Translate

Selasa, 28 April 2009

BELAJAR DAN MENGAJAR BIOLOGI YANG MEMBEBASKAN

Oleh : Hidayat Raharja*

Perlakukanlah orang lain sebagaimana mestinya, maka anda membantu mewujudkan berbagai potensi mereka – (Goethe)
Peserta didik adalah individu yang unik. Setiap individu memiliki keunggulan yang berbeda . Maka tidak berlebihan jika setiap anak memiliki potensi untuk berkembang menjadi individu yang berprestasi. Bakat-bakat yang terpendam bisa dilihat dari perilaku anak yang khas, berbeda dari yang lain Sehingga seringkali kenakalan yang ditunjukkan seorang anak merupakan gambaran kecerdasan yang dimiliki anak bersangkutan.

Kecerdasan peserta didik dapat ditunjukkan oleh kenakalannya, adalah sesuatu yang menarik untuk ditekuni dan ditelusuri pada setiap pribadi anak. Sebab, disitulah akan terlihat apa yang disenangi anak. Namun seringkali orangtua atau guru tidak suka melihat peserta didik melakukan kesalahan atau melakukan sesuatu yang tidak disukainya. Suatu larangan kadang membuat peserta didik takut untuk melakukan apa yang disukainya, dan sebenarnya itu merupakan bakat dan kecerdasannya yang harus dikembangkan.


Foto. Siswa SMA negeri 1 Sumenep tengah melakukan praktikum fermentasi /respirasi anaerob

Howard Gardner ( 2002) memaparkan ada sembilan kecerdasan yang dimiliki manusia. Multiple intelegent atau kecerdasan majemuk mencakup; kecerdasan bahasa - linguistik, cerdas logika -matematis, cerdas gambar- spasial, cerdas tubuh - kinestetik, cerdas musik- musical, cerdas bergaul - interpersonal, cerdas diri- intrapersonal, cerdas alam - naturalis, dan ada kecerdasan eksistensial.

Aneka macam kecerdasan tersebut membuka kesadaran bagi orangtua atau guru bahwa seseorang yang tidak pintar matematika, bukan berarti tidak cerdas. Sebab, bisa saja seseorang yang tidak cerdas matematika memiliki kecerdasan musikal. Bagi mereka yang memiliki kecerdasan musikal terbuka peluang untuk mengembangkan kecerdasannya menjadi sebuah profesi yang dapat menjadi sumber penghidupannya. Siapa yang akan menyangkal bahwa David Beckam memiliki kecerdasan kinestetiuk dan menjalani profesinya sebagai pesepakbola. David mendapat bayaran mahal hanya dengan keterampilannya menggiring, menendang, dan memasukkan bola ke gawang lawan. Dia menjadi bintang pop, kaya dan menjadi ikon kesuksesan pesepakbola. Apakah peserta didik yang memiliki kecerdasan kinestetik dianggap tidak cerdas dibandingkan dengan mereka yang cerdas matematika.

Suatu ketika seorang peserta didik meminta ijin kepada guru di kelas karena ia harus latihan teater untuk mengikuti festival teater tingkat nasional. Guru biologi cemberut saat siswa tersebut meminta ijin, karena beranggapan anak tersebut meremehkan mata pelajaran biologi. Sehingga, meski diijinkan tidak mengikuti pelajaran peserta didik dibebani dengan tugas yang amat memberatkan. Hal semcam ini banyak ditemui di lingkungan sekolah formal, karena masih banyak persepsi bahwa cerdas hanya sebatas pintar matematika dan mata pelajaran IPA mau pun bahasa Inggris.

Dalam perkembangan dinamika kehidupan, banyak hal yang bisa dikembangkan pada peserta didik. Dia tidak hanya dituntut untuk cakap secara akademis, tetapi perlu pula dibekali dengan kecakapan hidup (life skill). Kecakapan yang kelak akan sangat bermanfaat bagi kehidupannya di tengah masyarakat. Kecakapan yang akan sangat membantu untuk mempertahankan hidup di tengah masyarakat yang heterogen.

Kecakapan hidup tidak semata-mata terkait dengan motif ekonomi – keterampilan untuk bekerja, tetapi juga menyangkut aspek sosial budaya seperti cakap berdemokrasi, ulet, memiliki budaya belajar sepanjang hayat, pendidikan yang memberi watak dan etos.

Implementasi kecakapan hidup di dalam sekolah menengah Umum terfokus kepada lima hal:
(1) Reorientasi pembelajaran menuju pembelajaran dan evaluasi yang efektif,(2) Pengembangan Budaya Sekolah, (3) peningkatan efektivitas manajemen sekolah, (4) Penciptaan hubungan sinergis sekolah – masyarakat, dan (5) pengisian muatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat, termasuk pendidikan kecakapan vokasional ( Direktorat Dikmenum, 2002:24).

Kecakapan hidup adalah kecakapan yang dimiliki sesorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya.
Kecakapan hidup dapat dipilah menjadi 4 jenis, antara lain;
Kecakapan personal (personal skill) mencakup kecakapan mengenal diri (self awarness) dan kecakapan berpikir rasional (Thinking Skill).
Kecakapan sosial (social skill)
Kecakapan akademik (academic skill)
Kecakapan vokasional (vokasional skill)
(direktorat Dikmenum,2002. Konsep dasar dan Pola Pelaksanaan Pendidikan Beroirientasi Kecakapan Hidup (Life Skill) di SMU melalui Pendekatan Pendidikan Berbasis Luas (Broad Based Education)

Dr. Avernon Amagnensen (De Porter,2000) menjelaskan bahwa kita kita belajar; 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan dengar, 70% dari apa yang kita katakan, dan 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan.
Jika menyimak pendapat Amagnensen, penganekaragaman media dan sumber belajar akan sangat membantu penegmbangan kecerdasan peserta didik. Perkembangan peralatan teknologi memungkinkan untuk penganekaragaman pembelajaran dengan senantiasa meningkatkan peran guru sebagai fasilitator, dan menjadi partner belajar peserta didik.
Sayang, jika potensi dalam diri anak-anak kita di usia remaja terhambat perkembangannmya hanya karena persepsi guru yang keliru memaknai kecerdasan. Anggapan semacam ini perlu dicarikan solusi untuk senantiasa mengembangkan kecerdasan peserta didik yang beraneka ragam, sehingga kelak mereka bisa menyelamatkan dirinya dengan memanfaatkan berbagai kecerdasannya dalam kehidupan.

Alam membekali anak dengan kepekaaan pada keteraturan. Kepekaan yang berasal dari dalam diri bukan membedakan objek, melainkan lebih membedakan kepada hubungan antarobjek itu sendiri. Dengan demikian, kemampuannya ini membentuk keseluruhan lingkungan yang terdiri-dari bagian –bagian yang saling bergantung. Ketika seseorang dihadapkan pada lingkungan ini , dia akan dapat mengarahkan kegiatannya untuk mencapai tujuan- tujuan tertentu. Lingkungan semacam ini adalah dasar bagi kehidupan yang terintegrasi ( Maria Montessori, 1972:55).

Pandangan Montessori mengingatkan pada orangtua dan guru, bahwa anak memiliki bakat yang akan berinteraksi dengan alam lingkungannya, dan mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi berdasarkan pengalaman yang diperolehnya.

Dalam kehidupan belajar di kelas dengan aneka ragam siswa yang berbeda latar belakang dan kepentingan membutuhkan adanya suatu aturan-aturan atau keterauran sehingga mereka bisa belajar saling berinteraksi sekaligus bisa memenuhi kebutuhan bersama. Maka dibutuhkan kesepakatan-kesepakatan, penghargaan, hukuman dalam setiap permainan atau pembelajaran yang dilakukan. Sepantasnya jika ada anak yang melakukan pelanggaran untuk mendapatkan hukuman, sebaliknya bagi mereka yang berhasil melakukan sesuatu dengan baik patut mendapatkan penghargaan atau merayakannya.


Jika satu-satunya alat yang ada pada Anda adalah palu, Semua yang ada di sekitar Anda akan kelihatan seperti paku. (Abraham Maslow)
Guru menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan belajar seorang anak. Guru sebagai partner belajar perlu memahami kebutuhan dan latar belakang anak yang berbeda. Pemahaman semacam ini amat penting, karena akan berpengaruh pada yang akan dilakukan guru terhadap peserta didik. Sebagaimana yang dikemukakan Maslow, jika guru hanya memandang peserta didik dengan satu sudut pandang, maka semua kan diperlakukan sama. Guru perlu memiliki banyak alat untuk dapat membantu peserta didik mengembangkan diri dan kemampuannya, sehingga bisa berkembang secara optimal.

Peran guru sebagai fasilitator akan sangat dipengaruhi oleh kecakapan guru dalam memahami keberagaman latar belakang dan kebutuhan anak, sehingga guru harus memiliki aneka macam pilihan tindakan terhadap peserta didik yang berbeda. Pemahaman yang akan mampu melejitkan kemampuan peserta didik. Banyak alat atau strategi yang dimiliki oleh guru sehingga bisa menghidupkan suasana kelas dan memenuhi tuntutan kebutuhan yang berbeda.

