. Tulisan yang menginspirasi jutaan orang pembaca di berbagai negeri.

Betapa bermakna sebuah pengalaman yang diungkap, memberikan banyak inspirasi dalam menjalani kehidupan.Pengalaman tersebut lebih bermakna ketika dituangkan ke dalam sebuah tulisan atau berbentuk buku . Sebab, tulisan bisa mempengaruhi sesorang untuk merealisasikan bacaannya dalam imaji mereka.Imaji yang akan membangun impian baru, akan menggerakkan pembaca untuk melakukan perubahan. (Hotel Utami Sidoarjo, 25 Maret 2012)

Sabtu, 24 Maret 2012

Jawa Timur Menulis

<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US JA X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

Bertempat di Hotel Utami Surabaya Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Universitas Negri Sutabaya (UNESA) menyelenggarakan pelatihan menulis karya ilmiah populer se Jawa Timur.Workshop diikuti oleh siswa dan guru, serta mahasiswa berasal dari 38 kabupaten/ kota se Jawa Timur. Acara tersebutdibuka oleh Rektor Unesa Prof.Dr.Mukhlas Samani. Acara tersebut berlangsung dari tanggal 24 sampai dengan 26 Maret 2012.

Dalam sambutannya Kadisdik Provinsi jawa Timur menyamaipkan bahwa penyelenggaraan workshop ini dilatarbelakangi oleh keiinginan untuk merealisasikan budaya menulis dengan pelatihan menulis dengan impian Jawa Timurmenulis dan kelak Indonesia menulis,yaitu menjadi bangsa yang bebrudaya menulis.

Workshop diisi dengan pemberian teori dan pelatihan menulis.Pemateri antara lain: Prof. Dr. Budi Darma, Prof.Warsono, Drs.Much. Khoiri,M.Si. dan Dr. Suyatno, M.Pd.Dalam sambutannya Prof.Mukhlas menuturkan bahwa menulis adalah suatu kegiatan meliputi; (1) menata nalar menjadi runtut,polapikir menjadi sistematik;(2) mengekspresikan pendapat, melalui tulisan seseorang pat mengemukakan gagasannya. Menurut beliau,kegiatan semacam ini perlu dilakukan sebab, para akademisi khawatir dengan kemampuan menulis mahasiswa yang kurang bagus,guru yang kurang mahi rmenulis, serta keyakinan bahwa setiap orang mampu menulis.

Orasi disampaikan oleh Prof. Budi Darma bahwa kegiatan menulis adalah sebuah kreativitas yang dapat dipergunakan untukmemecahkan masalah- masalah dalamkehidupan. Kehidupan yang semakin maju membawa persoalan yang semakin kompleks. Persoalan-persoalan yang menuntut kraetivitas manusia untuk memecahkannya.

Menulis adalah ekspresi dari penulis. Apa yang terdapat dalam tulisan adalah isi pemikiran dari penulisnya.Lewat sebuah tulisan dapat diketahui pemikiran penulisnya.Belajar menulis tidak harus menjadi penulis, tetapi dengan berinteraksi dalam menulis,kita bisa bertambah teman, bertemu praktisi,akan menambah kreativitas yang sangat bermanfaat dalam menghadapi persoalan kehidupan yang sangat menantang.

Prof.Warsono yang mengisi materi mengenai menulis karya ilmiah populer, menyampaikan beberapa hal yang berhubungan dengan Mengapa Menulis? Beliau memberikan contoh-contoh sederhana untuk memulai tulisan dengan memberikan pertanyaan kritis.Menulis baginya (1) menulis mewakili pribadi, bahwa tulisan menggambarkan kepribadian seseorang. (2) Menulismelebihi usia penulis.Kalau penulis sudah meninggal, tulisan yang ditulisbnya masih bisa dibaca orang lain. (3) Melebihi langkah penulis, dalam tulisan tersebut dapat termaktub ide, cita0-cita dan imajinasi penulis yang masih belum dilakukannya.(4) cermin peradaban, bahwa dalam tulisan terdapat latar belakang jaman dan peradaban yang mengitari. Tulisan dapat dijadikan tinggakperadaban setipa zaman.

