Oleh: Hidayat Raharja
Menjelang tutup tahun 2011 ada beberapa kasus kekerasan yang mengusik pikiran kita. Pertama,kasus kekerasan di Mesuji- Lampung, Kekerasan di Bima keduanya menyangkut persoalan tanah dan meminta korban jiwa. Peristiwakekerasan yang ketiga adalah pemabakaran sebuah pesantren di desa Karanggayam – Omben – Sampang. Kasus yang ketiga disebabkan karena mengajarkan aliran agama ,dan itu terjadi antara sesaudara; kakak beradik. Berita aneka tindak kekerasan berlngsung secara bersambung dilayar televisi,di antara hirukpikuk kasus korupsi yang membelit pengusaha dan pejabat di negeri ini.
Kekerasan sepertinya menjadi jalan keluar di antara kebuntuan persoalan yang selalu mengorbankan rakyat kecil,dan keberpihakan penguasa pada pemilik modal. Jika demikian habis sudah rasa percaya diri orang kecil kepada para pemimpin negeri ini, karena harga diri telah dipertukarkan dengan modal atau uang. Para penguasa menurut salah seorang pengamat sosial politik di televisi telah berpihak pada kekuatan kapital; “Maju tak gentar membela yang bayar.” Sungguh ironis para pemimpin yang dipilih rakyat menindas rakyat. Orang kecil hanya diperlukan saat menjelang pileg, pilkada,dan pilpres.
Benarkah karena sudah tidak ada jalan keluar? Ada banyak hal yang dapat kita uraikan, dari berbagai sudut pandang. Sujiwo Tedjo dalam sebuah diskusi bersama Radhar Panca Dahana, dan Moh. Sobari mengurai mengenai kekerasan dari sisi budaya. Menurut Sujiwo Tedjo, kekerasan itu merupakan salah satu budaya dalam masyarakat kita. Orang Jawa yang lemah lembut di belakangnya menyungging Keris. Orang Madura menggenggam clulit. Orang Aceh memegang Rencong, dan hampir di setiap daerah memiliki senjata yang khas yang dipergunakan sebagai senjata. Berlatar pada budaya kekerasan tersebut,maka hendaknya setiap pemimpin berlaku adil dalam memimpin dan mengayomi rakyatnya.Sebab, jika para pemimpin tidak bijaksana maka rakyat akan memberontak, mereka akan melakukan kekerasan untuk melawannya.
Rakyat malakukan kekerasan karena mereka diperlakukan tidak adil, penguasa seringkali berpihak kepada pemilik modal. Kekerasan bukan merupakan sebuah budaya masyarakat Indonesia, melainkan sebuah bias karena pemimpin yang tidak adil.Menurut Sobari dan Radhar pemerintah tidak mampu melakukan diplomasi sebagai mana dilakukan oleh para pemimpin terdahulu. Perlu diingat bahwa Indonesia merdeka,bukan hanya karena senjata bambu runcing, tetapi karena hasil diplomasi para pemimpin sehingga banyak mendapat dukungan dan pengakuan dari berbagai negara di dunia.
Sangat disayangkan memang ketika tanpa disadari kita telah menanamkan “kekerasan”dalam berbagai sisi kehidupan kita. Kererasan psikhis dalam berbagai ancaman dalamkehiduan yang membuat tidak nyaman. Kekerasan ekonomi, yang memaksa kita untuk membayar lebih dari ketentuan yang ditetapkan dalam layanan, karena jika tidakmemberikan “tips”maka layanan kita akan tertunda. Kekerasan “politik” yang berbagaikekuasaan untuk melanggengkan kekuasaan meski rakyat kelimpungan mempertahankan hidupnya seharihari. Kekerasan dalam bidang pendidikan yang tak mampu memberikan honor yang layak bagi Guru Tidak Tetap (GTT) yang dibayar dibawah UMR daerah setempat. Di beberapa tempat sukarelawan guru Sekolah Dasar ada yang dibayar Rp.50.000 (limapuluh ribu rupiah) setiap bulan. Mungkin inipemecah rekor MURI seorang sarjana dengan honor limapuluh ribu rupiah. Ah, betapa banyakkekerasan berlangsung di sekitar kita, tetapi hanya kesabaran dan ketabahanlah yang membuat mereka bertahan, dan bersyukur dengan apa yang dihadapi hari ini.Namun kesabaran orang kecil perlu diimbangi dengan kesungguhan para pemimpin untuk memulaikan dan mensejahterakan rakyat yang dipimpinnya. Jika tidak?! selamat tahun baru 2012.
Kamis, 29 Desember 2011
Rabu, 21 Desember 2011
PENGABDIAN PARA GURU MUDA
Oleh: Hidayat Raharja*
Sore beranjak malam. Sebuah stasiun televise menayangkan acara “Pengabdian” .Pada malam itu kebetulan ditayangkan seorang perempuan muda yang terpilih dalam Program Indonesia Mengajar dan ditempatkan di suatu daerah di luar Pulau Jawa. Perempuan cantik, enerjik, dan begitu bersemangat menjalankan tugas pengandiannya di sebuah sekolah dasar yang ada di tengah hutan.
Aku tak ingat namanya, tetapi aku ingat perempuan itu penuh gairah, kreatif, dan interaktif dengan anak-anak yang diajarinya. Interaksi dengan anak-anak yang bermukim di daerah yang terpencil nun jauh di sana. Sungguh menaskjubkan, anak-anak itu begitu ceria mereka mudah menerima dan berinteraksi dengan Bu guru yang baru. Anak-anak yang tidak jauh bebrbeda dengan anak-anak seusianya.
Anak-anak berseragam putih merah itu bagai menemukan oase. Mereka menemukan sesuatu yang dirindukannya. Mereka selalu merindukan kehadiran Bu guru muda yang sebenarnya bukan seorang guru. Ya, dia bukan seorang guru, ttepai mempunyai semangat yang tuluis dan ikhlkas untuk menularkan ilmu yang dimilikinya dalam sebuah pengabdians ebagai guru di program “Indoensia Mengajar”. Penganbdian yang tulus, karena mereka berani meninggalkan poekerjaanya dengan gaji mapan, hanya untuk menjadi guru di pelosok desa selama satu tahun. Sebuah [pengabdian untuk memberikan bekal pengetahuan. Membangun mimpi-mimpi anak-anak di pelosok itu untuk meraih masa depan.
Dia seorang sarjana berprestasi yang mencoba untuk mengabdikan diri, membangun sejarah hidup untuk dikenang anak cucunya kelak di kemudian hari. Guru muda yang kreatif dengan segala keterbatasan fasilitas yang ada, di manfaatkannya keterbatasan untuk menanamkan pemahaman, dan pengetahuan yang bermakna bagi kehidupan anak-anak desa itu. Saat mengajarkan peta Indoenesia Bu guru tidak cukup memberikan teori, tetapi diajaknya anak-anak ke tepian laut yang tak jauh dari sekolah. Lalu, digambarnya peta buta Indonesia, dengan cakap anak-anak itu menyebutkan nama pulau di peta yang di bua. Di tatapnya lautan luas, memandang luas kepulauan wilayah Indonesia.
Alam (pantai) menjadi sumber belajar mereka. Di tepian laut. Di atas hamp[aran pasir digambarnya peta, dipahaminya skala peta dengan ukuran nyata, angin darat, angin laut an kegunaanya bagi kehidupan nelayan dan kehidupan mereka. Sebuah pembelajaran holistik, pem,belajaran yang mengakokmodir aneka kecerdasan mereka.
Ternyata anak-anak yang ada di pelosok ituadalah anak-anak yang cerdas. Anak-anak yang memiliki cita-cita setinggi langit dan seluas laut terbentang di hadapannya. Bu guru muda yang tengah mengabdi telah memantik dan memercikkan bintan-bintang dari anak-anak di daerah terpencil. Selama setahun mereka mengabdi, setahun pula mereka menanam, dan harapan itu mulai tumbuh dan terus tumbuh.
Datangnya pengajar-pengajar muda, adalah inspirasi baru dalam dunia pendidikan kita. Bahwa; pertama, betapa selama ini anak-anak itu begitu rindu pembelajaran yang menggairahkan. Mereka rindu untuk mengenal lingkungan alamnya, masyarakat dan bangsanya. Kedua, dunia pendidikan kita harus berubah, karena anak-anak itu tidak lagi lahir jaman penjajahan. Anak-anak itu tidak lahir di jaman otoriter, tetapi anak-anak itu hadir dalam sebuah jaman yang bebas di tengah serimpungan arus informasi dan teknologi. Anak-anak yang tengah diintai cengkeraman kapitalisme dalam kehidupan masa depan mereka.
SUMENEP, awal Desember 2011
Sore beranjak malam. Sebuah stasiun televise menayangkan acara “Pengabdian” .Pada malam itu kebetulan ditayangkan seorang perempuan muda yang terpilih dalam Program Indonesia Mengajar dan ditempatkan di suatu daerah di luar Pulau Jawa. Perempuan cantik, enerjik, dan begitu bersemangat menjalankan tugas pengandiannya di sebuah sekolah dasar yang ada di tengah hutan.
Aku tak ingat namanya, tetapi aku ingat perempuan itu penuh gairah, kreatif, dan interaktif dengan anak-anak yang diajarinya. Interaksi dengan anak-anak yang bermukim di daerah yang terpencil nun jauh di sana. Sungguh menaskjubkan, anak-anak itu begitu ceria mereka mudah menerima dan berinteraksi dengan Bu guru yang baru. Anak-anak yang tidak jauh bebrbeda dengan anak-anak seusianya.
Anak-anak berseragam putih merah itu bagai menemukan oase. Mereka menemukan sesuatu yang dirindukannya. Mereka selalu merindukan kehadiran Bu guru muda yang sebenarnya bukan seorang guru. Ya, dia bukan seorang guru, ttepai mempunyai semangat yang tuluis dan ikhlkas untuk menularkan ilmu yang dimilikinya dalam sebuah pengabdians ebagai guru di program “Indoensia Mengajar”. Penganbdian yang tulus, karena mereka berani meninggalkan poekerjaanya dengan gaji mapan, hanya untuk menjadi guru di pelosok desa selama satu tahun. Sebuah [pengabdian untuk memberikan bekal pengetahuan. Membangun mimpi-mimpi anak-anak di pelosok itu untuk meraih masa depan.
Dia seorang sarjana berprestasi yang mencoba untuk mengabdikan diri, membangun sejarah hidup untuk dikenang anak cucunya kelak di kemudian hari. Guru muda yang kreatif dengan segala keterbatasan fasilitas yang ada, di manfaatkannya keterbatasan untuk menanamkan pemahaman, dan pengetahuan yang bermakna bagi kehidupan anak-anak desa itu. Saat mengajarkan peta Indoenesia Bu guru tidak cukup memberikan teori, tetapi diajaknya anak-anak ke tepian laut yang tak jauh dari sekolah. Lalu, digambarnya peta buta Indonesia, dengan cakap anak-anak itu menyebutkan nama pulau di peta yang di bua. Di tatapnya lautan luas, memandang luas kepulauan wilayah Indonesia.
Alam (pantai) menjadi sumber belajar mereka. Di tepian laut. Di atas hamp[aran pasir digambarnya peta, dipahaminya skala peta dengan ukuran nyata, angin darat, angin laut an kegunaanya bagi kehidupan nelayan dan kehidupan mereka. Sebuah pembelajaran holistik, pem,belajaran yang mengakokmodir aneka kecerdasan mereka.