Di era perkembangan teknologi ionformasi dan komunikasi yang demikian pesat, guru tidak lagi menempatkan dirinya sebagai satu-satunya sumber informasi bagi anak didiknya. Guru berada dalam posisi partner belajar siswa, personal yang mampu menemani, membimbing, dan mengarahkan siswa untuk menemukan potensi diri, sehingga anak didik memiliki pengalaman belajar yang bermakna bagi hidupnya. Pertaruhan berat bagi guru yang kepalang terbiasa dengan sikap dominan dan diktator. Namun amat mulia dan berbahagia bagi mereka yang mampu menempatkan diri sebagai partner belajar. Posisi yang demikian itu akan menciptakan suasana belajar yang bisa saling berbagi dan demokratis. Sikap terbuka seorang guru yang akan selalu bersikap terbuka untuk melakukan inovasi pembelajaran.

PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang saling asah, silih asih, dan silih asih antara sesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata.
Elemen dalam pembelajaran kooperatif ;
saling ketergantungan positif
interaksi tatap muka
akuntabilitas individual
keterampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi atau keterampilan sosial yang secara nyata sengaja diajarkan
( Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK) Nurhadi, Agus Gerard Senduk, Malang: Universitas Negeri Malang, 2000: 60)

Kemajuan teknologi telah membukakan kesempatan bagi semua orang untuk ikut berpartisipasi. Komputer telah secara efektif “Mendemokratisasi” bidang-bidang tersebut sehingga semua orang yang punya komputer pribadi, sepotong ide mampu menjadi produsen informasi secara aktif (Bengkel Kreativitas, 2002: 284). Jordan E Ayan. Bandung: kaifa)


Suatu kenyataan yang masih sering kita temukan dalam proses pembelajaran di kelas, guru masih mendominasi sebagai satu-satunya sumber informasi. Anak didik hanya sebagai obyek yang terus-mnerus dicecoki tanpa pernah diberi kesempatan untuk melakukan aktualisasi diri, dan menentukan dirinya sendiri.

Tidak sedikit guru yang selalu menumpahkan kesalahan kepada peserta didik saat hasil ujian yang dilakukan menunjukkan ketuntasan belajar yang dicapai tidak memnuhi tuntutan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Seringkali siswa yang disudutkan tidak mau belajar. Pada hal siswa sudah belajar untuk mendapatkan nilai yang terbaik. JiKA demikian masihkah sumber kesalahan hanya berpusat pada diri peserta didik? Tidak dapat saya bayangkan jika seorang siswa SMA harus melahap dan menguasai 13-17 mata pelajaran setiap minggu. Dapat dipastikan setiap siswa tidak mungkin untuk menguasai mata pelajaran sebanyak itu. Kalau tawaran Neil Postman (2002) kita telaah mampukah guru lebih unggul dari siswanya? Andai guru mempelajari tiga belas mata pelajaran selama satu minggu dan murid hanya diberi kewajiban untuk mempelajarti satu mata pelajaran, kemudian dilakukan tes sebagaimana guru melakukan tes terhadap siswanya. Apakah guru mampu menguasai tiga belas mata pelajaran yang dibebankan kepada murid-muridnya? Tentu saja tidak !

*****

Belajar Yang Mengasyikkan

Benarkah sekolah formal telah berubah menjadi penjara. Gedungnya di batasi oleh tembok-tembok yang memisahkan penghuninya dari lingkungan sekitar dan lingkungan sosialnya. Guru-gurunya laksana sipir penjara yang mengawasi setiap aktrivitas siswanya seperti yang diperintahkannya. Setiap keslaahan harus diimbali dengan hukuman fisik tanpa pernah mencari tahu duduk persoalan datangnya pelanggaran.

Kritisi yang dibangun oleh Paolo Fraire bukan sesuatu yang musathil jika sekolah hanya memandang hubungan guru dengan anak didik sebagai hubungan antara subjek dengan obyek. Guru sebagai subyek yang menguasai dan murid sebagai obyek yang dikuasai. Suatu sikap dominansi yang seringkali berwujud sebuah penindasan dan pemaksaan sehingga peserta didik menjadi tidak berdaya. Gambaran ini muncul karena sekolah pada umumnya tidak mampu memfasilitasi kebutuhan anak didik yang beraneka ragam. Peserta didik dengan latar belakang dan kemampuan yang beraneka ragam tetap diperlakukan dengan cara yang sama.

Peserta didik hanya dijadikan sebagai obyek bukan subyek yang dinamis yang bisa berkembang dan memiliki kreativitas. Anak didik hanya dilihat sebagai benda yang seperti wadah untuk menampung sejumlah rumusan/dalil pengetahuan. Semakin banyak isi yang dimasukkan oleh gurunya dalam “wadah” itu, maka semakin baiklah gurunya. Karena itu semakin patuh wadah itu semakin baiklah ia. Pada hal banyak hal yang ada dalam diri siswa yang berbeda dengan guru yang harusnya berkembang sebagai kepribadian dan karakter siswa yang unik. (Pendidikan Yang Membebaskan Menurut Paulo Freire dan Relevansinya dalam Konteks Indonesia oleh Marthen Manggeng, INTIM - Jurnal Teologi Kontekstual Edisi No. 8 - Semester Genap 2005:41)

Sekolah sebagai minisocity tidak lagi mencerminkan sebagai ruang penjara, namun sebagai ruang yang mencerminkan miniatur masyarakat. Kepala sekolah sebagai top manajer yang menjalankan roda pemerintahan dalam sekolah, guru dan staf tata usaha sebagai pelaksana kebijakan sekolah untuk melayani masyarakat sekolah, antara lain adalah anak didik yang tengah menenmpuh pendidikan dan belajar di dalamnya. Belajar hidup melalui aneka kegiatan intra kurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler, sehingga memperoleh pengaalaman hidup bermakna untuk bekal kembali ke etngah-tengah masyarakatnya.(Dinas P dan K Jatim:2004)

Sekolah tidak bisa memungkiri untuk menjadi sebuah lembaga yang mampu mengembangkan dan melejitkan sembilan potensi kecerdasan yang dimiliki oleh anak didik sehingga kelak mereka setelah keluar dari lembaga persekolahan mampu menyelamatkan diri menghadapai ancaman dan tantangan hidup. Mereka menjadi manusia yang mampu berinteraksi di tengah masyarakatnya tanpa kehilangan identitas di tengah percaturan masyarakat global.

Untuk mencapai ke arah pembentukan kepribadian yang sesuai dengan bakat dan minta atau kecerdasannya yang beraneka ragam, maka sepantasnya kalau anak didik diperlakukan tidak sama dalam belajarnya.

Pembelajaran yang dapat dilakukan dengan menempatkan siswa sebagai subyek belajar dengan aneka pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM). Tuntutan pembelajaran semacam ini adalah mutlak dilakukan untuk membebaskan anak dari tekanan-tekanan belajar yang membuat mereka ketakutan. Sebagaimana juga diamanatkan dalam UU Sisdiknas tahun 2003 bahwa, pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis(Depdiknas RI, 2003:28)


Hal ini amat menarik dilakukan, karena kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk melakukan aktualisasi diri akan ditemukan keunikan dan beraneka macam kecerdasannya. Juga hal semacam ini merupakan amanat yang termaktub dalam peraturan pemerintah mengenai guru mengenai komptensi guru yang mensyaratkan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurangkurangnya meliputi:
a. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan;
b. pemahaman terhadap peserta didik;
c. pengembangan kurikulum atau silabus;
d. perancangan pembelajaran;
e. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis;
f. pemanfaatan teknologi pembelajaran;
g. evaluasi hasil belajar; dan
h. pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya (PP 74 Tahun 2008 pasal 3 ayat 4 : halaman 6)

Ada sebuah tuntutan untuk membuat siswa bisa “hidup di atas garis”, memiliki sebuah keetrampilan hidup yang kuat, menekankan, dan mempraktikkan: integritas (ketulusan), kegagalan sebagai alat untuk mencapai kesusksesan, hidup di saat ini, berbicara dengan niat baik, komitmen, tanggungjawab, luwes atau fleksibel, keseimbangan ( De Porter 2000: 48 dan 197)


RENCANA KEGIATAN
Pada pelajaran biologi kelas XII - IIA di SMA Negeri 1 Sumenep. Penulis memiliki pengalaman yang sangat menarik di saat bekerjasama dengan siswa untuk menyajikan pembelajaran menurut kesukaan siswa.
Kegiatan ini berawal dari permasalahan kejenuhan siswa terhadap sajian materi biologi yang selama ini mereka terima. Juga dilandasi adanya perbedaan kecakapan yang dimiliki siswa sehingga perlu untuk dilakukan pembelajaran yang lebih variatif.

