Translate

Rabu, 10 Juni 2015

Puisi dan Rupa BH Riyanto





(membaca Suramadu; kisah kau-aku”)



Oleh: Hidayat Raharja*

Ada berapa selat berapa jembatan ada berapa/angin di hatimu di hatiku, yang terus saja/ bergemuruh; maka, kelak pasti ada berita rindu melambungkan kembali gelombang/ kisah kau-aku bernama; kenangan…// 2012 ( Suramadu #1: kisah Kau aku” halaman44-45)



Puisi masih menjadi spesies yang sangat menarik di antara perkembangan satra Indonesia. Spesies yang selalu berbiak di setiap kantung-kantung budaya sebagai hasil perkawinan antara peristiwa dengan kontemplasi penyair yang tertuang dalam kata-kata. Cinta yang lahir di antara peristiwa (pengalaman penyair),memiliki ruang ekspresi yang amat luas. Ruang cinta yang bisa menghablurkan seluruh jagad menjadi cinta yang hakiki dan abadi. Cinta makhluk kepada sang Khaliq yang tercermin dalamseluruh aspek kehidupan manusia. Di sini pertaruhan pertaruhan puisi cinta dalam puisi yang multiinterpretable. Namun tidak jarang puisi-puisi cinta terjerembab ke dalam percintaan yang dangkal dan menjadikannya sebagai spesies sederhana di tengah habitatnya.

Cinta takkan ada habisnya untuk digali dan ditafsirkan kembali. Cinta terus-menerus menemukan aktualitasnya disetiap jaman beriring dengan pergerakan kebudayaan yang  berlangsung di tengah masyarakat. Di saat dunia teknologi dan informasi belum segawat sekarang, puisi tumbuh di dalam buku diary seorang remaja yang tengah putus cinta atau jatuh cinta. Maka berlahiran puisi-puisi cinta yang sublim maupun yang vulgar sebagai sebuah perjalan spesies di tengah dinamika kehidupan ekosistemnya.

Kekuatan kata-kata adalah organ-organ yang membangun tubuh puisi sedemikian rupa sehingga menjadi tubuh yang utuh dan unik. Satu kesatuan tubuh yang saling melengkapi, berinteraksi  memberikan makna bagi setiap pembacanya. Maka, tidak berlebihan jika setiap pembaca akan memberikan tafsir yang berbeda karena latar belakang literer dan budaya yang dialaminya. Begitulah sebuah puisi akan sellau membukakan pintu tafsir karena kata-kata dalam puisi tidak  sama dengan berita. Puisi bukan bahasa denotatif tetapi konotatif. Bahasa tersembunyi. Maka, wajar jika hidup puisi sebagai spesies yang unik akan memberikan pengalaman dan tafsir baru bagi setiap pembaca.

Spesies puisi dengan keragamannya memiliki kerumitan sistem yang berbeda dan dipergunakan dalam permainan bentuk atau pun gaya ucap yang dilakukan penyair. Sebuah permainan dalam hasrat penuh sipenyair sebab puisi dilahirkan dengan kesungguhan dari permainan kreatif yang dilakukan. Ada kalanya berkelindan dalam sebuah narasi lukisan yang mewakili warna-warna dalam kanvas. Atau bahkan ada yang memcoba memberikan iringan atau padanan dengan lukisan atau gambar yang menjadi ilustrasinya. Macam inilah yang saya temukan dalam buku  Suramadu; kisah kau-aku” diterbitkan  Revka Petra Media- Surabaya (2015) setebal 52 halaman + xii, karya BH. Riyanto. Segenggaman puisi cinta yang amat menarik, dari; (1) sisi kesederhanan kata yang membangun tubuh puisi; (2) ilustrasi yang melengkapi setiap halaman puisi.

                Buku puisi “Suramadu: kau–aku” karya BH Riyanto, merupakan puisi yang gurih tanpa perlu mengernyitkan kening untuk memahami maknanya. Seikat puisi yang menggenggam hasrat untuk mengabadikan pengalaman cinta. Pengalaman pahit yang membuatnya galau atau pengalaman senang yang membuatnya bahagia. Sebegitu sederhana cinta dirajut dan dikekalkan sebagaimana dapat dibaca pada potonganlarik berikut:

Datang ke pestamu/ Bertabur mekar mawar-melati/Pelangi pun bersimpuh/Di binar matamu// ;aku turut bahagia  2001( Pesta#1, halaman 4)

Sebuah pengalaman yang jamak terjadi dan tertanam sebagai kenangan. Sebuah peesta pernikahan. Resepsi  yang dipenuhi canda tawa. Kalau yang bersedih adalah barangkali mantan keaksih ataumereka yang merasakan gagal dan pahitnya perkawinan.