Dalam menulis menurutnya dibutuhkan;(10 kemmapuan bertanya secara kriti; (2)kosep dan pengetahuan; (3) kemampuan analisis; (4) mengorganisasi Pemikiran.

Mebuat tulisan membutuhkan latihan secara kontinyu dan latihan untuk menulis dilakuakn dengan mengembangkan rasa ingin tahu,dan membiasakan untuk bertanya. Dengan selalu mengkritisi dan bertanya akan merangsang seseorang untuk membaca berbagai buku serta berdiskusi dengan dengan siapa saja. Membuka diri dengan siapa saja akan membuka banyak pengalaman dan wawasan yang akan memperkaya tulisan kita. Tidak kalah pentingnya adalah menulisd an menulis.

Sesi malam hari diisi oleh Drs.Much.Khoiri dengan memaparkan ragam karya tulis dengan cara yang sangat menarik dan simpel.Sajian yang cukup kocak dan para peserta merasa nyaman dan enjoy. Dengan simpel dia merangsang komentar pembaca dengan memanfaatkan foto yang ditayangkan di layar. Beberapaorang diminta untuk memberikan pendapat berbentuk nasarasi,deskripsi,eksposisi dan argumentasi. Tanpa dirasakan peserta merasa jelas dengan pemaparannya.

Dr. Suyatno sesi terakhir dengans emangat 45,berapi-api membawakana makalahnya berjudul:”Mengibarkan MerahPutih di Taing Tertinggi” sebuah motivasi untukmembangun gagasan kebangsaan berangkat dari keberagaman bangsa,konflik yang banyak terjadi dan bagaimana membangun kebangsaan melalui tulisan. Sajian ini amat heroik dan disela sajian dinyanyikan lagu kebangsaan bersama.Tanya jawab berlangsung sekitar 30 menit dan pukul 22.00kegiatan malam ini diakhiri. Capai tapi menyenangkan. (Surabaya, 24 Maret2012. Hidayat Raharja)

Kamis, 15 Maret 2012

Sepakbola , Bisnis , dan Kebangsaan

Oleh: Hidayat Raharja *

Salah satu cabang olahraga yang paling banyak menyedot penggemaradalah Sepakbola. Banyaknya penggemar tersebut diwadahi dalam wadah Suporter Klub Sepakbola yang digandrunginya. Jakmania untuk para suporter Persija- Jakarta, Bonek (Suporter Persebaya), Viking (Persib- Bandung), Aremania (Suporter Klub Arema Indonesia - Malang). Sebentuk simbiosis antara pemilik klub dan suporternya. Dikatakan simbiosis, sebab berkat dukungan suporter para pemain yang berlaga di tengah lapangan mendapatkan pompa semangat menggiring bola ke gawang lawan.

Olah raga yang membutuhkan dan mengandalkan kerjasama team, maka dalam sepaksola sebenarnya diajarkan bagaimana bekerja sama dan bersinergi untuk mencapai keusesan. Tidak egoisme, karena untuk sampai di depan gawang bola digiring oleh beberapa pemain dengan tugas yang spesifik. Ada penjaga gawang yang bertugas untuk menyelamatkan dari kemasukan bola. Pemain belakang yang membangun pertahanan supaya tak tertembus serangan lawan, gelandang yang menjadi pembagi bola dan mengatur irama permainan dan penyerang aynag bertugas melumpuihkan pertahan dan membobol gawang lain.