Pilihan pembelajaran ini dilakukan pada materi Bioteknologi. Siswa dalam kelas dibagi ke dalam sembilan kelompok, dan setiap kelompok diberi tugas menjelaskan setiap macam bioteknologi. Ada kesepakatan-kesepakatan yang tercetus pada saat itu bahwa setiap kelompok diberi kebebasan untuk menyajikan materi sesuai dengan kecerdasan setiap kelompok. Artinya dalam penyajian tersebut siswa diberi kebebasan untuk menyampaikan materi melalui bermain peran, animasi, teater, power point, melalui musikal dan semacamnya.


PELAKSANAAN KEGIATAN
Di awal minggu pada sajian kelompok yang pertama terlihat siswa masih ragu-ragu, kurang percaya diri untuk mempresentasikan hasil kerja kelompok di hadapan teman-temannya. Satu – dua kelompok menyajikan materi dengan ceramah dan diskusi. Masih belum terlihat inovasi yang mereka lakukan. Siswa yang mempresentasikan tugas hasil diskusi kelompok memegang ringkasan materi yang dijelaskan. Sajian semacam ini membuat suasana kelas jadi gaduh, karena kelompok yang lain tidak merespon dengan baik. Penyajian semacam hampir terjadi di seluruh kelas. Monoton dan kurang komunikatif, karena penyaji tidak memperhatikan audiens, sehingga audiens tidak perduli terhadap apa yang disampaikan penyaji.:
1. kelompok kurang kreatif dalam menyajikan materi
2. anggota kelompok belum tahu dengan cara apa bisa memberikan sajian yang menarik
3. kelompok diskusi yang lain sibuk dengan tugasnya sendiri

Observasi:Untuk memberikan stimulasi bagi kelompok yang akan menyajikan presentasi berikutnya secara inovatif, maka penulis menayangkan salah satu tayangan materi pelajaran (konsep) Fotosintesis yang disajikan dengan cara musikal dan teatrikal. Dua materi tersebut penulis unduh dari website –YouTube.

Saat melihat tayangan yang disajikan lewat infocus, siswa seperti terhipnotis menyaksikan tayangan berdurasi 3 menit 36 detik. “Kalian pasti bisa membuat semacam ini dengan kreativitas yang berbeda!” Ajak penulis kepada siswa dalam ruangan. Bagaimana sanggupkah kelompok yang akan tampil berikutnya untuk menyajikan presentasi yang lebih variatif dan inovatif? Dengan suara kompak siswa menyatakan kesanggupannya, “Sanggup!!!”

Pada penyajian di minggu-minggu berikutnya, mulai tampak inovasi dan kreativitas siswa untuk menyajikan tugas hasil diskusi kelompok. Salah satu kelompok yang diberi tugas untuk menjleaskan mengenai fermentasi, menyajikan materi melalui permainan peran.

Bermain Peran Peragian Tempe
Aku adalah kedelai yang telah dimasak dan terkelupas kulitnya.
Aku adalah ragi Rhizopus oligosporus
Dua pemeran tersebut bergerak ke tangah ruangan saling mendekat dan berangkulan yang menyimbulkan kedelai telah ditaburi ragi. Kedua pemeran lalu melakukan gerakan tubuh berputar perlahan, berputar semakin cepat yang menunjukkan berlkngsungnya reaksi fermentasi antara kedelai dengan ragi. Gerakan mereka kemudian terhenti dan bergandengan keluar dari arena; Akulah Tempe.

Sajian yang sangat sederhana, tetapi siswa berusaha untuk membuat alternatif penyajian selain dengan mempraktikan cara pembuatan tempe. Cara seperti ini untuk menguatkan pemahaman siswa bagi mareka yang memiliki kepekaaan kinestetik. Kelompok lain sebagai audiens merespon dengan baik apa yang telah disajikan di hadapannya. Seusai penyajian bermain peran tersebut, dilanjutkan dengan diskusi antar kelompok.

Animasi Pembuatan Beer
Sesuatu yang menarik juga tampak pada kelompok yang menyajikan fermentasi beer. Mereka menyajikan sebuah animasi dengan memanfaatkan kertas kardus sebagai papan animasi.

Salah satu kelompok di penyajian minggu berikutnya menyajikan materi mengenai pembuatan beer. Mereka berbagi peran dan selembar kardus animasi. Bagan proses pembuatan beer digambar dalam selembar karton tebal dan hubungan antar proses pada gambar di buat berlubang. Pada lubang tersebut diberikan tombol yang berguna untuk menunjukkan arah proses yang berlangsung pada proses pembuatan beer.
Sebuah permainan yang cukup menarik sehingga siswa lebih interaktif dan komunikatif dengan teman mereka yang melakukan presentasi. Kerjasama di antara kelompok untuk berbagi peran dan menjadikan suasana lebih komunikatif.



Boneka Pengolahan LimbahPada kesempatan yang lain sebuah kelompok menyajikan presentasi pengoalahan limbah menjadi biogas. Ada Boneka Sapi, Gambar eksoistem ayng ditempel di papan, peran petani yang dimainkan oleh anggota kelompok lainnya.

Presentasi dimulai dari seuah kisah percakanapan antara sapi dengan petani yang ada di tengah perladangan yang luas. Cerita kemudian berlanjut dengan tumpukan kotoran sapi yang ada di tanah lapang, dan kemudian berlanjut kepada penjelasan mengenai pengolahan limbah organik menjadi biogas.

Ide yang cukup menarik dari anak didik untuk mempresentasikan pengetahuan yang dipelajarainya dengan media yang diakrabinya.

Teatrikal Bayi Tabung
Di panggung anggota kelompok membagi peran untuk menjelaskan teknologi bayi tabung dengan berbagai peralatan keranjang, boneka, dan beberapa tulisan besar di atas karton untuk memperjelas permainan peran yang akan dilakukan.Menariknya penyajian kelompok ini dilakukan dengan mengisahkan pasangan keluarga yang merindukan kehadiran seorang anak di antara mereka. Namun, impian tersebut tidak pernah bisa terwujud, sampai kjemudian mereka memutuskan untuk ikut program bayi tabung.

Kisah kemudian berpanjut kepada teknik pembuatan bayi tabung dengan berm,ain peran, ada yang berperans ebagai ovum, sperma dan kemudian proses fertilisasi invitro dan implantasi embrio di dalam rahim. Sampai permainan berakhir ketika sang jabang bayi lahir. Kedua pasangan keluarga itu berbahagia dengan hadirnya anak hasil teknologi bayi tabung yang mereka ikuti.



Bermain Peran Kloning Domba DollyDi sudut aula sekolah beberapa siswa dalam kelompok membagi peran : domba pertama yang diambil ovumnya; domba kedua diambil sel ambing; domba ketiga sebagai ibu titipan (surrogate mother).

Permainan dimulai dengan gerakan tubuh pemeran domba pertama sambil memnunjukkan sel ovum yang digambar dalam selembar kertas ditunjukkan di hadapan audiens. Ada adegan melepas bagian inti ovum sehingga sel telur hanya tinggal wadah.

Pemeran Domba kedua bergerak ke tengah panggung dan menunjukan gerakan yang diambil sel ambing. Inti sel ambing diambil dan gerakan menunjukkan penyisipan inti sel ambing ke dalam sel telur domba pertama. Telur yang terdiri dari fusi antara inti sel ambing dan sel telur diperagakan dengan menyatunya dua pemeran dalam satu pelukan. Untuk menstimulasi telur supaya membelah maka gerakan berikutnya seorang pemeran dengan karton bergambar aliran listrik beregrak di antara dua pemeran yang berangkul sehingga rangkualn terpecah menandakan adanya pembelahan sel akibat kejutan listrik. Adegan dilakukan berulang kali yang menandakan terjadi pembelahan sel telur sehingga menjadi beberapa sel (embrio). Selanjut embriodiimplantasikan ke pemeran domba ketiga (surrougate Mother) sampai proses buinting berlangsung dan ekmudian lahir domba dolly.

Animasi Power Point
Pilihan lain yang tidak kalah menariknya dalam penyajian dengan memanfaatkan teknologi komputer. Program presentasi dalam microsoft power point. Sajian yang cukup menarik karena setiap kelompok penyaji berusaha menampilkan sajiannya secara menarik. Beberapa kelompok mampu memanfaatkan program microsoft power point secara menarik memanfaatkan fasilitas gambar, video, dan animasi secara optimal.

*****

Pengalaman belajar bersama dengan memberikan kebebasan bagi siswa untuk mengekspresikan apa yang telah dipelajarinya mengungkapkan aneka kecerdasan yang dimiliki siswa. Mereka bisa mengungkapkan kesukaan dan kecakapannya untuk memberikan penyajian yang terbaik. Banyak hal tidak terduga muncul dalam penyajian, karena aneka sumber informasi di jelajahi untuk memberikan informasi yang lengkap.



Refleksi:Dari aneka presentasi yang dilakukan siswa ditemukan beberapa catatan reflektif, antara lain:

Siswa merasa dirinya diberikan kebebasan untuk menyajikan suatu yang terbaik bagi teman-temannya.

