Translate

Selasa, 15 Maret 2011

MEMAKNAI SAJAK PENDEK SAIFUL HAJAR DALAM KONTEKS POLITIK DAN HUMANISME [1]

Oleh: Hidayat Raharja[2]

berhenti membaca hancur/ membaca terus babak belur

di antara nada kearifan sosial/berkumandang tanpa getaran

(Lelah Membaca Indonesia)

Puisi sampai saat ini masih ditulis dan dibaca, sebagai suatu teks yang memiliki nilai-nilai yang mengkayakan kehidupan. Meski dapat dipahami bahwa puisi tidak dapat merubah kehidupan secara langsung, tetapi di dalam puisi kita dapat melihat permainan bahasa dan estetika yang menyentuh kepada harkat kemanusiaan dan kehidupan yang selalu dinamis. Dalam perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, ruamg elspresi semakin terbuka, dan reproduksi puisi semakin berjibun. Puisi tak lagi menjadi barang mewah tetapi sebentuk produk yang bertebar di berbagai ruang terbuka. Semua dapat ambil bagian dan semakin tipis sekat di antaranya.

Ada banyak pilihan bagi pembaca untuk menikmati puisi Indonesia mutakhir, dari yang sekadar bermain dengan kata-kata, sampai pada sesakan persoalan politik, humanisme, dan ragam persoalan lainnya berhambur dalam kehidupan kita. Di sinilah sebenarnya pilihan bagi kita untuk menuai apa yang kita inginkan dan mengabaikan apa yang tak dikehendaki.

Persoalan Humanisme, adalah persoalan yang bersangkut paut dengan; 1. aliran yg bertujuan menghidupkan rasa perikemanusiaan dan mencita-citakan pergaulan hidup yg lebih baik;2. paham yg menganggap manusia sbg objek studi terpenting; 3. aliran zaman Renaissance yg menjadikan sastra klasik (dl bahasa Latin dan Yunani) sbg dasar seluruh peradaban manusia;4. Kemanusiaan.

Persoalan Politik adalah persoalan mengenai ketatatanegaraan dan kenegaran menyangkut soal kebijakan , tindakan terhadap negara atau negara lain serta pada berbagai sistem dalam kehidupan

Pilihan terhadap persoalan-persoalan humanisme dan politik yang selalu menikam pikiran, menjadi salah satu bagian dalam percaturan puisi di Indonesia. Sebagaimana keterbukaan ruang puisi dan prosa yang dikaji Afrizal Malna dengan memberikan berbagai kemungkinan bagi pembaca untuk memberikan tafsir. Tak ada yang absolut dan kekal, semua terbentang dalam ruang-ruang kemungkinan yang meniscayakan.

****

Membaca sajak-sajak Saiful Hadjar dalam “Lelah Membaca Indonesia” Terbitan Kelompok Seni Rupa Bermain (KSRB) seperti membuka kitab kehidupan dalam bermasyarakat berbangsa, dan bernegara. Membuka perjalanan kehidupan yang terus bergerak dan terbentur kepada persoalan kemanusiaan yang tak pernah tuntas diperdebatkan. Pilihan Saiful atas berkesenian dengan melibatkan kepada persoalan-persoalan kemanusiaan dan kesewenangan penguasa, perlakuan diskriminatif dan manipulatif. Persoalan yang membuat kita mengernyitkan kening dan mengelus dada, karena banalnya kekekjian di tengah masyarakat yang beragama dan beradab. Situasi yang kerap membuat frustasi dan putus asa. Namun di dalam sajak-sajaknya Saiful mengolah persoalan-persoalan tersebut menjadi sketsa dengan goresan-goresan tajam, memberikan kesan yang tegas terhadap subyek persoalan tanpa harus merasa tertindas. Sebuah sketsa yang memotret persoalan humanisme dan politik menjadi sebuah sajak karikatif, naif , dan kadang menjungkirbalikkan akal sehat. Slogan yang seringkali terasa menekan secara impulsif diolah menjadi sebuah antitesa yang membuat kita tertawa, dan melepaskan tekanan-tekanan normatif yang mengepung kehidupan kita.

KB

dua istri cukup/ tua muda / sama saja (halaman 18)

Sebuah puisi yang berbau slogan dan akan mengingatkan kiat kepada iklan Keluarga berencana; dua anak cukup/ laki perempuan/ sama saja. Sajak KB milik Saiful akan mengajak kita untuk menelusuri persoalan lebih jauh dengan mebalikkan pemahaman yang telah banyak diseragamkan lewat ruang publik dan media elektronik dan internet. Sebuah antitesa terhadap peningkatan populasi wanita Indonesia melebihi jumlah laki-laki, maka plogami adalah hal yang memungkinkan dalam kalkulasi matematis. Sebentuk pengendoran persoalan-persoalan publik untuk dislesaikan secara rileks.

Logika terbalik ini juga ditemukan pada sajak “Hari Yang Tercatat”; tengah malam/ terasa hening / kusetubuhi ayam/ yang lahir musang (hari yang tercatat, 16).

Dalam rantai makanan yang tertanam di otak kita, musang sebagai predator dan ayam adalah korban. Dalam pusi ini ayam melahirkan musang adalah sebuah pembalikan fakta dengan menelusuri korban untuk mengetahui pangkal permasalahan. Bukankah selama ini dalam ekhidupan bernegara seringkali sum,ber persoalan disembunyikan tetapi dicarikan korban-korban lain yang sebenarnya hanyalah korban dari sebuah sistem yang pseudodemokratis. Penyelasiaan persoalan masih lebih menekankan kepada kepentingan politis daripada kepentingan publik yang berkeadilan.

Terhadap persoalan-persoalan yang terus menyesaki ruang publik, kita kerapkali diajak untuk melupakan peristiwa, tetapi kerapkali pula peristiwa itu diulang lagi sehingga sering berkubang pada persoalan yang sama. Terhadap persoalan –persoalan semacam itu Saiful mengabadikannya dalam larik-larik yang pendek namun menyimpan ruang komunikasi yang lapang untuk ditafsir pembaca.

duh, gusti...!!! (Sajak Anak Cucu Tapol, 22)

sebuah sajak yang mengabadikan bagaimana para anak keturunan mereka yang diogolongkan kepada para eks anggota PKI, seakan seumur hidupnya adalah cela, meski mereka sendiri tidak mengenal paham Marxisme dan Komunisme. Label yang kemudian coba dibuang di era reformasi, meski pada kenyataannya masih banyak perlakuan diskrimiantif terhadap mereka.

Perilaku Korup

Membaca Indonesia juga membaca banyaknya kasus korupsi yang terjadi di berbagai lembaga, dan belum banyak tertangani. Menariknya perlaku ini bukan dilakukan oleh mereka yang kekurangan materi, tetapi dilakukan oleh mereka yang seharusnya bisa memberikan tauladan kepada masyarakatnya. Korupsi yang terjadi di Gedung Parlement, Birokrasi, dan berbagai ruang adalah sesuatu yang tidak kan dilupakan. Seorang koruptor bisa berweekend ke pulau Bali dan Luar Negeri, adalah peristiwa yang khas di Indonesia. Tanpa rasa bersalah, dan bahkan kemudian menjadi tayangan di berbagai media elektronik layaknya artis yang baru diorbitkan.

