Translate

Rabu, 08 Juli 2015

Mimpi-mimpi di Masa Kecil


:cerita buat M.A. Ramadhan

Setiap orang dilahirkan dengan kelebihan-kelebihannya
Jangan biarkan orang lain meremehkan. (Anonim)

          
Perahu - Karya Hidayat Raharja
Saya ingat mimpi-mimpimu di masa kecil, dengan gambar kendaraan bermotor berwarna-warni. Bus, Kereta Api, Sepeda motor, dan Helikopter.  Saya tahu kau tak bisa menuliskan kisah dengan baik. Namun kau telah meyakinkan bahwa tanganmu yang cekatan telah banyak menyelesaikan pekerjaan yang ada di dekatmu. Tanganmu yang cekatan telah menyambung kabel listrik yang putus, menyorder komponen yang renggang dan memperbaiki  dinding rumah yang retak dan rontok.
            Dari gambar yang kamu buat, saya tahu kalau kau menyukai  mesin. Kau suka listrik, kau suka teknik. Sebuah perlambang kau suka yang beraroma teknik bukan hanya ingin mengendarainya, tetapi juga menciptakannya. Insya Allah! Untuk membuat mesin dibutuhkan hitung-hitungan dan kalkulasi yang tepat, maka seharusnya kau  mampu berhitung dengan cermat. Matematika dasarnya. Kau bisa menangkap dengan cepat tetapi kau tak gegas untuk menerapkannya . Berhitung tak hanya dibayangkan tapi juga dioperasikan. Untuk bisa membuat desain yang bagus kau harus suka seni, sebab hanya dengan perasaan yang tulus dan halus akan dicapai esetika atau keindahan. Seperti bermain gitar yang sembunyi-sembunyi sering kau mainkan.
            “Aku mau membuat Helikopter!” celetukmu, sambil membongkar mesin mobil mainan yang mangkrak dalam laci. Kau siapkan  Styrofoam / gabus,lalu dibuat pola di atasnya untuk membuat bodi Heli yang kamu bayangkan. Seharian kau sibuk membuat baling-baling dari limbah sendok kayu es krim, kau siapkan lem untuk merekatkan potongan tubuh pesawat yang kamu buat. Kau ambil roda sepeda motor mainan. Kau rangkai untuk menjadi roda pesawat yang dihubungkan dengan mesin mainan mobil tamia yang telah kamu bongkar.
            Angin dari hamparan sawah di depan rumah berkesiur menerbangkan daun-daun mangga yang berguguran di jalan di depan rumah. Sesekali terdengar kicau burung kecil di rerimbunan pohon nagka yang sengaja dibiarkan agar banyak burung yang datang. Kemarau tiba, namun tak menyurutkan imajinasimu membongkar pasang mainan yang pernah kau miliki..
Di atas meja belajar miniatur sepeda motor berbahan plastik kau modifikasi sesuai dengan imajinasimu. Motor-motor yang unik. Kau bayangkan motor tunggangan Valentino Rossi.  Diam-diam kau menyukai tontonan balap motor, dan selalu kau sempatkan nonton saat di kota ini diselenggarakan road race. Ada kebanggan kau ceritakan, mengisahkan pembalap lokal yang bertarung di atas aspal jalan. Dan yang tak bisa aku lupakan ketulusanmu untuk  meminjamkan sepeda pancal kepada pebalap dari luar kota yang butuh untuk mencari kamar kecil.  Saya gembira mendengar kisahmu.  Cerita yang selalau  hadir menjelang kita tidur malam.
            Jujur itu menyenangkan, Boi. Meski pahit bagi orang lain. Belajar jujur belajar  memperbaiki sel-sel tubuh kita untuk bekerja lebih baik sehingga tubuh akan merasa lebih bahagia. Sebab, jika kita berbuat jujur, maka hormon-hormon positif  antioksidan yang akan dikeluarkan dari kelenjar tubuh. Hormon tersebut akan memperbaiki sistem metabolisme dalam tubuh, sehingga tubuh menjadi lebih baik.
             Proses itu penting untuk membuat kita menjadi lebih matang dalam menghadapi tantangan hidup yang tak ringan. Carilah jalan menanjak tuk melatih ketangguhan, kesabaran, ketabahan kita dalam membangun kekuatan. Meneguhkan niat dan pantang menyerah. Pilihan Tuhan adalah yang terbaik bagi kita semua. Maka, berdoalah semoga Tuhan selalu  membimbing kita di jalanNya yang luas terbentang.
            Kau tak usah takut, karena tak ada yang harus kau takuti. Kau tak usah khawatir, karena tak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, jangan lupa tugas kita untuk belajar dalam hidup ini tak pernah usai sampai kita menutup lembaran hidup di dunia. Belajarlah sepanjang waktu dalam jaga dan tidurmu. Sebab dalam tidur pun otak kita masih mampu merekam apa yang di sekitar kita.
            Setiap orang dilahirkan dengan keistimewaan atau kelebihannya. Saya melihat kelebihanmu  berinteraksi dengan orang lain. Kau disukai anak-anak kecil, dan banyak yang memanggilmu dengan Kak. Kau begitu sabar menemani mereka. Anak-anak kecil dan sebagian sudah beranjak besar memasuki usia sekolah dasar, dan masih akrab denganmu.
            Jaga kelebihanmu dengan selalu dirikan sholat, menambah ilmu, menambah pengetahuan, sehingga kau tetap bisa bertahan eksis di tengah perubahan. Ayo bikin helekopter, ayo bikin kereta api, ayo bikin bus, ayo bikin hidup ini bergerak, dan bergerak membawa mimpi-mimpi kita pada pada kenyataan yang membhagiakan, godbless U . Good Luck, Boy!
Sumenep, 6-7 Juli 2015
Hidayat Raharja|guru, penikmat kisah sehari-hari.