Ternyata anak-anak yang ada di pelosok ituadalah anak-anak yang cerdas. Anak-anak yang memiliki cita-cita setinggi langit dan seluas laut terbentang di hadapannya. Bu guru muda yang tengah mengabdi telah memantik dan memercikkan bintan-bintang dari anak-anak di daerah terpencil. Selama setahun mereka mengabdi, setahun pula mereka menanam, dan harapan itu mulai tumbuh dan terus tumbuh.
Datangnya pengajar-pengajar muda, adalah inspirasi baru dalam dunia pendidikan kita. Bahwa; pertama, betapa selama ini anak-anak itu begitu rindu pembelajaran yang menggairahkan. Mereka rindu untuk mengenal lingkungan alamnya, masyarakat dan bangsanya. Kedua, dunia pendidikan kita harus berubah, karena anak-anak itu tidak lagi lahir jaman penjajahan. Anak-anak itu tidak lahir di jaman otoriter, tetapi anak-anak itu hadir dalam sebuah jaman yang bebas di tengah serimpungan arus informasi dan teknologi. Anak-anak yang tengah diintai cengkeraman kapitalisme dalam kehidupan masa depan mereka.
SUMENEP, awal Desember 2011
IBU MENJADI HUTAN BAGI TEDUHANKU
Oleh: Hidayat Raharja
Sebilan belas tahun sudah ibu meningalkan aku untuk selamanya. Banyak hal yang dia tinggalkan dan takkan pernah aku lupakan sepanjang hayatku. Ibu yang menjadi hutan bagi teduhanku, melindungi segala ketakutan dan memenuhi segala yang aku buuthkan; cinta. Semoga Ibu mendapatkan tempat yang mulia di sisi Nya. Amin.
Apa yang harus aku ungkap mengenai Ibu? Takkan ada kata –kata yang mmapu menumpahkan segala kebajikan yang telah diberikannya kepadaku. “belajarlah yang rajin, biar nanti kau jadi orang suskes, orang uang berguina bagi sesama, agama dan bangsanya!” suatu ketika ibu berpesan kepadaku. Ibu memang tidak berpendidikan tinggi, tetapi cita-cita Ibu untuk anak-anaknya amatlah mulia. Ibu memang bukan lulusan pendidikan tinggi, tetapi apa yang Ibu didikkan kepada kami anak-anaknya adalah pejaran hidup yang amat berharga. Jika aku berhasil, adalah karena kasih sayang ibu dalam mendiidkan kami, dalam doa-doanya di maam-malam yang sepi sehingga hanya dia dan Tuhan saling bercengkerama dan berbagi.
Tak ada yang bisa aku kadokan buat ibu. Kesederhanaan yang pernah ibu tanamkan adalah satu-satunya kebahagiaan yang aku nikmati. Hanya doa buat kemurahan Nya menempatkan Ibu di tempat yang nyaman dan berbahagia di sisiNya. Tak ada kue ulang tahun yangh pernah kami buat untuk merayakan ulang tahunku. Namun, Ibu selalu menahan lapar , dahaga, dan memanjatkan doa untuk kemuliaaan anak-anaknya.
Kini aku sudah menjadi orangtua, dengan dua anak remaja yang tengah tumbuh meraih masa depannya. Seorang anak perempuan yang bercita-cita menjadi orang sukses yang berguna bagi orang lain, dan seorang anak laki-laki yang akan menyelesaikan pendidikan dasar. Seorang anak yang penuh misteri dan selalu suka berbagi dengan orang lain. Penyuka olah raga dan kurang suka membaca. Tetapi aku yakin dia punya jalan yang tempuh yang berbeda tetapi tetap dalam lintasan pengabdian kepada sesama, agama dan bangsanya.
Ibu, aku tak akan mengeluh, sebagaimana Ibu pernah tempuh hidup yang kadang tak teduh. Penderitaaan mematangkan Ibu dalam menjalani kehidupan yang keras dan penuh tantangan, namun Ibu senatiasa mernguatkan diri dengan doa. “Jangan mengeluh pada manusia, karena Tuhan yang punya segala,” begitu ibu sampaikan pada anak-anaknya yang sring dilanda kecewa dan putus asa. Penderitaaan yang diajalani dengan tabah, sebuah pelajaran hidup yang membuat ibu semakin matang dalam membesarkand an mengantarkan anak-anaknya ke gerabang hidup yang kian buas.
Umur Ibu memang tidak panjang, dipanggil Tuhan pada usia empat puluh dua (42) tahun. Tetapi kasih sayang, pengorbanan ibu, dan nasehat-nasehatnya teruys menyala dalam hati anak-anaknya. Lentera penerang yang selalu menjadi pengantar doa seusai sholat lima waktu. Waktu sebentar, namun bayak hal yang ibu tanamkan.
“Sholatmu, kamu jaga, tepat waktu dan jangan sampai lalu!” pesanmu pada anak tertuamu.
“Lindungi adik-adik perempuanmu. Akurlah sesama saudaramu. Bantulah saudaramu yang kurang beruntung, biar hidupmu berguna. Jangan berseleisih harta dengan saudara. Mengalahlah, karena Tuhasn Maha Kaya, mintalah kepada Nya!”
Kata orang aku separuh mirip ibu dan separuh mirip Bapak. Tentu, karena aku anak mereka. Anak yang mereka cintai dan harapkan jadi penerus generasi keluarga. Namun apa yang aku kerjakan belum sebesar pengorbanan yang ibu berikan. Maaf Ibu. Maafkanlah segala khilaf dan salah, dan tingkah polah yang pernah menyakitkanm hati ibu. Aku yakin Ibu tak akan mengutuk aku jadi batu. Hati ibu yang mulia, aku nyalakan sepanjang lorong tempuahnaku. Lorong yang menunjukkanku ke sumber mata air tempat anakanaknya membersihkan diri. Lorong menuju rumah mungil tempat anak-anaknya berdua dengan kekasihnya berhadapo-hadapan setiap waktu. Lorong menuju hutan raya, tempat segala hidup ceria. Sebelum semua fana.
Ibu, lorong kecil tempat akau mengintip dunia dan tempat aanak-anaknya meminta kunci tulus yang membukakan gerbang surga yang nyata.
Sumenep, 22 Desember 2011
Sebilan belas tahun sudah ibu meningalkan aku untuk selamanya. Banyak hal yang dia tinggalkan dan takkan pernah aku lupakan sepanjang hayatku. Ibu yang menjadi hutan bagi teduhanku, melindungi segala ketakutan dan memenuhi segala yang aku buuthkan; cinta. Semoga Ibu mendapatkan tempat yang mulia di sisi Nya. Amin.
Apa yang harus aku ungkap mengenai Ibu? Takkan ada kata –kata yang mmapu menumpahkan segala kebajikan yang telah diberikannya kepadaku. “belajarlah yang rajin, biar nanti kau jadi orang suskes, orang uang berguina bagi sesama, agama dan bangsanya!” suatu ketika ibu berpesan kepadaku. Ibu memang tidak berpendidikan tinggi, tetapi cita-cita Ibu untuk anak-anaknya amatlah mulia. Ibu memang bukan lulusan pendidikan tinggi, tetapi apa yang Ibu didikkan kepada kami anak-anaknya adalah pejaran hidup yang amat berharga. Jika aku berhasil, adalah karena kasih sayang ibu dalam mendiidkan kami, dalam doa-doanya di maam-malam yang sepi sehingga hanya dia dan Tuhan saling bercengkerama dan berbagi.
Tak ada yang bisa aku kadokan buat ibu. Kesederhanaan yang pernah ibu tanamkan adalah satu-satunya kebahagiaan yang aku nikmati. Hanya doa buat kemurahan Nya menempatkan Ibu di tempat yang nyaman dan berbahagia di sisiNya. Tak ada kue ulang tahun yangh pernah kami buat untuk merayakan ulang tahunku. Namun, Ibu selalu menahan lapar , dahaga, dan memanjatkan doa untuk kemuliaaan anak-anaknya.
Kini aku sudah menjadi orangtua, dengan dua anak remaja yang tengah tumbuh meraih masa depannya. Seorang anak perempuan yang bercita-cita menjadi orang sukses yang berguna bagi orang lain, dan seorang anak laki-laki yang akan menyelesaikan pendidikan dasar. Seorang anak yang penuh misteri dan selalu suka berbagi dengan orang lain. Penyuka olah raga dan kurang suka membaca. Tetapi aku yakin dia punya jalan yang tempuh yang berbeda tetapi tetap dalam lintasan pengabdian kepada sesama, agama dan bangsanya.
Ibu, aku tak akan mengeluh, sebagaimana Ibu pernah tempuh hidup yang kadang tak teduh. Penderitaaan mematangkan Ibu dalam menjalani kehidupan yang keras dan penuh tantangan, namun Ibu senatiasa mernguatkan diri dengan doa. “Jangan mengeluh pada manusia, karena Tuhan yang punya segala,” begitu ibu sampaikan pada anak-anaknya yang sring dilanda kecewa dan putus asa. Penderitaaan yang diajalani dengan tabah, sebuah pelajaran hidup yang membuat ibu semakin matang dalam membesarkand an mengantarkan anak-anaknya ke gerabang hidup yang kian buas.
Umur Ibu memang tidak panjang, dipanggil Tuhan pada usia empat puluh dua (42) tahun. Tetapi kasih sayang, pengorbanan ibu, dan nasehat-nasehatnya teruys menyala dalam hati anak-anaknya. Lentera penerang yang selalu menjadi pengantar doa seusai sholat lima waktu. Waktu sebentar, namun bayak hal yang ibu tanamkan.
“Sholatmu, kamu jaga, tepat waktu dan jangan sampai lalu!” pesanmu pada anak tertuamu.
“Lindungi adik-adik perempuanmu. Akurlah sesama saudaramu. Bantulah saudaramu yang kurang beruntung, biar hidupmu berguna. Jangan berseleisih harta dengan saudara. Mengalahlah, karena Tuhasn Maha Kaya, mintalah kepada Nya!”
Kata orang aku separuh mirip ibu dan separuh mirip Bapak. Tentu, karena aku anak mereka. Anak yang mereka cintai dan harapkan jadi penerus generasi keluarga. Namun apa yang aku kerjakan belum sebesar pengorbanan yang ibu berikan. Maaf Ibu. Maafkanlah segala khilaf dan salah, dan tingkah polah yang pernah menyakitkanm hati ibu. Aku yakin Ibu tak akan mengutuk aku jadi batu. Hati ibu yang mulia, aku nyalakan sepanjang lorong tempuahnaku. Lorong yang menunjukkanku ke sumber mata air tempat anakanaknya membersihkan diri. Lorong menuju rumah mungil tempat anak-anaknya berdua dengan kekasihnya berhadapo-hadapan setiap waktu. Lorong menuju hutan raya, tempat segala hidup ceria. Sebelum semua fana.
Ibu, lorong kecil tempat akau mengintip dunia dan tempat aanak-anaknya meminta kunci tulus yang membukakan gerbang surga yang nyata.
Sumenep, 22 Desember 2011
Senin, 31 Oktober 2011
Praktikum: Bermain-main dengan Persoalan Biologi
oleh: Hidayat Raharja
Kegiatan praktikum adalah sebuah pengalaman konkret untuk menguatkan konsep sehingga bersifat menetap dalam diri siswa. Melalui praktikum siswa merencanakan, melakukan atau mempraktikkan konsep sebagai pengalaman empiris yang akan melekat dalam ingatannya sepanjang hayat. Dr. Avernon Amagnensen (De Porter, 2000) menjelaskan bahwa kita belajar; 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan dengar, 70% dari apa yang kita katakan, dan 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan. Kegiatan praktikum menurut Amagnensen merupakan penguatan dalam belajar yang persentasenya 90 %. Suatu temuan yang menekankan betapa pentingnya kegiatan praktikum untuk meberikan pengalaman bagi anak. Penguatan konsep yang akan mengurangi verbalitas dalam pelajaran biologi.