Ada kompetisi antar kelompok siswa untuk memberikan sajian terbaik dan mudah dipahami.

Interaksi antar siswa cukup menarik, terutama setelah selesai satu kelompok presentasi, maka kelompok yang lain bersiap dengan aneka pertanyaan yang mengarah pada pendalaman materi yang telah dipresentasikan.
.
Kerjasama dalam kelompok terlihat dalam pembagian tugas yang dilakukan oleh setiap kelompok

Munculnya aneka macam kecerdasan (multiple intelegensi) yang dimiliki siswa.

Siswa mampu memanfaatkjan teknologi informasi dalam belajar mereka. Fakta ini terlihat bahwa seluruh kelompok yang melakukan presentasi menjadikan internet sebagai salah satu sumber pencarian informasi.

Sebagian kelompok sudah tidak asing dengan media pembelajaran berbasis teknologi informasi, antara lain:
a.Beberapa kelompok membuat program power point mulai dari bentuk sampai kebtuk penyajian yang mengaplikasikan program animasi dan, auido dan video.
b. beberapa kelompok membawa noteboook sendiri untuk meyakinkan penyajian yang akan mereka lakukan.
c. beberapa siswa merekam presentasi yang dilakukan dengan mempergunakan perangkat yang terdapat dalam handphone.

Sementara bagi guru pemberian kebebasan untuk mencari sumber belajar dan mempresentasikannya di depan kelas memberikan makna yang sangat siginifikan, antara lain:

Penguasaan teknologi informasi. Sbagian besar siswa telah mampu memanfaatkan berbagai sumber informasi berbasis teknologi informasi memberikan arti guru bukan sebagai satu-satunya sumber informasi dalam pembelajaran. Guru menjadi lebih leluasa untuk melakukan pembelajaran yang berorientasi kepada siswa, dan akan tampak perannya sebagai fasilitator dan partner belajar siswa.

Sangat memungkinkan informasi yang disampaikan siswa belum didapatkan guru, sehingga guru dapat sekaligus belajar dan mengembangkan wawasan bersama.

Poisisi guru sebagai partner belajar siswa, akan membuat kedudukan setara secara keilmuan, sekaligus guru bisa mengevaluasi dan mengarahkan jalannya pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk menyerap dan menyampaikan informasi secara leluasa tanpa lepas dari tujuan pembelajaran yang dilakukan.

Pengalaman semacam ini akan memperkuat peran siswa sebagai pembelajar termotivasi untuk menggali informasi dan mengembangkan diri. Siswa secara antusias mencari informasi-informasi baru yang kemudian didiskusikannya bersama di dalam kelas. Guru berperan sebagai partner, fasilitator dan motivator sehingga siswa sebagai subyek belajar dapat melakukan aktivitas secara optimal dan pembelajaran dapat berlangsung secara efeltif dan menyenangkan.

Hasil test terhdap pembelajaran dengan membebaskan anak untuk mencari sumber informasi dan mempresentasikannya sesuai dengan kecakapan atau kesuakaan yang dia lakukan secara menarik dari 163 siswa dari empat kelas rombongan belajar mencapai ketuntasan belajar 99,07engan Kriteria ketuntasan minimal 75. Hanya enam siswa yang harus melakukan program remedial.

Penutup
Belajar adalah sesuatu aktivitas yang menuntut keterlibatan seluruh aspek dalam diri peserta didik sehingga kemudian termotivasi untuk mencari dan menggali sumber informasi. Motivasi yang meniscayakan untuk memungkinkan siswa mengembangkan potensinya secara positif dan berkembang secara dinamis.

Pembelajaran yang memberikan kebebassan bagi peserta didik untuk mencari dan menggali informasi, kemudian mempresentasikan, dan mendiskusikan hasil belajarnya bersama kelompok lain dalam kelas. Perlakuan yang membawa pengaruh positif terhadap aktivitas dan hasil belajar peserta didik, antara lain:
1. Terserapnya aneka informasi yang beraneka ragam dari siswa dan tidak hanya menggantungkan informasi dari guru dan buku paket.
2. siswa mampu memanfaatkan internet dan sumber informasi lain untuk dijadikan sumber informasi dalam proses belajarnya
3. peran guru menjadi lebih tertuju kepada partner belajar dan fasiltator yang mendampingi siswa belajar, sehingga tercapai sistem pembelajaran yang egaliter atau demokratis. Siswa dan guru memeliki kedudukan yang sama, sebagai pencari dan bertukar informasi
4. terbangunnya kerjasama antar siswa baik dalam kelompok atau antar kelompok, sehingga bisa mengasah kecakapan sosial di antara mereka
5. Ketuntasn hasil belajarnya melebihi KKM yang telah ditetapkan 75, dengan prosentase ketuntasan belajar 99,07 %.
Saran

Untuk Guru:Sudah saatnya pembelajaran yang berpusat kepada guru dan perserta didik sebagai obyek harus segera ditinggalkan, karena makin banyak dan kian terbukanya sumber belajar yang bisa diakses siswa.

Siswa sebagai subyek belajar memiliki potensi yang harus bisa berkembang untuk mengaktualisasikan kemampuannya. Aktualisasi kecerdasan yang beraneka ragam ini dapat nmuncul apabila guru memberikan kesemopatan kepada siswa untuk kerja sesuai dengan kecerdasannya.

Untuk Siswa:Semakin terbukanya ruang informasi bersama kemajuan teknologi adalah peluang besar untuk mampu menyerap informasi secara positif sehingga bisa mengembangkan kecerdasan setiap siswa untuk mengaktualisasikan kecerdasannya.






Daftar Pustaka

Amstrong, Thomas. 2002. Seolah Para Juara –Yudhi Martanto (penerjemah) – Bandung: Kaifa.


Gardner, Howard.1993. Multiple Intelegences: The theory in Practice , New york: Basic Book.

Jordan E Ayan, 2002. Bengkel Kreativitas. Bandung: kaifa

Manggeng, Marthen. 2005. Pendidikan Yang Membebaskan Menurut Paulo Freire dan Relevansinya dalam Konteks Indonesia dalam INTIM - Jurnal Teologi Kontekstual Edisi No. 8 - Semester Genap 2005 halaman 41-44

Maria Montessori, 1972- The Secret Of Childhood. New York: Ballantine.

------------,2008.Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

----------,2003. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Depdiknas RI

----------,2005. Penyelenggaraan School Reform dalam Konteks MBMBS SMU- disampaikan pada workshop Bantuan Operasional manajemen Mutu (BOMM) tahun 2004 . Surabaya: Pemprov Jawa Timur – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Subdin Dikmenum.

Postman, Neil. 2002. Matinya Pendidikan Redefinisi Nilai-nilai Sekolah, Yogjakarta:Jendela.

Kamis, 26 Maret 2009

PENDIDIKAN ANTI KKN DAN ANTIKORUPSI

Rencana implementasi pendidikan anti KKN dan anti korupsi melalui mata pelajaran agama, PKn dan bahasa indonesia yang akan dilaksanakan di lingkungan dinas pendidikan dan kebudayaan provinsi Jawa Timur merupakan sebuah respon terhadap upaya pemberantasan korupsi yang merajalela di negeri ini.

Jika diumpamakan tindakan KKN dan Korupsi laksana penyakit, dapat dikategorikan penyakit kanker kronis dan belum ditemukan terapi yang mampu menuntaskan penyakit tersebut sampai ke akar-akarnya.

Dalam konteks pendidikan dan budaya, akutnya tindakan KKN dan Korupsi di negeri ini
Merupakan sebuah indikasi gagalnya pendidikan moral dan akhlak mulia yang sebenarnya merupakan tujuan mulia yang diamanahkan pendidikan nasional kita. Kegagalan yang banyak disebabkan karena pendidikan moral hanya dibebankan kepada guru agama dan PKn, pada hal setiap mata pelajaran memiliki tanggungjawab untuk menumbuhkan dan menanamkan nilai-nilai akhlak mulia.

Jangan-jangan dimunculkannya pendidikan antikorupsi dan anti KKn hanyalah sebuah jargon yang dalam implementasinya akan banyak memberikan beban verbalistik bagi anak didik kita. alangkah baiknya jika semua mata pelajaran yang diampukan dalam pendidikan formal untuk mengimplementasikan pendidikan antiKKN dan antiKorupsi melalui materi yang relevan. Hal ini pantas dilakukan karena secara hakikat pendidikan nasional menghendaki terbentuknya insan yang bertakwa dan berakhlak mulia.

Pendidikan antikorupsi dan antiKKN memerlukan ketauladanan dari para pelaku pendidikan di sekolah dan para pejabat pemerintahan. Kita butuh figur bukan slogan.