Rabu, 01 Juli 2015

“Anak Manja” – Jharan Kenca’ di Pantai Lombang

Si "Anak Manja"
Lombang pagi hari . Matahari sejuluran tangan menerangi pasir pantai. Daunan cemara udang berisik ditiup angin tenggara. Tarian ombak berbaur dengan angin menimbulkan suara  gedebur  berpecahan di pasir pantai. Pagi yang tenang, tak banyak orang berkunjung hari ini. Barangkali karena bulan puasa. Tapi di sudut kiri terlihat seorang perempuan dengan anak gadisnya tengah berbincang dengan pemilik kuda yang menawarkan jasa di kawasan pantai ini.
Saya menikmati kesiur angin kencang dan gedebur ombak  berdebar-debar. Suara nyanyian pantai di pagi hari.N yanyian puitikal yang berbaur antara angin, ombak dan kemeresak ranting cemara udang. Aida, Tania dan Elok melepaskan alas kakinya. Mereka berlari ke arah pantai menyambut ombak membasahi kakinya.  Terdengar tawa mereka dari jarak yang agak jauh. Tawayang lepas di antara tumpukan tugas yang selalu menggandoli sepanjang waktu.
Lelaki tua itu datang menuntun seekor kuda  berwarna coklat kehitaman. Kuda yang bersih dan rambutnya terpotong rapi.Langkahnya anggun mengiringi tuan yang ada didepannya.
            “Naik kuda,Pak” sapa lelaki itu mendekat.
            “Tidak Pak, saya nagntar anak-anak itu berlibur.”
            “nanti, kalau anak-anak bapak mau naik  kuda, pakai jasa kuda saya,ya?!” pintanya sambil mengelus kudanya. Kuda berdehem seakan mengerti perasaan tuannya.
            Dibelakang saya datang lagi seekor kuda dengan tuannya. Tiga ekor uda sudah ada di tepian pantai. Kuda-kuda itu bernaung di bawah kerindangan cemara udang.
            “Sepi,Pak?” tanya saya membuka pembicaraan kembali.
            “Ya, bulan puasa. Tapi, masih ada yang datang dan menggunakan jasa kuda untuk mengitari pantai”
            Tengah asyik bercakap, seorang tukang kuda menuju ke arah pantai mendekati tiga anak-anakku yang tengah bermain-main dengan ombak.  Dari tempat saya duduk, terlihat tukang kuda itu tengah menawarkan jasa untuk menunggang kuda.  Tania naik ke atas kuda. Terdengar tawanya riang dan  Aida mengmabilkan gambarnya tengah naikkuda.
            “Pak, sampeyan kesana, merekanaik kuda.” Pintaku pada lelaki  di dekat saya. Dia beranjak menuntun kudanya dan saya memanggil Aida untuk menunggang kuda yang baru mendekat ke arahnya. Raut lelaki tua itu senang. Ini adalah jasa pertama di hari ini.
            Tania,Elok dan Aida menunggang kuda yang tali kekangnya dipegang tuannya. Saya dapat tugas untuk mengabadikan mereka. Takada pilihan lain karena arah mereka menentang sinar matahari, maka gambar siluet yang terbentuk. Mereka bergerak menjemput matahari dan semakin jauh dari tempat saya berdiri.
