Translate

Jumat, 31 Juli 2009

Jawara Tour (3): KERAMAIAN PASAR TANAH ABANG

Minggu, 28 Juni 2009. Pagi semua peserta tour sudah bersiap-siap di depan asrama haji pondok gede. Semua berbagi penalaman hari kemaren perjalanan yang menjengkelkan. Perjalanan yang serasa dioven di dalam bus. Namun setelah beristirahat semalam, para peserta segar dan semangat kembali untuk melanjutkan perjalanan hari ini. Lebih 30 menit menunggu namun jasa travel belum juga datang.Ketika koordinator peserta mencoba menghubungi tour leader mereka menjawab siap berangkat masih memanaskan mesin kendaran (bus). Jam 07.30 bus belum juga muncul, semua peserta mulai melihat tanda-tanda tidak beres terhadap biro travel ini. Sopir tidak sejalan dengan kemauan tour leader, kondisi yang membuat kami para peserta dirugikan. Pukul 08.30 bus baru datang ke asrama, dan pengumuman dari koordinator bahwa pagi ini sebelum menuju Taman Mini Indonesia Indah, perserta tour akan dibawa ke tempat belanja Pasar “Tanah Abang”. Tempat kualan barang murah yang sudah cukup dikenal dan merupakan salah satu ikon perbelanjaan di Jakarta.

Bus merambat keluar dari kompleks asramahaji pondok gede. Setiap penumpang bergegas dengan impiannya masing-masing. Mereka yang membawa banyak uang tentu, bersiap untuk memborong aneka belanjaan yang diinginkan. Pasar murah, apalagi kalau membeli dalam jumlah besar – minimal membeli tiga potong pakaian, pembeli akan mendapat diskon. Sebuah tempat yang seringkali membuat aku pusing dan bingung. Pusing, karena melihat orang-orang sangat bernafsu berbelanja. Tak cukup dengan jinjingan mereka juga menyeret kereta dorong penuh dengan belanjaan. Belum cukup, teman dan kerabat juga ikut membantu menggotong hasil buruan (ehh belanjaan). Aku juga bingung, karena disinilah sebenarnya gurita kapital menjerat setiap pengunjung (meski tak berbelanja) dengan aneka kenyamanan, tanpa terasa tersret untuk turut membelanjakan uangnya. Apalagi mereka yang memiliki syahwat berbelanja, akan terus berputar-putar dalam pasar memburu aneka pakaian dan kebutuhan yang menyerbu pikiran mereka.

Sebuah area konsumtif dan menjerat setiap konsumen untuk royal terhadap dirinya, memanjakan dan membelanjakan keinginannya. Setiap orang tanpa diasadari telah dipaksa untuk menjadi konsumtif, sehingga ia tidak bisa menentukan dan mengendalikan diri. Pusat belanja yang menyenangkan, dan di sekitar kita berseliweran penjual tas dengan aneka bentuk dan ukuran sepertinya menyediakan hasrat kita untuk membungkus hasil belanjaan. Bagi yang kecapekan dapat selonjor sejenak di tangga-tangga statis yangdisediakan di pintu masuk. Lanskap yang menarik, karena disini menjadi kawasan sosial yang semuanya bisa saling berbagi sandaran pantat, meski mereka belum saling kenal-mengenal. Mereka pada bercerita hasil belanjaannya, barang yang menarik perhatiannya, keinginnanya yang masih belum terbeli, dan keisengan yang mengakibatkan barang menjadi miliknya (Keisengan karena sebenarnyaa tak berhasrat untuk membeli barang, hanya mencoba menawar, namun kemudian barang dileapskan oleh penjual.

Di area ini akan terlihat ibu-ibu yang sangat antusias dan selalu kehabisan dan kekurangan waktu untuk memenuhi hasrat belanjanya. Sehingga kesepakatan waktu, pukul 13.00 semua sudah siap di dalam bus, ternyata masih ada kaum hawa yang belum keluar dari mulut gurita pasar Tanah Abang. Suara dering Handphone, saling bersahut ada yang memanggil terburu, dan ada yang meminta ditunggu karena belum memuaskan nafsu (belanja lho!!).

Senin, 06 Juli 2009

JAWARA TOUR: (Bagian Ke-2)


REKREASI DI SEAWORLD

Matahari makin meninggi, sinarnya membakar ejndela hingga terasa panas diwajah. Tourleader mengumumkan pagi ini kita akan sarapan di suatu rumah makan di kawasan Pamanukan – Jawa Barat. Bus bergerak mengikuti arah sinar matahari. Jalanan kian ramai, oleh kendaraan dan kesibukan para pegawai menuju tempat kerja. Jalan bus tetap lamban bahkan terasa lebih lamban. Memasuki daerah Pamanukan melewati jalan tol, bus terus melaju. Namun beberapa saat kemudian terlihat tourleader mulai gelisah, rumah makan yang dituju (Taman Sari 3) tutup. Bus kembali berbelok arah memutar ke arah timur. Semua penumpang dalam bus menggerutu. Sekitar 10 km bus kembali ke arah jalan semula menuju rumah makan Taman sari 2.
“Bagi bapak dan ibu yang akan mandi pagi nanti tersedia di rumah makan. Bapak –ibu bisa mandi sepuasnya ada empat belas kamar mandi yang bisa dipergunakan,” terang tourleader dengan wajah yang masih menegang karena diomeli penumpang.
Bus menurunkan lajunya, menepi ke kiri jalan, menuju rumah makan “Taman Sari 2”. Semua penumpang turun. Tubuhku masih terasa kaku, gerah, dan kulit rasanya lengket karena sudah 24 jam belum tersentuh air. Aku bergegas ke kamar mandi, wuaahhh bau tak sedap menyeruak. Ketika masuk, di dalamnya sampah menumpuk di sudut. Namun karena rasa lengeket di tubuh, aku tetap melaksnakaan niat, antri amndi. Mengambil secibuk air, rasanya lisic di kulit, penanda kualitas airnya jelek dan baunya tak nyaman, serta warnanya tak jernih. Dengan terpaksa aku siram tubuhku dengan bilasan beberapa cibuk air, membilas sabun ke sekujur tubuh, namun terasa seperti membilaskan minyak. Aku segera menyelesaikan mandi. Tidak menyegarkan, namun lumayan untuk membasahi seluruh tubuh.