                …Gempur ombakpun kausepikan/ muara hilang laut/ lalu garam terlarut tawar/; mengapa?// Andai kau tahu/ ; cintamu darah cintaku.1994 (Andai, halaman 3)



Pun kemabukan cinta antara dua kekasih, gelora rindu akan bertalu-talu  dengan debar jantung seiruh pukulan ombak  ke bibir pantai. Mabuk yang kemudian hilang kesadaran  sehingga tak lagi tahu batas antara diri dengan di luarnya. Yang lazim jadi tak lazim begitu cinta memutarbalikkan logika. Dengan gamblang penyair menjelaskan di akhir larik; cintamu darah cintaku.

"Perahu"(1994)  Karya Hidayat Raharja - Oil Pastel


Diluar kesadaran kadang sang pencinta mengalami kecewa dan keraguan dan tak paham dengan kekuatan cinta yang bisa menyuburkan kedamaian. Namun di saat yang sama sang pencinta merasakan kesepian yang tak dipahaminya sebagaimana pada larik berikut:



Sungguh, kekasih/ tak kupahami/ tenaga mana yang mengalirkan damai/ di redup matamu/sungguh/ tak bisa kupahami/ lantaran tak kutemui ikan-ikan berenang/di bening airnya. 2005 (Kebekuan, 13)



Cinta di akhir tahun adalah waktu untuk mengukur perjalanan cinta yang telah lalu dan mengukir perjalanan yang akan datang. Bagi BH Riyanto, Tahun Baru adalah momen yang sangat sayang untuk dilewatkan walau hanya sekedar menanti pergantian waktu dan menandai akhir tahun. Ia rekam birahi,lengking, terompet, hujan yang tak diharapkan datang  dan lompatan antara masa kanak dan ketika kini mengantarkan anak untuk menjemput tahun yang terbit. Catatan di antara senang dan kecewa sebab hujan yang jatuh.

Nikmati saja. sambil / kita memainkan mata pada berpasang-pasang/muda-mudi yang kecanduan meniup terompet/  itu. Seperti kecanduan pada hangat ciuman/(juga facebook). Lalu  birahi di akhir lengking/ terompet.// …seperti masa kanak kita dulu. Tapi/ seperti tahun yang lalu juga; kita terjebak/ di rimba hujan. Ya, hujan.(selalu begitu)./ hanya hujan; semoga bukan air matamu!// 2009 (Tahun Baru, halaman 34-36)

Begitulah cinta merasuki setiap orang pun juga penyair yang melahirkan speises puisi dari hasil persetubuhannya dengan pengalaman yang bunting dalam rahim kreativitas. Masa yang memendam kontemplasi untuk mematangkan benih-benih yang tumbuh dan berkembang secara embriologis menjadi spesies. Spesies yang dibangun oleh organ-organ kata yang saling berinteraksi membangun tubuh puisi.

****

Teks dan ilustrasi adalah hal lain yang cukup menarik dalam buku puisi ini. Saya melihat hampirdisetiappuisi ada ilustrasi yang entah ditujukan untuk memberikan tafsir atas puisi atau hanya sekedar pendamping yang tak dipertimbangkan kebersandingannya. Pola semacam ini mengingatkan pada  Gendut B  Riyanto dengan puisi rupanya. Sebuah kreativitas yang memadukan seni rupa dengan puisi. Puisi sebagai teks bukan hanya menyampaikan pesan namun juga memberikan visualisasi yang memperkuat atau memperjelas teks. Dalam buku puisinya “Habis Gelap Terbitlah Gelap  (1994). Gendut menulis bahwa “puisi rupa” adalah “suara, rupa kata, konsep, ide, gerak, kata rupa yang dicabik”. Menggabungkan Lukisan dan puisi juga dilakukan oleh kolaborasi antara Muhammad Taufik (Emte) dengan M Aan Mansyur dalam buku puisi “ Melihat Api Bekerja”  (Gramedia,2015). Kolaborasi antara pelukis dan penyair menurut pengakuan mereka ada saat puisi-puisi tersebut mempengaruhi karya rupa yang dihasilkan oleh Emte namun di lain waktu beberapa puisi tersebut memberikan inspirasi baru sebab ketika draft puisi diberikan,  M. Aan Mansyur masih melengkapi puisinya demikian pula dengan Emte  masih membuat ilustrasi.