Praktikum biologi merupakan suatu hal yang menarik, karena biologi senantiasa berhubungan dengan makhluk hidup dan kehidupannya. Praktik yang akan memberikan berbagai kemungkinan bagi siswa untuk melakukan eksplorasi, sebagaimana dinamika yang dialami makhluk hidup yang dijadikan sebagai sumber dan pengalaman belajar.
Kegiatan membuat rancangan praktikum adalah sebuah upaya yang mengesplorasi berbagai kemampuan siswa, kognitif dan psikomotorik, serta kreativitas. Siswa diminta untuk memanfaatkan ketersediaan yang ada dalam lingkungan sekitar sebagai potensi yang dapat menguatkan pengalaman belajar mereka. Aktivitas yang akan memancing seluruh aspek kecerdasan siswa dalam merancang, memilih alat dan bahan sesuai dengan ketersediaan yang ada serta bekerjasama dalam kelompok untuk mengembang tanggungjawab yang diberikan.
Perkembangan industri dan teknologi informasi telah meberikan produk dan poengaruhnya dalam berbagai aspek kehidupan. Sumber persoalan-persoalan baru yang menarik dan menjadi sumber eksplorasi dalam arti “Permainan / main-main” untuk mengungkap keingintahuan siswa terhadap produk baru (instant) terhadap makhluk hidup. Aneka jenis minuman kemasan dan minuman energi yang ditawarkan oleh berbagai produsen atau industri menjadi sumber persoalan dalam praktikum pengaruh faktor luar terhadap pertumbuhan tanaman. Persoalan yang dikaitkan dengan kandungan bahan yang tertera dalam kemasan, di antaranya kandungan ion yang dapat menggantikan ion tubuh. Dapatkah menggantikan kebutuhan mineral tumbuhan selama masa pertumbuhannya. Ide persoalan yang muncul dari pengalaman siswa di lingkungannya yang dikaitkan dengan pengalaman belajar (biologi) yang ditempuhnya.
Aneka jenis cairan yang ada dalam kehidupan kita; air zamzam, air sumur, air garam, air laut, air kapur, cuka, bahan larutan yang dijadikan alat uji pengaruh terhadap pertumbuhan biji kacang hijau. Sebuah keberanian yang untk mengembangkan lebih luas pengaruh air terhadap pertumbuhan. Pemanfaatan kandungan asam-basa dan garam bagi pertumbuhan tumbuhan.
Juga ketika air yang dianggap sebagai media pengantar informasi dan telah dibuktikan oleh Masaru Emoto, ternyata juga dapat menyampaikan pesan “baik” terhadap petumbuhan. Bacaan doa yang disampaikan dalam tetesan air, berpengaruh terhadap pertumbuhan biji kacang hijau.
Ada kemungkinan - kemungkinan yang meniscaya, ketika kebebasan berpikir kreatif diterapkan dalam kegiatan praktikum ini. Sebuah temuan-temuan yang menguatkan pada pengalaman belajar sebelumnya. Ketika kertas, sterofom, kain, pasir, tanah, lempung, kerikil, kompos, dan serabut dijadikan sebagai media tanam, mereka menemukan pertumbuhan akar menembus sterofom dan selalu bergerak menuju ke sumber air.
Sebuah pengalaman berharga bagi pengampu mata pelajaran biologi untuk memberikan kesempatan bagi siswa melakukan eksplorasi terhadap pengetahuannya untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman baru secara konseptual dan secara empiris. Siswa bisa belajar dari kesalahan-kesalahannya untuk emenemukan kebenaran baru, dan menguatkan rasa keingintahuannya dengan pengalaman atau temuan baru yang didapatkannya. Penugasan semacam ini dilandasi oleh pemikiran bahwa ada potensi kreatif dari siswa yang dipenuhi oleh rasa ingin tahu, mencoba tantangan baru, dan mencoba sesuatu yang kadang dianggap sebagai tabu.
Maka, tidak berlebihan jika kumpulan rancangan dan laporan parktikum biologi mengenai :
“ Pengaruh Faktor Luar Terhadap Pertumbuhan” yang dilakukan siswa kelas XII IIA 1 sampai dengan IIA 4 RSMA BI Negeri 1 Sumenep sebagai bentuk apresiasi terhadap pengalaman dan kreativitas iswa yang kadang tak terduga. Pengalaman yang kadang terasa melompat dan menjadikan guru sebagai pembimbing dan siswa sebagai pembelajar sebagai sosok manusia yang unik, berbeda, dan bisa saling melengkapi.
Sumenep, Agustus 2011
Kegiatan praktikum adalah sebuah pengalaman konkret untuk menguatkan konsep sehingga bersifat menetap dalam diri siswa. Melalui praktikum siswa merencanakan, melakukan atau mempraktikkan konsep sebagai pengalaman empiris yang akan melekat dalam ingatannya sepanjang hayat. Dr. Avernon Amagnensen (De Porter, 2000) menjelaskan bahwa kita belajar; 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan dengar, 70% dari apa yang kita katakan, dan 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan. Kegiatan praktikum menurut Amagnensen merupakan penguatan dalam belajar yang persentasenya 90 %. Suatu temuan yang menekankan betapa pentingnya kegiatan praktikum untuk meberikan pengalaman bagi anak. Penguatan konsep yang akan mengurangi verbalitas dalam pelajaran biologi.
Praktikum biologi merupakan suatu hal yang menarik, karena biologi senantiasa berhubungan dengan makhluk hidup dan kehidupannya. Praktik yang akan memberikan berbagai kemungkinan bagi siswa untuk melakukan eksplorasi, sebagaimana dinamika yang dialami makhluk hidup yang dijadikan sebagai sumber dan pengalaman belajar.
Kegiatan membuat rancangan praktikum adalah sebuah upaya yang mengesplorasi berbagai kemampuan siswa, kognitif dan psikomotorik, serta kreativitas. Siswa diminta untuk memanfaatkan ketersediaan yang ada dalam lingkungan sekitar sebagai potensi yang dapat menguatkan pengalaman belajar mereka. Aktivitas yang akan memancing seluruh aspek kecerdasan siswa dalam merancang, memilih alat dan bahan sesuai dengan ketersediaan yang ada serta bekerjasama dalam kelompok untuk mengembang tanggungjawab yang diberikan.
Perkembangan industri dan teknologi informasi telah meberikan produk dan poengaruhnya dalam berbagai aspek kehidupan. Sumber persoalan-persoalan baru yang menarik dan menjadi sumber eksplorasi dalam arti “Permainan / main-main” untuk mengungkap keingintahuan siswa terhadap produk baru (instant) terhadap makhluk hidup. Aneka jenis minuman kemasan dan minuman energi yang ditawarkan oleh berbagai produsen atau industri menjadi sumber persoalan dalam praktikum pengaruh faktor luar terhadap pertumbuhan tanaman. Persoalan yang dikaitkan dengan kandungan bahan yang tertera dalam kemasan, di antaranya kandungan ion yang dapat menggantikan ion tubuh. Dapatkah menggantikan kebutuhan mineral tumbuhan selama masa pertumbuhannya. Ide persoalan yang muncul dari pengalaman siswa di lingkungannya yang dikaitkan dengan pengalaman belajar (biologi) yang ditempuhnya.
Aneka jenis cairan yang ada dalam kehidupan kita; air zamzam, air sumur, air garam, air laut, air kapur, cuka, bahan larutan yang dijadikan alat uji pengaruh terhadap pertumbuhan biji kacang hijau. Sebuah keberanian yang untk mengembangkan lebih luas pengaruh air terhadap pertumbuhan. Pemanfaatan kandungan asam-basa dan garam bagi pertumbuhan tumbuhan.
Juga ketika air yang dianggap sebagai media pengantar informasi dan telah dibuktikan oleh Masaru Emoto, ternyata juga dapat menyampaikan pesan “baik” terhadap petumbuhan. Bacaan doa yang disampaikan dalam tetesan air, berpengaruh terhadap pertumbuhan biji kacang hijau.
Ada kemungkinan - kemungkinan yang meniscaya, ketika kebebasan berpikir kreatif diterapkan dalam kegiatan praktikum ini. Sebuah temuan-temuan yang menguatkan pada pengalaman belajar sebelumnya. Ketika kertas, sterofom, kain, pasir, tanah, lempung, kerikil, kompos, dan serabut dijadikan sebagai media tanam, mereka menemukan pertumbuhan akar menembus sterofom dan selalu bergerak menuju ke sumber air.
Sebuah pengalaman berharga bagi pengampu mata pelajaran biologi untuk memberikan kesempatan bagi siswa melakukan eksplorasi terhadap pengetahuannya untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman baru secara konseptual dan secara empiris. Siswa bisa belajar dari kesalahan-kesalahannya untuk emenemukan kebenaran baru, dan menguatkan rasa keingintahuannya dengan pengalaman atau temuan baru yang didapatkannya. Penugasan semacam ini dilandasi oleh pemikiran bahwa ada potensi kreatif dari siswa yang dipenuhi oleh rasa ingin tahu, mencoba tantangan baru, dan mencoba sesuatu yang kadang dianggap sebagai tabu.
Maka, tidak berlebihan jika kumpulan rancangan dan laporan parktikum biologi mengenai :
“ Pengaruh Faktor Luar Terhadap Pertumbuhan” yang dilakukan siswa kelas XII IIA 1 sampai dengan IIA 4 RSMA BI Negeri 1 Sumenep sebagai bentuk apresiasi terhadap pengalaman dan kreativitas iswa yang kadang tak terduga. Pengalaman yang kadang terasa melompat dan menjadikan guru sebagai pembimbing dan siswa sebagai pembelajar sebagai sosok manusia yang unik, berbeda, dan bisa saling melengkapi.
Sumenep, Agustus 2011
Kamis, 13 Oktober 2011
Riwayat Tuan Hai
oleh:Hidayat Raharja
Seorang guru,
adalah pembuka pintu bagi anak-anaknya
yang banyak mencari tahu
Tuan Hai bekerja sebagai seorang guru. Guru di sekolah menengah di kota kecil. Pekerjaan guru yang dilakukannya semenjak dua puluh tahun yang lalu. Guru yang mengandung banyak cita-cita dan harapan. Cita –cita untuk menjadikan murid-muridnya berprestasi. Tak ada pikiran lain dari Tuan Hai saat berdiri di depan kelas atau berhadapan dengan murid-muridnya, kecuali memberikan kemudahan supaya murid-muridnya mudah menerima materi pelajaran yang disampaikan. Setiap kali menganalisis hasil ulangan murid-muridnya untuk pelajaran yang dampukannya, dia tidak selalu memvonis muridnya tidak bisa. Bodoh. Malas, dan semacamnya. Tetapi yang dilakukan Tuan Hai adalah mencari tahu sebab, muridnya tidak mencapai ketuntasan belajar.
“Anak-anakku belajar Biologi itu jangan dihafal, tetapi dipahami. Kalau kau menghafal takkan pernah mampu menghafal. Betapa luas kehidupan ini. Kehidupan yang luas takkan mampu kau hafalkan,” terang Tuan Hai di depan kelas di suatu waktu.
“Biologi itu banyak bahasa latinnya, Pak?!”