Sarapan pagi ketemu lagi dengan goreng ayam. Aku khawatir kolesterol tubuhku makin meningkat. Beberapa kali menghadapi santapan makan, menu goreng ayam selalu ada di atas meja. Tak ada pilihan, karena paket ini sudah diatur oleh tourleader yang membawa rombonganku ke rumah makan.

Usai sarapan, semua kembali ke dalam bus melanjutkan perjalanan ke arah jakarta. Matahari kian terik dan panasnya membakar ruangan bus ber-AC. Tubuhkju terasa nyeri dan ngilu terlalu lama duduk. Sudah lebih dua puluh empat jam tersekap dalam perjalanan yang menjenuhkan. Memasuki tol Cikampek harapan makin mendekat, namun jalan bus bagai keong. Barangkali bus tua ini sduah amat capek dua hari menyusuri aspalan.

Pukul 14.20, Bus memasuki kota Jakarta, menuju tempat Taman Impian Jaya Ancol. Sekitar 30 jam perjalanan dari kota Sumenep menuju Jakarta. Ke Ancol, rasanya tak bersemangat karena aku sudah berkali-kali mendatanginya. Namun semangatku kembali menyala, karena mengingat dua anakku yang pertamakalinya datang ke Jakarta.

Tourleader menggiring kami ke area “Seaworld”. Betapa senang dua anakku, mereka berfotoria di depan aquarium dan memasuki aquarium besar yang melengkung di atas kepala, melihat ikan-ikan besar; Hiu dan Pari dan beberapa petugas menyelam memberi makan aneka jenis ikan. Suasana dalam ruangan terlihat gaduh, karena dalam minggu-minggu kunjungan kami bertepatan dengan hari libur sekolah. Setelah penat berkeliling ruang aquarium, aku sekelurga keluar dan mencari tempat shalat yang ada di dekat parkir mobil.

Usai melaksanakan shalat asar dan zuhur, aku selonjorkan kaki dengan posisi tubuh bersandar ke tiang masjid. Sejuk terasa, dan sepertinya tubuh mendapatkan sirkulasi udara baru yang segar dan menyegarkan. Di seberang troroar terlihat pak Bisron Ali (Tourleader) menenteng makanan kotak yang akan dibagikan kepada peserta tour. Jadilah kami makan di trotoar, sambil mengawasi orang berlalu-lalang. Makan di pinggir jalan, kenangan masa silam saat-saat kuliah dan melakukan perjalanan mingguan untuk mencari hiburan.

Usai makan siang dua nakku mengajak untuk mendatangi area outbond, namun menurut informasi yang kuperoleh dari tourleader dan orang-orang sekitar menyarankan untuk tidak ke sana karena harus naik angkutan bus khusus, lagi pula waktunya sudah sore. Jadi tak memungkinkan untuk mendatangi kesana.

Minggu, 05 Juli 2009

JAWARA TOUR:

PERJALANAN YANG MENGENASKAN
(1)

Liburan akhir semester tahun ini aku sekeluarga mengikuti tour SMA 1 ke jakarta dan Bogor. Perjalanan yang diharapkan mampu memberikan refreshing terhadap tekanan kerja di sekolah yang menumpuk dan mengursa tenaga. Aku bawa istri dan dua anakku bersama keluarga besar SMANSA, bukan dengan tiket gratis, tetapi membayar dengan sejumlah harga yang tak murah. Berani membayar harga sebesar itu, karena dijanjikan oleh Jawara Tour untuk rekreasi di Ancol. TMII, Kebun Raya Bogor, dan Taman safari Indonesia – Cisarua – Bogor. Aku ajak dua anakku supaya mereka bisa rekreasi sambil belajar.

Hari yang dinantikan tiba 26 Juli, jumat pagi pukul 06.00 kami sekeluarga telah berkemas untuk menuju tempat pemberangkatan di halaman depan SMAN 1 Sumenep. Ternyata bus yang akan membawa ke Jakarta belum muncul. Semua peserta tour menggerutu. Pukul 06.30 Bus baru datang, dua bus yang sudah terbilang tua, hanya tampak luarnya yang bagus. Aku sekeluarga naik ke bus pertama, sebagaimana yang telah diatur panitia. Satu per satu penumpang naik ke atas bus, panitia melakukan cheking terhadap seluruh peserta. Pukul 07.00 di bus pertama dilakukan presensi terhadap peserta, tinggal satu rombongan keluarga yang belum datang ; Bu Chairunnisak dan keluarganya belum datang. Semua penumpang menggerutu, karena perjanjiannya pukul 06.30 sudah siap berangkat. Tak lama kemudian yang ditunggu datang, dan sebelum berangkat dilakukan doa bersama dipimpin bapak Suhdi, S.Ag. Tepat pukul 07.10 bus pertama berangkat diikuti rombongan bus kedua.

Suara dalam bis mulai riuh, satu dua penumpang mulai melemparkan cerita, dan ditanggapi penumpang lainnya. Melintasi jalan lingkar timur, tambak-tambak yang sepi dibakar hangat mentari. Matahari bergerak perlahan bus meninggalkan pertambakan, melintasi jalan propinisi ke arah Surabaya. Suara musik didendangkan D’Lloyd terdengar mendayu-dayu dari monitor DVD, membongkar kenangan lama tahun 70-80an. Tiba-tiba tour leader Bapak Bisron Ali memegang mike dan mengumumkan kepada seluruh peserta tour, kalau nantinya rombongan bus akan melewati jembatan Suramadu,” Baiklah bapak-bapak dan ibu-ibu kita start dari halaman SMA pukul 07.10 perjalanan ke Surabaya akan memakan wakt sekitar 3 jam melewati Suramadu. Tour kita kali ini akan membuat para peserta merasa di charge kembali setelah stress akibat kesibukan di tempat kerja. Kita nanti akan mengunjungi Monas dan menjelang sore mengunjungi Ancol. Di sana kita bisa melihat sunset di pantai Marina. Hari Minggu ke Taman Mini Indoensia Indah ke teater keong emas dan dilanjutkan ke masjid kubah emas, dan malam harinya beramah tamah dengan bapak Mh. Said Abdullah di ekdiamannya. Esok harinya sebagian peserta yang telah ditunjuk melakukan studi banding ke SMAN 8 Jakarta. Sementara yang lain akan ke kebun raya Bogor dan dilanjutkan ke Taman Safari Indonesia. Peserta Tour akan menyusl siang harinya ke taman safari Indonesia”.