            Sepi. Hanya gemuruh ombak berkejaran ke arah pantai dan angin tenggara yang kencang. Tiga kuda dan penunggangnya kembali dari arah timur dan saya berjalan menuju ke tempat berteduh. Terdengar para pemilik kuda itu menceritakan kudanya.
            Tiga anakku puas  menunggang kuda. Para pemilik kuda mempersilahkan untuk mengambil gambar, buat kenang-kenangan. Bahkan mereka tidak keberatan untuk diambil gambar berpose dengan kudanya. Aida mengeluarkan dompet dan membayar jasa naik kuda Rp. 30.000 untuk bertiga.Tiap orang sepuluh ribu.Harga yang sangat murah tak sebanding dengan layanan yang mereka berikan.
            “tiap hari,mangkal di sini pak?”
            “ Ya, saban hari. Daripada di rumah tiduran. Kalau bulan-bulan biasa hari minggu seperti saat ini banyak pengunjung yang datang dan menggunakan jasa naik kuda. Ini bulan puasa, sepi.” Terang salah seorang di antara mereka.
            “Ayo, Bapak naik kuda saya. Ambil gambar buat kenang-kenangan.” Pinta salah seorang tukang kuda yang perawakannya tinggi kurus,dan berkumis.Lelaki yang terlihat gagah dan periang, dengan senyum selalu terlempar dari selabibirnya.
            “terimakasih, bapak.” Jawab saya sambil membalas senyumnya.
            “Tidak, bapak harus mau. Tidak usah membayar. Ayo,naik dan foto untuk kenang-kenangan. Bisa ditaruh di layar ponsel.” Lelaki itu tersenyum dan menyiapkan kudanya di hadapan saya dan dengan menggunakan bangku taman untuk  pijakan saya menunggang kuda. Aida mengambil gambar dengan menggunakan kamera milikTania.
            Lelaki pemilik kuda itu riang dan tersenyum lebar sambil memberi tahu saya untuk melenturkan tubuh mengikuti arah gerakan tubuh kuda.  Ini kali kedua saya ada di punggung kuda. Pertama ketika masih kelas empat SD menaiki punggung kuda milik Sidik. Kuda yang biasa dipergunakan untuk manarik dokar mengangkut penumpang yang akan berbelanja ke pasar Omben.
            Saya kembali duduk di kursi  beton taman. Lelaki itu pamit untuk menambatkan kudanya di arah barat. Namun sebelum meninggalkan  saya  lelakiitu melakukan atraksi menarik dengan memegang kendali kuda dan menariknya dengan cara tertentu  kuda itu manari melenggok-lenggokkan tubuh dan menagangkat kaki (akenca’). Gerakan seperti menari. Saya kaget, ternyata kuda yang ada di hadapan saya adalah jenis ”Kuda Kenca’” kuda yang terlatih untuk menari sesuai dengan permintaan tuannya.  Kuda itu bergerak menjauh dengan gerakan tubuh yang lentur dan gemulai.
*******
           
