Translate

Sabtu, 24 Maret 2012

Jawa Timur Menulis

<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US JA X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

Bertempat di Hotel Utami Surabaya Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Universitas Negri Sutabaya (UNESA) menyelenggarakan pelatihan menulis karya ilmiah populer se Jawa Timur.Workshop diikuti oleh siswa dan guru, serta mahasiswa berasal dari 38 kabupaten/ kota se Jawa Timur. Acara tersebutdibuka oleh Rektor Unesa Prof.Dr.Mukhlas Samani. Acara tersebut berlangsung dari tanggal 24 sampai dengan 26 Maret 2012.

Dalam sambutannya Kadisdik Provinsi jawa Timur menyamaipkan bahwa penyelenggaraan workshop ini dilatarbelakangi oleh keiinginan untuk merealisasikan budaya menulis dengan pelatihan menulis dengan impian Jawa Timurmenulis dan kelak Indonesia menulis,yaitu menjadi bangsa yang bebrudaya menulis.

Workshop diisi dengan pemberian teori dan pelatihan menulis.Pemateri antara lain: Prof. Dr. Budi Darma, Prof.Warsono, Drs.Much. Khoiri,M.Si. dan Dr. Suyatno, M.Pd.Dalam sambutannya Prof.Mukhlas menuturkan bahwa menulis adalah suatu kegiatan meliputi; (1) menata nalar menjadi runtut,polapikir menjadi sistematik;(2) mengekspresikan pendapat, melalui tulisan seseorang pat mengemukakan gagasannya. Menurut beliau,kegiatan semacam ini perlu dilakukan sebab, para akademisi khawatir dengan kemampuan menulis mahasiswa yang kurang bagus,guru yang kurang mahi rmenulis, serta keyakinan bahwa setiap orang mampu menulis.

Orasi disampaikan oleh Prof. Budi Darma bahwa kegiatan menulis adalah sebuah kreativitas yang dapat dipergunakan untukmemecahkan masalah- masalah dalamkehidupan. Kehidupan yang semakin maju membawa persoalan yang semakin kompleks. Persoalan-persoalan yang menuntut kraetivitas manusia untuk memecahkannya.

Menulis adalah ekspresi dari penulis. Apa yang terdapat dalam tulisan adalah isi pemikiran dari penulisnya.Lewat sebuah tulisan dapat diketahui pemikiran penulisnya.Belajar menulis tidak harus menjadi penulis, tetapi dengan berinteraksi dalam menulis,kita bisa bertambah teman, bertemu praktisi,akan menambah kreativitas yang sangat bermanfaat dalam menghadapi persoalan kehidupan yang sangat menantang.

Prof.Warsono yang mengisi materi mengenai menulis karya ilmiah populer, menyampaikan beberapa hal yang berhubungan dengan Mengapa Menulis? Beliau memberikan contoh-contoh sederhana untuk memulai tulisan dengan memberikan pertanyaan kritis.Menulis baginya (1) menulis mewakili pribadi, bahwa tulisan menggambarkan kepribadian seseorang. (2) Menulismelebihi usia penulis.Kalau penulis sudah meninggal, tulisan yang ditulisbnya masih bisa dibaca orang lain. (3) Melebihi langkah penulis, dalam tulisan tersebut dapat termaktub ide, cita0-cita dan imajinasi penulis yang masih belum dilakukannya.(4) cermin peradaban, bahwa dalam tulisan terdapat latar belakang jaman dan peradaban yang mengitari. Tulisan dapat dijadikan tinggakperadaban setipa zaman.

Dalam menulis menurutnya dibutuhkan;(10 kemmapuan bertanya secara kriti; (2)kosep dan pengetahuan; (3) kemampuan analisis; (4) mengorganisasi Pemikiran.

Mebuat tulisan membutuhkan latihan secara kontinyu dan latihan untuk menulis dilakuakn dengan mengembangkan rasa ingin tahu,dan membiasakan untuk bertanya. Dengan selalu mengkritisi dan bertanya akan merangsang seseorang untuk membaca berbagai buku serta berdiskusi dengan dengan siapa saja. Membuka diri dengan siapa saja akan membuka banyak pengalaman dan wawasan yang akan memperkaya tulisan kita. Tidak kalah pentingnya adalah menulisd an menulis.

Sesi malam hari diisi oleh Drs.Much.Khoiri dengan memaparkan ragam karya tulis dengan cara yang sangat menarik dan simpel.Sajian yang cukup kocak dan para peserta merasa nyaman dan enjoy. Dengan simpel dia merangsang komentar pembaca dengan memanfaatkan foto yang ditayangkan di layar. Beberapaorang diminta untuk memberikan pendapat berbentuk nasarasi,deskripsi,eksposisi dan argumentasi. Tanpa dirasakan peserta merasa jelas dengan pemaparannya.