Dalam kehidupan kita, sepakbola bukan hanya permainan kulit bundar yang diperebutkan untuk dimasukkan ke gawang lawan. Sepakbola telah berimplikasi dalam segenap sendi kehidupan umat manusia. Sepakbola membentuk kesepahaman antara sesama sehingga para pensukungnya perlu membangun komunitas suporter. Dan ternyata di Indonesia banyak pula dimanfaatkna dalam kepentingan politik tertentu di suatu daerah. Massa sepakbola diajdikan sebagai pendukung untuk memenangkan calon kepala daerah dalam pilkada. Lewat bola terbnagun kekerabatn antara bangsa. Supporter MU yang ada di Indonesia membeikan dukungan kepada klub yang diidolaknnya. Bahkan mereka mau mengeluarkan biaya yang mahal untuk emnyaksikan Klubnya bertanding di lapanagn hijau. Kuarng mampu secara finansial, mereka membuka Nobar (nonton Bareng) utnuk menyaksikan kepiawaian para pemain jagoannya berlaga lewat layar lebar di pendapa atau di kafe di berbgaai tempat.

Berkat sepakbola roda perekonomian masyarakat bergerak. Stiker, Slogan, dan aneka asesories diciptakan untuk klub tertentu yang akan di pergunakan sebagai kostem para vsuporter. Kostum yang akan menyatukan mereka di lapangan saat idola merega berlaga. Industri kaos bergerak, mulai dari mereka yang mengisi distro sampai lapak mpedagang kaki lima di emperan jalan.

Sepakbola, salah satu jenis olahraga yang banyak memiliki penggemar mulai dari penduduk di tengah pemukiman padat di perkotaan sampai jauh ke pelosok desa. Mereka kenal Manchester United, Tottenham Hotspur,Liverpool , AC Milan, Intermilan, Barcelona, misalnya. Mereka mengikuti program liga sepakbola yang dialngsungkan di berbagai Negara; Liga Inggris, Liga Spanyol, Liga Jerman, dan Liga Indonesia. Saking banyaknya penggemar, beberapa liga di Eropa disalurkan lewat saluran (chanel khusus). Bagi siapa yang ingin meliputnya harus membeli hak tayang tersebut. Niali jual yang berhaga milyaran rupiah. Sebab di situ banyak sponsor berdatangan untuk bisa muncul pada saat tayangan laga sepakbola berlangsung. Para sponsor mau membayar mahal, sebabasumsinya makin banyak penotnotnnya, makin banyak kemungkinan produknya doikeknal, sehingga makin banyak pula pembelinya.

Bisnis sepakbola. Sebuah bisnis yang menggiurkan, karena di dalamnya para pengelola menangguk keuntungan. Sepakbola buikan hanya memasukkan bola ke gawang lawan, tetapi di dalamnya telah melahirkan aneka bentuk seni yang memberikan penghiburan bagi para penonton. Bagaimana pemain mempertontonkan skillnya untuk menggiring dan memasukkan bola. Serta tak kalah menariknya disaksikan mata saat seorang pemain mencetak gol ke gawang lawan. Seremoni di lapangan tersebut telah menjadi sebntuk dancing yang khas bagi setiap pemain dan setiap klub. Ada pemain yang alir ke sudut lapangan lalu membuat tarian yang sejenak disorot kamera, sajian yang klhas dalm dunai sepakbola. Tarian perayaan yang kemudian banyak mengilhami para awak meia untuk emngabadikan cara seremoni tersebut sebagai sebentuk selebrasid alam dunia boila yang khas, dan unik.

Pemain bola, tak kalah gajinya dengan direktur eksekutif di kantor pemerintahan. Mereka menjadi bintang baru dalam dunia kaca. Sehingga kehadirannya kerap ditunggu penggemarnya untuk hanya sekedar mendapatkan tandatangan atau foto bersama. Popularitas menjadikan mereka panutan baru kaum muda. Tampang tak jadi masalah, namun gaya dan perilaku mereka di lapangan teklah menjadi sumber inspirasi baru bagi kaum muda. Bintang lapangan bola, adalah aktor baru yang memainkan peran di tengah lapangan dan banyak ditunggu penggemarnya untuk melakukan akting terbaik dan memasukkan bola ke gawang lawan.