                Dalam buku “Suramadu:  kau dan aku” puisi dan ilustrasi dikerjakan oleh BH Riyanto sang penyair. Ini sangat menarik, karena kesehariannya BH Riyanto sebagai guru seni rupa di sebuah SMA dan juga menulis puisi. Beberapa ilustrasi mengisi ruang kosong pada halaman puisi ada upaya untuk memberikan tafsir atas puisi. Ada upaya untuk menyelaraskan pesan  puisi dengan pesan rupa pada visualisasi gambar.

                Menikmati puisi-puisi  “Suramadu ;kau –aku” memasuki petualangan cinta yang galau yang tengah mencari kesejatian di antara debur ombak kehidupan dan hidup yang menjembatani  harapan dan realit
as yang terus bergelegak.

Sumenep,Mei 2015

*Penulis adalah guru biologi dan penikmat puisi.

Senin, 04 Mei 2015

Ayah Guruku


"Dengarlah" - Lukisan Hidayat Raharja

Memperingati hari pendidikan bagi saya sangat sederhana. Bukan dengan upacara yang penuh formalitas atau dengan menyanyikan Hymne Guru. Saya hanya merenungi kembali apa yang telah diperoleh dari dunia pendidikan dan apa yang telah saya berikan kepada dunia pendidikan. Pertanyaan sederhana, hanya untuk diri saya. Saya merasakan bahwa banyak hal yang belum saya perbuat. Banyak hal belum saya lakukan untuk memajukan pendidikan.
Terimakasih saya buat ayah dan ibu. Ayah yang menuntun saya belajar dan diajaknya saya ke tempatnya mengajar, sehingga saya jadi peserta didik yang paling muda di kelasnya. Usia 4 tahun dikelas 1 Sekolah Dasar. Saya hanya dilatih untuk membuat garis lurus, garis lengkung, sehingga tanganku lemas memegang pensil. Lalu diajarinya menulis huruf kapital dan huruf kecil. Saya ikut-ikutan belajar di kelas 1 yang jumlah muridnya sekitar 50 orang. Ya, jumlah yang banyak, karena saat itu belum dikenal keluarga berencana. Dalam satu keluarga memiliki setidaknya 5 anak sehingga benar-benar merupakan sebuah kelauarga besar. Maka dikelas 1 jumlah siswa setiap tahun banyak, namun tak bertahan lama karena beberapa bulan kemudian mereka berhenti.
Ayah yang mengajari saya menulis dan membaca. Di rumah ayah menuliskan huruf kapital dan huruf kecil di atas kertas tebal dengan menggunakan spidol. Ayah mengambil abjad secara acak dan saya menyebutkannya. Demikian selalu sehingga saya benar-benar mengenal huruf dan bisa membaca. Di kelas satu saya sudah bisa membaca dengan baik. Ayah selalu memotivasi agar saya giat belajar. Sampai saya menyelesaikan pendididkan dasar di usia 10 tahun.
Waktu di Sekolah  Dasar kelas V ayah mengajari saya membaca puisi dan membacakannya di panggung Agustusan di halaman kantor kecamatan. Puisi berjudul “Pahlawan”, puisi pertama kali yang saya bacakan di atas panggung. Ini barangkali awal saya mencintai dunia puisi. Meski kemudian dilarang oleh ayah untuk membaca buku-buku fiksi, diam-diam saya membacanya sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan ayah.
Untuk memasuki SMP saya harus mengikuti tes tulis di SMP Negeri 1 Sampang. Ayah menyuruh saya mencobanya,jika tidaklulus saya diminta untukmengikutikembali pelajaran kelas VI dan mengikuti ujian masuk SMPdi tahun berikutnya. Tak dinyana, hasil tes yang saya diikuti dinyatakan lulus dan diterima di SMP 1 Sampang. Betapa girang hati saya. Sepulang melihat pengumuman saya memberikan kabar gembira kepada ayah dan ebuk bahwa saya diterima di SMP 1 Sampang. Ayah sempat ragu-ragu apakah saya harus melanjutkan ke SMP atau mengulang lagi di kelas VI. Saya menangis memohon kepada ayah untuk mencoba sekolah di SMP 1 Sampang. Hari berikutnya baru ayah memutuskan saya boleh melanjutkan ke SMP dan membayar uang seranag lengkap saat itu Rp. 15.000 (lima belas ribu rupiah). Aku paham kekhawatiran ayah, karena jarak dari rumah ke SMP sampang 14 Km. setiap hari saya harus naik angkutan umum bersama dengan bakul sayur ke kota, tentu dengan uang transpor yang harus disediakan setiap hari. Barangkali ini salah satu keberatan ayah.
Memasuki SMP di kota Sampang, ada perubahan jadwal kegiatan harian baru. Saya harus bangun pagi jam 04.00 wib, sholat subuh dan menyiapkan berangkat sekolah, sarapan pagi. Pukul 05.00 saya harus sudah keluar rumah untuk menunggu angkutan umum yang mengangkut bakul sayur ke kota Sampang. Pukul 05.30 mobil angkutan sudah berangkat. Saya siswa dari kampung yang paling pagi berangkat ke sekolah. Sampai di Sampang sekitar pukul 06.00 dan dari tempat pemberhentian mobil angkutan ke sekolahku berjarak 2 km, saya tempuh dengan berjalan kaki. Pukul 06.15 saya sudah sampai di sekolah yang datang baru tukang kebun yang tengah membersihkan ruang kelas dan halaman sekolah.