Dr. Suyatno sesi terakhir dengans emangat 45,berapi-api membawakana makalahnya berjudul:”Mengibarkan MerahPutih di Taing Tertinggi” sebuah motivasi untukmembangun gagasan kebangsaan berangkat dari keberagaman bangsa,konflik yang banyak terjadi dan bagaimana membangun kebangsaan melalui tulisan. Sajian ini amat heroik dan disela sajian dinyanyikan lagu kebangsaan bersama.Tanya jawab berlangsung sekitar 30 menit dan pukul 22.00kegiatan malam ini diakhiri. Capai tapi menyenangkan. (Surabaya, 24 Maret2012. Hidayat Raharja)

Kamis, 15 Maret 2012

Sepakbola , Bisnis , dan Kebangsaan

Oleh: Hidayat Raharja *

Salah satu cabang olahraga yang paling banyak menyedot penggemaradalah Sepakbola. Banyaknya penggemar tersebut diwadahi dalam wadah Suporter Klub Sepakbola yang digandrunginya. Jakmania untuk para suporter Persija- Jakarta, Bonek (Suporter Persebaya), Viking (Persib- Bandung), Aremania (Suporter Klub Arema Indonesia - Malang). Sebentuk simbiosis antara pemilik klub dan suporternya. Dikatakan simbiosis, sebab berkat dukungan suporter para pemain yang berlaga di tengah lapangan mendapatkan pompa semangat menggiring bola ke gawang lawan.

Olah raga yang membutuhkan dan mengandalkan kerjasama team, maka dalam sepaksola sebenarnya diajarkan bagaimana bekerja sama dan bersinergi untuk mencapai keusesan. Tidak egoisme, karena untuk sampai di depan gawang bola digiring oleh beberapa pemain dengan tugas yang spesifik. Ada penjaga gawang yang bertugas untuk menyelamatkan dari kemasukan bola. Pemain belakang yang membangun pertahanan supaya tak tertembus serangan lawan, gelandang yang menjadi pembagi bola dan mengatur irama permainan dan penyerang aynag bertugas melumpuihkan pertahan dan membobol gawang lain.

Dalam kehidupan kita, sepakbola bukan hanya permainan kulit bundar yang diperebutkan untuk dimasukkan ke gawang lawan. Sepakbola telah berimplikasi dalam segenap sendi kehidupan umat manusia. Sepakbola membentuk kesepahaman antara sesama sehingga para pensukungnya perlu membangun komunitas suporter. Dan ternyata di Indonesia banyak pula dimanfaatkna dalam kepentingan politik tertentu di suatu daerah. Massa sepakbola diajdikan sebagai pendukung untuk memenangkan calon kepala daerah dalam pilkada. Lewat bola terbnagun kekerabatn antara bangsa. Supporter MU yang ada di Indonesia membeikan dukungan kepada klub yang diidolaknnya. Bahkan mereka mau mengeluarkan biaya yang mahal untuk emnyaksikan Klubnya bertanding di lapanagn hijau. Kuarng mampu secara finansial, mereka membuka Nobar (nonton Bareng) utnuk menyaksikan kepiawaian para pemain jagoannya berlaga lewat layar lebar di pendapa atau di kafe di berbgaai tempat.

Berkat sepakbola roda perekonomian masyarakat bergerak. Stiker, Slogan, dan aneka asesories diciptakan untuk klub tertentu yang akan di pergunakan sebagai kostem para vsuporter. Kostum yang akan menyatukan mereka di lapangan saat idola merega berlaga. Industri kaos bergerak, mulai dari mereka yang mengisi distro sampai lapak mpedagang kaki lima di emperan jalan.

Sepakbola, salah satu jenis olahraga yang banyak memiliki penggemar mulai dari penduduk di tengah pemukiman padat di perkotaan sampai jauh ke pelosok desa. Mereka kenal Manchester United, Tottenham Hotspur,Liverpool , AC Milan, Intermilan, Barcelona, misalnya. Mereka mengikuti program liga sepakbola yang dialngsungkan di berbagai Negara; Liga Inggris, Liga Spanyol, Liga Jerman, dan Liga Indonesia. Saking banyaknya penggemar, beberapa liga di Eropa disalurkan lewat saluran (chanel khusus). Bagi siapa yang ingin meliputnya harus membeli hak tayang tersebut. Niali jual yang berhaga milyaran rupiah. Sebab di situ banyak sponsor berdatangan untuk bisa muncul pada saat tayangan laga sepakbola berlangsung. Para sponsor mau membayar mahal, sebabasumsinya makin banyak penotnotnnya, makin banyak kemungkinan produknya doikeknal, sehingga makin banyak pula pembelinya.