“Ya, tetapi tidak untuk dihafal. Tetapi dipahami. kalau kehidupan kita di bumi terdapat hamparan bumi yang luas, bukit-bukit, dan ngarai, sungai dan lautan. Demikian juga tubuh kita. Sebuah jazirah yang merangkum jagad raya. “
“Pak Guru, aku tidak suka pelajaran biologi. Kalau diistilahkan salah makan, aku telah slah makan sejak awal. Guru biologiku waktu itu mengharuskan aku menghafal aneka konsep dan bahasa latin. Aku jenuh dan tidak melihat biologi ada manfaatnya bagi kehidupan!” potong Sarwa sengit saat Tuan Hai memberikan motivasi di depan kelas.
“Sarwa, manfaat itu akan kita peroleh jika kita memanfaatkannya. Jika kau mempelajarinya dengan rasa dongkol. Kau hanya akan memperoleh kecapaian. Takkan ada yang bisa kau sesap dalam dirimu. Ilmu bisa diperoleh jika dipelajari dengan perasaan cinta dan tulus. Seperti kau mencintai kekasihmu, dan seperti kau mencintai diri kamu sendiri.”
“Dari mana aku harus mulai mencintai, sementara dalam sisi hati kami, yang sering aku rekam adalah ganjaran hukuman berdiri di depan kelas, karena aku tak mengerjakan tugas. Telingaku dijewer karena aku salah menjawab pertanyaan.”
“Kalau aku, dulu waktu di SMP, nilaiku akan bagus jika aku mengikuti les / pelajaran tambahan pada ibu guru. Tentu dengan iuran sejumlah tertentu, haahaa...!!!” celoteh Mardan di sudut selatan ruangan kelas.
Tuan Hai hanya tersenyum. Dia belajar memahami apa yang dialami dan dirasakan anak-anaknya. Sebuah dunia baru yang harus dia masuki, dengan persoalan yang bervariasi. Setiap anak dengan keunikannya sendiri. Latar belakang sosial dan ekonomi yang berbeda. Namun, di sinilah sebenarnya Tuan Hai merasakan nikmatnya mengajar dan menekuni dunia pendidikan. Sebuah pekerjaan yang membutuhkan kelapangan dada, keterbukaan hati, untuk menenun kembali pengalaman kusut yang ada dalam bentangan pikiran murid-muridnya.
“Apakah bapak mencintai Biologi?! Celetuk Habsiyah yang duduk di depan meja guru.
Tuan Hai tersenyum. Dipandanginya seluruh ruangan kelas. Wajah-wajah yang menanti jawaban jujur dari Bapak Guru. “Semula aku tak mencintainya. Karena aku mendapatkan pengalaman yang kurang bahagia. Aku mendapatkan pengalaman belajar yang lebih buruk dari kau di sekolah sebelumnya. Aku mnendapatkan pengalaman tidak seperti yang aku inginkan. Saat pelajaran Biologi, ketika aku masih seusia kau dan ada di bangku SMA. Guruku sibuk ngajar di beberapa sekolah, karena dia sebagai guru honorer di sekolahku. Saat pelajaran biologi aku disuruh mecatat selama dua jam pelajaran dengan metode CBSA (C atat Buku Sampai Abis)...” belum tuntas penjelasan Tuan Hai tawa murid-murid dalam ruangan jadi meledak.
“Sama pak dengan guru saya di SMP”
“Aku juga...!! Aku Juga...!!! Aku juga” mereka bersahutan bersetuju dengan pengalaman buruk Tuan Hai.
“Maka, ketika aku menjadi guru biologi, aku takkan mengulangi kesalahan yang sama. Kalau aku mengajar sama dengan guruku berarti aku tak menemukan kebaruan. Berarti aku dalam kerugian. Aku ingin menjadi Tuan Hai yang berbeda dengan gruu-gurunya di masa silam.”
Ada harapan yang menggembirakan dari pancaran muka seluruh penghuni kelas. Mereka menunggu apa yang dikatakan Tuan Hai berbeda dengan guru-gurunya di masa lampau. Hari ini tak ada pelajaran biologi. Dua jam tatap muka digunakan Tuan Hai untuk mengenali anak-anaknya dan memberikan motivasi belajar.
Sesampai di rumah perasaan Tuan Hai kian galau. Betapa menyesal Dia menjadi guru di saat sekarang. Di saat yang menurut dirinya tidak tepat. Saat guru dijadikan sebuah profesi hanya sebagai transfer pengetahuan dan jual beli pengetahuan. Untuk menambah pengetahuannya pada guru yang dianggapnya sebagai pengganti orangtua di rumah, siswa harus memabayar uang tambahan pelajaran. Apa yang salah dalam dirinya, ketika dianggap asing karena tidak memungut tambahan biaya untuk tambahan jam pelajaran. Aku hanya mencintai anak-nakku. Anak yang kelak akan meneruskan peradaban bangsa ini. Kelak, yang akan meneruskan perkembangan pengetahuan. Kadang dirinya merasa risih saat berada dalam ruang guru. Risih, karena pembicaraan di ruang itu lebih banyak mengarah pada pembicaraan materi. Beli motor baru. Ganti beli mobil, rehap rumah, dan menawarkan aneka model pakaian wanita. Sungguh menyesal perasaan Tuan Hai, kenapa tidak ditakdirkan menjadi guru yang kaya. Saat galau sepagi itu, dia kan terulang kembali pada pesan ayahnya. Pesan yang mengingatkannya untuk senantiasa menjadi guru. Guru yang baik. Guru yang mengusai keilmuannya. Guru yang mengerti perasaan anak-didiknya. Guru yang mampu membangkitkan semangat anak didiknya. Guru yang mampu membuat anak didiknya berprestasi, menemukan dirinya dan bangga dengan negeri dan bangsanya.
Ataukah ayahku yang tidak waras. Tetapi galauan itu justru tergiring ke masa lampau. Masa, di saat dirinya menjadi murid Sekolah Dasar. Sekolah yang kepala sekolahnya adalah ayahnya sendiri. Sekolah yang ada di bawah bukit. Terbayang dalam batok kepala Tuan Hai ayahnya seorang guru sekolah dasar, bersusah payah membangun kepercayaan masyarakat utnuk menyekolahkan anak-anaknya. Perjuangan untuk memerangi kemiskinan dan kebodohan. Supaya anak-anak di susun itu mengenyam pendidikan, sehingga hidupnya lebih maju. Hanya dengan pendidikan seorang bisa lebih mulia. Tuan Hai ingat betul, bagaimana ayahnya bersusah payah bersama-dengan guru-guru inpres untuk membina anak-anak berbakat supaya potensinya menjadi prestasi. Tidak dipungkiri kalau kemudian siswa-siswa di sekolah itu berprestasi mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten sampai tingkat propinsi. Sekolah yang ada di bawah bukit itu, akhirnya disegani sekolah-sekolah di kota. Setiap lulkusan Sekolah Dasar itu, selalu dianggap anak pintar.
“ Situasi dan kondisinya, berbeda!” batin Tuan Hai sambil memeriksa kiriman tugas dari siswa siswinya yang dikirim lewat email.
“Meski berbeda, semangat dan niatnya tidak boleh berkurang’ bisik hati kanannya yang berdetakan tak menentu. Sambil membaca tugas yang dikirimkan murid-muridnya. Tiba-tiba matanya tertikam oleh sebuah tulisan pembuka dari salah seorang muridnya. Kalimat yang pendek, namun merupakan suara hatinya yang galau. Dia tidak akan melupakan sikap kritis yang telah disampaikan anak-anaknya. Keinginan murid-muridnya untuk belajar biologi yang menyenangkan, yang meudah utnuk diterima dan disimpan, pembelajaran yang berdasar kepada pengalaman. Ya, permintaan yang dituliskan anak-anaknya, ketika ditawarkan pelajaran biologi macam apa yang diinginkan.
***
“Kalau tubuh kita umpama negara, maka seldarah putih kita laksana tentara!” pagi itu Tuan hai membuka pelajaran di kelas XI IPA,” tak jauh bedan antara tubuh kita dengan negara. Maka setiap penyusun tubuh tak ubahnya adalah bagian-bagian yang menyusun negara.” Kelas pun gaduh, karena anak-anak di kelas itu baru mengenal perumpamaan-perumpamaan biologi yang dikaitkan dengan tubuh manusia. Tubuh yang diusung oleh anak-anak dalam ruangan itu.
“Nah, pagi ini kita akan mempelajari mengenai sel penyusun tubuh makhluk hidup, termasuk tubuh manusia. Hal yang sangat menarik, karena sel tubuh ini tak ubahnya adalah bagian yang menyusun dalam negara kita. Kalau dalam negeri kita ada sebuah kota, maka sel sangat tepat untuk diumpamakan sebagai kota kecil yang kesibukannya bersalngsung selama dua puluh empat jam. Di dalam sel itu ada lalulintas transportasi yang mengangkut bahan makanan ke baaain-bagian sel laksana transportasi kota yang sibuk mengantarkan berbagai kebutuhan ke berbagai tempat.” Anak-anak kembali gaduh mereka mulai mengungkit kembali pengalaman-pengalamannya untuk dihubungkan dengan sel.
“Anakku, kalian bisa membayangkan apa saja berdasarkan pengalaman kamu yang mirip dengan struktur dan fungsi sebuah sel.”
“Lidia, apa bayangan yang muncul dalam benakmu?” tanya Tuan Hai pada Lidia yang duduk di deret tiga paling depan.
“Pak, aku membayangkan selapuy sel seperti lumpia.”
“Lumpia?!” Tuan Hai kaget memicingkan matanya,”Oke, jelaskan anakku.”
“Lumpia kalau digigit secara melintang akan tampak bagian kulitnya yang kecoklatan, sebagai lapisan protein pada sebuah sel dan bagian tengahnya yang berisi mihun adalah lapisan lemak.”
“Bagus, kenanglah selalu Lumpia sebagai struktur membran sel dalam ingatanmu. Sepanjang kamu masih ingat kenikmatan mengkonsumsi Lumpia, sepanjang itu pula kau akan memahami struktur sel.”sela Tuan Hai sambil mengangkat dua jempolnya, memuji perumpamaan yang disampaikan Lidia.
‘Iphe!”
“Aku bayangkan sel itu seumpama Mie Kuah Spesial.”
Suara kelas gaduh, karena semua tahu Iphe adalah penggemar Mie Kuah Spesial, semangkuk mie kuah dengan pentolan bakso besar mengeram di tengahnya. Mie spesial yang biasa dijual di kantin sekolah dengan kocokan saus tomat yang merah dan seperti genangan darah.
“Coba uraikan anakku,” pinta Tuan Hai
“Kuah yang kemerahan aku umpamakan cairan sel, cairan sitoplasma yang didalamnya banyak organel-organel sel yang membangun kehidupan. Pentol bakso yang besar ada dalam mangkuk, adalah inti sel. Bibir mangkuk adalah membran sel yang menjadi wadah atau batas sel. Aku bayangkan pentol kecil yang bertabur adalah organel-organel sel yang menyusun kehidupan.”
Tepuk tangan gaduh memenuhi ruangan. Tanpa diminata beberapa anak mengacungkan jari telunjuk minta diberi waktu untuk menjelaskan perumpamaan sel yang telah dibangunnya. Kelas menjadi hidup dan riuh. Tuan Hai tersenyum menemani anak-anaknya bercerita mengenai sel. Satu persatu mereka memngungkapkan pengalamannya. Tak ada rasa takut dan rasa salah dari mereka, karena mereka mengungkapkan pengalamannya sendiri. Betapa banyak pengalaman yang terungkap. Jupi mengungkapkan sebuah perumpamaan sel seperti sekolah Harry Potter, karena kebetulan dia keranjingan cerita Harry Potter. Samson mengumpamakan sel seperti gedung pernikahan karena dia menjadi anggota juru saji pada saat ada resepsi. Haris, mengutarakan sel seperti lapangan bola, dengan panjang lebar dijelaskannya, garis lingkaran di tengah –tengah lapangan merupakan inti selnya, pemain yang bertebar di tengah lapangan sebagai organel yang membangun sel.