Saya sering diolok-olok tukang kebun oleh teman sekampung yang sekolah di SMP 1 Sampang. Tapi saya tak perduli. Ayah dan ibu selalu menyemangati supaya saya bersungguh-sungguh. Lebih baik datang lebih pagi daripada datang terlambat, begitu selalu yang dituturkannya ketika saya mengeluh karena terlalu pagi sampai di sekolah. Pulang sekolah pukul 12.30 saya berjalan kaki ke tempat angkutan jurusan Omben. Siang yang terik. Bila ada teman yang bersepeda kadang aku diboncengnya. Karena sudah terbiasa berjalan kaki, siang terik tak masalah, sebab saya ingin segera sampai rumah.
Pukul 13.00 atau 13.30 saya sudah sampai di rumah, dan ibu sudah menyiapkan makan siang. Ibu yang selalu sabar dan penuh kasih melayani anak-anaknya. Jika ingat ibu, tak terbalaskan jasa yang pernah diberikan kepada anak-anaknya. Hanya doa yang selalu tercurah supaya ibu mendapatkan ampunn-Nya dan berbahagia di alam sana. Amin. Ia hanya menginginkan saya menjadi orang yang berilmu dan  berguna bagi orang lain. Keinginan yang sederhana, sebab bagi ibu tak ada gunanya orang pintar tapi tidak memberikan manfaat bagi orang lain.
Di SMP 1 Sampang, saya pernah hendak mengikuti lomba mengarang yang diadakan oleh Meneteri Pendidikan dan Kebudayaan. Lomba itu saya ketahui dari bapak Derajat guru bahasa Indonesia dan juga wali kelas saya dikelas I-A. Naskah karangan sudah saya buat, empat halaman kertas buku. Karangan mengenai lingkungan. Sambil membuat karangan saya membayangkan  sebagai pemenangnya, dan mendapatkan hadiah. Namun sayang, ketika naskah akan saya serahkan kepada pak Derajat, naskahnya hilang. Saya kecewa, hanya kecewa.  Entah, ini barangkali  yang menjadikan menulis sebagai salah satu aktivitas saya hingga saat ini.
Bila sore tiba ibu memanggil saya dan adik untuk mandi dan bersiap-siap belajar mengaji di langgar. Sebuah langgar kecil dan embah Fudholi dan Mbah Hadiyah yang mengajari saya dan saudara-saudara sepupu dan tetangga dekat. Mbah Hadiyah lebih sering mengajar daripada mbah Fudholi, karena mbah Fudholi lebih sering di Surabaya mengurus dagangan besi tuanya. Saya diajarinya mengeja bacaan Al-Quran, menirukan dan mengulangi. Lambat memang untuk mengerti tapi disini saya merasakan proses belajar bukan hanya membaca tetapi juga belajar mengenal kehidupan. Jika bak kamar mandi mbah kosong maka kami bergantian untuk mengisinya sampai penuh, karena disitu pula saya dan teman-teman mengambil air wudhu. Dari maghrib sampai isyak – kami belajar mengaji. Santri yang sudah lancar membaca membimbing santri yang masih mengeja. Hanya bila malam jum’at kegiatan mengaji diganti kegiatan belajar sholat dan menghafal surat-srat pendek dan beberapa doa.
Usai isyak saya belajar dan mengerjakan tugas untuk pelajaran esok pagi. Kegiatan belajar ini berlangsung sampai pukul sembilan. Istirahat dan sebelum subuh kembali bangun melakukan aktivitas pagi hari menjelang sekolah. Sebuah rutinitas yang berlangsung saban hari, sehingga bila hari sabtu tiba, bahagianya tak terkira. Hari itu hari bebas bagi saya untuk bermain dan melepaskan beban belajar. Sabtu siang sampai minggu sore adalah hari yang menyenangkan. Malam minggu adalah saat nonton acara televisi di rumah H. Mattahir atau di rumah H. Matsaid – kepala desa Temoran.
Pendidikan SMA bagi saya merupakan pengalaman yang paling berkesan. Karena saya memasuki masyarakat yang baru, yaitu kota Pamekasan. Sebuah kota yang menjadi impian saya sebelumnya untuk bisa bersekolah di kota ini. Saya bersekolah di SMA Negeri 1 Pamekasan setelah lulus tes tulis. Sekolah dengan bangunan bersejarah dan banyak hal yang saya timba di tempat ini.