Pemain bintang seringkali menjadi obyek industri, karena mereka diperjual belikan melewati agen pemain dengan nilai transfer yang harus dibagi dengan agensi. Sesampai di klub yang mengontrak atau membelinya, tidak ada jalan lain harus bermain baik dan memasukkan gol ke gawang lawan sebanyak-banyaknya. Jika mereka sudah tidak produktif, maka akan “disepak” keluar lapangan. Tidak sedikit anak-anak belia yang berbakat main bola dibeli oleh Manchester United. Anak-anak muda yang harus berpisah dengan orangtuanya di negeri yang baru. Anak-anak yang kehilangan masa-masa bermain. B ila mereka tak mampu bermain bagus, maka akan dkembalikan lagi. Pengalaman pahit yang akan melekat daalm kejiwaan mereka. Saat mereka tak mampu lagi memberikan produktivitas dalam industri sepakbola, harus siap disingkirkan.

Tak jauh berbeda dengan negeri kita, berbagai pemain bintang didatangkan dengan kontrak yang cukup mahal untuk meramaikan industri sepakbola. Sekolah sepakbola berdiri di berbagai kota untuk membina bakal pemain yang kelak bisa mengharumkan nama Indonesia. Christian Gonzales, Irfan Bachdim, Bambang Pamungkas, Firman Utina, Andik Vermansyah adfalah nama pesepakbola yang fenomenal. Penonton bola dipenuhi wanita-wanita cantik. Pemain bola menjadi ikon dan iklan beberapa produk minuman, dan makanan di Indonesia. Sepakbola mnjadi sumber penghidupan baru, dan memberikan isnpirasi sebagai profesi yang menjanjikan kesusksesan di masa yang akan datang.

Kebangsaan

Sungguh mengharukan di saat timnas Indonesia dengan julukan “Garuda” menaklukkan lawan-lawannya dengan skor yang meyakinkan saat perebutan Piala AFF beberapa waktu yang lalu. Sebuah keharuan sekaligus bangga. Karena selama ini masyarakat rindu memiliki tim sepakbola yang tangguh dan mempersembahkan juara bagi bangsanya.

Saat tim “Garuda” bertanding di piala AFF hampir dapat dipastikan jalanan akan sepi, mereka minggir ke warung kopi yang menyediakan televisi dan nonton bersama tanpa emmandang idendtas, kelas, dan asasl-usul status sosial mereka. Sebagian lagiu menyediakan tenda dan layar lebar di tanah lapang,dan disertai dengan hiburan organ tunggal menunggu waktu berlaga tiba. Kostim Garuda dicetak dalam jumlah besar dengan aneka kualitanya menjadi kebanggaan baru, anak-anmak samp[ai orang dewasa mengenakan kaos dan Jaket tim ‘ Garuda”. Para penggila bola di tanah air sedia meginap di emperan gelora Bungkarno untuk antri tiket dan menyaksikan pertandingan tim yang dibanggakannya. Sebuah pengorbanan besar untuk sepakbola dan untuk menyemangati para pemain berlaga di tanah lapang. Ujung-ujungnya untuk menegakkan martabat Bangsa yang selama ini kendur prestasi bolanya.

Meski akhirnya tim Indonesia tidak memenangi Piala AFF, namun kebersamaan pendukung timnas sepakbola masih bersatu padu menyuarakan kebangkitan bola. Semangat revolusi untuk sepakbola Indonesia. Kekalahan tidak membuat mereka marah atau membalas perlakuan penonton Malaysia. saat leg pertama timnas “Garuda” bermain di Malaysia beberapa penonton mengarahkan sinar laser ke wajah dan mata Markus Horison, sehingga membuyarkan konsentrasi. Perlakuan semacam itu tak dilakukannya saat leg kedua Malaysia tandang ke Gelora Bungkarno. Justru yang mengharukan para pendukung menunggu para pemain timnas. Meski merekla kalah tetap disanjung. Mereka mengelu-elukan Gonzales, Irfan bacdim, Bambang pamungkas, Ottomaniani misalnya seagai ikon baru dalam sepak bola Indonesia.

Demi bola, Gonzales, Irfan Bachdim. Kim Kurniawan melakukan naturalisasi menjadi warga negara Indonesia. Oleeee...oleeeee...olleee oleolee olee..oleee!!!!!