Translate

Minggu, 05 Juli 2009

JAWARA TOUR:

PERJALANAN YANG MENGENASKAN
(1)

Liburan akhir semester tahun ini aku sekeluarga mengikuti tour SMA 1 ke jakarta dan Bogor. Perjalanan yang diharapkan mampu memberikan refreshing terhadap tekanan kerja di sekolah yang menumpuk dan mengursa tenaga. Aku bawa istri dan dua anakku bersama keluarga besar SMANSA, bukan dengan tiket gratis, tetapi membayar dengan sejumlah harga yang tak murah. Berani membayar harga sebesar itu, karena dijanjikan oleh Jawara Tour untuk rekreasi di Ancol. TMII, Kebun Raya Bogor, dan Taman safari Indonesia – Cisarua – Bogor. Aku ajak dua anakku supaya mereka bisa rekreasi sambil belajar.

Hari yang dinantikan tiba 26 Juli, jumat pagi pukul 06.00 kami sekeluarga telah berkemas untuk menuju tempat pemberangkatan di halaman depan SMAN 1 Sumenep. Ternyata bus yang akan membawa ke Jakarta belum muncul. Semua peserta tour menggerutu. Pukul 06.30 Bus baru datang, dua bus yang sudah terbilang tua, hanya tampak luarnya yang bagus. Aku sekeluarga naik ke bus pertama, sebagaimana yang telah diatur panitia. Satu per satu penumpang naik ke atas bus, panitia melakukan cheking terhadap seluruh peserta. Pukul 07.00 di bus pertama dilakukan presensi terhadap peserta, tinggal satu rombongan keluarga yang belum datang ; Bu Chairunnisak dan keluarganya belum datang. Semua penumpang menggerutu, karena perjanjiannya pukul 06.30 sudah siap berangkat. Tak lama kemudian yang ditunggu datang, dan sebelum berangkat dilakukan doa bersama dipimpin bapak Suhdi, S.Ag. Tepat pukul 07.10 bus pertama berangkat diikuti rombongan bus kedua.

Suara dalam bis mulai riuh, satu dua penumpang mulai melemparkan cerita, dan ditanggapi penumpang lainnya. Melintasi jalan lingkar timur, tambak-tambak yang sepi dibakar hangat mentari. Matahari bergerak perlahan bus meninggalkan pertambakan, melintasi jalan propinisi ke arah Surabaya. Suara musik didendangkan D’Lloyd terdengar mendayu-dayu dari monitor DVD, membongkar kenangan lama tahun 70-80an. Tiba-tiba tour leader Bapak Bisron Ali memegang mike dan mengumumkan kepada seluruh peserta tour, kalau nantinya rombongan bus akan melewati jembatan Suramadu,” Baiklah bapak-bapak dan ibu-ibu kita start dari halaman SMA pukul 07.10 perjalanan ke Surabaya akan memakan wakt sekitar 3 jam melewati Suramadu. Tour kita kali ini akan membuat para peserta merasa di charge kembali setelah stress akibat kesibukan di tempat kerja. Kita nanti akan mengunjungi Monas dan menjelang sore mengunjungi Ancol. Di sana kita bisa melihat sunset di pantai Marina. Hari Minggu ke Taman Mini Indoensia Indah ke teater keong emas dan dilanjutkan ke masjid kubah emas, dan malam harinya beramah tamah dengan bapak Mh. Said Abdullah di ekdiamannya. Esok harinya sebagian peserta yang telah ditunjuk melakukan studi banding ke SMAN 8 Jakarta. Sementara yang lain akan ke kebun raya Bogor dan dilanjutkan ke Taman Safari Indonesia. Peserta Tour akan menyusl siang harinya ke taman safari Indonesia”.