Saya kos didekat sekolah di sebelah Masjid Al-Anshor – Sedandang – jalan KH. Agus Salim. Sebuah tempat kos yang sangat peduli dengan pendidikan penghuninya. Saya bersyukur bisa sampai di tempat ini karena selain sekolah dilibatkan pula dengan kegiatan keagamaan yang berlangsung di masjid. Tiga tahun terasa kesannya sangat mendalam disini saya menempuh pendidikan, bukan hanya mengembangkan intelektual tetapi juga mengembangkan akhlak secara praksis. Terimakasih kepada Bapak Ahmad Hadrawi (Alm) dan Nyai Hasiyah yang telah banyak membimbing saya dalam belajar di kehidupan ini. Mereka adalah guru yang mengajarkan dengan sabar bagaimana belajar yang sebenarnya. Mereka benar-benar sebagai penganti ayah dan ibu yang ada di kampung. Di tempat ini saya mengenal bagaimana semangat belajar dan berkompetisi. Bagaimana   menggantungkan cita-cita setinggi langit supaya tidak jatuh.
Kesenian adalah mata pelajaran yang paling aku suka. Bapak Helmy, terimakasih Bapak, telah memberikan kebebasan saya meuangkan kreativitas. Bapak telah menumbuhkan kepercayaan terhadap apa yang saya kerjakan. Saya pernah ingin mengikuti jejakmu tetapi saya masuk ke ruang kuliah biologi, sehingga kini jadi guru biologi. Namun kreativitas yang telah bapak pantik, kini terus menyala dalam diri.
Sekolah yang saya alami adalah dunia belajar yang sangat menarik. Matematika yang bersudut dan kaku selalu membuat tengkuk gemetar dengan soal-soal bidang dan ruang yang tumpah di papan. Saya hanya berani mengerjakan aritmatika dan aljabar. Bila pelajaran matematika berlangsung yang saya tunggu dentang bel berakhir.
Fisika. Vektor dan arah putaran baut itu lekat di jidat saya, karena ketika saya tidak bisa mengerjakan soal vektor sebatang kapur tulis menyentuh jidat menyuruh saya berpikir. Namun kebencian pada fisika ini kembali punah dengan rasa gembira saat bapak Purwedi Bambang Rusdianto (PBR) mengenalkan belajar fisika 24 jam. Sangat Menarik, dan saya menemukan fisika yang lebih mengasyikkan di tetatralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.
Kimia. Ocatana, dietilmetana. Pusing saya dibuatnya saya ingat nomer atom. Ah, waktu-waktu yang sangat mendebarkan. Saya hanya tertarik dengan kimia lingkungan, sebab disinilah saya merasakan kebermanfaatan ilmu kimia yang saya rasakan jlimet menemukan aktualisasinya.
VOC ( Vereenigde Oostindische Compagnie) sebutan yang snagat lekat dnegan pelajaran sejarah. Ibu Martini yang cantik mengajarkan sejarah, mengenalkan sejarah dengan korporasi VOC yang menguasai wilayah Nusantara. Aku baru paham kemudian jika sejarah bukan hanya tahun dan tanggal peristiwa, namun sejarah adalah bagian dari kehidupan manusia dalam hidup berbangsa dan bernegara. Sejarah yang menempatkan peristiwa sebagai sebuah konteks yang dialogis dan memberikan banyak tafsir baghi setiap peminatnya.
Jangan suruh pidato di depan kelas, karena saya tak bisa mengatur irama pembicaraan. Saya hanya menghafal teks yang saya susun dan dibacakan kembali di depan kelas. Semua tegang,karena memang tak pernah mencoba berpidato di depan kelas. Saya menjelaskan rencana pertarungan Thomas Americo dalam memperebutkan sabuk kejuaraan OPBF. Thomas Americo merupakan petinju Indonesia perta yang menantang juara dunia kelas welter yunior WBC, Saoul Mamby di Jakarta pada tahun 1981.
Saya senang pelajaran PKK. Saya belajar membuat pola dan menjahit baju. Saya diajari memadu-madankan warna kostum yang serasi. Di sini saya mengenal sedikit tentang ilmu fashion. Fungsi gari vertikal dan horizontal yang ada pada kain. Warna netral dan warna kontras. Terimakasih ibu Siti hajar. Saya belajar membuat masakan dan menyajikannya. Kenangan yang sangat mengesankan.
Ada Uki (Achmad Marzuki) teman belajar yang sangat kritis, progressif, darinya saya kenal bagaimana belajar otodidak dan bertanggungjawab, berani dan tidak takut menghadapi tantangan. Ia belajar bahasa Inggris melalui siaran Radio Asutralia dan memperlancar coversation dengan menjadi guide amatir pada saat berlangsung kerapan sapi memperebutkan piala Presiden Republik Indonesia.
Orang-orang yang selalu saya kenang setiap memperingati Haria Pendidikan Nasional setiap tanggal 2 Mei. Kepada mereka saya banyak belajar dan kepada mereka saya banyak berterimakasih yang dengan tulus memberikan ilmunya dan menjadikannya saya seperti sekarang ini. Seorang Guru dan penulis.
                                                                                                                          Sumenep, 2 Mei 2015
                                                                                                                          Hidayat Raharja