Terhadap perilaku para pemimpin yang bejat tersebut Saiful menulisakan dalam larik: tergolong bangsa besar/ suka main pat-gulipat/semua kasus disikat/sampai di skandal penguasa/ jauh dari terungkap/ jadi akrobat/ di setiap hati rakyat// (Negeriku Menyanyi, halaman, 80)

Atau apa yang dikatakannya dalam “Ekologi Gelap” mengenai bencana alam yang tak pernah reda, sebagai bentuk imbas dan amuk alam karena telah banyak dirusak oleh manusia, manusia sudah bertindak semaunya, sehingga alam tak bisa lagi kompromi dengan kehidupan manusia.

Atau bagaimana kemudian para koruptor berperilaku santun untuk menutupi kebrutalannya menelan uang rakyat, sehingga menjadi orang yang santun, sosial, dan dermawan, sebagaimana yang teruingkap dalam sajak “Post Korupsi” berikut ini;

suka pakai bukan milik sendiri

untuk mewujudkan mimpi

tak mau peduli

siapa yang dirugikan nanti

ditebus dengan menyantuni

(halaman 37)

Pijakan pada persoalan kemanusiaan merupakan pilihan Saiful yang selalu akan hadir dalam sajak-sajaknya yang pendek namun banyak menyimpan persoalan-persoalan kritis. Karena sebagai manusia kita memiliki bahasa yang sama, bahasa manusia yang menjungjung martabat kemanusiaan dan kemerdekaannya. Sebenarnya merupakan hakikat dari kesadarannya sdebagai manusia yang memiliki kedudukan yang sama di hadapan Tuhan, sehingga manusia lainya harus berlaku adil terhadap sesamanya.

Dalam menghadapi aneka kondisi kehidupan yang karut-marut, seringkali Tuhan dijadikan sebagai eskapies. Sebuah kesadaran yang hadir setelah berbenturan dengan pelbagai persoalan yang tak tuntas diselesaikan. Ketika persoalan-persoalan saling menerkam jungkirbalik menerkam pikiran, pada akhirnya mereka menyadari keterbatasan, ketakberdayaan dalam menghadapi buntalan persoalan tersebut, sehingga meyakinkan kalau Tuhan adalah yang Kekal.

Meski bumi mampu kau jadikan / rumah sakit jiwa / jangan mimpi mampu neniadakan Tuhan

(Post Humanity, halaman 9)

Pada titik balik kesadaran inilah Saiful menyadari pula bahwa kalau puisi takkan mampu membalikkan persoalan, selain untuk mengabadikan, mengekalkan dan menyerahkan kembali persoalan kepada kehidupan bersama, dan Tuhan sebagai penentunya. beribu-ribu kata bermuara ke puisiku/ beribu-ribu makna kutak tahu/ diam dalam mi’rafmu (puisi Keribuan, 91)

Membaca kumpulan puisi “Lelah Membaca Indonesia” seperti membuka lembaran kitab yang di dalamnya menyimpan kasus-kasus humanisme, politik, ekologis, dan Spiritual. Sebentuk perlawanan terhadap neokolonialisme dengan cara menjungkirbalikkan fakta dalam larik-larik sederhana untuk memberikan makna baru dari peristiwa yang terbaca dalam berita. Perlawanan dilakukannya tidak hanya dengan mempergunakan puisi tetapi juga persebaran teks melalui media teknologi komunikasi lewat SMS ke berbagai rekanan dan kawannya di seluruh wilayah Indonesia. Suatu perlawanan ketika kumandang kearifan sosial kehilangan getarannya di tengah hiruk-pikuk persoalan yang membuntal humanisme dan berbagai kepentingan politik yang saling bertabrakan.



[1] Disajikan pada acara bedah buku “Lelah Membaca Indonesia” –Pekan Seni Madura – UKM Sanggar Lentera – STKIP PGRI Sumenep, tanggal 20 Maret 2011 .

[2] Penulis lepas, saat ini menjadi Tenaga Pengajar di SMA Negeri 1 Sumenep.

Kamis, 03 Februari 2011

KEMARAU YANG LAIN; DONGENG YANG TERSISA DI TENGAH KECAMUK SOSIAL

Oleh: Hidayat Raharja*

Cerpen sebagai cerita yang pendek, merupakan suatu yang menarik untuk disimak dan direnungkan. Di dalamnya kita menemukan sebuah dunia ideal yang diimpikan. Bahkan kadang menemukan dunia fakta yang tersebunyi dalam kenyataan. Meski sebuah cerpen adalah cerita yang bersifat fiksi, namun kadang di dalamnya tersesat realitas yang tak terungkap dalam dunia nyata.

Membaca sebuah cerpen, membaca sebuah konstruksi sosial masyarakat yang melatarbelakangi pengarang, untuk menyampaikan ide dan persoalan yang disandangnya. Konstruksi sosial dimana kreator tinggal, dan kemana dia menginginkan. Meski tak sepenuhnya diyakini cerpen dapat mengubah kehidupan sosialnya, tetapi sebagai teks, tak dapat diingkari kalau cerpen mengandung pesan yang akan dicerna dan direnungkan pembaca.

Hal yang sangat menarik, kala membaca cerpen-cerpen yang terkumpul dalam antologi ‘Kemarau yang lain” Penerbit - Komunitas Peara - Sumenep - terdiri-dari 10 cerpen, seakan memasuki wilayah rawan tersembunyi, dan menyimpan gejolak serta pemberontakan sosiokultural. Sebuah wilayah sosial yang mulai terganggu oleh perubahan-perubahan yang memporak-porandakan kehidupan masyarakat yang ada di dalamnya. Serbuan yang kemudian menggoyahkan posisi-posisi mapan di tengah masyarakat, dan gugatan terhadap relijiusitas yang mulai terkoyak oleh kapitalisasi dan industrialisasi. Goncangan sosial tersebunyi dalam “Amanah Hati” karya Yusro Shaleha, cukup menggelisahkan ketika, Zainab mengambil pilihan utnuk tidak menikah dan tak mengikuti tradisi yang ada di kampungnya. Sebuah cita untuk menegakkan peranw anita dalam masyarakat yang bukan saja sebagai obyek tetapi dapat juga berperan sebagai subyek dalam memajukan kaum perempuan sehingga tidak lagi menjadi amsyarakat kelas dua di antara kaum lelaki. Tekad untuk menjadi sosok perempuan yang mampu melakukan peruabahan di kampungnya, justru mendapat perlawanan dari kakeknya sendiri. Sebuah realitas tersembunyi di dalam masyarakat bangsa ini (khususnya di Madura). Bukan sesuatu yang gampang.