Bisnis sepakbola. Sebuah bisnis yang menggiurkan, karena di dalamnya para pengelola menangguk keuntungan. Sepakbola buikan hanya memasukkan bola ke gawang lawan, tetapi di dalamnya telah melahirkan aneka bentuk seni yang memberikan penghiburan bagi para penonton. Bagaimana pemain mempertontonkan skillnya untuk menggiring dan memasukkan bola. Serta tak kalah menariknya disaksikan mata saat seorang pemain mencetak gol ke gawang lawan. Seremoni di lapangan tersebut telah menjadi sebntuk dancing yang khas bagi setiap pemain dan setiap klub. Ada pemain yang alir ke sudut lapangan lalu membuat tarian yang sejenak disorot kamera, sajian yang klhas dalm dunai sepakbola. Tarian perayaan yang kemudian banyak mengilhami para awak meia untuk emngabadikan cara seremoni tersebut sebagai sebentuk selebrasid alam dunia boila yang khas, dan unik.

Pemain bola, tak kalah gajinya dengan direktur eksekutif di kantor pemerintahan. Mereka menjadi bintang baru dalam dunia kaca. Sehingga kehadirannya kerap ditunggu penggemarnya untuk hanya sekedar mendapatkan tandatangan atau foto bersama. Popularitas menjadikan mereka panutan baru kaum muda. Tampang tak jadi masalah, namun gaya dan perilaku mereka di lapangan teklah menjadi sumber inspirasi baru bagi kaum muda. Bintang lapangan bola, adalah aktor baru yang memainkan peran di tengah lapangan dan banyak ditunggu penggemarnya untuk melakukan akting terbaik dan memasukkan bola ke gawang lawan.

Pemain bintang seringkali menjadi obyek industri, karena mereka diperjual belikan melewati agen pemain dengan nilai transfer yang harus dibagi dengan agensi. Sesampai di klub yang mengontrak atau membelinya, tidak ada jalan lain harus bermain baik dan memasukkan gol ke gawang lawan sebanyak-banyaknya. Jika mereka sudah tidak produktif, maka akan “disepak” keluar lapangan. Tidak sedikit anak-anak belia yang berbakat main bola dibeli oleh Manchester United. Anak-anak muda yang harus berpisah dengan orangtuanya di negeri yang baru. Anak-anak yang kehilangan masa-masa bermain. B ila mereka tak mampu bermain bagus, maka akan dkembalikan lagi. Pengalaman pahit yang akan melekat daalm kejiwaan mereka. Saat mereka tak mampu lagi memberikan produktivitas dalam industri sepakbola, harus siap disingkirkan.

Tak jauh berbeda dengan negeri kita, berbagai pemain bintang didatangkan dengan kontrak yang cukup mahal untuk meramaikan industri sepakbola. Sekolah sepakbola berdiri di berbagai kota untuk membina bakal pemain yang kelak bisa mengharumkan nama Indonesia. Christian Gonzales, Irfan Bachdim, Bambang Pamungkas, Firman Utina, Andik Vermansyah adfalah nama pesepakbola yang fenomenal. Penonton bola dipenuhi wanita-wanita cantik. Pemain bola menjadi ikon dan iklan beberapa produk minuman, dan makanan di Indonesia. Sepakbola mnjadi sumber penghidupan baru, dan memberikan isnpirasi sebagai profesi yang menjanjikan kesusksesan di masa yang akan datang.

Kebangsaan

Sungguh mengharukan di saat timnas Indonesia dengan julukan “Garuda” menaklukkan lawan-lawannya dengan skor yang meyakinkan saat perebutan Piala AFF beberapa waktu yang lalu. Sebuah keharuan sekaligus bangga. Karena selama ini masyarakat rindu memiliki tim sepakbola yang tangguh dan mempersembahkan juara bagi bangsanya.

Saat tim “Garuda” bertanding di piala AFF hampir dapat dipastikan jalanan akan sepi, mereka minggir ke warung kopi yang menyediakan televisi dan nonton bersama tanpa emmandang idendtas, kelas, dan asasl-usul status sosial mereka. Sebagian lagiu menyediakan tenda dan layar lebar di tanah lapang,dan disertai dengan hiburan organ tunggal menunggu waktu berlaga tiba. Kostim Garuda dicetak dalam jumlah besar dengan aneka kualitanya menjadi kebanggaan baru, anak-anmak samp[ai orang dewasa mengenakan kaos dan Jaket tim ‘ Garuda”. Para penggila bola di tanah air sedia meginap di emperan gelora Bungkarno untuk antri tiket dan menyaksikan pertandingan tim yang dibanggakannya. Sebuah pengorbanan besar untuk sepakbola dan untuk menyemangati para pemain berlaga di tanah lapang. Ujung-ujungnya untuk menegakkan martabat Bangsa yang selama ini kendur prestasi bolanya.

Meski akhirnya tim Indonesia tidak memenangi Piala AFF, namun kebersamaan pendukung timnas sepakbola masih bersatu padu menyuarakan kebangkitan bola. Semangat revolusi untuk sepakbola Indonesia. Kekalahan tidak membuat mereka marah atau membalas perlakuan penonton Malaysia. saat leg pertama timnas “Garuda” bermain di Malaysia beberapa penonton mengarahkan sinar laser ke wajah dan mata Markus Horison, sehingga membuyarkan konsentrasi. Perlakuan semacam itu tak dilakukannya saat leg kedua Malaysia tandang ke Gelora Bungkarno. Justru yang mengharukan para pendukung menunggu para pemain timnas. Meski merekla kalah tetap disanjung. Mereka mengelu-elukan Gonzales, Irfan bacdim, Bambang pamungkas, Ottomaniani misalnya seagai ikon baru dalam sepak bola Indonesia.