Selasa, 21 April 2015

Ayahku Guru dan Seorang Fotografer


"Ayah" -Hidayat Raharja
Saya hanya ingin Ayah sehat dan bisa berkisah lagi tentang masa lalu. Kisah yang menjadikannya kuat menghadapi berbagai tantangan yang ada. Kisah seorang guru Sekolah dasar berhadapan dengan masyarakat yang enggan  menyekolahkan anaknya. Setiap ahad didataginya perkampungan-perkampungan di seluruh desa bertamu kepada warga dan mengajak putra-putrinya disekolahkan di Sekolah Dasar. Ada yang senang hati menerima dan menyerahkan anaknya untuk dimasukkan sekolah. Namun tidak sedikit yang menolak, karena mereka berkeyakinan, sekolah hanya untuk kaum bangsawan dan ambtenar, sementara mereka hanya kaum tani dan akan tetap jadi petani atau buruh tani.
Ayah tak penah menyerah sesekali dia mendapatkan siswa kelas satu sampai delapan puluh siswa. Jumlah yang banyak sehingga harus dipisah dalam dua kelas. Keberhasilan yang menyenangkan walau sifatnya sementara. Sebab, seiring dengan waktu banyak di antara mereka yang berhenti di tengah jalan di bulan kedua atau ketiga. Mereka lebih suka ikut bapak atau ibunya ke ladang atau ke pasar. Tahun berikutnya mereka diajak lagi untuk bersekolah, awalnya senang bertemu dengan banyak teman, namun kemudian mereka kembali berhenti tak mau bersekolah.
Jika dicermati mereka hanya sekolah sampai kelas III atau kelas IV setelah bisa menulis dan berhitung mereka sudah merasa cukup untuk menimba ilmu sebagai bekal  hidup mereka bermasyarakat. Jika anakperempuan setelah mengalami menstruasi pertama, mereka dianggap telah dewasa dan berhenti sekolah untuk menikah. Bukan hal aneh, perkawinan usia dini merupakan hal yang lumrah. Sebab, jika anak gadis tidak segera menikah dianggap tidak laku dan akan menjadi pergunjingan di kampung.
Bagi anak laki-laki setelah menamatkan bangku Sekolah Dasar, dengan selembar iiazah tersebut mereka mendatangi kota Surabaya atau ke daerah lain untuk menjadi buruh pabrik. Ya,kota besar jadi magnet bagi mereka. Keramaian dan segala fasilitasnya menjadi daya tarik mereka untuk mendatangi meski tidak punya bekal keterampilan. Jadi penarik beca, kernet angkutan umum, pemilah logam di pengolahan besi tua,dan semacamnya merupakan sasaran pekerjaan yang mereka tuju.
Setiap lebaran mereka datang dengan aneka asesoris kota yang mereka bawa.Gaya bicara, berpakaian dan juga mode rambut menirukan orang kota. Meski, kadang terasa dan terlihat gerak tubuh yang berbeda. Banyak kisah yang mereka tuturkan selama berada di rantau. Kehidupan kota yang menakjubkan bagi mereka. Pergaulan kaum muda dan aneka hiburan yang memanjakan mata yang melihatnya. Mereka jadi magnet baru bagi anak-anak muda di kampung halaman. Daya tarik yang menggoda lainnya untuk mendatangi kota besar.
Ayah hanya menginginkan mereka menempuh pendidikan yang baik, sehingga mereka bisa mengubah nasibnya. Namun bagi mereka, bekerja dan menghasilkan uang adalah hal utama. Sekolah tak menjamin mendapatkan lapangan pekerjaan, jawab mereka ketika diajak berdialog.
                “ Orang menuntut ilmu, bersekolah itu wajib.  Apabila seseorang berilmu, memiliki pengetahuan, keahlian, maka dia berbeda derajatnya dengan orang yang tidak terdidik.” Jelas Ayah.