Informasi yang mendebarkan sekaligus menggembirakan, karena tour ini waktu pertama kali bagi dua anakku mengunjungi kota jakarta. Perjalanan bus lamban, merayap, melata sepanjang aspalan hitam menuju Surabaya. Perjalanan yang santai dan pukul 10 kurang 15 menit bus memasuki sisi Madura dan kembali tour leader memberikan informasi mengenai Suramadu, ia menjelaskan proses pembanguna jembatan dan biaya yang telah dihabiskan. “Perjalanan ini menemupuh jarak sekitar 11 Km ke pangkal jembatan dan melewatu bentangan jembatan di atas laut sekita 5,4 km. Jarak ini akan kita tempuh sekitar 15 menit. Waktu yang singkat bila dibandingkan dengan penyeberangan mempergunakan kapal ferry di pelabuhan Kamal,” ujar Tour Leader penuh semangat. Tak lama sekitar pukul 10 lebih 40 menit bus sudah sampai di dataran Subaraya.

Surabaya yang sesak, bising mulai memekakkan telinga. Jalanan macet mengingatkan kembali kenangan surabaya terhadapku di ntahun 80-90 an. Surabaya yang padat, bising dan memekakkan telinga. Bus meliuk-liuk menyusuri jalanan arteri menuju ke arah Gresik. Jalan berliku dan menegangkan, karena jalan bus mulai terasa lamban. Padahal bus yang aku tumpangi jauh lebih bagus daripada bus yang ditumpangi rombongan kedua. Kota yang padat telah dilintasi bus memasuki kawasan pertambakan di sisi kiri-kanan jalan. Kawasan Gresik dengan aroma pelabuhan yang khas. Tambak-tambak terhampar memberikan lanskap kota pesisir dengan industri yang tak pernah mati. Di beberapa masjid yang berdiri di pinggir jalan mulai terlihat orang-orang berdatangan menunaikan shalat jumat. Setelah berjalan agak jauh bus berhenti di sebuah kawasan sekitar pertambakan di sebuah masjid yang mulai sesak oleh jemaah yang akan shalat jumat. Kami shalat jumat. Kemudian dilanjutkan dnegan ibu-ibu untuk menunaikan shalat dzuhur.

Usai shalat jumat perjalanan dilanjutkan mencari rumah makan untuk makan siang. Bus berjalan merambat melata bagai ular, menunggu munculnya bus kedua yang berjalan lebih lamban. Kabar yang tidak menyenangkan, didapat informasi bahwa rombongan bus kedua mengalami gangguan kehabisan solar. Gejala tidak menyenangkan mulai menghadang. Ternyata bus kedua kondisi mesinya sudah tua, hal ini disadari penumpang di bus kedua kalau berhenti mesin tidak pernah dimatikan, meskipun pemberhentian berlangsung dalam hitungan jam.
*****
Malam pun tiba perjalanan kian gerah karena mobil berjalan lamban, seperti jalan orangtua yang dibantu memakai tongkat. Penumpang bus pertama mulai resah merasakan perjalanan yang menjenuhkan. Sampai di daerah jawa tengah sudah sekitar pukul 21.00 lewat. Bus isi bensin di sebuah SPBU. Penumpang turun untuk mencari hawa segar, sebagian lagi buang air kecil dan mencuci muka yang mulai kuyu.

Sekitar 30 menit di SPBU, perjalanan dilanjutkan lagi. Malam dengan pernik bintang di hamparan langit gelap memantul seperti mata langit yang mengintip kepenantan penumpang dalam bus pertama. Anaka-anak kecil dalam gendongan merengek karena terguncang-guncang dan terbangun dari tidur yang tak nyenyak. Sebagian yang lain ngorok dengan tidur terduduk di kursi yang tak begitu empuk. Aku terlelap, namun tiba-tiba terbangun karena bus ngerem mendadak. Setengah terbangun aku lihat ke arah depan deretan mobil memanjang dilanda kemacetan. Macet!!! Tak ingin sial aku kembali katupkan kelopak mata. Tak ingat apa-apa hanya sesekali tubuh terpental dari kursi karena rem mendadak. Hingga tiba saat shalat subuh tiba. Bus menepi di sebuah maesjid di pinggiran kota; Masih daerah perbatasan jawa tengah dan jawa barat. Badanku sudah tak kuta menahan ngilu. Sekitar 20 jam di atas bus. Pada hal kalau waktu-waktu sebelumnya ke Jakarta naik bus Karina / Lorena dalam bentang waktu 21 jam dari arah sumenep bus sudah memasuki wilayah jakarta kota. Perjalanan yang menjengkelkan, namun aku mencoba mengubah perasaan menjadi menyenangkan. Seumur-umur saat inilah aku dipangagang di atas bus dalam jangka waktu lama.. Usai shlata subuh perjalanan dilanjutkan lagi untuk mencari rumah makan untuk makan pagi.

Angka jam menunjuk Pukul Tujuh pagi hari sabtu 27 uli 2009. tak tereasa sudah 24 jam di atas bus, namun tanda=tanda untuk segera sampai ke tempat tujuan masih jauh dari pandangan dan harapan. Salah seorang penumpang dalam bus pertama mulai emosional, kaerna anaknya yang masih balita takj kuta menahan panas. Bapak Moh. Hasan- Guru BK yang biasanya sabar, tak kuat menahan marah. Ia damprat Bisron Ali (Tour Leader Jawara),” jasa travel tidak profesional. Sudah dua puluh empat jam belum juga sampai tujuan. Bus tua jangan diajdikan angkutan wisata. Ini manusia bukan binatang. Ayo jalankan bus dengan benar. Masa perjalanan Sumenep ke Jakarta sampai lebih 24 jam. Katanya bus executif. Bus tua dibilang bus executive,” bentaknya menuju ke hadapan tourleader dan sopir.