Demi bola, Gonzales, Irfan Bachdim. Kim Kurniawan melakukan naturalisasi menjadi warga negara Indonesia. Oleeee...oleeeee...olleee oleolee olee..oleee!!!!!




Rabu, 14 Maret 2012

JAM BELAJAR YANG KIAN MENYESAKKAN

Pada suatu hari di dalam kelas ada ulangan harian. Ulangan tersebut “Open Book”, jadi setiap siswa dapat membuka buku untuk mencari jawban soal yang ditanyakan. Jam berdentang dan soal dibagikan. “Anak-anakku silahkan buka buku biologi kalian. Kerjakan sendiri dan jangan bekerjasama dengan teman sebangku!” pinta Pak Guru di depan kelas. Anak-anak sibuk mengerjakan soal, mengambil buku biologi dan membuka mencari jawaban. Mereka tampak gelisah dan membolak-balik buku tidak tenang.

Beberapa waktu kemudian mulai terdengar suara berisik menanyakan jawaban pada teman sebangku. Suara itu makin berisik menanyakan jawaban ke teman di bangku sebelah. Suara berisik seperti beredengung dna mulai mengganggu suasana kelas. Pak Guru mengingatkan kembali murid-murid untuk tenang. Sesaat murid-murid dalam ruangan kelas, tenang. Namun, tak lama mereka berisik lagi.

Satu anak berpindah ke belakang menanyakan jawaban kepada temannya yang ada di belakang dengan alasan meminjam penghapus. Mereka kembali berisik sibuk mencontek dan memberikan jawaban kepada teman sebangku atau teman sebelah.

Suasana kelas anak-anakku saat ulangan, mereka sudah pada gelisah untuk mendapatkan nilai bagus. Mereka takut mengikuti remedial, karena katanya kalau ikut remedial akan dimarahi oleh orangtuanya. Sungguh, pernyataan yang jujur. Mereka melakukan berbagai cara untuk mendapatkan nilai baik supaya tuntas memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal.

***

Suasana yang mungkin bisa juga ditemukan di tempat lain. Kondisi yang dipengaruhi oleh perubahan kehidupan di lingkungan anak-anakku belajar. Mereka sudah dikepung oleh berbagai macam tontonan dan hiburan dan menjauhkan mereka dari buku. Tak banyak lagi anak-anakku membaca buku, dan mereka lebih tertarik dengan permainan-permainan yang mengasyikkan. Perkembangan teknologi telah mengubah kehidupan alamiah kita menjadi kehidupan yang serba praktis dan skeptis. Belajar instan sebagai sisi efek dari perkembangan kehidupan instan dalam kehidupan nyata. Teknologi telah menyuilap semuanya.

Mereka sudah enggan untuk mau berproses dalam melakukan sesuatu, karena mereka menginginkannya dengan cepat dan dalamw aktu yang singkat. Celakanya lagi, jam belajar anak di rumah sudah tak terkontrol, karena kesibukan kedua orangtua yang banyak menyita waktu tak sempat menemani anak belajar di rumah.

Anak-anak itu kadang merasa terabaikan. Jarang ada yang menanyakan kesulitan belajar yang dialami di sekolah. Bahkan mereka hanya disediakan fasilitas tapi tanpa pernah diberi semangat,tak ada ruang untuk membuka keresahan dan kesah yang mereka temukan di sekolah. Lembaga bimbingan belajar menjadi salah satu ruang yang memberikan mereka kesempatan belajar dengan biaya “relatif”.

Tekanan – demi tekanan terus membuntuti anak-anakaku., jam belajar yang kian padat antara 12 sampai 17 mata pelajaran 42 sampai 44 jam pelajaran dalam seminggu, bahkan lebih. Tekanan yang menbuat anak stress, ditambah dengan sajian pembelajaran yang tidak konstruktif dan tidak konstekstual, serta takmenyenangkan. Jadilah anak-anakku wadah-wadah kosong yang setiap hari dijejali dengan aneka materi pelajaran yang kadang tak pernah mereka mengerti untuk apa , mereka menelannya.

Otak mereka pun seperti dipotong-potong menjadi bagian demi bagian untuk setiap mata pelajaran. Potongan-potongan yang tak tersambung dan tak disambung dalam sebuah korelasi keilmuan yang membuat menjadi lebih bermakna.