                Kadang saya tidak paham dengan apa yang dilakukan ayah. Dia mengorbankan  seluruh tenaganya untuk memajukan pendidikan di kampung.  Bagi anak-anak yang berbakat dan memiliki kecakapan  lebih di antara yang lain diberikan tambahan pelajaran sore hari secara gratis. Pengorbanan yang  membuat saya iri. Kadang  saya sebagai anaknya merasa kurang diperhatikan. Ini hanya perasaan saya. Sebab ketika memberikan tambahan pelajaran,saya sering diajak untuk menemani mereka.
                Dalam kehidupan bermasyarakat seringkali ayah mendampingi masyarakat mengurus persoalan-persoalan berhubungan tata pemerintahan. Sering saya melihat ayah membantu keluarga  yang mengurus uang pensiun bagi ahli waris yang ditinggalkan. Dan yang tak dapat kulupakan adalah keinginannya untuk  mengubah kebiasaan masyarakat menggunakan peralatan dapur dari bahan logam ke peralatan pecah belah seperti piring, cangkir, dan gelas dengan mengadakan arisan pecah belah yang dilotre setiap senin dan kamis. Uang hasil arisan sebelum dibelanjakan dipnjamkan kepada pedagang kecil di pasar, tanpa bunga.
                Dari sinilah pergaulan ayah semakin luas ke desa-desa sebelah. Dia merasa senang jika para pedagang yang meminjam modal usahanya terus berkembang. Banyaknya persaudaraan yang dimiliki,Ayah mengembangkan usaha dengan bisnis fotografi. Ya, ayah belajar fotografi pada temannya di kota Pamekasan, membeli kamera murahan dan mencucicetaknya ke Pamekasan. Pengalaman baru, karena keterampilan itu di kampung masih merupakan barang langka. Foto dengan kamera analog dan mempergunakan rol film merek Kodak. Satu rol berisi 36 gambar dengan warna black white. Foto yang mewah dan saat itu saya dan adik sering kali jadi model ayah untuk manfasihkan keterampilannya. Ayah orang yang pertama kali memperkenalkan fotografi di kecamatan Omben.
                Waktu-waktu yang sangat membahagiakan. Seringkali ayah diundang untuk memotret resepsi pernikahan dikampung-kampung yang jauh. Jika malam ayah mesti mengajak salah seorang kerabat untuk menemaninya dengan mengendarai sepeda onthel. Satu-satunya moda transportasi yang banyak digunakan di waktu itu. Pulang dari kondangan pasti  Ayah  akan banyak membawa oleh-oleh jajanan dan nasi. Jajanan yang akan sampai tetangga sebelah rumah karena banyak.
                Dari hasil pemotretan yang ayah lakukan, saya banyak tahu ragam pengantin di kampung-kampung yang jauh. Pakaiannya khas dengan warna norak dan kaca mata hitam. Ada yang ditandu dengan tandu berbentuk pesawat terbang pengantin diarak keliling kampung. Juga adapula yang diiringi dengan “Jaran Kenca’”.
                Ayah dikenal sebagai tukang foto Amatir yang memenuhi undangan dari kampung ke kampung sampai acara-acara resmi di kecamatan. Karena usaha makin maju, ayah kemudian membeli alat cetak foto hitam putih dena menjadikan sebagian kamar tidur sebagai kamar gelap untuk mencucui  dan mencetak foto. Sesekali saya melihat bekerja di ruang gelap yang diterangi dengan lampu dop warna merah. Warna cahaya yang aman bagi kertas foto supaya tidak gosong atau terbakar.
                Hal paling menyenangkan bagi saya adalah ketika ayah berbelanja perlengakapan fotografi ke kota Pamekasan. Aya kadang diajaknya serta, dan berkunjung ke teman ayah yang mengajari fotografi, pak Affandi. Pak Affandi ternyata memberikan ilmunya pada beberapa orang yang mau belajar fotografi. Mereka yang akan menjadikan fotografi sebagai sandaran hidupnya. Di antara murid-muridnya ada aturan tidak tertulir yang diterapkan pak Affandi mereka bisa buka usaha asal di tempat yang berbeda. Mereka tidak boleh bersaing di antara mereka.