Bagaimana upacara kematian sudah menjadi seauatu yang tak lagi sakral, melainkan sesuatu yang memberatkan bagi yang mendapatkan musibah. Benarkah Kyai telah kehilangan keikhlasannya untuk membacakan doa bagi yang meninggal, melihat kondisi ekonomi yang bersangkutan. Benarkah masyarakat masyarakat melakukan doa tahlil, apabila did alamnya ada jamuan makan? Entahlah! Namun, inilah realitas fiksi yang dibangun dalam cerpen dalam upcara kematian “ Kemarau Yang Lain”. Sebuah pertanyaan yang seringkali dilupakan bahwa yang meninggal dunia menyisakan anak yatim, beban keluarga.

H. Untung” karya Insiyah Munif, adalah sebuah kisah yang mengkritik terhadap status Haji seseorang. Selama ini status Haji bagi orang Madura adalah sebuah simbol status yang membedakan dengan orang lain. Haji, hanya sekedar simbol, karena pada kenyataannya mereka tidak mampu menunjukkan kesalehan sosial atas gelar Haji yang disandangnya. Gugatan status juga muncul dalam cerpen “Sang Kiai dan Gadis Penakluk” yang mengisahkan kehidupan seorang Kyai dan anak seorang pelacur. Bahwa setiap Kiai selalu benar dan setiap pelacur dan keturunannya selalu buruk, adalah persoalan-persolan yang digugat oleh Henny Jufawni.

Di satu sisi mereka harus tunduk dan patuh pada Kyai namun pada lenyataannya anak seorang Kiai moralitasnya justru tak bisa dijadikan tauladan dalam masyaralat.
Masyarakat yang rajin shalat berjamah di masjid dersa ternyata tak mempunyai kepedulian sosial terhadap masyarakat sekitarnya. Suatu masyarakat yang mudah menghukum dan menghakimi seseorang tanpa pernah tahu latar belakang persoalan yang melatarinya.

Shalat bagi mereka hanya sekedar ritual yang dilepas (terlepas) dari lingkung sosialnya- terungkap dalam “Istisqa’ Tanpa Hujan” – Bintu Tahriroh. Dalam teks ini Tahriroh mencoba mengungkai persoalan yang berkelindan dalam kampungnya, seorang suami yang tidak mau mengikuti shalat Istisqa’. Sebuah sikap untuk menfgkrtiik sikap masyarakat dan kiai yang tak lagi utuh dalam bershalat. Mereka seperti memaksa tuhan untuk mengabulkan permohonannya, tetapi apa yang dianjurkan Tuhan banyak dilanggarnya.

Permasalahan sosial yang terus mendobrak diam-diam lewat “ Tanpa Identitas” karya Faridah Mahrus, ketika ulama lebih banyak melakukan menikah di bawah tangan (Sirri), daripada mengurus persoalan umat. Betapa banyak sarjana di pedesaan, mereka yang telah menyandang ahli namun tak bisa berbuat apa-apa terhadap masyarakatnya. Pendidikan seakan hanya memisahkan kepedulian terhadap orangtua (keluarga) dan masyarakatnya.

Sebuah dongeng kerapkali dihubungkan dengan kisah-kisah lama, pengantar tidur malam hari, atau mengisi waktu terang bulan di teras rumah dan di halaman. Namun dalam metamorfosisnya dongeng bergerak dalam berbagai teks dan visual. Kisah anak durhaka, takkan pernah usai dikisahkan, dongeng yang kan terus hidup sepanjang sejarah manusia. Bagaimana seorang Aira dengan kesombongan dan kecongkakan sebagai artis terkenal tak mau mengakui ibunya. Sebuah kisah klise yang uncul di berbagai tempat dan di berbagai waktu, dan pada akhirnya penyesalan akan muncul di kemudian hari, sebagaimana terungkap dalam “Jejak Terakhir” karya Insiyah Munif.

Sebuah teks yang cukup menarik ditilik dari pesan yang terkandung di dalam teks, terutama ketika mereka: berbicara mengenai lingkungan sosiokultural yang ditempatinya. Namun, ada beberapa hal yang amat mengganggu dalam cerpen ini.Ketergangguan yang disebabkan logika cerita mandeg karena kreator tak emnguasai persoalan sosial yang diangkatnya ke dalam teks – “Terjerat” karya Yusro Shaleha terasa sekali ketergesaan dan kedangkalan refrensial dan empirik mengenai aspek-aspek sosiologis kehidupan masyarakat metropolis.

Ada beberapa catatan terhadap kumpulan cerpen dalam “Kemarau yang Lain”.Pertama, secara tematik beberapa cerpen terasa menarik dalam mengangkat persoalan. Mereka mengangkat persoalan-persoalan sosiokultural yang selama ini tak tersentuh. Sehingga dalam hal ini, mereka memiliki keberanian utnuk berbeda dalam hal tema. Namun juga sebaliknya ketika mereka mengangkat persoalaa-persoalan di luar lingkung sosiokulturalnya, mereka sangat kedidiran, dan tak berhasil mengedepankan konflik secara menarik. Kedua, Plot, sangat lemah dan datar. Tak ada karakter tokoh yang kuat yang terbangun dalam teks. Barangkali karena pengalaman pertama bagi mereka dalam menggeluti dunia cerpen. Sehingga kalau dibandingkan dengan dongeng masa silam yang menjadi latar kultural kehidupan, mereka tak mampu mendongengkan ceritanya secara menarik dan memikat, sebagaimana dongeng yang “mampu” menidurkan pendengarnya. Ketiga, saya memiliki optimisme, bahwa inilah sebenarnya kekuatan sastra remaja di kalangan pesantren (juga santri) bergelut menekuni persoalan-persoalan sosial dan kehidupan, menjadikan manusia yang kritis dalam menghadapan tantangan dan gejolak sosial di waktu yang akan datang. Kalau mereka menyertai diri menjadi pembaca yang baik, maka tidak mustahil mereka akan menjadi bagian penentu masa depan cerpen Indonesia.

Bumi Sumekar Asri, 24 Desember 2010

Selasa, 01 Februari 2011

VARIAN SASTRA


Oleh: Hidayat Raharja*

Sastra Indonesia adalah ragam karya yang sangat menarik dan unik. Menarik, karena hampir di setiap daerah dapat dipastikan bertumbuhan karya sastra yang mungkin tak dhiraukan oleh para pemerhati dan peneliti. Unik, karena dari situ dapat ditemukan perkembangan budaya dan pengetahuan yang melatarbelakangi. Keunikan dan kemenarikan karya tersebut dapat dilihat dari bahasa dan fungsi yang diperankannya.

Karya-karya mereka tergolong unik, karena dengan keterbatasan dan kesederhanaan mencoba mengungkapkan harapan, keinginan, dan pengalamannya. Tetapi tidak tertutup kemungkinan, karya tersebut terasa klise bagi orang lain. Tetapi setidaknya karya tersebut tersebar di lingkungannya untuk saling komunikasi dan mengapresiasi.