Kamis, 26 Januari 2012

FiksiMINI di Antara Sesakan Waktu

FiksiMINI
Fiksi mini ada yang menyebutnya cerpen pendek, merupakan cerita fiksi yang sangat singkat. Cerita sekilas, atau ada yang menyebut Flash Fiction. Dalam perkembangan peradaban teknologi dan informasi genre cerita ini terus berkembang dan menjadi fenomena baru dalam perkembangan cerita di tanah air. Cerita yang dipublikasikan di internet, lewat SMs dan belakangan ini berkembang melalui jejaring sosial tweeter.
Flash fiction adalah karya fiksi yang sangat singkat, bahkan lebih ringkas daripada cerpen. Walaupun tidak ada ukuran jelas tentang berapa ukuran maksimal sebuah flash fiction, umumnya karya ini lebih pendek dari 1000 atau 2000kata Rata-rata flash fiction memiliki antara 250 dan 1000 kata. (Sebagai perbandingan, ukuran cerita pendek berkisar antara 2.000 dan 20.000 kata. Rata-rata panjangnya antara 3.000 dan 10.000 kata.)
Beberapa karya di tanah air pernah terbit beberapakumpulan cerita pendek mini yangditerbitkan Yayasan Multimedia Sastra dengan judul”Graffiti Imaji”, Flash!Flash! Flash!terbitan Gradien menyebut dirinya sebagai kumpulan “cerita sekilas”. Sejumlah sastrawan menyebut dengan “cerita mini”, disingkat “cermin”. Semua ini mengacu pada rupa flash fiction yang sepertinya dirancang untuk dibaca sekaligus.
Dalam perkembangan belakangan ini komunitas ini bertumbuhan dengan ratusan sampai ribuan pengikut (follower), dan telah beberapa kali mengadakan kopi darat di Taman Ismail Marzuki. Pada acara semacam itu dihadiri oleh para follower yang sangat beragam, mulai dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan eksekutif muda. Dari tangan mereka muncul beberapa cerita yang sangat khas dan unik, sehingga diakui oleh beberapa sastrawan, fenemona tersebut merupakan kecenderungan baru sastra di tanah air.
Respon beberapa pengamat dan para sastrawan seperti Seno Gumira Adjidarma, Agus Noor, dan Djoko Pinurbo memandang perkembangan sastra lewat jejaring sosial tweeter merupakan fenomena sastra yang merupakan bagian dari sejarah perkembangan sastra di tanah air.
Cerita dengan kata-kata yang terbatas merupakan sesuatu yang unik, adakalanya melahirkan sesuatu yang biasa dan ada di hadapan kita. Namun ada kalanya karena pendeknya cerita mengandung pesan yang tersirat.
Keterbatasan jumlah kata flash fiction sendiri sering kali memaksa beberapa elemen kisah (protagonis, konflik, tantangan, dan resolusi) untuk muncul tanpa tersurat; cukup hanya disiratkan dalam cerita. Secara ekstrem, prinsip ini dicontohkan oleh Ernest Hemingway dalam cerita enam katanya, “Dijual: sepatu bayi, belum pernah dipakai.”
Perkembangan fiksimini dalam akun tweeter terdiri-dari beberapa karakter sampai 140 karakter. Sebuah cerminan dunia cerita dan komunikasi yang kian cepat dan terbatas, sehingga memberikan ruang baca di antara waktu yang terus bergerak dan digerakkan.
Inilah beberapa contoh Fiksimini.
Payung
Hujan semakin deras ketika ia tiba di kota kekasihnya. Dalam hujan, seminggu lalu kekasihnya pergi karena ia lupa membawa payung saat keduanya berjalan-jalan menyusuri kota. Lagi-lagi ia lupa bawa payung. Lalu ia pergi dari kota kekasihnya dalam hujan.
http://cintamini.blogdetik.com/
Pulsa
Semalam ia lupa mengirim sms selamat tidur kepada kekasihnya. Paginya, dengan wajah cemberut kekasihnya datang membawa sekotak kartu voucher pulsa.
http://cintamini.blogdetik.com/
Bibir Gelas
Lelaki itu melangkah mendekati gelas yang ditinggalkan oleh perempuan cantik yang selalu ingin ia cium bibirnya. Ada bekas bibir di bibir gelas yang segera ia hapus dengan bibirnya tanpa sisa.
http://cintamini.blogdetik.com/
Cerita Mini: Taman tanpa Bunga
Disana tak ada seekor kupu-kupu, banyak tanaman bunga tak satupun berbunga. Walau hari, bulan ini masih musim semi.
http://id.kemudian.com/node/237621

fiksimini Fiksi Mini
RT @Vortgaz:
SERTIFIKAT LULUS BAHASA MANDARIN
"Semoga kali ini majikan bisa mengerti." isaknya

RT @ivanriskyy:
BAHASA MANDARIN •
Kubuka kamus untuk mengerti yang diucapkannya. "Semoga sempat.." Separuh badannya sudah tenggelamfiksimini Fiksi Mini

RT @KataKayu:
BARONGSAI –
Di tengah pertunjukan, ia membuka mulutnya. Penonton kocar-kacir. Ada kaki rusa terselip di giginya.
fiksimini Fiksi Mini

RT @daprast:
"GUSUR SEMUA!"
- Kelak, apartemen termewah akan berdiri di atas panti asuhan tempatku dibesarkan dulu
fiksimini Fiksi Mini
RT @Vortgaz:
PELAKU PEMBAKAR RUMAH DITANGKAP
- "Saya tidak mampu membiayai pemakaman istri saya, Pak."

fiksimini Fiksi Mini
RT @sibangor:
KREMASI –
Cerobong mengepulkan asap tebal, saat jasadnya kumasukan ke dalam tungku. Matanya melotot.

fiksimini Fiksi Mini
RT @sibangor:
HUJAN ASAM –
"Masuk, Nak. Nanti kamu karatan lagi."