                Usaha fotografi  dan arisan pecah belah berkembang  maju, dan kemudian ayah mengembangkan usaha foto berwarna. Jika hitam putih dicetak sendiri sedangkan kalau foto berwarna ayah mencetaknya di studio foto di kota Pamekasan. Ayah makin sering menghadiri undangan memotret resepsi pernikahan bagi keluarga tertentu yang ekonominya cukup mapan bisa pesan dua sampai tiga rol. Foto-foto penikahan yang sangat menarik dengan kostum dan dandanan yang sangat berbeda dengan keseharian.
                Saya ingin ayah sehat dan kembali berkisah masa lalu yang membangun kehidupan saya dan saudara-saudara saya saat ini. Diantar anakku yang laki-laki. Saya menuju terminal  Arya Wiraraja - Sumenep menumpang bis AKAS ekonomi jurusan Jember – Banyuwangi. Pukul 14.00 Bis keluar dari terminal. Di pertigaan kota seorang penumpang laki-laki naik Pak Haji Udin. Saya mengenalnya dan bertegur sapa menanyakan tujuan. Dia mau keBangkalan. 
                Bis  maju perlahan,  di perjalanan ada beberapapenumpang naik, dan kondektur mulai meminta uang ketika mau membayar,ternyata didahului pak Haji Udin. Uang yang saya keluarkan dimasukkan lagi ke dalam dompet. Udara gerah dan angin dari pintu depan cukupmenghilangkan rasa panas dipermukaan kulit. Rasa kantuk tak tertahan dan sya tertidur pulas dengan keringat membasahi wajah. Saya baru terbangun saat bis akan memasuki terminal Pamekasan.
Di terminal Pamekasan bis tidak berhenti lama, hanya beberapa menit menaikan penumpang, melaju lagi ke arah Sampang. Saya tuntaskan rasa kantuk dengan sesekali tertidur dan terbangun ketika bis melewati lobang jalan. Sekitar pukul 16.00 bis memasuki terminal Sampang. Saya bersiap turun dan makan siang di terminal di bakso Goyang Lidah . Semangkuk bakso, sepotong lontong dan segelas es jeruk.
Saya berjalan keluar terminal ke arah selatan menuju ke jembatan Glugur menunggu angkutan umum  jurusan Omben. Baru bersandar dipagar jembatan ,mobil jazz warna ungu menepi dan membukakan jendela.
“Omben,Pak?!” ajaknya
Saya bingung, karena saya tahu ini bukan mobil angkutan umum. Jendela dibuka dan pengemudinya dengan ramah mengjak saya naik.
“Ayo Pak temani, saya sendirian biar ada yang bisa diajak ngobrol. Dia membukakan pintu. Saya masuk dan dia membuka pembicaraan bahwa apabila berkendara sendirian dia sering mengajak orang lain yang searah tujuan.  Ternyata pengendara ini orang sangat menyenangkan.Bebrapamenit kemudian pembivcaraan menjadi akrab karena kebetulan dia bertugas sebagai penyalur adana bantuan dana dari Kemneterian Pendidikan dan Kebudayaan untuk komunitas seni budaya yang ada di Jawa Timur.
Dahiburahman dipanggil Dahib, begitu dia memperkenalkan diri. Tak terasa perjalanan sampai dipetigaan  jalan menuju karang penang dan kekanan ke arah Omben. Saya minta ijin untuk turun dan Mas Dahib melanjutkkan ke arah utara ke desa Talamba.
Saya hanya ingin Ayah sehat dan bisa berkisah lagi tentang masa lalu. Sampai di rumah saya lihat ayah tengah bermain catur olahraga kesukaannya ketika masih muda. (hidayat raharja)