Rabu, 11 Februari 2009

REVOLUSI TEKNOLOGI HANDPHONE DAN DUNIA PENDIDIKAN KITA

Oleh: Hidayat Raharja*
Revolusi teknologi komunikasi berkembang demikian pesat, selalu mengalami inovasi untuk memenuhi tuntutan kebutuhan manusia, kenyamanan, dan hiburan. Teknologi sebagai hasil aplikasi sains tidak dapat diingkari telah memberikan aneka dampak bagi kehidupan manusia. Dengan aneka bentuk dan produknya teknologi mampu meringankan tugas manusia, serta meniscayakan untuk men ingkatkan kesejahteraan manusia.

Bentangan jarak antar benua berkat kemajuan teknologi selluler dapat diperpendek dengan jalur komunikasi yang sangat luas. Bahkan dengan generasi terbaru - 3G - komunikasi antar personal dapat pula disaksikan wajah antara komunikan dan komunikator.

Untuk kenyamanan dan melayani kebutuhan Konsumen beberapa produsen memproduksi aneka jenis handphone dengan aneka fasilitas yang disediakan sesuai dengan tuntutan kebutuhan konsumen. Radio FM, Kamera digital, Video, televisi telah teraplikasi dalam perangkat handphone. Kemajuan teknologi yang memanjakan kosnsumennya.

Dalam dunia pendidikan perkembangan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi menjadi sebuah fenomena yang menuntut dan mengharuskan pada stakeholder dan pelaku pendidikan untuk senantiasa mengikuti perkembangan teknologi informasi, serta menerapkannya dalam dunia pendidikan.

Abad teknologi, sebuah era yang tidak memungkinkan bagi manusia untuk menghindari dan mengabaikannya. Komputer, LCD / infocus, video, internet, sebagian dari produk teknologi informasi, saat ini bukan sesuatu yang asing dalam dunia pendidikan, khususnya sebagai media dalam proses pembelajaran di dalam kelas.

Eksplorasi terhadap fasilitas yang tersaedia dalam perangkat teknologi dan layanan kartu selluler, membuka eksplorasi terhadap luasnya dunia pengetahuan. Perangkat yang mudah didapat dengan aneka fasilitas yang memungkinkan untuk memberikan layanan internal institusi atau lembaga pendidikan, serta antar individu; murid dengan murid, guru dengan murid atau sebaliknya.

Perkembangannya Handphone semakin dilengkapi dengan aneka fasilitas untuk memenuhi tuntutan kebutuhan konsumen, kenyamanan, dan kesenangan yang menyenangkan. Aneka fasilitas mulai dari mms, radio fm, internet, tv, mp3, vodeo, kamera digital adalah perkembangan fasilitas yang diaplikasikan dalam perangkat handphone.

ini aneka fasilitas yang teraplikasi dalam peramghkat handphone, masih digujnakan sebatas hiburan untuik mengisi waktu senggang, dan semacamnya. Persepsi yang kemudian memunculkan stigma negatif terhadap handphone di dunia pendidikan. Handphone selalu dikonotasikan membawa dampak negatif bagi kehidupan remaja atau pelajar.
Pada hal dalam sebuah survey kecil dalam sebuah acara tlkshow di metrotv yang mengundang beberapa kalnangan dari berbagai profesi, ternyata yang membuka gambar porno lewat handphone juga dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga dan beberapa kalangan profesional,di samping juga disitu terungkap beberapa pelajar melihat foto porno bukan karena kehendaknya, tetapi dikirimi temannya, karena fasilitas handphone yang memungkinkan untuk menerima kiriman semacam itu.

Fasilitas yang tersedia dalam layanan selluler , merupakan pisau bermata dua ; bermanfaat jika arif dan bijak dalam memanfaatkannya, sekaligus mencelakakan jika lalai terhadap dampak yang ditimbulkannya. Semisal; pertama betapa banyak korban yang tertipu layanan sms berhadiah. Kecerobohan yang disebabkan kehilangan akal sehat, ingin mendapatkan sesuatu (hadiah) tanpa harus bersusah payah. Kondisi yang kemudian dmanfaatkan para pemilik modal dengan memanfaatkan artis, agamawan, tukang ramal (paranormal) untuk memberikan layanan sms melalui call sentre dengan tarif yang mahal atau tak wajar, antara Rp.2.000 - 3.000 / sms. Anehnya tawaran semacam itu masih banyak pengkikutnya, penanda makin kuatnya instansi kehidupan dalam sebuah gaya hidup skeptis dan fragmatis.

Juga tidak sedikit waktu guru terbuang di kelas saat melaksanakan pembelajaran karena sibuk ber sms dengan seseorang dan bahkan menerima panggilan di saat mengajar di kelas. Sebuah lanskap yang kurang etis dipandang dari sudut pendidikan etika, karena guru memberikan contoh yang tidak baik. Sebaiknya saat aktif mengjaar di kelas handphone harus dalam keadaan non aktif (off) atau kalau pun aktif memakai sinyal getar dan menjawab panggilan dilakukan di luarv kelas denganb meminta ijin terhadap kelas yang ditinggalkan. Sayang, memang kalau teknologi komunikasi yang masuk ke dalam ruang belajar tidak dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas dan efektifitas pembelajaran.

Akan sangat berbeda apabila fasilitas layanan short message service (SMS) dipergunakan untuk memberikan layanan bagi peserta didik untuk melakukan remedial atau perbaikan pembelajaran
Sumber: Pendidikan Network

Selasa, 23 Desember 2008

MENYELAMATKAN BAHASA MADURA YANG KIAN TERPURUK

Oleh : Hidayat Raharja*
Bahasa Madura adalah salah satu bahasa lokal yang meiliki jumlah penutur cukup banyak, setelah bahasa Indonesia, Jawa, dan Sunda. Bahasa lokal yang banyak dipergunakan sebagai bahasa komunikasi daerah tapal kuda di Jawa Timur, seperti Surabaya, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Bondowoso, Situboondo, Jember Malang bagian selatan, dan Banyuwangi, selain dipergunakan di daerah Madura.

Namun dalam perkembangannya seperti juga bahasa etnis atau bahasa daerah lainnya di Indonesia, bahasa Madura semakin teralineasi dari tengah masyarakat penggunanya. Kerasehan ini dapat diindikasi makin sedikitnya keluarga muda yang mengajarkan berbahasa Madura bagi anak yang dilahirkannya sebagai bahasa komunikasi dalam rumah tangga. Menyitir pendapat M. Musthafa (Kompas Juni 2008), bahwa keberadaan bahasa Madura semakin mendekati kepunahan, karena pesantren sebagai pertahanan terakhir penggunaan bahasa Madura dalam lembaga pendidikan, kini juga semkain terncam dengan masukknya kurikulum sekolah umum ke dalam pesantren. Kurikulum yang kemudian mewajibkan untuk mempergunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasinya.

Keresahan akan semakin hilangnya bahasa Madura dalam komunikasi, bukan tanpa sebab. Hadrinya televisi yang menayangkan pelbagai jenis hiburan telah mengubah gaya hidup kaum remaja, termasuk perubahan dalam berkomunikasi. Mereka dan umumnya keluarga muda di masyarakat Madura, lebih banyak mempergunakan bahahasa Indoensia dalam keluarga mereka. Kondisi ini kian diperparah dengan pola pengajaran bahasa Madura yang tidak lagi diajarkan oleh guru bahasa Madura. Saat ini tidak ada lagi guru Bahasa Madura yang diluluskan lembaga pendidikan semacam FKIP atau pun STKIP.

Meski di dalam kurikulum SD dan SMP terdapat muatan lokal yang berupa pengajaran Bahasa Madura, pelaksanaan pelajaran tersebut tak lagi diampu oleh guru yang berkompeten mengajarkan bahasa Madura. Persoalan lainnya adalah bahwa pengajaran atau mempelajari Bahasa Madura tak ubahnya mempelajari bahasa asing, karena banyak kosa kata yang tak akrab dan tak dikenal lagi oleh peserta didik. Bahkan media pembelajaran untuk Bahasa Madura semakin tertinggal bila dibandingkan dengan media pembelajarn bahasa asing. Sebagai contoh betapa sulitnya untuk mendapatkan kamus berbahasa Madura baiik itu kamus bahasa Madura – Indonesia, maupun kamus Indonesia – Madura. Kesulitan ini semakin diperparah dengan tidak adanya ejaan bahasa Madura yang baku. Betapa bingung anak-anak kami yang ada di SMP di daerah Sumenep memakai buku bahasa Madura terbitan Pakem Maddu– Pamekasan. Kebingungan ini muncul karena ejaan yang dipakai oleh yayasan Pakem Maddu adalah ejaan bahasa Madura berdasarkan hasil lokakarya di Sidoarjo – yang diselenggarakan Balai Bahasa Surabaya pada tanggal 31 Desember 2002. Sementara anak-anak sekolah di Sumenep telah terbiasa dengan ejaan yang disempurnakan berdasarkan hasil sarasehan di Pamekasan 28-29 Mei 1973.