RT @hurufA:
SETELAH MENENGGAK OBAT TIDUR
~ Ia tertidur sangat pulas. Bahkan malaikat maut tak bisa membangunkannya
fiksimini Fiksi Mini

RT @susterinne:
TIDUR TERLALU LELAP.
Keesokan harinya, kakiku tak menapa

Sumber:
http://twitter.com/fiksimini
id.kemudian.com/node/237621
chocovanilla.wordpress.com/tag/cerita-mini/

Kamis, 29 Desember 2011

KEKERASAN

Oleh: Hidayat Raharja
Menjelang tutup tahun 2011 ada beberapa kasus kekerasan yang mengusik pikiran kita. Pertama,kasus kekerasan di Mesuji- Lampung, Kekerasan di Bima keduanya menyangkut persoalan tanah dan meminta korban jiwa. Peristiwakekerasan yang ketiga adalah pemabakaran sebuah pesantren di desa Karanggayam – Omben – Sampang. Kasus yang ketiga disebabkan karena mengajarkan aliran agama ,dan itu terjadi antara sesaudara; kakak beradik. Berita aneka tindak kekerasan berlngsung secara bersambung dilayar televisi,di antara hirukpikuk kasus korupsi yang membelit pengusaha dan pejabat di negeri ini.
Kekerasan sepertinya menjadi jalan keluar di antara kebuntuan persoalan yang selalu mengorbankan rakyat kecil,dan keberpihakan penguasa pada pemilik modal. Jika demikian habis sudah rasa percaya diri orang kecil kepada para pemimpin negeri ini, karena harga diri telah dipertukarkan dengan modal atau uang. Para penguasa menurut salah seorang pengamat sosial politik di televisi telah berpihak pada kekuatan kapital; “Maju tak gentar membela yang bayar.” Sungguh ironis para pemimpin yang dipilih rakyat menindas rakyat. Orang kecil hanya diperlukan saat menjelang pileg, pilkada,dan pilpres.
Benarkah karena sudah tidak ada jalan keluar? Ada banyak hal yang dapat kita uraikan, dari berbagai sudut pandang. Sujiwo Tedjo dalam sebuah diskusi bersama Radhar Panca Dahana, dan Moh. Sobari mengurai mengenai kekerasan dari sisi budaya. Menurut Sujiwo Tedjo, kekerasan itu merupakan salah satu budaya dalam masyarakat kita. Orang Jawa yang lemah lembut di belakangnya menyungging Keris. Orang Madura menggenggam clulit. Orang Aceh memegang Rencong, dan hampir di setiap daerah memiliki senjata yang khas yang dipergunakan sebagai senjata. Berlatar pada budaya kekerasan tersebut,maka hendaknya setiap pemimpin berlaku adil dalam memimpin dan mengayomi rakyatnya.Sebab, jika para pemimpin tidak bijaksana maka rakyat akan memberontak, mereka akan melakukan kekerasan untuk melawannya.
Rakyat malakukan kekerasan karena mereka diperlakukan tidak adil, penguasa seringkali berpihak kepada pemilik modal. Kekerasan bukan merupakan sebuah budaya masyarakat Indonesia, melainkan sebuah bias karena pemimpin yang tidak adil.Menurut Sobari dan Radhar pemerintah tidak mampu melakukan diplomasi sebagai mana dilakukan oleh para pemimpin terdahulu. Perlu diingat bahwa Indonesia merdeka,bukan hanya karena senjata bambu runcing, tetapi karena hasil diplomasi para pemimpin sehingga banyak mendapat dukungan dan pengakuan dari berbagai negara di dunia.
Sangat disayangkan memang ketika tanpa disadari kita telah menanamkan “kekerasan”dalam berbagai sisi kehidupan kita. Kererasan psikhis dalam berbagai ancaman dalamkehiduan yang membuat tidak nyaman. Kekerasan ekonomi, yang memaksa kita untuk membayar lebih dari ketentuan yang ditetapkan dalam layanan, karena jika tidakmemberikan “tips”maka layanan kita akan tertunda. Kekerasan “politik” yang berbagaikekuasaan untuk melanggengkan kekuasaan meski rakyat kelimpungan mempertahankan hidupnya seharihari. Kekerasan dalam bidang pendidikan yang tak mampu memberikan honor yang layak bagi Guru Tidak Tetap (GTT) yang dibayar dibawah UMR daerah setempat. Di beberapa tempat sukarelawan guru Sekolah Dasar ada yang dibayar Rp.50.000 (limapuluh ribu rupiah) setiap bulan. Mungkin inipemecah rekor MURI seorang sarjana dengan honor limapuluh ribu rupiah. Ah, betapa banyakkekerasan berlangsung di sekitar kita, tetapi hanya kesabaran dan ketabahanlah yang membuat mereka bertahan, dan bersyukur dengan apa yang dihadapi hari ini.Namun kesabaran orang kecil perlu diimbangi dengan kesungguhan para pemimpin untuk memulaikan dan mensejahterakan rakyat yang dipimpinnya. Jika tidak?! selamat tahun baru 2012.