Aku tak berani menatap wajah Bisron Ali. Ia begitu tegang dan tak menduga akan mendapat cacian semacam ini. Bahkan teman-teman yang duduk di belakangjuga ikut ngomel mencelotehi layanan Jawa Tour yang amat buruk. Anak-anak kecil mulai menangis karena gerah. Pendingn dalam bus seperti tak berfunggsi karena kami sudah terlalu lama dalam bus. Wajah Bisron Ali pias. Aku tak tega. Kondisi dan situasi yang kurang mengenakkan diredakan oleh teman sebangkuku H. Rasik Rahman. Guru olah raga yang periang dan selalu ada humor segar yang dilontarkan.
“Tenanglah pak, nanti sampai juga ke jakarta. Kita kan tak terburu-buru. Sabar yang pentings elamat sampai tujuan,” hiburnya sambil tersenyum.
Terus terang aku merasa beruntung duduk berdampingan dengannya, karena selalu m,enenangkan hati yang galau karena bus berjalan sangat lamban. Muncul olok-olok dari belakang kalau bis yang aku tumpangi tak pernbaah mendahului (menyalib) kendaraan tetapi emnjadi bus yang selalu didahului oelh kendaraan lain yang usianya lebih tua. (asambung...)

Sabtu, 04 Juli 2009

SEKOLAH DI DALAM MESJID

:Catatan kunjungan studi banding ke SMA Negeri 8 Jakarta

Upaya untuk meningkatkan dan mengembangkan SMA Negeri 1 Sumenep menjadi sekolah yang bermutu, selain meningkatkan kualitas personalia serta tenaga pemgajarnya, juga melakukan studi banding ke SMA 8 Jakarta. Studi banding ini yang ke lima kalinya, pertama tahun 2001 ke SMA Unggulan darul ulum Jombang dan SMA 1 Batu. Ke SMA 15, SMA 2 dan SMA 5 Surabaya. Pada tahun 2008 melakukan studi banding ke SMA Negeri 1 Yogyakarta – SMA teladan se Indonesia. Di akhir bulan juni 2009 melakukan studi banding ke SMA Negeri 8 Jakarta.

Kunjungan studi banding ini tidsak lain adalah sebuah ikhtiar untuk menyelenggarakan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional yang akan dimulai tahun pelajaran 2009/2010. Pilihan ke SMA 8 jakarta sebagai tujuan studi banding, karena sekolah ini meruipakan salah satu sekolah negeri yang memiliki kelas internasional yang berinduk ke Cambright. Memiliki 2 kelas internasional yang kurikulumnya mengacu ke kurikulum internasional. Sedangkan tujuh kelas lainnya merupakan kelas RSBI.

Ada banyak hal yang dapat dipetik dari studi banding ke SMA 8 Jakarta, antara lain: pertama meski sekolah ini berada di daerah DKI Jakarta, tetapi memiliki murid yang berasal dari seluruh wilayah Indonesia. Artinya secara kualitas sekolah ini telah dipercaya oleh masyarakat untuk menitipkan anaknya menjadi pintar.

Kedua, di pintu masuk sekolah berdiri bangunan mesjid dengan arsitektur yang megah. Sebuah bangunan dengan arsitektur modern yang menghabiskan biaya sekitar 1 milyar. Bangunan mesjid ini menjadi ikon SMA Negeri 8 Jakarta, sehingga menamakan dirinya “sekolah di dalam mesjid”. Di tempat ini pula berbagai aktivitas keagamaan dilangsungkan. Mesjid bukan sekadar simbol tetapi juga membawa implikasi terhadap pelaksanaan pendidikan di SMA 8, antara lain setiap pagi mulai pukul 06.30 sebelum dimulai pelajaran dilakukan pembacaan ayat suci Al-Qur’an selama 15 menit yang dipandu dari ruang operator.

Ketiga, SMA 8 menerapkan aturan bahwa setiap guru yang mengajar di SMA 8 harus memiliki moral dan akhlak yang baik. Hanya dengan akhlak yang baik akan mampu menuntun siswa menjadi lebih baik. Untuk itu sekolah memberikan penghargaan bagi guru yang beragama islam setiap tahun ada dua orang guru yang diberangkatkan ke tanah suci, dibiayai oleh komite sekolah. Sedangkan bagi yang beragam nasrani disediakan dana untuk melakukan ziarah ke tempat kelahiran nabi Isa di Palestina.

Keempat, sistem evaluasi pembelajaran dilakukan oleh tim evaluasi, hal ini dilakukan untuk menjaga obyektifitas guru mata pelajaran dalam melakukan penilaian terhadap peserta didik. Remedial hanya dilakukan satu kali untuk menciptakan budaya belajar bagi siswa. Namun sebelum remedi dilakukan terhadap siswa yang tidak mencapai kompetensi di berikan klinik pendidikan, ada remedial teaching dan dilanjutkan dengan ujian remedial.

Kelima, di sekolah ini tidak ada les privat mata pelajaran karena bimbingan belajar siswa ditangani oleh alumni SMA 8 yang dinamakan dengan BTA (Bimbingan Tes Alumni). Tidak adanya les yang dilakukan oleh guru pengajar menjadikan penilaian hasil belajar lebih obyektif, sehingga juga diikuti usaha gigih siswa untuk mencapai ketuntasan belajar.

Keenam, lingkungan kelas dan lingkungan sekolah tertata rapi, tidak ada gambar-gambar di dinding kelas seperti yang terlihat di SMA 1 Sumenep. semua dinding terlihat bersih hanya terdapat satu papan kecil untuk presensi siswa, dan rak untuk menempatkan daftar hadir siswa. Pot gantung dengan tanaman sirih gading bertebaran di berbagai tempat menambah keasrian sekolah ini.

Ketujuh, bagi guru yang tidak rajin masuk kelas dikenakan sangsi dipotong honor komite sekolah, sehingga memacu guru untuk rajin dan kreatif dalam melaksanakan tugas mengajar. Juga komite sekolah membrikan bantuan dana kesehatan jika guru atau staf Tata usaha menderita sakit, dengan mengganti biaya berobat yang telah dikeluarkan.