Perbedaan ejaan yang dipergunakan daerah Sumenep dan Pamekasan, sampai saat ini menjadi pertentangan antara yayasan Pakem Maddu – Pamekasan dengan Tim Pembina dan Pengembang Bahasa Madura (Nabara) di Sumenep. Perseteruan ini sempat mencuat ke permukaan dalam komisi bahasa Madura pada saat berlangsung Kongres Kebudayaan Madura (KKM) pada tanggal 9-11 Maret 2007. Penulis sebagai anggota komisi Bahasa Madura dalam KKM yang lalu melihat bahwa utusan dari Pamekasan yang di antaranya para pengurus yayasan Pakem Maddu ngotot untuk mempertahankan kebenaran akan pilihan ejaan yang dipergunakan berdasarkan hasil lokakarya bahasa Madura tanggal 31 desember 2002. Sementara dari tim Nabara menolak untuk memperguanakan hasil lokakarya di Sidoarjo, karena tidak dilibatkan dalam loka karya tersebut, serta ada bberapa prinsip dalam pakem bahasa Madura yang diabaikan dalam keputusn tersebut. Sehingga kalau boleh disampaikan bahwa pada saat kongres tidak ada kata sepakat dari utusan Sumenep untuk mencari titik temu perbedaan. Pada saat itu hanya dicapai keepakatan-kesepakatan untuk mengembangkan Bahasa Madura.dalam pembelajaran di sekolah.

Pertentangan ini cukup menguat ketika pada 20 Januari 2008 Tim Nabara Sumenep mengadakan seminar pelestarian dan pengembangan Bahasa Madura dengan mengundang beberapa guru Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas. Serta pemerhati bahasa dan sastra Madura. Sebuah upaya untuk mengakomodir beberapa keluhan dan hambatan pelestarian bahasa dan sastra Madura yang nantinya akan diusung ke dalam Kongres Bahasa Madura yang akan diselenggarakan di Pamekasan pada tanggal 15 – 18 desember 2008. Salah satu topik yang mengemuka pada seminar tersebut adalah penolakan terhadap ejaan bahasa Madura yang disempurnakan hasil lokakarya di Sidoarjo tahun 2002.

Persoalannya yang perlu diselesaikan dalam Kongres Bahasa Madura I, adalah bukan persoalan menang atau kalah, pendapatnya diterima atau ditolak, tetapi bagaimana kita duduk bersama untuk membicarakan masa depan bahasa Madura. Bagaimana upaya pengembangan dan pelestariannya bisa diaplikasikan dalam kehidupan, khsususnya dalam dunia pendidikan. Pertama, memikirkan bagaimana menjadikan pembeljaran bahasa Madura menjadi lebih efektif, kreatif dan menyenangkan. Hal ini sangat urgen, karena minimnya bacaan berbahasa Madura untuk dijadikan refrensi pembelajaran. Sangat jarang buku terbitan berbhasa Madura. Bahkan buku berbahasa Madura yang sempat booming pada tahun kejayaan Balai Pustaka, saat ini sudah jadi buku antik, tak ditemukan lagi keberadaannya. Cerita atau kisah yang diajarkan dalam buku pelajaran SD dan SMP telah kehilangan aktualitasnya, sehingga perlu direvitalisasi sehingga relevan dengan tuntutan kebutuhan dan perkembangan yang ada.

Kedua, sudah saatnya lembaga perguruan Tinggi yang ada di Madura didalam FKIP didirikan program S-1 jurusan khusus Bahasa Madura, untuk memenuhi kebutuhan guru bahasa Madura yang memiliki kompetensi untuk mengajarkan bahasa Madura. Usulan ini tidak mudah membutuhkan kepedulian dari pemerintah daerah setempat untuk nantinya memikirkan lulusan sehingga bisa disalurkanke berbagai sekolah yang membutuhkannya. Menghargai lulusan program khusus Bahasa Madura untuk diangkat sebagai tenaga profesional dalam dunia pendidikan. Langkah konkret yang nantinya disertai dengan pembenahan silabus pembelajaran bahasa dan sastra Madura secara komprehensif, sehingga benar-benar bisa memebrikan kompetensi bagi peserta didik mampu mengapliaksikan berbahasa dalam lingkungan sosiokulturalnya.

Ketiga, penerbitan kamus bahasa Madura perlu disebarluaskan ke berbagai sekolah. Sangat aneh rasanya ketika para sepuh dan pemerhati berteriak untuk melestarikan bahasa Madura, sementara kamus yang merupakan salah satu media untuk bisa memahami makna kata sulit ditemukan. Ironisnya untuk mencari makna bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia atau sebaliknya bertebaran berbagai kamus dengan berbagai kualitasnya. Dapat dipastikan di setiap peprustakaan sekolah pasti memiliki kamus Inggris - Indonesia atau sebaliknya. Tetapi jangan tanya keberadaan kamus Madura – Indonesia, takkan pernah ditemukan di dalamnya. Kalau pun ada karagan Bapak Oemar Sastrodiwirjo yang diterbitkan di Pamekasan, jumlah terbatas dan hanya dimiliki kalangan terbatas. Bagaimana bahasa Madura bisa berkembang.

Keempat, tidak kalah pentingnya setiap pemerintah daerah di Madura untuk memprogram mengaggarkan pendokumentasian cerita rakyat setempat untuk dibukukan dalam bahasa Madura. Serta perlu digalakkan kembali terjemahan buku-buku bermutu baik buku cerita atau penunjang pembelajaran ke dalam bahasa Madura. Hal sederhana namun amat berat untuk dilakukan, dan ini seklaigus akan bermakna akan mengkayakan bahasa dan sastra Madura.
Semoga dengan Kongres Bahasa Madura I ini dapat dicarikan solusi-solusi untuk melestarikan dan mengembangkan bahasa Madura. Bukan sekedar klangenan untuk mengembalikan kejayaan bahasa Madura seperti di masa silam, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana menjadikan bahasa Madura sebagai bahasa komunikasi pemiliknya sekaligus bisa berkembang sebagai bahasa teknologi pemakainya

Selasa, 25 November 2008

Selamat Hari Guru: Pesan Pendek dari Pu3

Selamat hari guru

Smg ilmu yang bpk berikan pd kami

Barokah! aminn

Analog jam di pesawat handphone menunjukkan pukul 12;03 waktu Indonesia Barat. Ada pesan singkat masuk dari mantan siswaku yang kini telah menamatkan diploma 3 akademi kebidanan. Hari ini aku lupa kalau peringatan hari guru Indonesia. Pesan pendek dari pu3 menyadarkanku kalau hari I ni adalah peringatan pekerjaan yang aku jalani.

Tidak ada upacara, tidak ada yang mengingatkan bahwa hari ini hari guru. Aku baru tersadar ketika pesan pendek itu aku buka. Betapa sampai saat ini guru sendiri banyak yang melupakan bahwa pada 25 november sebagai hari guru. Aku berbahagia karena masih ada anak-anakku yang mengingatkan nya. Meski, kadang aku sendiri kagak tahu apa yang harus diperingati di hari guru.

Hari ini aku hanya mengajar seperti kawan-kawan guru lainnya. Tapi dengan datangnya pesan pendek itu, menggelitik aku untuk menuliskan sesuatu terhadap apa yang telah aku kerjakan selama ini. Pekerjaan sebagai guru yang kerapkali dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Guru sebagai pekerjaan dengan pangkat tinggi tapi minim jabatan dan minim penghasilan. Seorang teman pernah bilang kalau ada para pegawai berkumpul, lalu ditanyakan apa pekerjaanya, maka temanku tadi merasa malu untuk mengatakannya sebagai guru. Jadi dia akan menyebutkan pekerjaan guru dengan volume suara rendah dan perasaan rendah diri.

Pantaskah kawan-kawan guru berendah diri diadapan para pegawai pemerintahan atau profesi lainnya. Tidak ada alasan untuk merasa rendah diri, karena banyak yang bisa guru tunjukkan sebagai pegawai yang memberikan kontribusi yang berarti bagi pembangunan bangsa. Salah satunya tidak ada guru yang korupsi uang Negara, kecuali beberapa di antara mereka yang malas korupsi waktu atau mengambil keuntungan dari menjual buku paket tau LKS (Lembaran kerja siswa).

Apa yang membanggakan dari profesi seorang guru? Berhadapan dengan anak-anak manusia yang berpikir dan dinamis. Maka, setidaknya kebanggaan ini jangan disia-siakan untuk mengembangkan pelbagai poten si yang ada dalam diri peserta didik. Anak-anak kita adalah anak manusia yang membutuhkan perhatian, teguran, sapaan, belaian dan kasih sayang. Anak-anak manusia yang butuh mengembangkan harkat dan martabat kemanusiaan untuk bisa dihominisasikan (seseorang sebagai mansuia) dan humanisasi (manusia yang dimanusiakan). Mereka tidak harus pintar matematika, kimia, fisika, biologi, kalau memang mereka tidak mampu. Namun yang jangan dilupakan bagi guru adalah utnuk menghargai upaya-uoaya mereka untuk menegmbangkan keilmuan yang demikian banyak dijejalkan.