Pada suatu ketika, saat pulang ke kampung di daerah pinggiran kota Sampang, tepatnya di desa Omben - saya menemukan beberapa lembar undangan yang dicetak lalu kemudian diperbanyak dengan mesin fotokopi. Undangan tersebut sangat menarik perhatian, karena tidak lazim sebagaimana undangan yang ada di desa kelahiran saya.

Senja memerah di ufuk, menandakan waktu yang kian redup. Namun bersamaan dengan pancaran sinar surya yang kemerahan, aku mengakhiri petualangan. Rasa yang sangat bahagia, karena aku telah menemukan tempat berlabuh pada tambatan hati kekasih. Untuk merayakan akhir masa remajaku dalam pernikahan, maka aku mengundang sobat pada resepsi pernikahanku. Tiada rasa bahagia selain kehadiran sobat dalam pesta pernikahannku.......

Salah satu potongan kalimat dalam surat undangan yang saya temukan di tempat rental, di rumah adik saya, sebuah desa yang berjarak 13 km dari kota Sampang. Undangan ini sangat menarik, karena ada kreativitas berlangsung didalamnya. Upaya untuk membuat undangan yang berbeda dari lazimnya. Sebuah penanda bahwa di antara generasi muda yang ada di kampung kelahiran saya, mulai mengenal penggunaan kalimat yang berindah-indah dan bermetafor. Sebuah keadaan yang menguatkan adanya pertumbuhan sastra di kalangan anak muda di pinggiran kota. Tak ada komunitas. Namun, sangat mungkin mereka belajar dari televisi, radio, Internet, ataupun dari layanan selluler yang menawarkan kata-kata bijak, mutiara, dan semacamnya.

Karya mereka ini menjadi unik, karena dihasilkan di suatu wilayah yang sebenarnya bukanlah masyarakat yang peduli terhadap karya sastra. Juga, disitu tidak ada komunitas yang mencoba mengembangkan karya sastra. Tetapi karya mereka tumbuh dalam batas kepentingan dan kebutuhan untuk mengingat dan mengenang sebuah momentum. Mereka tak pernah peduli, apakah karyanya bagus atau jelek? Mereka tak mengharpkan pujian. Apakah karyamnya tergolong dalam karya sastra atau bukan? Mereka hanya mengharapkan kehadiran sahabat dan kerabat yang diundangnya.


Dari sisi bahasa, hampir dapat dipastikan bahwa mumnya anak-anak muda mempergunakan bahasa Indonesia sebagai komunikasinya. Atau sesekali mereka membaurkannya dengan mempergunakan bahasa Inggris. Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi, kian menegaskan bahwa bahasa daerah kian terpinggirkan, hanya dipakai oleh golongan orangtua. Keterpinggiran ini, bisa dcermati dari sms yang dikirim antar mereka yang sebaya, dapat dipastikan mempergunakan Bahasa Indonesia. Pun teks yang ada dalam undangan resepsi pernikahan, semua mempergunakan bahasa Indonesia.
Pertama, Penggunaan bahasa Indonesia di pinggiran kota atau di pedesaan ini juga menjadi bagian tak terpisahkan dalam pengetahuan dan pemahaman mereka mengenai teks yang berindah-indah dan bermetafor. Terus terang kesan dalam teks sangat klise, tetapi ini menjadi penegas bahwa sastra merupakan bagian dari masyarakat. Cuma, yang membedakan dengan sastra Indonesia umumnya, mereka jarang tersentuh para pemerhati, peneliti, mau pun akademisi. Banyak dari kritikus dan pemerhati sastra lebih suka mempersoalkan dominansi kekuasaan dan politik sastra. Persetruan yang lebih mengarah kepada kekuasaan, pengaruh, dan semacamnya. Sementara akar budaya masyarakat kita, sastra yang berkembang di dalamnya adalah sastra lisan dengan anonim.

Kedua, sehubungan dengan fungsi. Mereka memanfaatkan sastra dalam fungsi praktisnya sebagai media komunikasi – mengundang sabat-kerabat dengan mempergunakan “kalimat indah” , dan mudah dipahami sesuai dengan fungsi sebagai informasi. Peran yang dijalankan semacam ini, cukup menarik, meski sebenarnya sebagai “Puisi” kering dengan pencitraan. Hal semacam ini disadari, karena bukan ditujukan untuk akademisi, sastrawan atau pemerhati sastra. Tetapi ini merupakan varian dari sastra lokal, berkembang di tengah masyarakat kaum muda, sebagai perkembangan dinamika dari kelisanan yang pernah mencapai kejayaannya di waktu lampau.

Dalam konteks pembaharuan atau penemuan baru, jelas apa yang dihasilkan mereka dalam kertas undangan undangan tersebut, tidak memenuhi. Namun, dalam konteks sebuah upaya kreatif dalam memberikan nilai fungsi bagi masyarakatnya dan sepantarannya, adalah sesuatu yang patut diapresiasi. Bukankah sebuah penemuan baru itu tidak akan banyak ditemukan oleh banyak orang. Jalan penemuan adalah bentangan proses dan waktu. Maka, alangkah indahnya ketika sastra yang begitu diagungkan, disakralkan, dikembalikan ke dalam keseharian masyarakat kita. Sastra yang pernah tumbuh dalam aneka gurauan, pantun, maupun nyanynyian-nyanyian lirih sembari menidurkan si anak tersayang., dan menemukan aktualisasinya di saat sekarang.

Saya memandang bentuk dalam undangan tersebut sebagai sebuah varian dari teks sastra yang akan terus berkembang bentuknya di waktu yang akan datang, baik dari sisi pengucapan maupun format atau bentuknya. Bentuk yang sangat terbuka’ menjadi pengantar pada sampul surat yasin yang sering dijadikan bingkisan pada saat memperingati kematian seseorang. Atau bisa juga dijadikan pengantar yang diselipkan pada bingkisan kue ulang tahun, dan semacamnya.

Kadang, pengklasifikasian memunculkan diskriminasi tanpa pernah mengarifi realitas pertumbuhan dan perkembangan dalam masyarakat. Ketika kita menginginkan sebagai bagian dari masayarakat global, bukan berarti membiarkan diri kita hanyut dalam gelontoran arus yang akan melenyapkan diri kita sendiri. Namun, bagaimana kita harus berenang di atasnya menuju ke dalam pergaulan yang lebih terbuka dan demokratis.
*terbit di radar surabaya 28 November 2010

PERSILANGAN KELAMIN

Resensi:
Judul : 1 Perempuan 14 Laki-laki
Jenis buku : Kumpulam cerpen
Pengarang : Djenar Maesa Ayu
Penerbit : Gramedia
Cetakan : Pertama, 14 Januari 2011
Jumlah Hal : xiv + 124 hal
Peresensi : Hidayat Raharja*