Layanan yang memuaskan, komite dan orangtua siswa bersedia memfasilitasi kebutuhan guru asal guru mau membimbing peserta didiknya menjadi lebih cerdas dan berhasil memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Guru mampu memberikan layanan prima terhadap siswa dan masyarakat (orangtua murid) sebagai imbal jasa atas kepedulian orangtua terhadap sekolah dan segenap komponen yang ada di dalamnya.

Menirukan apa yang dilakukan SMA Negeri 8 Jakarta di SMA Negeri 1 Sumenep jelas tidak mungkin, karena memang situasi dan kondisinya berbeda. Namun dari studi banding ke SMA Negeri 8 Jakarta, kami mendapat pelajaran, antara lain; pertama, pembentukan sistem di dalam sekolah amat penting sehingga semua bekerja dan berjalan dalam kmekanisme ssitem yang telah dibuat. Bila sistem yang dibuat sudah baik dan mapan, maka siapa pun pimpinan sekolah tidak berpengaruh terhadap proses pelaksanaan pendidikan di dalamnya, karena semua berjalan pada mekanisme yang ada.

Kedua, pentingnya kebersamaan antara sekolah, orangtua musrid dan masayarakat. Hanya dengan kebersamaan semua keinginan bisa tercapai. Terutama kesepahaman antara orangtua siswa dengan pelaksana pendidikan di sekolah, keterbukaan penyelenggara sekolah, dan komitmen untuk memajukan pendidikan adalah hal vital yang perlu dilakukan di sekolah tercinta, SMA Negeri 1 Sumenep.

Barangkali tidak berlebihan jika di awal tahun pelajaran ini kita memperbaharui niat, untuk mengawali kerja dengan tulus dan ikhlas demi kemajuan pendidikan dan keberhasilan anak-anak kita yang akan meraih masa depan. Niat tulus yang juga diiringi oleh doa para orangtua dan dukungan material untuk memfasilitasi kebutuhan pendidikan di sekolah. Hanya rasa percaya dan rasa saling memiliki bisa melapangkan jalan yang menjadi cita dan tujuan bersama. Allahu Akbar !!! (Hidra)

Minggu, 31 Mei 2009

RAHEMAN

Pagi itu pak Juwairi masuk dengan senyum dan binar bola matanya memancar. Tiga belas anak asuhnya di kelas enam menunggu dengan suara ramai tak bisa diam. Tak peduli. Senyum terbit dari wajah yang berbinar dengan sorot mata bercahaya, dan kemudian duduk di pojok depan sebelah selatan mulai membuka pelajaran. Hari itu jadwal di dinding yang kusam tertulis mata pelajaran IPA.

“Sekarang kita ulangan!” ingat pak Juwairi pada teman-teman sekelasku.
“Belum belajar, Pak!” jawab si Raheman yang memang tidak pernah belajar dan hanya mendengarkan materi pelajaran dalam kelas. Sekolah baginya bertemu teman sekelas, berbagi cerita dan pulang saat bel jam terakhir bendentang. Tak tinggi cita yang digantungkan. Ia hanya mengimpikan Tamat SD merantau ke Surabaya, mblater, atau jadi buruh pabrik.

Semua teman mengambil kertas ulangan. Mencatat soal yang didektekan dari depan kelas. Kami mengerjakan soal selama 60 menit dengan perasaan ringan tanpa beban. Kami tidak pernah menginginkan mendapatkan nilai terbaik dengan cara curang. Kami hanya ingin mencoba menjawab dengan jujur apa yang kami kerjakan. Kejujuran menjadi segala-galanya.

Tidak ada suara gaduh. Semua tenang mengerjakan soal-soal yang telah didiktekan. Waktu enampuluh menit berjalan begitu cepat dan kami semua menyerahkan jawaban yang telah selesai dikerjakan. Lembar demi lembar kertas jawaban dibaca pak Juwairi. Teman-temanku Nanto, Safi, Zinal, Jappar, dan Hasan membicarakan jawaban yang telah diruliskan. Mereka pada mengira-ngira perolehan nilai yang akan didapat.

Semua menduga pasti si Jappar akaan memiliki nilai paling baik. Karena dia lah bintang kelas kami. Orangnya pendiam, rapi, bersih, dan buku catatannya paling lengkap dan paling rapi. Dia jagoan mata pelajaran di eklas kami, berhitung, ipa, ips dan bahasa Indoensia, sellau mendapatkan nilai tinggi.

“Ini jawabannya Rehman,” tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara pak Juwairi dari depan kelas.
“Kenapa, pak?” tanya temnaku yang lain.
“Dari sepuluh soal hanya menuliskan satu jawaban.”
“Nomor berapa, Pak?!”
‘Tidak ada nomernya.”
“Apa jawabannya, Pak?”
“Maaf pak saya tadi malam tidak belajar.” Itu saja jawabannya Raheman. Pak Juwairi tersenyum.
“anak-anakku daripada kamu berbuat curang untuk mendapatkan nilai bagus, lebih baik kamu jujur seperti si Raheman. Saya sangat menghargai kejujurannya.”
Teman-teman sekelas tertawa sambil mengoilok-olok memanggil nama bapaknya ,” Pan Rakek...Pan Rakek...Pan Rakek”

Kami memahami kalau Raheman tidak sempat belajar setiap malam; pertama, karena kalau berangkat ke sekolah dia membawa jualan nasi dan gorengan punya budeku. Dari hasil penjualan dia mendapatkan upah sekadarnya. Kedua, jika siang hari sesampai di rumah dia menyipkan seperangkat barang ke dalam kotak untuk dibawa ke pasar membantu ayahnya berjualan batu korek api, minyak sulin untuk korek api, dan peralatan untuk memperbaiki lampu senter.
Ketiga, jika malam hari tiba di kampungnya tak ada penerangan selain cahya bintang dan rembulan. Semua maklum di jaman seperti itu kemiskinan melilit saudara-saudara kami yang ada di perkampungan,seperti juga kampung di mana Raheman tinggal; Temoran. Untuk membeli minyak tanah mereka lebih mendahulukan untuk membeli bahan makanan pokok untuk mengisi perut. Sesuatu yang lumrah ketika selesai shalat isya mereka semua menutup pintu sampai waktu subuh tiba.