Informasi yang mendebarkan sekaligus menggembirakan, karena tour ini waktu pertama kali bagi dua anakku mengunjungi kota jakarta. Perjalanan bus lamban, merayap, melata sepanjang aspalan hitam menuju Surabaya. Perjalanan yang santai dan pukul 10 kurang 15 menit bus memasuki sisi Madura dan kembali tour leader memberikan informasi mengenai Suramadu, ia menjelaskan proses pembanguna jembatan dan biaya yang telah dihabiskan. “Perjalanan ini menemupuh jarak sekitar 11 Km ke pangkal jembatan dan melewatu bentangan jembatan di atas laut sekita 5,4 km. Jarak ini akan kita tempuh sekitar 15 menit. Waktu yang singkat bila dibandingkan dengan penyeberangan mempergunakan kapal ferry di pelabuhan Kamal,” ujar Tour Leader penuh semangat. Tak lama sekitar pukul 10 lebih 40 menit bus sudah sampai di dataran Subaraya.

Surabaya yang sesak, bising mulai memekakkan telinga. Jalanan macet mengingatkan kembali kenangan surabaya terhadapku di ntahun 80-90 an. Surabaya yang padat, bising dan memekakkan telinga. Bus meliuk-liuk menyusuri jalanan arteri menuju ke arah Gresik. Jalan berliku dan menegangkan, karena jalan bus mulai terasa lamban. Padahal bus yang aku tumpangi jauh lebih bagus daripada bus yang ditumpangi rombongan kedua. Kota yang padat telah dilintasi bus memasuki kawasan pertambakan di sisi kiri-kanan jalan. Kawasan Gresik dengan aroma pelabuhan yang khas. Tambak-tambak terhampar memberikan lanskap kota pesisir dengan industri yang tak pernah mati. Di beberapa masjid yang berdiri di pinggir jalan mulai terlihat orang-orang berdatangan menunaikan shalat jumat. Setelah berjalan agak jauh bus berhenti di sebuah kawasan sekitar pertambakan di sebuah masjid yang mulai sesak oleh jemaah yang akan shalat jumat. Kami shalat jumat. Kemudian dilanjutkan dnegan ibu-ibu untuk menunaikan shalat dzuhur.

Usai shalat jumat perjalanan dilanjutkan mencari rumah makan untuk makan siang. Bus berjalan merambat melata bagai ular, menunggu munculnya bus kedua yang berjalan lebih lamban. Kabar yang tidak menyenangkan, didapat informasi bahwa rombongan bus kedua mengalami gangguan kehabisan solar. Gejala tidak menyenangkan mulai menghadang. Ternyata bus kedua kondisi mesinya sudah tua, hal ini disadari penumpang di bus kedua kalau berhenti mesin tidak pernah dimatikan, meskipun pemberhentian berlangsung dalam hitungan jam.
*****
Malam pun tiba perjalanan kian gerah karena mobil berjalan lamban, seperti jalan orangtua yang dibantu memakai tongkat. Penumpang bus pertama mulai resah merasakan perjalanan yang menjenuhkan. Sampai di daerah jawa tengah sudah sekitar pukul 21.00 lewat. Bus isi bensin di sebuah SPBU. Penumpang turun untuk mencari hawa segar, sebagian lagi buang air kecil dan mencuci muka yang mulai kuyu.

Sekitar 30 menit di SPBU, perjalanan dilanjutkan lagi. Malam dengan pernik bintang di hamparan langit gelap memantul seperti mata langit yang mengintip kepenantan penumpang dalam bus pertama. Anaka-anak kecil dalam gendongan merengek karena terguncang-guncang dan terbangun dari tidur yang tak nyenyak. Sebagian yang lain ngorok dengan tidur terduduk di kursi yang tak begitu empuk. Aku terlelap, namun tiba-tiba terbangun karena bus ngerem mendadak. Setengah terbangun aku lihat ke arah depan deretan mobil memanjang dilanda kemacetan. Macet!!! Tak ingin sial aku kembali katupkan kelopak mata. Tak ingat apa-apa hanya sesekali tubuh terpental dari kursi karena rem mendadak. Hingga tiba saat shalat subuh tiba. Bus menepi di sebuah maesjid di pinggiran kota; Masih daerah perbatasan jawa tengah dan jawa barat. Badanku sudah tak kuta menahan ngilu. Sekitar 20 jam di atas bus. Pada hal kalau waktu-waktu sebelumnya ke Jakarta naik bus Karina / Lorena dalam bentang waktu 21 jam dari arah sumenep bus sudah memasuki wilayah jakarta kota. Perjalanan yang menjengkelkan, namun aku mencoba mengubah perasaan menjadi menyenangkan. Seumur-umur saat inilah aku dipangagang di atas bus dalam jangka waktu lama.. Usai shlata subuh perjalanan dilanjutkan lagi untuk mencari rumah makan untuk makan pagi.