Persilangan Kelamin
Fiksi merupakan suatu wilayah yang sangat menarik untuk dijelajahi. Di dalamnya kita akan menemukan dunia ideal dan kadang mirip bayangan dari kenyataan. Fiksi merupakan persinggungan antara dunia nyata dengan dunia rekaan, karena dari ekduanya bisa saling melengkapi. Tentu ada hal yang berbeda dalam dunia fiksi dengan dunia nyata, karena dunia fiksi melalui sebuah rekaan yang dinamakan dengan kreativitas dalam mengolah bahan cerita sehingga menjadi menarik dan tercipta dunia atau fakta baru di dalam fiksi. Maka, kreator atau pengarang, memiliki peran penting dalam mengolah bahan cerita untuk menjadi karya yang menarik.
Salah satu karya fiksi yang cukup menarik, dihasilkan oleh Djenar Mahesa Ayu – sebuah kolaborasi dengan empat belas orang laki-laki dari berbagai profesi untuk menggarap cerpen bersama. Agus Noor mengistilahkan dua petiunju yang saling berbagi pukulan terbaiknya, sementara Djenar menyebutnya dengan istilah dua orang yang tengah kasmaran. Tidak berlebihan jika sebuah cerpen dikerjakan dengan seorang laki-laki dengan tanpa merencanakan terlebih dahulu apa yang akan diproses dalam cerpen, semuanya mengalir ketika mereka saling bertemu untuk mengerjakannya, akan menghasilkan hal-hal yang tak terduga. Persilangan yang cukup menarik, karena selama ini kerja cerpen dianggap sebagai kerja personal dan memuat gagasan pemikiran pengarangnya. Namun dalam kumpulan cerpen yang berjudul “ 1 Perempuan 14 laki-laki” ini meski ditulis Djenar bersama dengan orang lain dengan berbagai profesi, namun tidak menghilangkan ciri khas karya Djenar. Sebuah persoalan yang tak lepas dari persoalan sensitivitas tubuh dan kehidupannya. Menariknya dalam beberapa hal tubuh dengan berbagai organnya bukan sekadar obyek dalam penulisan tetapi menjadi suatu alat eksplorasi persoalan kehidupan di tengah masyarakat yang kian terbuka.
Varietas dari hasil persilangan antara Djenar Mahesa Ayu dengan berbagai profesi memberikan rasa berbeda ketika bersilang kreatif dengan Mudji Sutrisno, berbeda pula ketika menggagas cerpen bersama Sudjiwo Tedjo, atau dengan Enrico Sukarno yang pelukis.
Persilangan kreatif yang memunculkan perpaduan style antara Djenar dengan pasangannya, juga ragam tema yang dikerjakan sangat menarik untuk dibaca ulang, sehingga bisa menemukan otentisitas sebagai teks yang mengandung banyak tafsir.
Ia bersenandung sambil membuka satu persatu kancing seragam dia yang hanya memejam. Ia seperti melihat seekor kunang-kunang yang perlahan keluar dari kelopak matanya yang terpejam. Seperti ada kunang-kunang di keningnya. Di pipinya.di hidungnya. Di bibirnya. Di mana-mana. Kamar penuh kunang-kunang beterbangan. Tapi tak ada satu pun kunang-kunang yang hinggap di dadanya nan pualam. Dada itu seperti menunggu kunang-kunang jantan yang dia mau hinggap di puting susunya ( Kunang-Kunang dalam Bir, hal.4)

Persilangan antara Djenar yang terbuka dengan Agus Noor yang kadang absurd , pertemuan antara dua style yang saling memperkokoh pada struktur cerita yang dikisahkan. Persilangan-persilangan yang merepresentasikan dua orang dalam satu nafas cerita. Ada kejutan-kejutan yang menakjubkan, ketika Sardono W Kusumo – seorang koreografer yang terbiasa berkisah dengan gerak tubuh, mampu memindahkan gerak tubuh ke dalam gerak dan tarian teks yang memukau. Sardono tidak terseret kepada ungkapa-ungkapan tubuh Djenar yang terbuka. Hal yang menarik, karena tubuh dalam cengkeraman Sardono berubah menjadi sebentuk panggung yang minta diisi di setiap ruang;
Suara ting tong ting tang, mirip gamelan tiba-tiba hilang. Seiring dengan tubuhnya yang makin tinggi melayang. Tubuh yang semula diam mulai menari di udara semacam bayangan yang bergoyang. Terkadang bayangan itu melesat ke depan dan dengan seketika berpindah ke belakang. Kadang ia bergerak ke kiri dan ke kanan. Aku pun berubah menjadi panggung. Panggung yang menunggu ia mengisi tiap ruang. Panggung yang bergetar tiap kali tubuhnya menciptakan gerakan (Ramaraib, hal.25)

Pertemuan-pertemuan dengan aneka profesi, merupakan persilangan kreatif yang takkan pernah tumtas untuk mengungkapkan kehidupan dengan aneka persoalannya yang kian kompleks dan terbuka.
Pantai adalah perhentian saya sebelum kilometer 666. di sana ada kebebasan yang sempurna. Kadang sunyi seperti Hari raya Nyepi. Kadang ramai seperti adegan ranjang yang melibatkan borgol, topeng kulit, dan cemeti. Penuh cakaran. Kuku-kuku. Seperti cakaran kuku laut yang beringas di pucuk kaki kami yang tengah berjalan sambil bergandengan tangan. Dan dingin yang bdiusung malam berubahmenjadi hangat yang semakin merasuk ke dalam badan (Kulkas Dari langit, hal. 44-45)

Sebuah kompleksitas persoalan yang bergejolak di atas panggung tubuh dan bergerak ke panggung kehidupan. Tubuh yang semula sebagai obyek beregerak menjadi subyek yang mengedepankan persoalan-persoalan secara terbuka. Djenar bersama JRX mampu mengolah persinggungan tubuh dengan pantai, dengan ranjang, borgol, topeng kulit, cemeti, kuku-kuku, cakaran, dan kuku laut adalah persoalan-persoalan sengkarut kehidupan yang keras, dinamik, dan kadang sunyi.

Begitulah tubuh yang kerapkali dijadikan sebagai obyek dalam kehidupan, mampu digarap Djenar dari sisi yang lain sebagai subyek yang menganduung pelbagai kemungkinan dan tafsir dalam diri pembacanya. Tubuh kembali menemukan kemungkinan-kemungkinan yang lain ketika Djenar melakukan kerja kolaboratif dengan Arya Yudistira Syuman, Butet Kertarajasa, Enrico Sukarno, Indra Herlambang, Lukman Sardi, Mudji Sutrisno, Nugroho Suksmanto, Richard Oh, Robertus Robert, Sujiwo Tejo, dan Totot Indarto.
Mermbaca empat belas cerpen dalam buku ini seperti memasuki wilayah tubuh yang mampu membawakan pelbagai persoalan kehidupan. Persoalan-persoalan cinta yang pendek dan menarik. Ada beberapa hal menarik dalam buku ini, antara lain di dalamnya bahwa kerja kreatif kepengarangan sebagai kerja personal bisa dikerjakan secara kolaboratif. Kedua, berkaitan dengan eksplorasi tubuh yang sensitif berkaitan dengan organ genital di dalam buku ini secara terbuka mengungkapkan persoalannya menjadi bahan diskusi yang menarik bagi para pembaca yang kurang bisa menerima hal ini. Terutama, misalnya jika materi dalam buku ini untuk dijadikan apresiasi dalam pembelajaran sastra di sekolah.
.