Saat anak kembali ke masyarakat mereka tidak akan ditanyakan bahasa latinnya sayur-mayur dalam pelajaran biologi, juga tidak akan ditanyakan rumus vector dalam fisika, juga takkan ditanyakan hukum Dalton dalam kimia. Juga tidak akan ditanyakan rumus deferensial dalam matematika. Tidak akan, karena di dalam masyarakat anak-anak kita akan belajar bermasyarakat, mampu berinteraksi dengan lingkungan sosialnya serta mampu berkembang ditengah peradabannya yang beragam.

Aku tak tega melihat anak-anak ke sekolah dengan perasaan tertekan karena banyak tugas yang belum diselesaikan. Aku kadang tidak paham ketika setiap mengajar guru selalu memberikan tugas yang harus dikerjakan siswa. Kalau sehari ada empat mata pelajaran dan setiap mata pelajaran memberikan tugas pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, maka pasti anak-anak kita akan kehilangan waktunya untuk bersosialisasi. Celakanya lagi dalam dunia pendidikan maaf dunia persekolahan masih banyak guru yang mewajibkan les (meski tidak secara eksplisit) tetapi secara implisit kerap bermakna wajib dengan berbagai tendensinya.

Di hari guru ini aku ingin bermenung seperti apa yang dikemukakan Neil Postman, andai saja guru sehari saja bergnti peran dengan murid apa yang aka dirasakan guru. Jika guru harus belajar 13 mata pelajaran yang diikuti murid dan siswa hanya belajar satu mata pelajaran sebagaimana yang diampou guru. Jangan pernah diraghukan bahwa murid akan lebih pintar dari guru. Sementara guru yang diharuskanm belajar 13 mata pelajaran ,dapat dijamin akan mengalami stress berkepanjangan.

Tidak ada hal yang lebih bermakna bagi guru, kecuali ia mampu mengembangkan empati terhadap anak-anaknya, teman sejawatnya. semua mata pelajaran sama pentingnya, namun juga bisa menjadi sama tidk pentingnya. Dan setiap anak memiliki keunikan yang berbeda degan lainnya sehingga setiap anak cerdas, setiap anak pintar tinggal bagaimana cara guru mengelolanya.

Selasa, 18 November 2008

“Sagara Aeng Mata Ojan” , Kontroversi ditengah Lesunya Sastra Madura

Oleh: Hidayat Raharja*
Membaca beberapa keluhan mengenai bahasa dan sastra Madura selalu dipenuhi dengan aneka kecemasan, rasa putus asa, sepertinya bahasa dan sastra Madura akan menemui ajal. Beberapa pakar bahasa dan sasatra Madura bermimpi untuk dapat menumbuhkan kembali bahasa dan sastra Madura di masa kejaaannya seperti di masa silam. Kekhwatiran mengenai keadaan bahasa dan sastra Madura, sangat beralasan, karena sampai kini penggunaan bahasa Madura sebagai bahasa komunikasi di lingkungan keluarga kian jarang dipergunakan. Di jaman sekarang percakapan di banyak keluarga dalam masyarakat Madura banyak mempergunakan bahasa Indonesia, meski mereka asli orang Madura. Kondisi tersebut berimplikasi terhadap kondisi sastra Madura yang kian sulit ditemukan dalam bentuk bacaan atau cetakan, baik itu karya sastra lama, apalagi karya sastra mutakhir.
Zawawi dalam buku Madura: Agama, Ekonomi dan Kebudayaaan – Huud de Jonge (editor) menuliskan artikel: “Sastra Madura yang Hilang Belum Berganti”. Sebuah realitas yang menegaskan bahwa para penulis Madura sudah beralih mempergunakan bahasa Indonesia sebagai komunikasinya. Karya sastra yang ada dalam buku pelajaran SD dan SMP tulisan berbahasa Madura (puisi) umumnya banyak ditulis oleh mereka yang sudah berusia uzur atau sudah tutup usia; Arach Djamali, Oemar Sastrodiwiryo. Kalau pun ada dari generasi muda yang menuliskan karya dalam bahasa Madura, mereka menyimpannya dalam laci pribadi. Atau sesekali karya berbahasa Madura muncul dalam rubrik seni budaya Radar Madura – (Jawa Pos Group) di edisi hari minggu.
Ditengah kecemasan akan eksistensi bahasa dan sastra Madura, sepertinya ada angin semilir yang memberikan ruang udara bagi tumbuh dan berkembangnya bahasa dan sastra Madura. Ruang bernafas tersebut hadir dengan adanya kepedulian dari Balai Bahasa Surabaya menerbitkan anotologi puisi berbahasa Madura. Juga berencana akan menerbitkan bulletin berbahasa Madura – (Jokothole). Konon, bulletin tersebut akan diluncurkan pada saat berlangsung kongres bahasa Madura di Pamekasan tahun ini.. Semoga.
Terbitnya dua kumpulan puisi berbahasa Madura, diterbitkan oleh Balai Bahasa Surabaya, antara klain; “Nemor Kara” (Balai Bahasa Surabaya, 2006) sebanyak 25 Puisi dari 20 penyair, merupakan kumpulan karya para pemenang lomba cipta puisi berbahasa Madura uyang dislenggarakan oleh Balai bahasa Surabaya. Kumpulan Puisi “ Sagara Aeng Mata Ojan” (Balai Bahasa Surabaya, 2008) berjumlah 57 puisi - karya Lukman Hakim AG dengan editor ejaan Drs.H.Moh.Imran – Tim Pembina Bahasa Madura (NABARA) Songennep.
“Nemor Kara” merupakan karya yang cukup berarti bagi perkembangan sastra Madura, karena di dalamnya memunculkan para penulis berusia muda dari lingkungan pesantren sebagai basis reproduksi dan pertahanan sastra di Madura. Meski beberapa di antara penulis yang ada di dalamnya sudah dikenal dalam penulisan berbahasa Indonesia. Lebih menarik lagi bahwa dari karya yang ada di dalam buku ini ejaannya kacau-balau tidak sesuai dengan kaidah penulisan bahasa Madura yang benar. Akibatnya buku “Nemor Kara” menuai kritik pedas dari lembaga Pakem Maddu – Pemerhati dan Pengembang Bahasa Madura di Pamekasan maupun Tim Nabara – Tim Pembina Bahasa Madura – di Songennep. Realitas yang menandaskan buruknya kondisi berbahasa Madura tertulis di kalangan muda.
Hadirnya dua buku tersebut sepertinya menjadi penanda akan bangkitnya bahasa dan sastra Madura, karena dari “Nemor Kara” banyak bermunculan penulis puisi berbahasa Madura yang berusia muda. Juga munculnya Lukman Hakim yang tergolong sebagai generasi baru namun cukup menjanjikan terhadap karya-karya yang dihasilkannya. Lukman dapat dibilang sangat prodiuktif dan ia banyak menulis karya berbahasa Madura. Salah satu kelebihannya Lukman Hakim memperhatikan pengunaan ejaan dalam penulisan teks sesuai dengan kaidah penulisan bahasa Madura yang ada di Sumenep. Hal ini amat memungkinkan karena karya dalam buku tersebut khusus untuk ejaannya dieditori oleh Drs. Moh. Imran - anggota Tim NABARA – Songennep yang memiliki kompetensi sebagai lembaga pembina Bahasa Madura yang ada di Songennp. Apa yang dituliskannya dalam teks “Sagara Aeng Mata Ojan” sesuai dengan kaidah penulisan berbahasa Madura khususnya ejaan yang dipergunakan di Sumenep.
Namun demikian kehadiran antologi puisi berbahasa Madura karya Lukman Hakim memberikan ruang ucap baik sebagai teks atau sebagai wacana perkembangannya. Sebuah oase terhadap kegersangan karya sastra Madura pada saat ini karena, pertama karya sastra berbahasa Madura sudah banyak tidak ditulis dan diajarkan di sekolah. Pelajaran Bahasa dan sastra Madura di SD dan SMP lebih banyak menekankan pada pengajaran bahasa secara verbalistis. Kalau ada materi sastra masih memberikan materi karya yang dihasilkan oleh para sastrawan yang kini sudah tutup usia. Kondisi ini melengkapi suramnya eksistensi sastra Madura. Juga kesulitan menemukan karya sastra mutakhir yang diterjemahkan ke dalam bahasa Madura. Kondisi yang sangat berbeda bila dibandingkan dengan karya sastra Madura hasil terjemahan di jaman kejayaan Balai Poestaka di tahun 1920-an.
Kedua, “Sagara Aeng Mata Ojan” karya Lukman Hakim, beberapa pilihan bahasa atau diksi yang dipergunakan sudah banyak yang tidak dikenal lagi oleh pembaca terutama oleh kaum muda. Artinya kehadiran teks puisi tersebut mempergunakan bahasa lokal yang tak lagi dikenal oleh masyarakatnya. Ini sesuatu yang unik karena bahasa lokal menjadi asing di daerahnya sendiri meyang, pamengkang, ngobal, ajuman, ceddu, abatthowangan, dhapen, salokke’, acangkalongan, kajal , jimbrti, takennyer, ekaong-saong, sapeltong, galagas. Beberapa kosa kata yang kemungkinan sudah tak dikenal lagi oleh kaum muda. Sisi lain, hadirnya kembali beberapa kata yang hampir punah ini menjadi pilihan yang sangat menarik untuk mengenalkan kembali kekayaan frase bahasa ibu (Madura). Namun hal ini akan sangat terbantu apabila pada setiap kosa kata yang sudah tidak dikerlnal diberikan catatan kaki, sehingga menunjang terhadap pencapaian apresiasinya di kalangan pembaca terutama kalangan pelajar SMP yang mendapatykan muatan lokal Bahasa Madura.
Ketiga, penggunaan ejaan dalam kumpulan puisi “Sagara Aengmata Ojan” mempergunakan ejaan bahasa Madura yang berlaku di Sumenep dan tidak menerima terhadap perubahan ejaan hasil keputusan bersama pengguna bahasa Madura yang dilakukan di Balai Bahasa Surabaya tahun 2004. Kondisi ini memperjelas kontroversi kehadiran buku kumpulan puisi karya Lukman Hakim, mengingat Balai Bahasa Surabaya adalah lembaga yang memfasilitasi mengenai pembaharuan ejaan bahasa Madura, namun sekaligus mendukung penerbitan buku yang nota bene ejaan di dalamnya menentang keputusan dari Balai bahasa. Bagaimana?