Rabu, 21 Desember 2011

PENGABDIAN PARA GURU MUDA

Oleh: Hidayat Raharja*
Sore beranjak malam. Sebuah stasiun televise menayangkan acara “Pengabdian” .Pada malam itu kebetulan ditayangkan seorang perempuan muda yang terpilih dalam Program Indonesia Mengajar dan ditempatkan di suatu daerah di luar Pulau Jawa. Perempuan cantik, enerjik, dan begitu bersemangat menjalankan tugas pengandiannya di sebuah sekolah dasar yang ada di tengah hutan.

Aku tak ingat namanya, tetapi aku ingat perempuan itu penuh gairah, kreatif, dan interaktif dengan anak-anak yang diajarinya. Interaksi dengan anak-anak yang bermukim di daerah yang terpencil nun jauh di sana. Sungguh menaskjubkan, anak-anak itu begitu ceria mereka mudah menerima dan berinteraksi dengan Bu guru yang baru. Anak-anak yang tidak jauh bebrbeda dengan anak-anak seusianya.

Anak-anak berseragam putih merah itu bagai menemukan oase. Mereka menemukan sesuatu yang dirindukannya. Mereka selalu merindukan kehadiran Bu guru muda yang sebenarnya bukan seorang guru. Ya, dia bukan seorang guru, ttepai mempunyai semangat yang tuluis dan ikhlkas untuk menularkan ilmu yang dimilikinya dalam sebuah pengabdians ebagai guru di program “Indoensia Mengajar”. Penganbdian yang tulus, karena mereka berani meninggalkan poekerjaanya dengan gaji mapan, hanya untuk menjadi guru di pelosok desa selama satu tahun. Sebuah [pengabdian untuk memberikan bekal pengetahuan. Membangun mimpi-mimpi anak-anak di pelosok itu untuk meraih masa depan.

Dia seorang sarjana berprestasi yang mencoba untuk mengabdikan diri, membangun sejarah hidup untuk dikenang anak cucunya kelak di kemudian hari. Guru muda yang kreatif dengan segala keterbatasan fasilitas yang ada, di manfaatkannya keterbatasan untuk menanamkan pemahaman, dan pengetahuan yang bermakna bagi kehidupan anak-anak desa itu. Saat mengajarkan peta Indoenesia Bu guru tidak cukup memberikan teori, tetapi diajaknya anak-anak ke tepian laut yang tak jauh dari sekolah. Lalu, digambarnya peta buta Indonesia, dengan cakap anak-anak itu menyebutkan nama pulau di peta yang di bua. Di tatapnya lautan luas, memandang luas kepulauan wilayah Indonesia.

Alam (pantai) menjadi sumber belajar mereka. Di tepian laut. Di atas hamp[aran pasir digambarnya peta, dipahaminya skala peta dengan ukuran nyata, angin darat, angin laut an kegunaanya bagi kehidupan nelayan dan kehidupan mereka. Sebuah pembelajaran holistik, pem,belajaran yang mengakokmodir aneka kecerdasan mereka.

Ternyata anak-anak yang ada di pelosok ituadalah anak-anak yang cerdas. Anak-anak yang memiliki cita-cita setinggi langit dan seluas laut terbentang di hadapannya. Bu guru muda yang tengah mengabdi telah memantik dan memercikkan bintan-bintang dari anak-anak di daerah terpencil. Selama setahun mereka mengabdi, setahun pula mereka menanam, dan harapan itu mulai tumbuh dan terus tumbuh.

Datangnya pengajar-pengajar muda, adalah inspirasi baru dalam dunia pendidikan kita. Bahwa; pertama, betapa selama ini anak-anak itu begitu rindu pembelajaran yang menggairahkan. Mereka rindu untuk mengenal lingkungan alamnya, masyarakat dan bangsanya. Kedua, dunia pendidikan kita harus berubah, karena anak-anak itu tidak lagi lahir jaman penjajahan. Anak-anak itu tidak lahir di jaman otoriter, tetapi anak-anak itu hadir dalam sebuah jaman yang bebas di tengah serimpungan arus informasi dan teknologi. Anak-anak yang tengah diintai cengkeraman kapitalisme dalam kehidupan masa depan mereka.
SUMENEP, awal Desember 2011

IBU MENJADI HUTAN BAGI TEDUHANKU

Oleh: Hidayat Raharja

Sebilan belas tahun sudah ibu meningalkan aku untuk selamanya. Banyak hal yang dia tinggalkan dan takkan pernah aku lupakan sepanjang hayatku. Ibu yang menjadi hutan bagi teduhanku, melindungi segala ketakutan dan memenuhi segala yang aku buuthkan; cinta. Semoga Ibu mendapatkan tempat yang mulia di sisi Nya. Amin.