Rabu, 26 Januari 2011

SASTRA, DAN PEMBELAJARAN SAINS

Oleh: Hidayat Raharja*

Dunia sastra sebagai dunia rekaan menjadi sebuah dunia ideal yang bisa berfungsi merefleksikan kenyataan. Bukan sesuatu yang musykil pula, jika karya sastra berangkat atau berawal dari sebuah kenyataan. Realitas yang mengalami kontemplasi untuk kembali dihadirkan dalam sebuah teks. Hal ini kemudian memposisikan sastra sebagai Mirror of Reality, meski kadang beberapa pihak justru menolak dan menempatkannya secara terpisah sebagai dunia tersendiri, dunia asing yang dijauhkan dari kenyataan.

Sejarah sastra Indonesia, menunjukan peran sastra yang sangat besar bagi kebangsaan. Teks sumpah pemuda sebagai teks yang puitis, merupakan salah satu fakta sejarah yang mampu membangkitkan ideologi kebangsaan. Sebuah embrio yang memberikan spirit terbentuknya Indonesiadan ke –Indonesia-an. Jauh sebelum kemerdekaan, teks sumpah pemuda membangun imajinasi kebangsaan, yang menjadi cita-cita bersama.

Bila selama ini, karya sastra kerap diidentikkan dengan estetika, dan etika, sebenarnya banyak hal yang bisa didalami dan digali lebih jauh mengenai kandungan yang ada di dalamnya. Sastra bukan hanya mengandung nilai estetik, tetapi di dalamnya juga termaktub nilai-nilai pengetahuan (Sains) dan edukasi. Sebuah potret dari sebuah jaman yang melatarinya dan sebagai nilai yang mendedahkan universalitas sastra sebagai pengetahuan.

Nilai sains dalam sastra, dalam tulisan ini dimaksudkan untuk membuka jalan bagi para pembaca bahwa sebenarnya dalam sastra banyak hal yang bisa dijumpai. Salah satu hal yang menraik dalam beberapa karya sastra mutakhir beberapa materi pengetahuan sains yang rumit ternyata oleh beberapa kreator disajikan secara menarik, dan bersifat dialogis. Pembaca diajak untuk terlibat ke dalam pemaparan kelimuan yang disajikan pengarang tanpa harus dipaksa. Pembaca dengan sendirinya ikut terseret ke dalam persoalan sains yang dibahas, dan kemudian menyikapinya.

Teralogi Andrea Hirata: Laskar Pelangi, bagian pertama yang cukup menarik ditelaah ketika memaparkan konsep teori evolusi. Sebuah dialog konsep evolusi yang dikemukakan oleh kaum materialisme dan kaum yang meyakini adanya Kreator Agung dalam penciptaan. Sebuah konsep yang dialogis dan memberi kesempatan kepada pembaca untuk merenung dan mengambil jalan lain yang ditentukan oleh kreator (halaman 121). Buku kedua, Sang Pemimpi, banyak memparkan semangat dan ketauladanan tentang keberhasilan para pemimpin dunia. Lewat tokoh guru muda Pak Balia yang simpatik dan penuh dedikasi, disitu dipaparkan sosok guru yang mampu memberikan motivasi dan membakar cita-cita dan mimpi peserta didiknya menjadi berapi-api. “Kaum Muda! Yang kita butuhkan adalah orang-orang yang mampu memimpikan sesuatu yang tak pernah diimpikan siapa pun! – John F Kenedy .”(halaman 14-16). Sebuah proses pendidikan yang menanamkan perlunya bercita-cita tinggi dalam hidup dan kerjakeras untuk mencapai keberhasilan.

Edensor, buku ketiga cukup mengejutkan, karena di bagian ini mengisahkan kehidupan selepas SMA, pada saat berkuliah di Luar Negeri. Hal yang sangat menarik ketika Konsep Ekonomi Klasik Adam Smith dibenturkan dengan konsep ekonomi Monetarist John Maynard Keynes. Dosen-dosen di Universitas Sorbone mampu membangkitkan gairah belajar ekonomi, karena diumpamakan ekonomi suatu gemunung, mereka mengajarkan dari sudut mana menyelusup untuk mendakinya, dan menunjukkan patok-patok utnuk sampai ke puncaknya, sehingga aku dapat memetakan peluangku untuk menyumbangkan ilmuku:sebagai pendidik, peneliti, konsultan, atau pembuat kebijakan.(halaman 130).

Sebuah konflik yang dibangun secara kritis untuk melihat ekonomi yang berbasis moneter tak lebih dari sebuah jerat kapitalisme yang menimbulkan ketergantungan negara dunia ketiga (miskin) kepada negara-negara donor. Inspirasi bagi dunia pendidikan terutama terhadap pembelajaran ekonomi yang selalu monoton hanya sekedar menghafal. Ilmu ekonomi sebagai gemunung sebenarnya memberikan berbagai peluang bagi guru atau dosen untuk melakaukan penjejalajahan dengan pelbagai metode untuk sampai kepada puncak-puncak pengetahuan ekonomi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Maryamah Karpov, buku terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi di dalamnya memaparkan teori Pompa Hidrolik yang disajikan secara apik untuk mengangkat bangkai pelahu lanun yang mengeram selama ratusan tahun di dasar sungai. Dengan cara penceritaan yang cukup menarik Andrea mampu menyajikan proses penerapan teori pompa hidrolik dengan peralatan sesderhana untuk mengangkat bangkai perahu dari dasar sungai. Penceritaan yang memberikan isnprirasi dalam pelajaran fisika dengan memanfaatkan kekayaan lokal, tanpa harus menghilangkan esensi dari teori (halaman 333-346).

Bapa guru Alfonso, kenapa kita belajar sejarah di luar kelas?”
“Sejarah itu bukan hanya catatan tanggal dan nama-nama, Florencio, sejarah itu sering juga masih tersisa di rerumputan, terpendam dalam angin, mengjempas dibalik pmbak. Sejarah itu, Florencio, merayap di luar kelas, kini kalian harus mempelajarinya.” ( 2010; 67)
Sebuah petikan dialog yang menarik antara Guru Alfonso dengan muridnya Florencio. Dialog yang memberikan pencerahan dalam pembelajaran sejarah, dalam cerpennya berjudul : “Pelajaran Sejarah” Dalam kumpulan cerpen Saksi Mata - Seno.Gumira Ajidarma.