Senyum mengembang di wajah Tuan Hai. Suara tepuk tangan riuh memenuhi ruangan kelas. Dia puas dengan pertemuannya pagi itu. Anak-anaknya puas usai mengemukakan pemahamannya. Sebelum menutup pelajaran, seorang anak mengacungkan tangan, “Terimakasih, anakku. Pertemuan berikutnya kita ketemu di ruang laboratorium. Bawalah epidermis bawang merah dan gabus.” Tuan Hai menutup pelajaran dan meninggalkan ruangan.
Sumenep, April 2011
Seorang guru,
adalah pembuka pintu bagi anak-anaknya
yang banyak mencari tahu
Tuan Hai bekerja sebagai seorang guru. Guru di sekolah menengah di kota kecil. Pekerjaan guru yang dilakukannya semenjak dua puluh tahun yang lalu. Guru yang mengandung banyak cita-cita dan harapan. Cita –cita untuk menjadikan murid-muridnya berprestasi. Tak ada pikiran lain dari Tuan Hai saat berdiri di depan kelas atau berhadapan dengan murid-muridnya, kecuali memberikan kemudahan supaya murid-muridnya mudah menerima materi pelajaran yang disampaikan. Setiap kali menganalisis hasil ulangan murid-muridnya untuk pelajaran yang dampukannya, dia tidak selalu memvonis muridnya tidak bisa. Bodoh. Malas, dan semacamnya. Tetapi yang dilakukan Tuan Hai adalah mencari tahu sebab, muridnya tidak mencapai ketuntasan belajar.
“Anak-anakku belajar Biologi itu jangan dihafal, tetapi dipahami. Kalau kau menghafal takkan pernah mampu menghafal. Betapa luas kehidupan ini. Kehidupan yang luas takkan mampu kau hafalkan,” terang Tuan Hai di depan kelas di suatu waktu.
“Biologi itu banyak bahasa latinnya, Pak?!”
“Ya, tetapi tidak untuk dihafal. Tetapi dipahami. kalau kehidupan kita di bumi terdapat hamparan bumi yang luas, bukit-bukit, dan ngarai, sungai dan lautan. Demikian juga tubuh kita. Sebuah jazirah yang merangkum jagad raya. “
“Pak Guru, aku tidak suka pelajaran biologi. Kalau diistilahkan salah makan, aku telah slah makan sejak awal. Guru biologiku waktu itu mengharuskan aku menghafal aneka konsep dan bahasa latin. Aku jenuh dan tidak melihat biologi ada manfaatnya bagi kehidupan!” potong Sarwa sengit saat Tuan Hai memberikan motivasi di depan kelas.
“Sarwa, manfaat itu akan kita peroleh jika kita memanfaatkannya. Jika kau mempelajarinya dengan rasa dongkol. Kau hanya akan memperoleh kecapaian. Takkan ada yang bisa kau sesap dalam dirimu. Ilmu bisa diperoleh jika dipelajari dengan perasaan cinta dan tulus. Seperti kau mencintai kekasihmu, dan seperti kau mencintai diri kamu sendiri.”
“Dari mana aku harus mulai mencintai, sementara dalam sisi hati kami, yang sering aku rekam adalah ganjaran hukuman berdiri di depan kelas, karena aku tak mengerjakan tugas. Telingaku dijewer karena aku salah menjawab pertanyaan.”
“Kalau aku, dulu waktu di SMP, nilaiku akan bagus jika aku mengikuti les / pelajaran tambahan pada ibu guru. Tentu dengan iuran sejumlah tertentu, haahaa...!!!” celoteh Mardan di sudut selatan ruangan kelas.
Tuan Hai hanya tersenyum. Dia belajar memahami apa yang dialami dan dirasakan anak-anaknya. Sebuah dunia baru yang harus dia masuki, dengan persoalan yang bervariasi. Setiap anak dengan keunikannya sendiri. Latar belakang sosial dan ekonomi yang berbeda. Namun, di sinilah sebenarnya Tuan Hai merasakan nikmatnya mengajar dan menekuni dunia pendidikan. Sebuah pekerjaan yang membutuhkan kelapangan dada, keterbukaan hati, untuk menenun kembali pengalaman kusut yang ada dalam bentangan pikiran murid-muridnya.
“Apakah bapak mencintai Biologi?! Celetuk Habsiyah yang duduk di depan meja guru.
Tuan Hai tersenyum. Dipandanginya seluruh ruangan kelas. Wajah-wajah yang menanti jawaban jujur dari Bapak Guru. “Semula aku tak mencintainya. Karena aku mendapatkan pengalaman yang kurang bahagia. Aku mendapatkan pengalaman belajar yang lebih buruk dari kau di sekolah sebelumnya. Aku mnendapatkan pengalaman tidak seperti yang aku inginkan. Saat pelajaran Biologi, ketika aku masih seusia kau dan ada di bangku SMA. Guruku sibuk ngajar di beberapa sekolah, karena dia sebagai guru honorer di sekolahku. Saat pelajaran biologi aku disuruh mecatat selama dua jam pelajaran dengan metode CBSA (C atat Buku Sampai Abis)...” belum tuntas penjelasan Tuan Hai tawa murid-murid dalam ruangan jadi meledak.
“Sama pak dengan guru saya di SMP”
“Aku juga...!! Aku Juga...!!! Aku juga” mereka bersahutan bersetuju dengan pengalaman buruk Tuan Hai.
“Maka, ketika aku menjadi guru biologi, aku takkan mengulangi kesalahan yang sama. Kalau aku mengajar sama dengan guruku berarti aku tak menemukan kebaruan. Berarti aku dalam kerugian. Aku ingin menjadi Tuan Hai yang berbeda dengan gruu-gurunya di masa silam.”
Ada harapan yang menggembirakan dari pancaran muka seluruh penghuni kelas. Mereka menunggu apa yang dikatakan Tuan Hai berbeda dengan guru-gurunya di masa lampau. Hari ini tak ada pelajaran biologi. Dua jam tatap muka digunakan Tuan Hai untuk mengenali anak-anaknya dan memberikan motivasi belajar.
Sesampai di rumah perasaan Tuan Hai kian galau. Betapa menyesal Dia menjadi guru di saat sekarang. Di saat yang menurut dirinya tidak tepat. Saat guru dijadikan sebuah profesi hanya sebagai transfer pengetahuan dan jual beli pengetahuan. Untuk menambah pengetahuannya pada guru yang dianggapnya sebagai pengganti orangtua di rumah, siswa harus memabayar uang tambahan pelajaran. Apa yang salah dalam dirinya, ketika dianggap asing karena tidak memungut tambahan biaya untuk tambahan jam pelajaran. Aku hanya mencintai anak-nakku. Anak yang kelak akan meneruskan peradaban bangsa ini. Kelak, yang akan meneruskan perkembangan pengetahuan. Kadang dirinya merasa risih saat berada dalam ruang guru. Risih, karena pembicaraan di ruang itu lebih banyak mengarah pada pembicaraan materi. Beli motor baru. Ganti beli mobil, rehap rumah, dan menawarkan aneka model pakaian wanita. Sungguh menyesal perasaan Tuan Hai, kenapa tidak ditakdirkan menjadi guru yang kaya. Saat galau sepagi itu, dia kan terulang kembali pada pesan ayahnya. Pesan yang mengingatkannya untuk senantiasa menjadi guru. Guru yang baik. Guru yang mengusai keilmuannya. Guru yang mengerti perasaan anak-didiknya. Guru yang mampu membangkitkan semangat anak didiknya. Guru yang mampu membuat anak didiknya berprestasi, menemukan dirinya dan bangga dengan negeri dan bangsanya.
Ataukah ayahku yang tidak waras. Tetapi galauan itu justru tergiring ke masa lampau. Masa, di saat dirinya menjadi murid Sekolah Dasar. Sekolah yang kepala sekolahnya adalah ayahnya sendiri. Sekolah yang ada di bawah bukit. Terbayang dalam batok kepala Tuan Hai ayahnya seorang guru sekolah dasar, bersusah payah membangun kepercayaan masyarakat utnuk menyekolahkan anak-anaknya. Perjuangan untuk memerangi kemiskinan dan kebodohan. Supaya anak-anak di susun itu mengenyam pendidikan, sehingga hidupnya lebih maju. Hanya dengan pendidikan seorang bisa lebih mulia. Tuan Hai ingat betul, bagaimana ayahnya bersusah payah bersama-dengan guru-guru inpres untuk membina anak-anak berbakat supaya potensinya menjadi prestasi. Tidak dipungkiri kalau kemudian siswa-siswa di sekolah itu berprestasi mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten sampai tingkat propinsi. Sekolah yang ada di bawah bukit itu, akhirnya disegani sekolah-sekolah di kota. Setiap lulkusan Sekolah Dasar itu, selalu dianggap anak pintar.
“ Situasi dan kondisinya, berbeda!” batin Tuan Hai sambil memeriksa kiriman tugas dari siswa siswinya yang dikirim lewat email.
“Meski berbeda, semangat dan niatnya tidak boleh berkurang’ bisik hati kanannya yang berdetakan tak menentu. Sambil membaca tugas yang dikirimkan murid-muridnya. Tiba-tiba matanya tertikam oleh sebuah tulisan pembuka dari salah seorang muridnya. Kalimat yang pendek, namun merupakan suara hatinya yang galau. Dia tidak akan melupakan sikap kritis yang telah disampaikan anak-anaknya. Keinginan murid-muridnya untuk belajar biologi yang menyenangkan, yang meudah utnuk diterima dan disimpan, pembelajaran yang berdasar kepada pengalaman. Ya, permintaan yang dituliskan anak-anaknya, ketika ditawarkan pelajaran biologi macam apa yang diinginkan.
***
“Kalau tubuh kita umpama negara, maka seldarah putih kita laksana tentara!” pagi itu Tuan hai membuka pelajaran di kelas XI IPA,” tak jauh bedan antara tubuh kita dengan negara. Maka setiap penyusun tubuh tak ubahnya adalah bagian-bagian yang menyusun negara.” Kelas pun gaduh, karena anak-anak di kelas itu baru mengenal perumpamaan-perumpamaan biologi yang dikaitkan dengan tubuh manusia. Tubuh yang diusung oleh anak-anak dalam ruangan itu.
“Nah, pagi ini kita akan mempelajari mengenai sel penyusun tubuh makhluk hidup, termasuk tubuh manusia. Hal yang sangat menarik, karena sel tubuh ini tak ubahnya adalah bagian yang menyusun dalam negara kita. Kalau dalam negeri kita ada sebuah kota, maka sel sangat tepat untuk diumpamakan sebagai kota kecil yang kesibukannya bersalngsung selama dua puluh empat jam. Di dalam sel itu ada lalulintas transportasi yang mengangkut bahan makanan ke baaain-bagian sel laksana transportasi kota yang sibuk mengantarkan berbagai kebutuhan ke berbagai tempat.” Anak-anak kembali gaduh mereka mulai mengungkit kembali pengalaman-pengalamannya untuk dihubungkan dengan sel.
“Anakku, kalian bisa membayangkan apa saja berdasarkan pengalaman kamu yang mirip dengan struktur dan fungsi sebuah sel.”
“Lidia, apa bayangan yang muncul dalam benakmu?” tanya Tuan Hai pada Lidia yang duduk di deret tiga paling depan.
“Pak, aku membayangkan selapuy sel seperti lumpia.”
“Lumpia?!” Tuan Hai kaget memicingkan matanya,”Oke, jelaskan anakku.”