Raheman, teman yang selalu meredakan ketegangan di dalam kelas. Dari wajahnya yang lancip, tulang pelipisnya mencuat dengan pandangan mata sayu. Semua yang melihat akan merasa iba. Namun dia adalah anak yang bisa bersahabat dengan siapa saja. Rendah hati dan suka memnolong sesama. Jika musim panen jagung tiba kami diajak ke rumahnya untuk membakar jagung segar yang baru dipetik dari pohonnya. Kami bakar jagung di tungku dapu yang menyatu dengan kandang sapi. Ya, dapur penduduk di kampung kami menjadi satu dengan kandang sapi. Posisi dapur selalu berada di depan rumah menghadap ke utara. Penyatuan kadang sapi dengan dapur untuk menjaga sapi dari gangguan pencuri.

Lain lagi kalau musim srikaya tiba aku diundang untuk bermain ke rumahnya dan di halaman belakang rumahnya yang berbatu-batu banyak ditumbuhi pohon srikaya yang rasanya sangat manis. Aku diperbolehkan untuk mencari memetik sendiri buah yang matang di atas pohonnya. Waktu-waktu yang menyenangkan.

Suatu ketika aku pergi ke pasar di waktu sore, karena sore itu hari pasaran hewan. Mendatangi pasar adalah salah satu acara di desa bagi anak-anak seusiaku untuk mencari hiburan. Ya, mencari hiburan menyaksikan ppenjual obat menawarkan dagangannya dengan permainan sulap yang sangat menakjubkan bagiku. Aku kagum dengan boneka yang bisa menabuh genderang dengan digerakkan batu baterei. Aku terkesima dengan mobil-mibilan yang berjalan sendiri setelah peer pendorongnya diputar. Sesuatu yang baru bagi kami, dan mungkin bagi anak-anak di kota permainan itu hal yang biasa.

Sore itu, setelah menyaksikan atraksi penjual obat dan dalam masyarakat kami dikenal sebagai “Tokang Jual Jamo”, aku mampi ke lapak tempat berjualan orangtua Raheman. Aku menghampirinya karena pas lewat di depan lapak yang menjaga Raheman. Aku diajak untuk menemaninya. Raheman sangat mahir untuk mengganti batu korek api, dengan membuka mur di bagian bawah korek, dilepaskannya per yang diujungnya tempat menempel batu korek api. Dia juga mahir memperbaiki kerusakan pada lampu senter. Jika ada orang datang meminta bantuan untuk memperbaiki senternya yang mati, dikeluarkannya batu baterai yang ada di dalam, diambilnya obeng dan dibukalah bagian tombol untuk menyalakan lampu yang menghubungkan kutub positip dan negatip sehingga lampu menyala. Kalau bagian lempengan yang menghubungkan kedua kutub yang berlawanan berkarat dibersihaknnya dengan amplas sampai hilang karatnya. Dari pekerjaan seperti itu dia mendapatkan imbalan jasa dari orang-orang membutuhkan pertolongan. Tidak terlalu besar jasa yang diperoleh, namun tarnsaski itu berlangsung dengan penuh keakraban dan ketulusan. Tidak ada patoan harga, namun pemberian yang tulus sebagai rasa terimakasih menajdi pengikat persaudaraan, karena esok hari jika mendapatkan masalaha dengan korek api dan lampu sneter akaan datnag kembali ke tempat Raheman membuka dagangan.

Setamat dari sekolah dasar aku dengar raheman merantau ke surabaya menjadi buruh pabrik. Lima belas tahun dari perpisahan itu aku bertemu di pelabuhan Kamal ketika aku mau pulang dari kuliah untuk berhari raya di kampung. Raheman bersama istri dan dua anaknya membawa beberapa kardus barang mau pulang kampung, toron. Kami berada dalam satu kendaraan. Dia bercerita kalau saat itu bekerja di pabrik sepatu. Dia banyak bercerita tentang kesulitan ekonomi yang membebabni hidupnya. Namun ia menggantungkan harapan kelak anak-anaknya bisa sekolah tinggi mendapatkan pekerjaan yang layak dan tidak mengalami nasib seperti dirinya.

Terakhir aku dengar Raheman kembali ke kampung halamannya membuka tambal ban kendaraan bermotor di tepi jalan belakang rumahnya.

Jumat, 29 Mei 2009

AKU INGIN

Aku inginkan
Setiap siswa memagang satu laptop
Di depan ada layar lebar
Ruangan ber AC
Dan full music

Siang itu musim kemarau suasana ruangan kelas amat gerah, karena ventilasinya buruk dan tempatnya gersang dikepung oleh gedung-gedung yang pengap melengkapi kegerahan dalam ruangan kelas. Aku sendiri bingung mau beraktivitas apa dalam ruangan jika suasana dalam kelas tidak memungkinkan. Lebih menyedihkan lagi aku diminta untuk memberikan materi menulis kreatif sebagai tambahan pelajaran bagi siswa kelas X.

Oke, bagaimana kalau siang ini kita mencoba menuliskan impian kita mengenai apa yang kita impi dengan sekolah yang kita cintai ini?Ajakku pada mereka.

Waktu empat puluh lima menit terasa berjalan lamban. Ada yang menerawang jauh ke dalam impian menembus langit-langit ruangan. Aku berkeliling mengamati pekerjaan mereka. Cukup menarik dari judul yang mereka tuliskan impian mereka sangat beragam. Ada yang menuliskan citacita; puisi pedas mengkritik seragam abu-abu; cinta mereka.

Meski begitu ada satu yang menarik yaitu potongan tulisan yang aku jadikan pembuka tulisan ini. Sebuah impian tetang SMAN 1 yang nyaman, modern, lengkap dan menyenangkan dalam pembelajaran. Aku terkesima mebaca impian anak yang saya lupa namanya, namun aku ingat impiannya mengenai sekolah ini. Begitulah seharusnya SMAN 1 ke depan. Tidak ada pilihan lain, sekolah ini harus banyak berbenah dengan lingkungan yang bersih, fasilitas sekolah yang yang harus terus-menerus berbenah.