Apa yang harus aku ungkap mengenai Ibu? Takkan ada kata –kata yang mmapu menumpahkan segala kebajikan yang telah diberikannya kepadaku. “belajarlah yang rajin, biar nanti kau jadi orang suskes, orang uang berguina bagi sesama, agama dan bangsanya!” suatu ketika ibu berpesan kepadaku. Ibu memang tidak berpendidikan tinggi, tetapi cita-cita Ibu untuk anak-anaknya amatlah mulia. Ibu memang bukan lulusan pendidikan tinggi, tetapi apa yang Ibu didikkan kepada kami anak-anaknya adalah pejaran hidup yang amat berharga. Jika aku berhasil, adalah karena kasih sayang ibu dalam mendiidkan kami, dalam doa-doanya di maam-malam yang sepi sehingga hanya dia dan Tuhan saling bercengkerama dan berbagi.

Tak ada yang bisa aku kadokan buat ibu. Kesederhanaan yang pernah ibu tanamkan adalah satu-satunya kebahagiaan yang aku nikmati. Hanya doa buat kemurahan Nya menempatkan Ibu di tempat yang nyaman dan berbahagia di sisiNya. Tak ada kue ulang tahun yangh pernah kami buat untuk merayakan ulang tahunku. Namun, Ibu selalu menahan lapar , dahaga, dan memanjatkan doa untuk kemuliaaan anak-anaknya.

Kini aku sudah menjadi orangtua, dengan dua anak remaja yang tengah tumbuh meraih masa depannya. Seorang anak perempuan yang bercita-cita menjadi orang sukses yang berguna bagi orang lain, dan seorang anak laki-laki yang akan menyelesaikan pendidikan dasar. Seorang anak yang penuh misteri dan selalu suka berbagi dengan orang lain. Penyuka olah raga dan kurang suka membaca. Tetapi aku yakin dia punya jalan yang tempuh yang berbeda tetapi tetap dalam lintasan pengabdian kepada sesama, agama dan bangsanya.

Ibu, aku tak akan mengeluh, sebagaimana Ibu pernah tempuh hidup yang kadang tak teduh. Penderitaaan mematangkan Ibu dalam menjalani kehidupan yang keras dan penuh tantangan, namun Ibu senatiasa mernguatkan diri dengan doa. “Jangan mengeluh pada manusia, karena Tuhan yang punya segala,” begitu ibu sampaikan pada anak-anaknya yang sring dilanda kecewa dan putus asa. Penderitaaan yang diajalani dengan tabah, sebuah pelajaran hidup yang membuat ibu semakin matang dalam membesarkand an mengantarkan anak-anaknya ke gerabang hidup yang kian buas.

Umur Ibu memang tidak panjang, dipanggil Tuhan pada usia empat puluh dua (42) tahun. Tetapi kasih sayang, pengorbanan ibu, dan nasehat-nasehatnya teruys menyala dalam hati anak-anaknya. Lentera penerang yang selalu menjadi pengantar doa seusai sholat lima waktu. Waktu sebentar, namun bayak hal yang ibu tanamkan.
“Sholatmu, kamu jaga, tepat waktu dan jangan sampai lalu!” pesanmu pada anak tertuamu.
“Lindungi adik-adik perempuanmu. Akurlah sesama saudaramu. Bantulah saudaramu yang kurang beruntung, biar hidupmu berguna. Jangan berseleisih harta dengan saudara. Mengalahlah, karena Tuhasn Maha Kaya, mintalah kepada Nya!”

Kata orang aku separuh mirip ibu dan separuh mirip Bapak. Tentu, karena aku anak mereka. Anak yang mereka cintai dan harapkan jadi penerus generasi keluarga. Namun apa yang aku kerjakan belum sebesar pengorbanan yang ibu berikan. Maaf Ibu. Maafkanlah segala khilaf dan salah, dan tingkah polah yang pernah menyakitkanm hati ibu. Aku yakin Ibu tak akan mengutuk aku jadi batu. Hati ibu yang mulia, aku nyalakan sepanjang lorong tempuahnaku. Lorong yang menunjukkanku ke sumber mata air tempat anakanaknya membersihkan diri. Lorong menuju rumah mungil tempat anak-anaknya berdua dengan kekasihnya berhadapo-hadapan setiap waktu. Lorong menuju hutan raya, tempat segala hidup ceria. Sebelum semua fana.

Ibu, lorong kecil tempat akau mengintip dunia dan tempat aanak-anaknya meminta kunci tulus yang membukakan gerbang surga yang nyata.

Sumenep, 22 Desember 2011