Bagaimana seorang guru menjadikan realitas peristiwa untuk membangun pemahaman mengenai sejarah secara konstruktif, bukan dengan cara instruktif dengan menghafal nama dan peristiwa tetapi bagaimana membangun makna peristiwa sehingga menjadi berarti untuk menghargai sejarah bangsanya. Pembelajran sejarah yang bermakna dan memanfaatkan lingkungan sebagai media dan sumber untuk memahami makna sejarah. Sementara di beberapa lembaga pendidikan sejarah diasumsikan sebagai menghafal nama pahlawan dan tanggal kematian.

Jelas di sini bahwa, sastra bukanlah sebuah omong kosong, di dalamnya banyak hal yang dimanfaatkan dalam pembelajaran sains. Sastra yang berpijak kepada sains memberikan inspirasi bagi dunia sains untuk berkembang. Sastra menjadikan teks sains yang rumit dan kaku menjadi lebih sederhana, menarik, dan bermakna bagi pembacanya .

JALAN PUISI

Oleh: Hidayat Raharja*

Dalam ranah seni, puisi dipandang sebagai wilayah bahasa yang megandung estetika, dengan ragam muatan pesan di dalamnya. John F Kennedy percaya bahwa puisi mampu meluruskan politik yang bengkok, membersihkan politik yang kotor. Suatu perumpamaan yang menegaskan bahwa puisi bertalian dengan perasaan seseorang, sehingga lewat perasaan hati, perilaku politik dapat dibenahi.

Puisi secagai jalan lain komunikasi, mampu melampaui batas-batas nyata antara komunikator dengan komunikan, keterlampuan ini dimungkinkan, karena bahasa puisi mempergunakan metafor atau simbol yang memberikan kebebasan bagi pembaca untuk menfsirkan sesuai dengan latar belakang literer dan pengalaman pembaca.

Estetika bahasa puisi dalam bebrapa hal disadari oleh para pembuat advertensi, sebagai jalan komunikasi antara produsen dengan publik (konsumen). Beberapa bahasa iklan yang sederhana mampu memukau secara auditif dan musikal, sehingga berkesan dan lekat terkenang.
Ada beberapa pesan iklan yang cukup menarik bagi penulis dan menjadi jalan alternatif dalam komunikasi publik;
Aku dan kau
Suka Dancow
Bahasa iklan dalam kompetisinya dengan produk sejenis berusaha untuk memberikan pesan yang menarik untuk merebut hati pemiras (publik). Pembuat iklan sangat mempertimbangkan estetika dan rima, sehingga mengesankan easy kistening bagi yang mendengarkan iklan tersebut. Dan Kau dengan Dancow bunyi musikal yang sangat mirip sehingga terdengar cukup komunikatif. Iklan sebuah bumbu penyedap masakan, berujar;
Rasa besar dalam bungkus kecil, sebuah pesan yang ingin menggambarkan dalam bungkus yang kecil, disitu dapat dinikmati esense rasa ayam, sapi, san semacamnya.Sebuah paradoks, memasukkan hal yang besar ke dalam yang kecil. Dalam logika berpikir, yang kecil masuk ke dalam yang besar. Paradoksal analogis semacam ini memberikan kesan yang melekatkan informasi ke dalam jalan pikiran.

Pilihan kata yang cukup cerdas dan dikerjakan dengan kesungguhan, sehingga sebagai sebuah karya atau produk patut untuk mendapatkan apresiasi. Suatu iklan lampu penerang menjelaskan dirinya sebagai lampu yang senantiasa memberikan penerangan.
Terus terang
Philip terang terus
Sebuah permainan bahasa yang sederhana, namun pas dengan iklan yang ditawarkan, sehingga komuniaksi yang dilakukan memberikan keyakinan bagi publik untuk selalu mempergunakannya.

Puisi bukan hanya milik sastrawan. Ternyata, dalam peradaban hiperrealis saat ini, semua serba memungkinkan,. Ketakpastian saling berkelindan dengan keniscayaan. Kebenaran silang sengkarut dengan kebohongan. Puisi saling melintas dengan prosa. Relativitas. Kenisbian menjadi sesuatu yang pasti, hanya batas-batas konvensi yang memisah serta mempertemukan keduanya.

Jalan puisi adalah jalan bagi semua kemungkinan untuk melintas untuk menyampaikan sesuatu yang terkandung di dalamnya. Jika puisi dihubungkan dengan bahasa adalah sebuah kohenrensi yang memang saling bertaut. Namun jalan lain dari sebuah puisi akan sangat bermakna ketika ia menjadi jalan bagi sebuah pengetahuan. Jalan pintas untuk memperpendek jalur lintasan sains yang rumit menjadi sederhana dan menarik. Jalan semacam ini banyak ditemukan di lembaga-lembaga pendidikan asing yang menjadikan puisi sebagai salah satu jalan untuk menempuh sains. Jalan yang ditempuh oleh www//biologycorner.com dengan mencari beberapa kemungkinan sehingga sains menjadi sesuatu yang menarik, riang, dan menyenangkan.
All animals, plants, and protists too,Are made of cells with different jobs to do.They're the basic units of all organisms,And I hope by now you got the rhythm
(semua hewan, tumbuhan dan juga protista/ terbuat dari sel dengan tugas yang berbeda/ mereka penyusun dasar semua organisme / dan saya berharap kamu sekarang melagukannya/)
Sebuah penjelasan mengenai teori sel digubah menjadi sebuah lagu Rap. Sesuatu yang menarik, ketika sekolah umum di negeri ini menjadikan mata pelajaran sains sesuatu yang sulit dan kurang menarik. Ternyata pendidikan sains lewat puisi bukan hanya memudahkan untuk memahami obyek yang dipelajarai, namun juga menjadi sesuatu yang menyenangkan. Pembelajaran tidak hanya mengembangkan kecerdasan logika (otak kiri) namun juga menyeimbangkan dengan perkembangan imajinasi (otak nanan).

Dalam sebuah bahasan mengenai Arthropoda, biologycorner menyajikannya dalam bentuk puisi, salah satu lariknya adalah:
Lobsters, crabs, and crayfish are we,
We often make our homes in the sea
We have five pairs of legs to walk
And eyes often perched atop a stalk.Who are we?

Larik yang sederhana dengan mempertimbangkan estetika dam bunyi, membuat rima pada bagian akhir larik yang sama. Penyederhanaan materi mengenai Crustaceae, hanya menajadi empat baris. Sebuah penerang, dan jalan lain untuk memahami sains yang rumit menjadi sederhana. Suatu bentuk ungkap menyederhanakan salah satu sisi verbalisme ilmu biologi, menjadi suatu konsep yang mampu membangun dan mengembangkan imajinasi. Cara penyampaian yang memberikan kemungkinan mengasosiasikan konsep dengan pengalaman setiap orang. Secara implikatif setiap orang diberi kesempatan membangun konsep secara konstruktif.