Selasa, 28 Oktober 2008

NARASI PENDIDIKAN, MORAL DAN MASA DEPAN PELAJAR

oleh: Hidayat Raharja *

1.Generasi MTV
Sebuah tayangan mengalir deras dari dunia audiovisual, keriangan dunia remaja (baca: pelajar) , macho, molek dan memamerkan potensi tubuh yang seksi. Arus peradaban yang menggelontor dalam kehidupan anak muda (pelajar), yang kemudian menyeret kaum muda untuk memasuki sebuah zona hiburan, planet mimpi dan khayalan tanpa ada persoalan.
Suatu zona bagi kaum muda yang tidak lagi dibatasi oleh sekat geografis ataupun territorial. Semua saling berdesak, merebut perhatian, dan mencari pengikut. Dunia pendidikan menjadi wilayah eksklusif yang dipenuhi kerumitan dan teralineasi dari kultur masyarakatnya. Dunia pendidikan tidak mampu memenuhi harapan kaum muda untuk bisa mendapatkan pekerjaan. Maka, dunia mimpi, memberikan ruang ekspresi segala kesumpekan dan kehidupan yang getir untuk segera dilupakan (Sartono:2004).
Sepanjang 24 jam, televisi mengajak kita tertawa, bernyanyi atau meraih impian yang tak terjangkau. Saksikanlah, bagaimana dunia televisi mengajarkan seorang pelajar SMP diajarai caranya berpacaran. Suatu pembelajaran hidup yang ditawarkan oleh sebuah dunia sinema elektronik, yang hadir di tengah-tengah ruang keluarga.
Sejauh mana pengaruh tayangan tersebut terhadap kehidupan pelajar? Sejauh yang ditemukan dalam realitas kehidupan anak muda mulai dari jantung metropolis sampai ke kantong-kantong di pedesaaan. Suatu proses pendidikan yang dahsyat, dan aksesnya demikian hebat mengalir dari nadi kehidupan anak muda.

2. Dunia Pendidikan
Dunia pendidikan merupakan suatu wilayah proses yang menyeluruh, menyangkut aspek pengembangan koginitif, afektif (emosional) dan psikomotorik. Pengembangan seluruh aspek kepribadian, sehingga menjadi manusia yang seutuhnya, Ikhsan ( Nurcholish Madjis, 2001:ix)
Ada riga pilar yang berperan dalam proses pendidikan, antara lain:.
A. Keluarga
Berada dimanakah keluarga kita? Yang mengasuh atau mndidik anak semenjak
daribuaian sampai menjadi besar. Masa depan pelajar amat ditentukan oleh dasar
pendidikan yang diberikan keluarga. Bahwa, sampai usia 12 tahun anak amat ditentukan
oleh keluarganya. Tetapi melebihi usia 12 tahun anak ajkan menjadi milik
lingkungannya.
Lingkungan sangat berperan dalam kepribadian anak.
Keluraga memainkan peran penting untuk memberikan dasar , fondasi nilai-nilai yang akan membentuk kepribadian anak. Dukungan orangtua (material moral, spiritual) merupakan komponen penting untuk bisa mennetukan dirinya sendiri. Rumi pernah mengatkan bahwa,: “anak adalah mata panah, sementara orangtua adalah busur yang akan melesatkan mata penah menuju ke sasarannya”

B Masyarakat
Masyarakat merupakan wilayah yang lebih luas daripada keluarga. Suatu habitat, tempat keluarga tumbuh dan berinteraksi dan bekembang. Didalamnya tersedia dan terserap nilai-nilai yang kemudian menjadi milik anak. Kemampuan berinteraksi dengan lingkungan masyarakat akan menjadi mata rantai kehidupan pelajar atau anak muda.Kelak, kKe dalam masyarakat anak muda atau pelajar akan kembali. Masyarakat yang baik, ramah, peduli akan berpengaruh terhadap diri dan masa depan pelajar.

C. Sekolah
Schoola, memiliki sejarah buram dalam masa kehidupan kolonial. Sekolah hanya diperuntukkan bagi kaum bangsawan dan bangsa Eropa. Sementara kaum inlander (boemipoetra) hanya boleh sekolah rendahan dan nantinya boleh menjadi pegawai rendahan. Sekolah didirikan di jaman itu untuk menciptakan ambtenar (pegawai negeri)

Hubungan antara sekolah dengan pegawai kantoran merupakan warisan feodal yang sampai kini mencekam dalam persepsi masyarakat kita. Sekolah terseret kepada lembaga pemberi sertifikat dan aneka gelar daripada sebagai lembaga pendidikan yang memberikan pilihan bagi pelajar untuk mampu menentukan dan mengembangkan diri. Sekolah terperangkap ke dalam dunia pengjaran, sehingga perlu meredefinisikan kembali sebagai lembaga pendidikan yang mampu mengembangkan seluruh aspek kepribadian pelajar.. Suatu lem,baga yang mampu memantapkan dirinya sebagai institusi pendidikan yang berwajah kemanusiaan.
Lalu, bagaimana hubungan antara pendidikan, moral dan masa depan pelajar ? Wouww, fantastis!!!
Bila yang dimaksudkan pendidikan secara meluas (hakikat), maka ketiga pilar penopang pendidikan harus ditegakkan; keluarga. Masyarakat, dan dunia persekolahan. Ketiganya harus bersinergi untuk memanusiakan manusia. Memandang manusia sebagai makhluk yang unik dan spesifik.
Azzumardi Azra (2004) menjelaskan dalam dunia pendidikan (persekolahan), guru dalam masyarakat modern telah bergeser sebagai penjual jasa keilmuan yang digaji oleh negara, sehingga memrak yang secara moral belum dapat dijadikan panutan tetapi memiliki kecakaopan keilmuan dapat menjalani profesi keguruan. Sementara dalam masyarakat tradisional guru lebih menekankan kepada nilai-nilai anutan, yang digugu dan ditiru, lebih dominan daripada aspek keilmuan.

3. Moral
Pelajar, remaja, khilangan figur anutan moral. Sebab, persoalan moral menyangkut aspek perilaku. Di saat pelajar merindukan tokoh anutan, idola yang harus dijadikan tauladan, dunia entertaint menawarkan tayangan tokoh yang atraktif dan memikat, namun miskin nilai-nilai moral.
Dlam perdaban masyarakat globalmondeal,nilai-nilai moral menjadi tuntutan kebutuhan yang harus terintegrasi dalam dunia pendidikan. Nilai-nilai moral akan memberikan kekuatan bagi anak untuk menentukan nilai-nilai yang mengitari bahkan menyerbunya. Suatu nilai yang akan membrikan sikap bagi pelajar untuk menentukan mana yang baik dan tidak baik bagi dirinya. Perilaku mana yang harus tiinggalkan dan mana yang harus dikerjakan.
Pelajar sebagai generasi pemegang masa depan bangsa, harus dibekalai dengan nilai-nilai moral untuk dapat menentukan identitas dirinya, sebagai anggota keluarga, bagian masyarakat, dan penentu masa depan bangsa.
Masa Depan Pelajar
Yesterday is gone
Today is starting the future
Masa depan pelajar, perlu dipersipakan dari saat ini, melakukan retrospeksi untuk memantapkan langkah, dengan memperbaiki sistem pendidikan , nilai-nilai kehidupan yang akan memantapkan kepribadian pelajar dan akan berpengaruh terhadap masa depannya.