“Lumpia kalau digigit secara melintang akan tampak bagian kulitnya yang kecoklatan, sebagai lapisan protein pada sebuah sel dan bagian tengahnya yang berisi mihun adalah lapisan lemak.”
“Bagus, kenanglah selalu Lumpia sebagai struktur membran sel dalam ingatanmu. Sepanjang kamu masih ingat kenikmatan mengkonsumsi Lumpia, sepanjang itu pula kau akan memahami struktur sel.”sela Tuan Hai sambil mengangkat dua jempolnya, memuji perumpamaan yang disampaikan Lidia.
‘Iphe!”
“Aku bayangkan sel itu seumpama Mie Kuah Spesial.”
Suara kelas gaduh, karena semua tahu Iphe adalah penggemar Mie Kuah Spesial, semangkuk mie kuah dengan pentolan bakso besar mengeram di tengahnya. Mie spesial yang biasa dijual di kantin sekolah dengan kocokan saus tomat yang merah dan seperti genangan darah.
“Coba uraikan anakku,” pinta Tuan Hai
“Kuah yang kemerahan aku umpamakan cairan sel, cairan sitoplasma yang didalamnya banyak organel-organel sel yang membangun kehidupan. Pentol bakso yang besar ada dalam mangkuk, adalah inti sel. Bibir mangkuk adalah membran sel yang menjadi wadah atau batas sel. Aku bayangkan pentol kecil yang bertabur adalah organel-organel sel yang menyusun kehidupan.”
Tepuk tangan gaduh memenuhi ruangan. Tanpa diminata beberapa anak mengacungkan jari telunjuk minta diberi waktu untuk menjelaskan perumpamaan sel yang telah dibangunnya. Kelas menjadi hidup dan riuh. Tuan Hai tersenyum menemani anak-anaknya bercerita mengenai sel. Satu persatu mereka memngungkapkan pengalamannya. Tak ada rasa takut dan rasa salah dari mereka, karena mereka mengungkapkan pengalamannya sendiri. Betapa banyak pengalaman yang terungkap. Jupi mengungkapkan sebuah perumpamaan sel seperti sekolah Harry Potter, karena kebetulan dia keranjingan cerita Harry Potter. Samson mengumpamakan sel seperti gedung pernikahan karena dia menjadi anggota juru saji pada saat ada resepsi. Haris, mengutarakan sel seperti lapangan bola, dengan panjang lebar dijelaskannya, garis lingkaran di tengah –tengah lapangan merupakan inti selnya, pemain yang bertebar di tengah lapangan sebagai organel yang membangun sel.
Senyum mengembang di wajah Tuan Hai. Suara tepuk tangan riuh memenuhi ruangan kelas. Dia puas dengan pertemuannya pagi itu. Anak-anaknya puas usai mengemukakan pemahamannya. Sebelum menutup pelajaran, seorang anak mengacungkan tangan, “Terimakasih, anakku. Pertemuan berikutnya kita ketemu di ruang laboratorium. Bawalah epidermis bawang merah dan gabus.” Tuan Hai menutup pelajaran dan meninggalkan ruangan.
Sumenep, April 2011
Selasa, 14 Juni 2011
TRADISI PERTANIAN DI TENGAH KEPUNGAN BUDAYA INDUSTRI
TRADISI PERTANIAN DI TENGAH KEPUNGAN INDUSTRI
Oleh: Hidayat Raharja*
Di saat musim padi berkembang persawahan yang hijau di pucuk rumpun padi malai bebijian bergelatungan diterak angin. Suara gemnerisik yang merespon hembusan angin kencang sepanjang musim yang ekstrim. Dari arah langit segerombolan burung emprit menyerbu lahan persawahan, bergelatungan di batang rumpun padi mematuk biji-biji yang tengah terbit dari pucuk. Keiruhan burung tersebut disambut dengan teriakan pak tanai, dan tangannya menggerakkan tali dan orang-orangan di beberapa sudut persawahan seperti menari, beregrak hebat laksana mengusir kerumunan burung ayng tengah berpesta di lahan persawahan.
Sebuah pertunjukan dari lahan pertanian, dan sampai kini masih terus bertahan dengan berbagai variannya, menunjukkan dinamika pertunjukan dari lahan pertanian yang dikepung keberingasan industrialisasi. Masih lekat dalam memori kita, beberapa orang-orangan di sawah yang dibuat pak tani, berbahan kayu, jerami, pakaian bekar dan topi yang digelantungkan pada ebatang kayu kemudian diikat menggunakan tali dijadikan satu ikatan dan dikendalikan pak tani dari dangau. Selain orang-orangan pak Tani juga membuat bebunyian (musik) dari bilahan potongan bambu, semacam kentongan kecil dan ada juga dari bilahan bambu yang diikat dan salah satu bilahannya ditarik-ulur dengan tali, sehingga menimbulkan bunyi yang ritmik.
Tradisi ini amat menarik untuk ditelaah, karena ternyata mengalami dinamika seiring d engan perkembanagn peradaban yang mengepungnya. Suatu kreativitas murni, karena pembuatan “karya” memiliki makna sederhana sebagai pengusir burung di saat rerumpun padu tengah berkembang dan menguning. Pak tani melakukan penciptaan lebih menekankan kepada kegunaan = Kagunan. Petani sebagai tangan pertama (kreator) belum terkontaminasi kepentingan di luar kepentingan dirinya sendiri sebagai petani yang tengah menghadapi serbuan burung yang menyerang lahan persawahan. Karena tidak dibekali aneka teori mengenai anatomi dan pencptaan, maka karya yang dihasilkan lebih menekankan pada fungsi bukan kepada bentuk.
Dalam 10 tahun terakhir ada perubahan atau dinamika penciptaan yang bertumbuh terutama berkaitan dengan penggunaan bahan untuk membuat bahan pertunjukan di lahan persawahan. Pada awalnya bahan yang dipergunakan untuk membuat orang-orangan mempergunakan bahan jerami dan daun kelapa kering serta, daun dan pelepah pisang. Kondisi ini memiliki relevansi dengan sistem pertanian yang masih mempergunakan bahan-bahan organik dalam pengelolaan pertanian. Suatu keadaan yang menunjukkan keserasian dengan alam, sehingga menunjukkan hubungannya secara sirkuler. Saat ini bahan tersebut lebih banyak memperguankan bahan plastik dan bentuk atau modelnya lebih variatif.
Pertama, untuk membuat orang-orangan mereka memadukan dengan bahan untaian plastik panjang yang dibuat bergelantungan di atas lahan persawahan sehingga ketika diterpa angin akan menimbulkan suara kemeresak. Gerakan ritmis untaian plastik tersebut seperti gerakan tangan yang mengusir gerombolan burung yang menyerbu persawahan. Pemandangan semacam ini sangat kentara ketika jelang panen padi tiba. Kedua, Suara musikal menjadi menarik ketika petani melakukan eksplorasi dengan memanfaatkan kaleng bekas biskuit yang diisi dengan kerikil dan digelantungakn di sebatang kayu, dan dikendalikan dari dangau. Apabila tali ditarik maka, terlihatlah aksi orang-orangan yang bergoyang-goyang berpadu dengan suara plastik ditiup angin, dan kemerongsang kerikil yang terguncang dalam kaleng.
Sebuah pertunjukan masyarakat petani yang alami, dan sebagai keseharian mereka tanpa dibebani tendensi poliitis. Mereka membuatnya sebagai kebutuhan untuk mengusir burung, dan tanpa disadarinya telah membentuk tradisi rupa dan musikal yang akan terus rumbuh seiring dengan peradaban manusia dan teknologinya. Sebuah kontras ketika banyak produk atau karya seni yang menghabiskan dana puluhan juta namun secara praksis, belum ada efek langsung yang dirasakan oleh lingkungan.
Pertunjukan dari dunia agraris yang pernah mengilhami Moelyono dalam “Seni Rupa Kagunan” bersama komunitas masyarakat desa Brumbun Tulungagung. Dalam pertunjukan tersebut media agraris dijadikan sebagai media ungkap untuk mengangkat persoalan petani. Pertunjukan yang kemudian mendapat respon positif dari penguasa setempat untuk mengatasi persoalan yang dihadapi petani. Suatu aktivitas rural yang kemudian diusung ke dalam ruang pamer. Hal yang sama pernah dilakukan oleh Sanggar Anak Bangsa – di Bojonegoro untuk mengangkat realitas persoalan mereka dengan memakai media bermain yang biasa mereka lakukan di sekitar hutan.
Dinamika tersebut semakin menguatkan bahwa, di lingkungan sekitar banyak terdapat bahan mentah budaya tradisi yang bias kita aktualisasikan kembali di era globalisasi. Aktualisasi untuk mengedepankan seni pertunjukan masyarakat petani di lahan perswahan sebagai bagian dari kehidupan mereka. Atau untuk merevitalisasi kembali produk-produk seni pertanian bergadapan dan berdampingan dengan arus globalisasi, karena senyatanya globalisasi adalah juga peluang untuk mengedepankan lokalitas sebagai identitas, personal maun komunal.
*penulis adalah guru SMA Negeri 1 Sumenep, dan pengelola Rumah Tulis dan Baca “Na’ Bangsa”
Oleh: Hidayat Raharja*
Di saat musim padi berkembang persawahan yang hijau di pucuk rumpun padi malai bebijian bergelatungan diterak angin. Suara gemnerisik yang merespon hembusan angin kencang sepanjang musim yang ekstrim. Dari arah langit segerombolan burung emprit menyerbu lahan persawahan, bergelatungan di batang rumpun padi mematuk biji-biji yang tengah terbit dari pucuk. Keiruhan burung tersebut disambut dengan teriakan pak tanai, dan tangannya menggerakkan tali dan orang-orangan di beberapa sudut persawahan seperti menari, beregrak hebat laksana mengusir kerumunan burung ayng tengah berpesta di lahan persawahan.
Sebuah pertunjukan dari lahan pertanian, dan sampai kini masih terus bertahan dengan berbagai variannya, menunjukkan dinamika pertunjukan dari lahan pertanian yang dikepung keberingasan industrialisasi. Masih lekat dalam memori kita, beberapa orang-orangan di sawah yang dibuat pak tani, berbahan kayu, jerami, pakaian bekar dan topi yang digelantungkan pada ebatang kayu kemudian diikat menggunakan tali dijadikan satu ikatan dan dikendalikan pak tani dari dangau. Selain orang-orangan pak Tani juga membuat bebunyian (musik) dari bilahan potongan bambu, semacam kentongan kecil dan ada juga dari bilahan bambu yang diikat dan salah satu bilahannya ditarik-ulur dengan tali, sehingga menimbulkan bunyi yang ritmik.
Tradisi ini amat menarik untuk ditelaah, karena ternyata mengalami dinamika seiring d engan perkembanagn peradaban yang mengepungnya. Suatu kreativitas murni, karena pembuatan “karya” memiliki makna sederhana sebagai pengusir burung di saat rerumpun padu tengah berkembang dan menguning. Pak tani melakukan penciptaan lebih menekankan kepada kegunaan = Kagunan. Petani sebagai tangan pertama (kreator) belum terkontaminasi kepentingan di luar kepentingan dirinya sendiri sebagai petani yang tengah menghadapi serbuan burung yang menyerang lahan persawahan. Karena tidak dibekali aneka teori mengenai anatomi dan pencptaan, maka karya yang dihasilkan lebih menekankan pada fungsi bukan kepada bentuk.