Lelaki Tua yang Ramah
Aida,Tania, dan Elok kembali dengan keasyikkannya menjauh menyusuri hutan cemara dan foto-foto. Sesekali terdengar suara mereka tertawa menretwakan diri sendiri yang berlagak model profesional  yang tengah melakukan pengambilan gambar.
            Dari arah sudut datang lagi lelaki tua dengan menuntun kudanya baju engan panjang dengan kancing seluruhnya terbuka. Terlihat kaos yang bergambar dua calon kepaladaerah di dadanya. Topi laken hitam dan celana pendek selutut. Di belakangnya seekor kuda bergerak mengikutinya.
            Lelaki tua, rautnya bulat dan kerutan-kerutan di wajahnya  memahat waktu yang hinggap di tubuhnya. Ketuaannya terlihat dari giginya yang mulai tanggal. Bila tertawa terihat seluruh gigi serinya telah habis. Sesekali  terdengar dengus nafasnya tersengal.
            “ Tidak mau nunggang kuda, Pak?”
            “ Tidak,  pak terimakasih.”
            “Kuda milik sendiri, Pak?”
            “Ya, Pak. Saya punya empat ekor kuda.  Semuanya kuda kenca’. Ini yang saya bawa  “Si Anak Manja”. Sesuai dengan namanya kuda ini selalu ingin dimanja. Selalu minta diperhatikan. Bahkan kadang kalau tak disambangi ke kandangnya di malamhari,dia akan lepas dari kandang.”  Cerita lelaki tua itu sambil mengelus-elus tubuh kudanya.
            “ Empat kuda dioperasikan semua,Pak?”
            “Ya, mempekerjakan orang lain dengan bagi hasil. Jika sehari dapat seratus ribu, maka saya sebagai pemilik kuda mendapat bagian lima puluh ribu rupiah. Tapi sekarang lagi sepi, Pak. Nanti setelah lebaran baru akan ramai tanggapan.”
            “Tanggapan apa, Pak?” saya tak mengerti apayang dimaksud tanggapan.
           “Ya usah hari raya idul fitri,  biasanya banyak yang punya hajat menanggap “ jharan kenca’”. Lumayan, Pak. Satu kuda untuk melakukan atraksi di tempat hajatan honornya Rp.550.000. Biasanya kalau hajatan sepeti itu mengundang tiga ekor kuda.”
            Sampai saat ini menurut lelaki tua itu masih ada yang menanggap “Jharan Kenca’”; Hajat  mantenan, sunatan di beberapa desa di wilayah Sumenep. Raut lelaki itu terlihat ceria saat menceritakan tanggapan yang didatanginya di beberapa desa di kecamatan lain. Konon, menurutnya Si Anak Manja dibelinya tiga tahun yang lalu seharga 12 Juta rupiah.tetapi saat ini sudah ditawar dengan harga 20 juta rupiah.
            Kuda yang bagus, bersih, dan ramah. Lelaki itu pula mengisahkan untuk kuda-kudanya ia memberikan rumput pilihan. Rumput gajah. Jika musim kemarau seperti sekarang, makanannya adalah tabungan rumput yang telah dikeringkan sebagai cadangan makanan yang telah dipersiapkan.
            “Dilatih sendiri kudanya,Pak?”
            “Tidak Pak. Pelatihnya, tadi yang minta Bapak naik kudanya. Dia salah satu pelatih “Jharan Kenca’” yang cukup dikenal di kawasan ini.”
            Lelaki tua itu kemudian pamit meninggalkan saya mau menawarkan jasa pada sepasang pengunjung yang baru datang di kawasan pantai. Jika anda sempat berkunjung ke pantai Lombang, jangan lupa naik kuda, sebab dengan naik kuda para pemelihara Jharan Kenca’ punya penghasilan tambahan. Bila ada penghasilan tambahan mereka akan semangat memelihara kudanya, dan dengan demikian anda turut menyelamatkan tradisi “Jharan Kenca’” yang ada di kabupaten Sumenep.      Lombang, 28 Juni 2015. (Hidayat Raharja)

Jumat, 26 Juni 2015

Hujan Informasi dan Madura yang Dirindukan


Oleh: Hidayat Raharja



…Sebab,kemanapun tubuhku pergi,/

kaki ini rindu rumah sendiri/

madura, kau ayah sekaligus ibuku//

( Benazir Nafilah, Selamat Pagi Madura,halaman 82)



1. Spesies Puisi

                Puisi sebagai salah satu spesies dalam ekologi sastra,merupakan sesuatu yang unik dan menarik. Unik karena dibangun oleh organ kata yang saling berinteraksi membentuk atau membangun makna. Menarik karena puisi bukan hanya bangunan kata-kata namun lebih jauh bisa menjadi sebuah rakaman peristiwa yang tak tertuang dalam pemberitaan (news). Sehingga setiap kali puisi dibaca di waktu yang berbeda, dia bisa memberikan makna yang berbeda.

                Hadirnya banyak buku puisi menandakan bahwa sampai saat ini puisi masih ditulis dan disebarluaskan. Dalam perkembangan teknologi digital –digital printing – dengan sistem POD (Pay On Demand) memungkinkan setiap orang untuk menerbitkan buku. Juga buku puisi. Diantara produktivitas buku puisi yang terus berlahiran di berbagai tempat, maka tidak berlebihan pula jika upaya-upaya untuk mengapresiasi puisi terus-menerus tumbuh dan berkembang.