Sangat disayangkan, jika selama ini dalam dunia pendidikan puisi diamggap sesuatu yang eksklusif, dan sains (biologi) diketegorikan sebagai ilmu alam yang rigid atau kaku. Pada hal diantara keduanya bisa membuka jalan untuk bisa saling berkembang dan mencerdaskan.
(terbit di Radar Surabaya, 30 Oktober 2010)

Kamis, 01 Oktober 2009

PUISI & WISATA

Oleh: Hidayat Raharja*
1. puisi

Puisi sebagai karya fiksi dengan bahasa sebagai komunikasi yang memiliki kekuatan menyampaikan pesan yang ada di dalamnya. Pesan yang ingin disampikan pengarang terhadap pembacanya. Tidak mustahil jika kemudian puisi oleh suatu penguasa dianggap sebagai sesuatu yang mengancam ketika puisi tersebut banyak mengungkap kebobrokan suatu pemerintahan. Dalam sejarah pergerakan nasionalisme puisi memiliki andil besar didalamnya, dan menjadi kekuatan gerakan pemuda dalam membangun kebnagsaan : Indonesia. Siapa yang akan mengingkari kalau sumpah pemuda yang dicetuskan pada 28 oktober 1928 mampu menjadi spirit ke-Indonesia-an yang dikukuhkan secara yuridis tahun 1945.

Tak ada yang mengingkari kalau puisi memiliki kekuatan dalam membangun spirit masyarakatnya, meski kita pahami puisi tidak akan mampu mengentaskan kemiskinan secara langsung. Pun juga tidak dapat diingkari kalau puisi akan meningkatkan datangnya wisatawan, namun dapat dipahami pesan dalam puisi dapat membangkitkan jiwa seseorang untuk melakuan perubahan atau juga membangun kesadaran.

Dalam konteks perkembangan wisata di Kabupaten Sumenep, bukan sesuatu yang musykil untuk menjadikan puisi sebagai wisata dan media untuk mengembangkan kepariiwisataan. Karena tidak atbisa dibantahkan apabila obyek wisata di Sumenep banyak memberikan inpirasi bagi penyair dan sastrawan dalam melahirkan tulisan. Sebut saja D Zawawi Imron yang kental dengan ke-Madura-annya telah banyak mengangkat citra Madura dalam perspektif kemanusiaan. S Yoga salah seorang penyair yang pernah tinggal di sumenep sekitar 2 tahun telah banyak diinspirasi oleh aneka jenis seni dan obyek wsiata dalam melahirkan karya-karyanya.

Sumenep dengan aneka ragam seni dan budayanya adalahs ebuah aset tak ternilai yang harsu terus-menerus di kembangkan untuk bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Sebab, perkembangan pariwisata di Sumenep takkan bermakna signifikan jika hanya menjadikan masyarakat sebagai penonton dan obyek yang terjual tanpa pernah menikmati hasilnya. Kami sangat tidak mengharapkan sebagaimana perkembangan fenomena wisata terakhir ini yang berkmbang di perkampungan miskin sekitar jakarta. Kemiskinan mereka telah dimanfaatkan oleh biro travel sebagai jualan bagi wisatawan asing yang bernilai ribuan dollar. Ini sudah terjadi. Sekali lagi hal ini tidak kami harapkan terjadi di Sumenep.

Sumenep dalam Puisi
SUMENEP
(1)

Di taman sore hari
kota membuka pintu
magrib menggetar kelam jalanan

Kubah mesjid
memantul remang
aroma iklan dan wangi perempuan

Pedih kana dan kembang petang berdebar
jalanan berkelok ke ujung
kantor pemerintahan yang muram

Pekik lirih lelawa
keluh kesal yang tersangkut
di jalinan kawat perseteruan

Menembus pekat malam
rumah-rumah petang
sunyi sepi mengerang

Di antara dingin dan dini
menghabiskan mabuk perempuan jalanan
di semak-semak taman

(2)

Pantai-pantai memotret perempuan belia
Di gunungan pasir dan julang pohon palma

Gelegak gairah berderai dari gelak ombak
Memecah pasiran

Elang laut liar menatap belia
Pusar terbuka nganga karang di dada

Sebahu rambutnya mengibar layar, angin utara
Aroma tropika dan sedap cassablanca

Kobar matanya membakar matahari
Perahu-perahu mendaki tubuh yang merah

Memintal gelombang cinta yang ungu
Menjala setiap detak dan denyut kelabu

Pasir-pasir luruh dalam darahnya
Ikan-ikan menangkap gelepar napasnya

Di antara semak-semak akar bakau
Bersama sambaran elang liar dari jantung lautan

(3)

Oktober menyalakan lampu-lampu sinar biru
Persimpangan memainkan ingar musik
Saling berisik
Membangunkan malam-malam gemerisik


Kota berjubel di bawah tugu jam
Yang terus berputar seperti pusaran nasib
Tak henti berderit

Kau tahu,
Kota ini telah dilahirkan sebelum adipoday dan potre koneng
mengikat janji dalam mimpi kelon yang bunting

berjalan dari masa silam ke tubuh kelam
di situs –situs keraton songennep dan kubur-kubur hitam tak bertanda
tak terbaca

hujan dan hitam bersetubuh
memanggul musim dan kegetiran

ratusan tahun melingkar
ratusan ritus beredar

menyibak kali marengan yang kian dangkal

Di pecinan dan kampong arab
Berserakan puing-puing keanggunan dan
Reruntuhan feodalisme

Kau tahu,
Oktober telah berkali datang
Menyapa kota dan penghuni
2007
(terbit di harian Pikiran Rakyat, Bandung, 24/4/2008)
PASONGSONGAN
lelaki itu memeluk karang julang di balik dadanyalaut hitam kapalkapal menarik jangkar dari kepalanya
di utara nelayan pasongsonganberpose di atas gelombang meregangkan tali ototnya kayuh kemudi ke lepas laut
meninggalkan bisingpantai dan aroma berakterbakar amis pindang dan cakalang
layar dibuka angin bersorakperahu bergerak pasirpasir bukit di selatanmelambailambai.
Dan lelaki itu mengepalkan tangan di antara kakiangin yang kian kencang mengangkang
berkejaran antara hati dan gelombangAntara keberuntungan dan malang ke atas lautke batas tahmitke luas takbir
lakilaki itu menembus kedalamandiantara gaduh terumbu malam dan gemuruh keikhlasan
3. Puisi Post Card
Ada peluang yang cukup manarik untuk menjadikan puisi sebagai pesan turistik atau potensi wisata yang ada di Sumenep. Suastu bentuk publikasi puisi sekaligus menawarkan obyek wisata yang akan dijadikan tujuan atau kunjungan. Hal ini dapat memdukan antara foto obyek dengan didukung teks puisi untuk menambah estetika terhadap keindahan obyek.

Selain berfungsi sebagai penguat pesan obyek, produk ini juga dapat menjadi kenangan bagi pengunjung ,sekaligus souvenir yang bisa dipajang di dinding dengan mempergunakan bingkai yang sesuai.

4. Penutup
Semoga catatan kecil ini bisa menumbuhkan inspirasi untuk perkembangan bisnis Sumenep di era penggunaan jembatan Suramadu.
*penulis adalah esais, penulis lepas seni dan budaya.