Impian ini bukan isapan jempol, karena saat ini di sekolah telah memeliki laboratorium komputer, laboratorium multimedia, laboratorium fisika, kimia, biologi dan laboratorium bahasa. Serta memiliki tiga infocus dengan berbagai perangkat pembelajaran audivisual. Laboratorium Multimedia merupakan fasilitas baru bantuan dari pemerintah pusat bernilai seratus lima puluh juta rupiah dan dana sharing dari Komite Sekolah. Fasilitas yang memungkinkan untuk dapat memenuhi impian yang dikutipkan di pembuka tulisan.

Persoalannya adalah ketika impian itu menjadi harapan anak-anak kita, maka sudah seharusnya bapak dan ibu guru menyiapkan diri untuk bisa memanfaatkan aneka fasilitas yang ada. Sebab fasilitas teknologi tersebut sangat membantu kerja bapak ibu guru untuk bisa menemani dan mendampingi putra-putrinya belajar. Sekaligus kenyamanan ini dilengkapi dengan keterbukaan manjemen sehingga semua stakeholder bisa mengakses informasi yang diperlukan. Semua merasa nyaman dan memiliki, sehingga oimpian itu kemudian menjadi milik bersama untuk dapat menghasilakn produk unggul yang dibutuhkan oleh lingkungan. Produk yang mampu melahirkan pemimpin-pemimpin di masa depan. Pemimpin yang berkhlak mulia (Hidayat Raharja).

Minggu, 03 Mei 2009

SEKOLAH KAPER; 35 Tahun Yang Lalu

Oleh : Hidayat Raharja

: Terimakasih tak terhingga buat kedua orangtuaku – pendidik sejatiku
Mbah Fudhali, mbah Hadiyah, Nom Safi, Nom Zali (guru ngajiku)
Bapak Abdullah Fagi, Bapak Juwairi, Bapak Sudarmono, dan Bapak H. Abd. Gaffar Gatot (Almarhum).

Tak ada yang dapat aku kadokan buat guru-guruku tercinta yang telah membuatku bahagia di hari ini. Belualah yang telah memberikan bekal hidupku sehingga aku memahami peran dan tanggungjawabku sebagai manusia. Mereka para pendidik yang telah banyak berkorban untuk kemajuan belajar anak didiknya. Mereka tiada henti memberikan pencerahan bagi anak-anak desa seperti aku dan teman-teman di desa saat itu. Tak ada listrik – tak punya sepatu, buku terbatas dan masih dikucilkan oleh orang-orang karena sekolah kami bukan sekolah agama. Masih lekat dalam ingatanku sekolahku di SD negeri dicemooh sebagai Sekolah Kaper (Kafir).

Aku tak bisa melupakan jasa para guruku di SD karena mereka dengan pengabdian tulus dan ikhlas membuat kami menjadi mengerti dan memahami pendidikan. Pemahaman ini semakin dalam ketika aku sendiri menjadi guru di sebuah SMA yang berada di tengah kota dengan fasilitas belajar yang sangat lengkap dibandingkan dengan sekolah lain di kota ini.

Aku tak bisa membayangkan perjuangan para guru yang kusebut di awal tulisan dengan segala keterbatasan sarana dan fasilitas pantang menyerah untuk memberikan pendidikan yang terbaik buat anak didiknya.
Pertama; aku ingat pelajaran sejarah dan bahasa Indonesia yang diajarkan Bapak Moh. Yahya yang terkenal disiplin dalam mendidik bahkan cenderung dikatakan keras jika dibandingkan dengan kondisi kekinian. Namun aku takkan pernah lupa cara beliau menyampaikan materi dengan segala keterbatasan sekolah yang kami tempati. Beliau sangat kreatif, dengan hanya satu buku paket sejarah yang dipergunakan dalam satu kelas, beliau tidak menyuruh anak mencatat, tetapi beliau mengajatrkannya dengan mimik, ekspresi, dan suara lantang penuh tekanan tertentu serta dengan gerakan tubuh yang menguasai “panggung” kelas menjelaskan sejarah berdirinya kerajaan-kerajaan di jawa Timur, Perebutan Kekuasaan, dan menjelaskan proklamasi kemerdekaan yang dibacakan Soekjarno Hatta dengan penuh oratoris. Pengalaman yang takkan pernah aku lupakan bagaiman beliau berusaha untuk memudahkan anak didiknya mengerti apa yang diajarkannya.

Beliau begitu berapi-api ketika membacakan sajak-sajak Chairil anwar “AKU” saat mengajarkan deklamasi di depan kelas. Semangat yang bergelora, api semangat yang berapi-api di depan anak- didiknya yang tidak lebih dari tiga belas orang. Belasan orang murid yang dicarinya dengan susah payah blusukan ke pelosok-pelosok kampung supaya sekolah negeri ini ada muridnya. Perjuangan pantang menyerah yang beliau lakukan bersma0sama dengan bapak Asdullah Fagi memajukan sekolah negeri di desa ku.

Guru berhitung dan kesenian di kelas rendah, kelas 1 sampai dengan kelas 3. Oangnya sabar, murah senyum suka bergurau dan ada saja hal menarik yang dilakukannya; Bapak Abdullah Fagi. Kami dikenalkannya kepada teka – teki silang saat guru kelas kami absen karena ada sesuatu halangan. Dengan cekatan beliau menggambar ayam tanpa bulu (gundul) dengan leher pendek dan kakinya hanya sebelah, karena sebelahnya buntung. Gambar yang lucu, lalu kami diajaknya bernyanyai “ Ajam Tokkong” (Ayam Buntung) sebagai berikut:
Ajam tokkong
Le’er kene’
Sokona settong
Mon ajalan takadik co-loncoan
Tak tokkong tokkong
Tak tokkong tokkong

Terjemahan Bebasnya sebagai berikut:

(Ayam buntung
Leher pendek
Kakinya buntung
Kalau berjalan meloncat-loncat
Buntung buntung
Tak buntung buntung)

Tembang nyanyian yang akan selalu aku ingat saat kelas kosong atau ketika tengah jenuh belajar kami diajaknya bernyanyi “Ajam Tokkong”. Suatu metode yang sekarang cukup populer dengan Quantum Teaching ,35-an tahun yang lalu pak Fagi telah mengenalkannya kepaada kami.