                Hadirnya buku puisi “Migrasi Hujan” karya Moh. Fauzi dan “Madura: Aku dan Rindu” karya Benazir Nafilah adalah sepasang buku dan juga sepasang keluarga. Pasangan buku dan pasangan keluarga yang sangat menarik. Sepasang buku ini kehadirannya memberikan variasi dari spesies puisi yang ada. Juga sebagai sepasang keluarga merupakan sebuah perkawinan karya antara rindu dengan kegetiran-kegetiran terhadap perkembangan peradaban budaya lokal (Madura).

Permasalahan ini sangat menarik, sebab di satu sisi Benazir Nafilah  merindukan mengenai kearifan budaya lokal yang mampu memberikan karakteristik. Di sisi yang lain M. Fauzi mengungkapkan kegetiran-kegetirannya dengan gempuran budaya asing yang saling sengkarut dengan budaya lokal. Madura yang ada adalah Madura yang dipengaruhi oleh budaya global yang menggelontor. Madura yang saling bersilang dengan berbagai peradaban dunia.

Globalisasi sebagai sebuah gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu keseluruh dunia (sehingga menjadi budaya dunia atau world culture) telah terlihat semenjak lama. Cikal bakal dari persebaran budaya dunia ini dapat ditelusuri dari perjalanan para penjelajah Eropa Barat ke berbagai tempat di dunia ini ( Lucian W. Pye, 1966 ). Persoalan-persoalan yang menarik untuk ditautkan dengan perkembangan peradaban yang terjadi di skala lokal dan global. Lokal dalam artian Madura dalam konteks ke- Indonesiaan atau Indonesia dalam konteks global.

Ritzer dalam Sartani (2004) menyatakan globalisasi sebagai ‘peredaran yang dipercepat’ menciptakan suatu masyarakat global, dimana sensitivitas hubungan personal mulai berkurang atau bahkan tidak ada.Pelayanan sangat impersonal dana bahkan besifat mekanis,sebut saja mesin ATM pelayanan supermaket. Sebuah pelayanan yang dilakukan secara terkontroldan rigit.

Sementara Moendardjito (dalam Ayatrohaedi, 1986:40-41) mengatakan bahwa unsur budaya

daerah potensial sebagai local genius karena telah teruji kemampuannya untuk bertahan sampai sekarang. Upaya-upaya untuk mempertahankan kearifan lokal banyak ditemukan pada beberapa karya penyair/sastrawan (Kelahiran) Madura.



2. Rindu dan hujan yang bendentam

 Menikmati puisi-puisi Benazir Nafilah kita akan bertemu dengan berbagai ikon budaya lokal yang antara lainl; Celurit, jagung, karapan sapi, bakau, laut, nyiur, singkong, tembakau, suramadu, garam, dan beberapa filosofi yang hidup dalam masyarakat Madura. Unsur budaya lokal yang menjadi pilihan kata (diksi) dalam puisi. Sebagai orang Madura yang hidup di tanah Madura,dia tak bisa melepaskan dengan atrbiut kemaduraan tersebut. Hal ini dapat terbaca pada larik berikut:

Jangan tinggalkan jalanan ini/ Sebab kau akan rindu/ Dan mati perlahan/../Jalanan ini/Adalah lubang sekaligus tambal sulam/ tawa kita// (Madura, halaman 57)



Lubang sekaligus tambal sulam. Sebuah konteks peradaban lokal yang babak belur berhadapan dan berbenturan,berinteraksi dengan aneka peradaban yang terus berdatangan bersama arus teknologiinformasi yang masuksampai ke ruang pribadi. Perkembangan peradaban yang kian dirasakan menggerus peradaban lokal, dan dalam interaksinya menimbulkan varian baru sebegai bentuk dinamika yang senantiasa meniscaya.