Dalam 10 tahun terakhir ada perubahan atau dinamika penciptaan yang bertumbuh terutama berkaitan dengan penggunaan bahan untuk membuat bahan pertunjukan di lahan persawahan. Pada awalnya bahan yang dipergunakan untuk membuat orang-orangan mempergunakan bahan jerami dan daun kelapa kering serta, daun dan pelepah pisang. Kondisi ini memiliki relevansi dengan sistem pertanian yang masih mempergunakan bahan-bahan organik dalam pengelolaan pertanian. Suatu keadaan yang menunjukkan keserasian dengan alam, sehingga menunjukkan hubungannya secara sirkuler. Saat ini bahan tersebut lebih banyak memperguankan bahan plastik dan bentuk atau modelnya lebih variatif.
Pertama, untuk membuat orang-orangan mereka memadukan dengan bahan untaian plastik panjang yang dibuat bergelantungan di atas lahan persawahan sehingga ketika diterpa angin akan menimbulkan suara kemeresak. Gerakan ritmis untaian plastik tersebut seperti gerakan tangan yang mengusir gerombolan burung yang menyerbu persawahan. Pemandangan semacam ini sangat kentara ketika jelang panen padi tiba. Kedua, Suara musikal menjadi menarik ketika petani melakukan eksplorasi dengan memanfaatkan kaleng bekas biskuit yang diisi dengan kerikil dan digelantungakn di sebatang kayu, dan dikendalikan dari dangau. Apabila tali ditarik maka, terlihatlah aksi orang-orangan yang bergoyang-goyang berpadu dengan suara plastik ditiup angin, dan kemerongsang kerikil yang terguncang dalam kaleng.
Sebuah pertunjukan masyarakat petani yang alami, dan sebagai keseharian mereka tanpa dibebani tendensi poliitis. Mereka membuatnya sebagai kebutuhan untuk mengusir burung, dan tanpa disadarinya telah membentuk tradisi rupa dan musikal yang akan terus rumbuh seiring dengan peradaban manusia dan teknologinya. Sebuah kontras ketika banyak produk atau karya seni yang menghabiskan dana puluhan juta namun secara praksis, belum ada efek langsung yang dirasakan oleh lingkungan.
Pertunjukan dari dunia agraris yang pernah mengilhami Moelyono dalam “Seni Rupa Kagunan” bersama komunitas masyarakat desa Brumbun Tulungagung. Dalam pertunjukan tersebut media agraris dijadikan sebagai media ungkap untuk mengangkat persoalan petani. Pertunjukan yang kemudian mendapat respon positif dari penguasa setempat untuk mengatasi persoalan yang dihadapi petani. Suatu aktivitas rural yang kemudian diusung ke dalam ruang pamer. Hal yang sama pernah dilakukan oleh Sanggar Anak Bangsa – di Bojonegoro untuk mengangkat realitas persoalan mereka dengan memakai media bermain yang biasa mereka lakukan di sekitar hutan.
Dinamika tersebut semakin menguatkan bahwa, di lingkungan sekitar banyak terdapat bahan mentah budaya tradisi yang bias kita aktualisasikan kembali di era globalisasi. Aktualisasi untuk mengedepankan seni pertunjukan masyarakat petani di lahan perswahan sebagai bagian dari kehidupan mereka. Atau untuk merevitalisasi kembali produk-produk seni pertanian bergadapan dan berdampingan dengan arus globalisasi, karena senyatanya globalisasi adalah juga peluang untuk mengedepankan lokalitas sebagai identitas, personal maun komunal.
*penulis adalah guru SMA Negeri 1 Sumenep, dan pengelola Rumah Tulis dan Baca “Na’ Bangsa”
Senin, 13 Juni 2011
MEMBONGKAR SKANDAL DALAM TRADISI
(Pembacaan atas novel : Tarian di Ranjang Kyai)1
Oleh: HIdayat Raharja2
Selama ini Sampang dianggap kota atau daerah yang paling lamban kemajuannya dibandingkan dengan kemajuan daerah Madura lainnya. Namun, sifat keterbukaannya merupakan salah satu sifat yang menjadi karakteristik masyarakatnya. Ketika mereka tidak menyukai terhadap sesuatu, mereka mengatakannya tidak suka. Pun, sebaliknya.
Peran Kyai sebagai Pimpinan informal memiliki peran penting dan strategis. Bahkan, tidak dapat diingkari kalau setiap persoalan yang muncul dalam masyarakat, kyai memiliki posisi vital dalam menyelesaikan persengketaan atau permasalahan yang muncul di dalamnya. Ketergantungan terhadap Kyai menempatkannya sebagai sosok tokoh, dan panutan yang harus dipatuhi. Bahkan dalam batas tertentu fatwa yang disampikan Kyai dianggap sebagai titah yang tak boleh dibantah. Tak adanya kontrol dan keberanian mengkritik Kyai, kerapkali prilaku-prilaku yang tidak patut dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan mudah untuk dimaafkan.
Sosok lain yang tak kalah perannya dalam masyarakat adalah golongan Blater, mereka yang mampu memasuki berbagai lapisan formal dan non formal, sehingga juga memiliki peran-peran strategis dalam menyelsaikan persoalan-persoalan di tengah masyarakat. Perilaku-perilaku dalam masyarakat yang sempat ,menjadi penelitian intensif Elly Town Bousma di tahun 70-an mengenai kekarasan di Masyarakat Madura. Kemudian penelitian mengenai Pimpinan informal di masyarakat Madura oleh Zaki yang menempatkan peran Blater dan Kyai dan perebutan kekuasaan di Madura.
Disamping kekerasan yang selama ini dikenal oleh masyarakat luas, betapa banyak kearifan di masyarakat Madura yang butuh aktualisasi, maka tidak dapat diingkari peran para intelektual dan para penulis di madura amat vital dan urgen untuk kembali merevitalisasi kearifan lokal.
“Tarian di Ranjang Kyai” karya Yan Zavin Aundjand merupakan sebuah karya yang sangat menarik. Semenarik dinamika peradaban masyarakat Sampang dalam kekinian. Hal yang patut diapresiasi dalam novel ini antara lain: pertama, berupaya membongkar skandal dalam tradisi masyarakat Madura (Camplong) khususnya peran Kyai yang selama ini dianggap sebagai sumber barokah, dan tak terbantahkan. Dalam novel ini secara gamblang Zavin membongkar bungkus persoalan yang sekian lama tersembunyi. Sebuah pemberontakan terhadap strata sosial yang selama ini dianggap mapan, namun ternyata di dalamnya penuh intrik dan kebobrokan
Kedua, persoalan perkawinan dini di tengah masyarakat yang disebabkan rendahnya pendidikan dan kemiskinan yang membelit kehidupan mereka, sehingga menikahkan anak di usia dini akan meringankan beban orangtua, dan menjadi beban tanggungjawab suaminya. Sebuah tradisi yang menjadi sangat biasa karena pada saat anak mendaptkan menstruasi pertama, akan dipersiapakan untuk memasuki kehidupan dewasa dengan membantu dan belajar kehidupan berumah tangga. Pendidikan hanya sebatas belajar mengaji di langgar atau musholla, dan setelahnya dia mencari sendiri “guru” untuk membantu menyelesaikan persoalan rumah tangga dan kehidupannya. Di sini muncul tradisi “ Aguru” “Nyabis” sebagai bentuk jalinan hubungan antara murid dengan Kyai (guru).
Ada bentuk lain tradisi kawin di Madura yang dinamakan “Kabin Toro’” sebuah tradisi perempuan dan laki-laki mencari pasangan (jodoh) saat hari pasaran. Pada hari itu ketika menemukan wanita yang cocok, maka si laki-laki berkenalan di pasar dan kemudian mengikutinya pulang ke rumah si perempuan. Sampai di rumah si perempuan laki-laki tersebut menyatakan maksudnya kepada orangtua si perempuan. Pertemuan yang kemudian akan disusul dengan lamaran dan pernikahan.
Ketiga, persoalan kemiskinan. Tanah Madura yang tandus dan kurang subur kurang menguntungkan secara ekonomis, sehingga pada umumnya lelaki Madura adalah perantau. Mereka pada tahun lima puluhan banyak merantau ke pulau jawa dan bahkan sampai ke adaerah pulau kalimantan yang kemudian disebutnya dengan “Jhaba Dhaja” karena letrak pulaunya di sebelah utara pulau jawa. Sebentuk usaha keras untuk memperbaiki kualitas kehidupan secara ekonomis. Pergi merantau bagi masyarakat Madura menyebutnya “Onggha” dan apabila pulang ke kampung halaman mereka menyeb utnya “Toron”. Madura perantau memiliki sikap gigih, pantang menyerah dan enggan pulang sebelum mencapai sukses. Hal inilah yang dilakukan Misnadi karena di rantau tidak beruntung, maka dia menghilang dari teman sekampung di perantauan sampai kemudian dikabarkan mati. Kabar kematian yang kemduian memunculkan persoalan karena Nisa istrinya menikah lagi dengan Lora Iqbal.
Keempat, persoalan kekerasan Carok seringkali muncul berkenaan dengan permasalahan wanita, harta dan persoalan martabat dan harga diri. Juga ketika Suci anak misnadi hasil pernikahannhya dengan Nisa dinodai oleh Kyai Slamet. Maka tak ada pilihan lain, kecuali harus membunuh Kyai Slamet yang telah menginjak-injak harga diri dan martabatnya.
Kelima, persoalan tradisi yang saat ini mungkin sudah banyak tak dikenal; Terrep (derreb), ngare’, ngaji, Terbhangan Mantan dan selama yang saya kenal ada dua macam; (a) terbhangan saat mengantar pengantan pria ke rumah mempelai wanita,(b) hiburan gambus pada saat resepsi mantenan,, langghar, gerinching (gerinjhing), tegghal, kotheka.
*****
Dari sinilah peroalan-persoalan berkelabat dalam Novel “Tarian di Ranjang Kyai”. Sebuah cerita yang berangkat dari kisah nyata memiliki konsekuensi yang tidak ringan untuk memasukkan fakta-fakta ke dalam cerita secara riel dan mengesankan. Saya sangat tertarik saat membaca Dwilogi “Cinta di Dalam Gelas” karya Andrea Hirata yang diawali riset selama tiga thun untuk mendalami sosok Maryamah Karpov ( Ennong) sebagai perempuan pertama penambang timah di Belitong. Hal ini lah barangkali yang tidak dilakukan Zavin dalam menggarap novel ‘Tarian di Ranjang Kyai”. Ada beberapa kejanggal;an yang memnbuat terganggu pencerita untuk emlihat hal ini sebuah fakta yang disodorkan ke dalam fiksi. Setting ceriota di antara tahun 1969 – 1975. Jarak antara Camplong ke Kalianget secara rtile sekitar 75 Km tetapi dalam teks tertulis 60 Km.
Kedua, penulisan bahasa lokal tanpa mengindahkan kaidah penulisan bahasa yang benar, pada hal secara implisit penulisan bahasa lokal yang benar dapat memperkaya khazanah bahasa Indonesia. Misalnya Embu’ (ibu), Embuk (kakak perempuan, atau panggilan terhadap perempuan yang lebih tua). Panggilan kang, tak dieknal dalam masyarakat Madura, tetapi lebih banyak memanggil kakak.