Bapak H. Abd. Gafar Gatot (almarhum) semoga segala amal baiknya diterima di sisi Allah dan segala dosanya diampuniNya. Amin.
Guru yang sabar dan sangat demokratis, karena setiap memulai pelajaran selalu menanyakan murid-muridnya apa yang akan dipelajarinya. Setiap pilihan murid selalu dituruti dans etiap permintaan selalu dipenuhinya. Di alah yang mengenalkan kami pada Sinbad Si Pelaut. Bila tiba mata pelajaran keseniannya diajaknya siswa ke luar kelas ke bukit yang ada di sebelah selatan sekolah untuk menggambar sesuatu yang menarik untuk digambar oleh teman-temanku sekelas. Kami bebas menggambar dengan menggunakan pensil yang juga kami pergunakan untuk mencatat. Kami belum kenal pensil warna karena keterbatasan kami semua. Satu buku kadang diperguankan untuk catatan 3 mata pelajaran, minimal untuk dua mata pelajaran. Hal yang emnyenangkan ketika pelajaran menggambar tiba, sebab kami bebas ke atas bukit ke rumah penduduk sekitar yang kadang dikasih makanan atau sekedar buah-buahan. Kami sangat akrab dengan warga sekitar sekoalh di atas bukit yang ada di selatan sekolah kami.

Selesai menggambar kami diajak kembali ke dalam kelas dan disuruh utnuk menceritakan pengalaman yang ada dalam gambar yang kami buat. Semua tertawa. Semua bercerita.

Tahun 1974 ada droping guru besar-besaran ke berbagai wilayah Indoensia termasuk di dalamnya ke tanah Madura . Guru-guru yang kemudian dikenal dengan nama guru Inpres. Sekolah kami juga kebagian guru Inpres. Mereka datang dari daerah Bantul – Yogyakarta. Bapak Juwairi, Sudarmono dua orang guru yang mengajar di sekolahku. Mereka berdua banyak memberikan warna baru dalam sekolah kami. Kedatangan mereka disambut dengan terbuka oleh masyarakat desaku, mereka menjadi terkenal karena jauh-jauh dari Yogyakarta mau datang dan mengabdi desa kecil dengan gaji yang tak seberapa besar.

Pak Juwairi dengan kecakapannya mengajarkan aneka keterampilan dan seni, merubah suasana sekolahku, karena kemudian banyak produksi karya seni yang dihasilkannya bersama anak didiknya. Dari beliau kami kenal lampion kertas untuk hiasan; kami kenal gambar bergerak seperti dalam televisi dengan media kertas minyak dan lampu minyak tanah yang kemudian memutar gamar-gambar di kertas minyak karena pengaruh tekanan udara yang memuai akibat panas. Kami menyebutnya mainan “Televisi”. Diajarinya pula kami membuat patung kertas, kolase dan aneka bentuk prakarya dengan mempergunakan tanah lempung yang banyak melimpah di lingkungan sekolah.

Puncak karya beliau dengan anak-anak didiknya adalah sekolah kami memenangkan karnaval tujuh belas agustusan mengalahkankan Madrasah Ibtidaiyah di desa kami yang banyak siswanya dan memiliki pasukan musik drumband. “Perang Diponegoro” itulah tema karnaval yang beliau angkat. Tidak berlebihan kalau tema ini diangkat karena beliau berasal dari jawa tengah dan kami bisa menerimanya karena heroiknya Pangeran Diponegoro melawan kolonialisme.

Chalik yang dikenal dengan nama Cabang anak seorang kusir delman didaulat untuk menjadi Pangeran Diponegoro. Ia mengendarai kuda yang biasa dipergunakan menarik kusir ayahnya. Dengan pakaian jubah putih , keris di tangan dengan lantang diteriakkannya takbir menumbuhkan semangat perlawanan. Teriakan yang kemudian disambut oleh teman satu sekolah lainnya yang bercelana pendek bertelanjang dada dengan wajah dihiasi dengan langes – coreng-moreng. Tarian kolosal dan spektakuler memberikan sajian yang segar bagi masyarakat desa, bapak camat dan segenap muspika. Sampai sekarang tempik sorak penonton masih terekam dalam memori otakku. Bagaimana iringan drumband dari madrasah ibtidaiyah tenggelam ditelan hiruk pikuk perang diponegoro. Sehingga layaklah sekolah kami SD OMBEN dinobatkan menjadi juara I.

Bapak Sudarmono menjadi guru kami di kelas VI. Jarang tersenyum tetapi sangat rajin dan telaten membimbing kami belajar. Di waktu malam sehabis mengaji di langgar, kami diajaknya belajar bersam di rumah kontrakannya yang tak begitu besar. Tak ada listrik, sehingga ketika anak belajar bersama di rumahnya ia nyalakan lampu petromak dan dengan telaten menemani dan membimbing sampai pukul 21.00 wib. Kami tak membayar, tetapi pak darmono dan pak juwairi mengajarnya dengan rasa senang. Ketulusan dan niat ikhlas mereka selalu menggema dalam dada.

Kehadiran mereka semakin berkenan di hati masyarakat. Sebuah hubungan guru dengan masyarakatnya yang bisa sling mengisi, saling memberi dan bisa saling menerima. Masyarakat tidak mau ditinggalkan dan guru-guru itu tak mau mengabaikan. Mereka yang sampai kini tetap ada di desa kami membangun rumah, bermantukan orang desa tak kembali lagi ke tanah Yogya. Aku malu kepada mereka, karena betapa besar pengorbanan telah diberikan untuk mencerdaskan anak-anak didiknya. Aku takkan pernah mampu membalas jasanya.

35 tahun kemudian, saat ini kejadian ini sudah menjadi basi tak ditemukan lagi dalam sekolah kami.