Terhubungnya Pulau Madura dengan Surabaya melalui jembatan Suramadu, telah memungkinkan mobilitas antar pulau semkain cepat dan perubahan-perubahan ini telah memberikan warna baru bagi kehidupan masyarakat kita.Jarak Sumenep- Surabaya yang semula ditempuh dengan 6 jam di atas bus dengan menyeberangi selat Madura menggunakan kapal Ferry. Kini hanya ditempuh dengan waktu yang lebih singkat sekitar 4 jam, dan antara bibir pulau Madura dengan daratan Surabaya ditempuh dalam waktu hanya sekitar 10-15 menit. Apa yang dirasakan penyair dengan jembatan Suramadu terlihat pada sepotong larik berikut:

Suramadu,/Jutaan mata menyerbu/

Melata gugurkan ngilu/ (Suramadu, halaman 54)



Ada ngilu melata. Bagaimana tidak? sampai saat ini Suramadu bagi masyarakat Madura hanya sekedar bentangan yang menghubungkan Madura dan Surabaya. Kontras terlihat ketika membandingkan sisi Madura dengan daratan Surabaya dari jembatan Suramadu.



Senada dengan Benazir, M.Fauzi menejelajah lebih dalam dan jauh ketika Suramadu diproyeksikan sebagai jembatan penghubung yang akan menggerakkan industri ekonomi di Madura.Akan terjadi migrasi kebudayaan yang mobilitasnya sangat cepat dan intens. Perubahan yang akan  menciptakan persoalan-persoalan baru sebagai tantangan kehidupan:

Jembatan itu adalah tulangbelulang juga ikanikan yang berjalan di atas/ gelombang/ samak wajah anakanak di persimpangan/ tissue bakar wajah anakku yang mengasinkan/segala rindu tentang perahu dan nenek moyangku// di selat yang berkarat aku ingat ibu// (Di Selat Madura,halaman 56-57)



Bagi Fauzi perubahan –perubahan yang menggerus peradaban lokal bukan hanya terjadi di tanah Madura.Namun globalisai dan gempuran arus informasi telah mengguncang berbagai kantung-kantung kebudayaan yang ada di berbagai belahan bumi termasuk Indonesia.

/;anakanak tersesat dalam gelap kota persegi empat/pekat melipat nasab dalam segenap dalam sekejap/dalam kartupos yang/ melarikan musim di belakang rumahmu di balik/ punggungmu/pohonpohon pisang berladah getah/tak madura-tak papua-tak jawa-tak Indonesia/ (Kota dan Hujan Kemarin Siang, halaman 61-62)



Hujan deras informasi telah menggenangi kehidupan kita. Genangan yang memberikan perubahan siginifikan dalam hubungan kehidupan antar kita. Bila Nokia di masa kejayaannya mengeluarkan slogan “ Connect the People” betapa hidupkita telah dijajah ileh alat komunikasi yang dinamakan handphone dengan layanan SMS atau pesan pendek, BBM, tweeter,path, dan berbagai sosial media yang terus tumbuh berkembang mengepung kehidupan kita. Kepungan yang telah mengubah pola dan gaya hidup,hubungan antara orangtua dengan anak. Siswa dengan guru, dan ant’ ara mereka. Perubahan yang mengusik rasa rindu. Pola hubungan inimengguncangkan tatanan dimasyarakat Madura dalam hubungan anutan yang sangat populer “Buppa’ babbu’, guru, rato” – Kepatuhan pada kedua orangtua, kepada guru sebagai pengganti orangtua dan Rato sebagai pemimpin pemerintahan yang mengatur dalam hubungan kita berbangsa dan bernegara. Bagaimana Benazir memposisikan ayah ibu dalam larik berikut:

Setiap waktu/kalian adalah cermin rahasia diriku/

Buppa’ban babbu’ engkaulah langit/

yang menyala// (Buppa’ ban Babbu’, halaman 45)



Persentuhan M Fauzi dengan lingkungan rural yang membesarkanya dan perbenturannya dengan perubahan yang dibawa arus teknologi dan informasi telah menggemaskan terhadap eksistensiperadabannya, sehingga tanpa ragu-ragu dia mewadahi seluruh serphan-serpihan benturan peradaban tersebut dalam tubuh puisinya yang kadang terasa tajam menikam perih. Ia tak peduli dengan semua itu. Semua benturan peradaban itu dibenturkannya menjadi sebuah makhluk baru yang bergerak diantara keriuhan benda-benda. Opa, oma,logamata, kakikaki besi, amnesia, inersia,kredit card, Paspor.