Ketiga, adegan mesum antara kyai Slamet dengan Nisa’ terasa kaku, kurang terolah secara menarik. “Kyai Slamet mengecup keningnya, lalu turun sedikit ke bibirnya.... tangannya terus berjalan di bagian belakang, di bagian-bagian dekat pantatnya. Nisa juga membiartkan tangannya memupuk bagian-bagian yang dianggap penting itu.” (Halaman 72).
sangat berbeda misalnya ketika adegan persetubuhan dituliskan oleh Djenar dan Sardono W Kusumo; Suara ting tong ting tang, mirip gamelan tiba-tiba hilang. Seiring dengan tubuhnya yang makin tinggi melayang. Tubuh yang semula diam mulai menari di udara semacam bayangan yang bergoyang. Terkadang bayangan itu melesat ke depan dan dengan seketika berpindah ke belakang. Kadang ia bergerak ke kiri dan ke kanan. Aku pun berubah menjadi panggung. Panggung yang menunggu ia mengisi tiap ruang. Panggung yang bergetar tiap kali tubuhnya menciptakan gerakan (Ramaraib dalam 1 Perempuan 14 Laki-laki, hal.25)
keempat, Nisa melahirkan bayi pada saat di liang lahat. Sesuatu yang msuykil dari sisi medis. Apabila seorang wanita hamil meninggal dunia, maka otomatis janin yang ada dalam kandungannya ikut meinggal dunia.
*****
Barangkali ketekunan melakukan research amat penting untuk melakukan sebuah pengisahan yang berdasarkan kepada fakta. Sehingga ketika disusupkan ke dalam sebuah fiksi akan menjadi fakta baru yang menarik .
Meski demikian, Novel ini dapat menajdi sebuah pembuka bagi hadirnya novel pemberontakan terhadap tradisi masyarakat yang semula dianggap agung, ternyata di dalamnya mengandung banyak kelicikan bahkan kebobrokan.
Bumi Sumekar Asri, 28 Mei 2011
1. disajikan pada acara bedah novel dan pelatihan penulisan cerpen se Madura oleh UKMF Teater Suneidesis – Keluarga Mahasiswa Fakultas Ekonomi – Keluarga Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura pada tanggal 29 Mei 2011 di gedung Student Center Unoversitas Trunojoyo Madura.
2.Penulis adalah guru dan penyair kelahiran sampang dan tinggal di Sumenep
Oleh: HIdayat Raharja2
Selama ini Sampang dianggap kota atau daerah yang paling lamban kemajuannya dibandingkan dengan kemajuan daerah Madura lainnya. Namun, sifat keterbukaannya merupakan salah satu sifat yang menjadi karakteristik masyarakatnya. Ketika mereka tidak menyukai terhadap sesuatu, mereka mengatakannya tidak suka. Pun, sebaliknya.
Peran Kyai sebagai Pimpinan informal memiliki peran penting dan strategis. Bahkan, tidak dapat diingkari kalau setiap persoalan yang muncul dalam masyarakat, kyai memiliki posisi vital dalam menyelesaikan persengketaan atau permasalahan yang muncul di dalamnya. Ketergantungan terhadap Kyai menempatkannya sebagai sosok tokoh, dan panutan yang harus dipatuhi. Bahkan dalam batas tertentu fatwa yang disampikan Kyai dianggap sebagai titah yang tak boleh dibantah. Tak adanya kontrol dan keberanian mengkritik Kyai, kerapkali prilaku-prilaku yang tidak patut dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan mudah untuk dimaafkan.
Sosok lain yang tak kalah perannya dalam masyarakat adalah golongan Blater, mereka yang mampu memasuki berbagai lapisan formal dan non formal, sehingga juga memiliki peran-peran strategis dalam menyelsaikan persoalan-persoalan di tengah masyarakat. Perilaku-perilaku dalam masyarakat yang sempat ,menjadi penelitian intensif Elly Town Bousma di tahun 70-an mengenai kekarasan di Masyarakat Madura. Kemudian penelitian mengenai Pimpinan informal di masyarakat Madura oleh Zaki yang menempatkan peran Blater dan Kyai dan perebutan kekuasaan di Madura.
Disamping kekerasan yang selama ini dikenal oleh masyarakat luas, betapa banyak kearifan di masyarakat Madura yang butuh aktualisasi, maka tidak dapat diingkari peran para intelektual dan para penulis di madura amat vital dan urgen untuk kembali merevitalisasi kearifan lokal.
“Tarian di Ranjang Kyai” karya Yan Zavin Aundjand merupakan sebuah karya yang sangat menarik. Semenarik dinamika peradaban masyarakat Sampang dalam kekinian. Hal yang patut diapresiasi dalam novel ini antara lain: pertama, berupaya membongkar skandal dalam tradisi masyarakat Madura (Camplong) khususnya peran Kyai yang selama ini dianggap sebagai sumber barokah, dan tak terbantahkan. Dalam novel ini secara gamblang Zavin membongkar bungkus persoalan yang sekian lama tersembunyi. Sebuah pemberontakan terhadap strata sosial yang selama ini dianggap mapan, namun ternyata di dalamnya penuh intrik dan kebobrokan
Kedua, persoalan perkawinan dini di tengah masyarakat yang disebabkan rendahnya pendidikan dan kemiskinan yang membelit kehidupan mereka, sehingga menikahkan anak di usia dini akan meringankan beban orangtua, dan menjadi beban tanggungjawab suaminya. Sebuah tradisi yang menjadi sangat biasa karena pada saat anak mendaptkan menstruasi pertama, akan dipersiapakan untuk memasuki kehidupan dewasa dengan membantu dan belajar kehidupan berumah tangga. Pendidikan hanya sebatas belajar mengaji di langgar atau musholla, dan setelahnya dia mencari sendiri “guru” untuk membantu menyelesaikan persoalan rumah tangga dan kehidupannya. Di sini muncul tradisi “ Aguru” “Nyabis” sebagai bentuk jalinan hubungan antara murid dengan Kyai (guru).
Ada bentuk lain tradisi kawin di Madura yang dinamakan “Kabin Toro’” sebuah tradisi perempuan dan laki-laki mencari pasangan (jodoh) saat hari pasaran. Pada hari itu ketika menemukan wanita yang cocok, maka si laki-laki berkenalan di pasar dan kemudian mengikutinya pulang ke rumah si perempuan. Sampai di rumah si perempuan laki-laki tersebut menyatakan maksudnya kepada orangtua si perempuan. Pertemuan yang kemudian akan disusul dengan lamaran dan pernikahan.
Ketiga, persoalan kemiskinan. Tanah Madura yang tandus dan kurang subur kurang menguntungkan secara ekonomis, sehingga pada umumnya lelaki Madura adalah perantau. Mereka pada tahun lima puluhan banyak merantau ke pulau jawa dan bahkan sampai ke adaerah pulau kalimantan yang kemudian disebutnya dengan “Jhaba Dhaja” karena letrak pulaunya di sebelah utara pulau jawa. Sebentuk usaha keras untuk memperbaiki kualitas kehidupan secara ekonomis. Pergi merantau bagi masyarakat Madura menyebutnya “Onggha” dan apabila pulang ke kampung halaman mereka menyeb utnya “Toron”. Madura perantau memiliki sikap gigih, pantang menyerah dan enggan pulang sebelum mencapai sukses. Hal inilah yang dilakukan Misnadi karena di rantau tidak beruntung, maka dia menghilang dari teman sekampung di perantauan sampai kemudian dikabarkan mati. Kabar kematian yang kemduian memunculkan persoalan karena Nisa istrinya menikah lagi dengan Lora Iqbal.
Keempat, persoalan kekerasan Carok seringkali muncul berkenaan dengan permasalahan wanita, harta dan persoalan martabat dan harga diri. Juga ketika Suci anak misnadi hasil pernikahannhya dengan Nisa dinodai oleh Kyai Slamet. Maka tak ada pilihan lain, kecuali harus membunuh Kyai Slamet yang telah menginjak-injak harga diri dan martabatnya.
Kelima, persoalan tradisi yang saat ini mungkin sudah banyak tak dikenal; Terrep (derreb), ngare’, ngaji, Terbhangan Mantan dan selama yang saya kenal ada dua macam; (a) terbhangan saat mengantar pengantan pria ke rumah mempelai wanita,(b) hiburan gambus pada saat resepsi mantenan,, langghar, gerinching (gerinjhing), tegghal, kotheka.
*****
Dari sinilah peroalan-persoalan berkelabat dalam Novel “Tarian di Ranjang Kyai”. Sebuah cerita yang berangkat dari kisah nyata memiliki konsekuensi yang tidak ringan untuk memasukkan fakta-fakta ke dalam cerita secara riel dan mengesankan. Saya sangat tertarik saat membaca Dwilogi “Cinta di Dalam Gelas” karya Andrea Hirata yang diawali riset selama tiga thun untuk mendalami sosok Maryamah Karpov ( Ennong) sebagai perempuan pertama penambang timah di Belitong. Hal ini lah barangkali yang tidak dilakukan Zavin dalam menggarap novel ‘Tarian di Ranjang Kyai”. Ada beberapa kejanggal;an yang memnbuat terganggu pencerita untuk emlihat hal ini sebuah fakta yang disodorkan ke dalam fiksi. Setting ceriota di antara tahun 1969 – 1975. Jarak antara Camplong ke Kalianget secara rtile sekitar 75 Km tetapi dalam teks tertulis 60 Km.
Kedua, penulisan bahasa lokal tanpa mengindahkan kaidah penulisan bahasa yang benar, pada hal secara implisit penulisan bahasa lokal yang benar dapat memperkaya khazanah bahasa Indonesia. Misalnya Embu’ (ibu), Embuk (kakak perempuan, atau panggilan terhadap perempuan yang lebih tua). Panggilan kang, tak dieknal dalam masyarakat Madura, tetapi lebih banyak memanggil kakak.
Ketiga, adegan mesum antara kyai Slamet dengan Nisa’ terasa kaku, kurang terolah secara menarik. “Kyai Slamet mengecup keningnya, lalu turun sedikit ke bibirnya.... tangannya terus berjalan di bagian belakang, di bagian-bagian dekat pantatnya. Nisa juga membiartkan tangannya memupuk bagian-bagian yang dianggap penting itu.” (Halaman 72).
sangat berbeda misalnya ketika adegan persetubuhan dituliskan oleh Djenar dan Sardono W Kusumo; Suara ting tong ting tang, mirip gamelan tiba-tiba hilang. Seiring dengan tubuhnya yang makin tinggi melayang. Tubuh yang semula diam mulai menari di udara semacam bayangan yang bergoyang. Terkadang bayangan itu melesat ke depan dan dengan seketika berpindah ke belakang. Kadang ia bergerak ke kiri dan ke kanan. Aku pun berubah menjadi panggung. Panggung yang menunggu ia mengisi tiap ruang. Panggung yang bergetar tiap kali tubuhnya menciptakan gerakan (Ramaraib dalam 1 Perempuan 14 Laki-laki, hal.25)
keempat, Nisa melahirkan bayi pada saat di liang lahat. Sesuatu yang msuykil dari sisi medis. Apabila seorang wanita hamil meninggal dunia, maka otomatis janin yang ada dalam kandungannya ikut meinggal dunia.
*****
Barangkali ketekunan melakukan research amat penting untuk melakukan sebuah pengisahan yang berdasarkan kepada fakta. Sehingga ketika disusupkan ke dalam sebuah fiksi akan menjadi fakta baru yang menarik .
Meski demikian, Novel ini dapat menajdi sebuah pembuka bagi hadirnya novel pemberontakan terhadap tradisi masyarakat yang semula dianggap agung, ternyata di dalamnya mengandung banyak kelicikan bahkan kebobrokan.
Bumi Sumekar Asri, 28 Mei 2011
1. disajikan pada acara bedah novel dan pelatihan penulisan cerpen se Madura oleh UKMF Teater Suneidesis – Keluarga Mahasiswa Fakultas Ekonomi – Keluarga Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura pada tanggal 29 Mei 2011 di gedung Student Center Unoversitas Trunojoyo Madura.
2.Penulis adalah guru dan penyair kelahiran sampang dan tinggal di Sumenep
Langganan:
Postingan (Atom)