Dalam “Dialog Kamar Mandi: Narasi 24 Jam Dari Rindu Yang Terbakar” sebuah puisi yang mengaduk-aduk persoalan-persoalan yang sangat kompleks dan rumit. Hubungan sosial yang mulai renggang dan digugat. Hubungan yang telah menimbulkan saling kecurigan sehingga ada wajib lapor bagi tamu yang tinggal sampai 24 jam. Perubahan-perubahan sosial yang beriring dengan perkembangan politik dan keamanan sehingga dipenuhi dengan slogan dan jargon. Dalampuisi ini terlihata bagaiman kita berhubungan dengan negara dan bangsa lain.bagaimana negara memperlakukan kita sebagai warganya adalah perubahan-perubahan yang bisa menjadi saksi.



                Hujan banyak muncul dalam beberapa judul puisi dalam buku ini. Diksi yang memberikan banyak tafsir keindahan dan kegelisahan dengan berbagai bebunyian yang ditimbulkan. Kadang seperti nyanyian yang menyibak rindu namun disisi lain umpama gemuruh yang membuat pandangan terhalang sehingga harus berbenah untuk menyiapkan dan menyelamatkan diri.



Dalam puisi “Kaca dan Jendela” Fauzi mempertegas gelontoran informasi dan peradaban tersebut sebagai sesuatu yang datang dan sesuatu yang pergi. Sesuatu yang datang memberikan perubahan dan sesuatu yang hilang tergusur oleh arus perubahan itu sendiri.



Wow segenggam kacang tumbuh di kaca jendela memaksaku keluar rumah/dengan tissue basah.wajahmu basah.sayang.seperti irisan warna semangka/turun dari kereta.selamat tinggal.selamat datang.seperti purnama merah saga./dan salju turun dari lenganmu.naga.paku,jarum. Bunda theresia juga di sana./seperti pecahan kaca jendela meninggalkan bahasa. embu’ baru belajar pakai/celana.eppa’ baru saja pulang dengan sandal jepit yang hilang.runcing kaki.api./api.//kapan ayah lembali!//(halaman, 137)



Kalimat yang rapat saling bersesakan ditutup dengan kalimat kapan ayah kembali! Yang diakhiri dengan tanda seru bukan tanya. Ayah yang hilang tidak dipertanyakan tapi ditegaskan kapan akan kembali.

Bgitulah sajak-sajak M.Fauzi yang meleburkan antara modernitas,post modernisme dengan yang bersifat rural,lokal tanpa rasa canggung dan cuek bebek menyanyikan,melantunkan bahkan membuat kelakar.  Dan meyakni bahwa kenangan akan apa yang pernah dimiliki adalah separuh luka dan separuhnya adalah rahasia sebagaimana dalamlarik berikut:



                Sehabis percakapan, sehabis itu gelombang/ aku simpan kenangan yang separuhnya adalah luka/ dan/peta rahasia// (Sehabis Percakapan Sehabis Itu Gelombang. Halaman 8)         



3. Puisi menyaksikan sejarah     

Puisi menyaksikan sejarah./Ia mengucapkannya sekali./

Dengarlah, itu setara dengan semua buku sejarah //

(Rocky Gerung)-tweet 10 Juni 2015

                Maka,sebenarnya membaca puisi adalah menyaksikan sejarah. Menyaksikan sebuah perubahan dalam hidup yang memberikan pesan dan makna bagi setiap pengahayatnya. Karenanya puisi menjadi penting untuk dihadirkan dan dibaca sebab disitu akan terlihat sejarah kehidupan umat manusia dengan berbagai peradaban dan persoalannya.

                Bahwa derasnya arus informasi telah mengubah berbagai tatanan kehidupan ada yang tergusur dan ada yang berinteraksimembentuk varian-varian baru sebagai upaya untuk mempertahankan kehidupan dalam gejolak hidup yang dinamik. Di sini puisi menjadi saksi atas apa yang datang dan me nemui atau ditemui penyair.

                                                                                                                                                Sumenep, 14 Juni 2015





Bacaan penunjang:



Ayatrohaedi, 1986, Kepribadian Budaya Bangsa (local Genius), Pustaka Jaya,Jakarta.

Sartani,2004. Menggali Kearifan LokalNusantara Sebuah Kajian Filsafati.

.( http://jurnal.filsafat.ugm.ac.id/index.php/jf/article/viewPDFInterstitial/45/41

Globalisasi menjadi pertarungan antara Glokalisasi Vs Grobalisasi. http://www.kursikayu.com/2011/06/globalisasi-pertarungan-antara.html