Angka jam menunjuk Pukul Tujuh pagi hari sabtu 27 uli 2009. tak tereasa sudah 24 jam di atas bus, namun tanda=tanda untuk segera sampai ke tempat tujuan masih jauh dari pandangan dan harapan. Salah seorang penumpang dalam bus pertama mulai emosional, kaerna anaknya yang masih balita takj kuta menahan panas. Bapak Moh. Hasan- Guru BK yang biasanya sabar, tak kuat menahan marah. Ia damprat Bisron Ali (Tour Leader Jawara),” jasa travel tidak profesional. Sudah dua puluh empat jam belum juga sampai tujuan. Bus tua jangan diajdikan angkutan wisata. Ini manusia bukan binatang. Ayo jalankan bus dengan benar. Masa perjalanan Sumenep ke Jakarta sampai lebih 24 jam. Katanya bus executif. Bus tua dibilang bus executive,” bentaknya menuju ke hadapan tourleader dan sopir.

Aku tak berani menatap wajah Bisron Ali. Ia begitu tegang dan tak menduga akan mendapat cacian semacam ini. Bahkan teman-teman yang duduk di belakangjuga ikut ngomel mencelotehi layanan Jawa Tour yang amat buruk. Anak-anak kecil mulai menangis karena gerah. Pendingn dalam bus seperti tak berfunggsi karena kami sudah terlalu lama dalam bus. Wajah Bisron Ali pias. Aku tak tega. Kondisi dan situasi yang kurang mengenakkan diredakan oleh teman sebangkuku H. Rasik Rahman. Guru olah raga yang periang dan selalu ada humor segar yang dilontarkan.
“Tenanglah pak, nanti sampai juga ke jakarta. Kita kan tak terburu-buru. Sabar yang pentings elamat sampai tujuan,” hiburnya sambil tersenyum.
Terus terang aku merasa beruntung duduk berdampingan dengannya, karena selalu m,enenangkan hati yang galau karena bus berjalan sangat lamban. Muncul olok-olok dari belakang kalau bis yang aku tumpangi tak pernbaah mendahului (menyalib) kendaraan tetapi emnjadi bus yang selalu didahului oelh kendaraan lain yang usianya lebih tua. (asambung...)

Sabtu, 04 Juli 2009

SEKOLAH DI DALAM MESJID

:Catatan kunjungan studi banding ke SMA Negeri 8 Jakarta

Upaya untuk meningkatkan dan mengembangkan SMA Negeri 1 Sumenep menjadi sekolah yang bermutu, selain meningkatkan kualitas personalia serta tenaga pemgajarnya, juga melakukan studi banding ke SMA 8 Jakarta. Studi banding ini yang ke lima kalinya, pertama tahun 2001 ke SMA Unggulan darul ulum Jombang dan SMA 1 Batu. Ke SMA 15, SMA 2 dan SMA 5 Surabaya. Pada tahun 2008 melakukan studi banding ke SMA Negeri 1 Yogyakarta – SMA teladan se Indonesia. Di akhir bulan juni 2009 melakukan studi banding ke SMA Negeri 8 Jakarta.

Kunjungan studi banding ini tidsak lain adalah sebuah ikhtiar untuk menyelenggarakan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional yang akan dimulai tahun pelajaran 2009/2010. Pilihan ke SMA 8 jakarta sebagai tujuan studi banding, karena sekolah ini meruipakan salah satu sekolah negeri yang memiliki kelas internasional yang berinduk ke Cambright. Memiliki 2 kelas internasional yang kurikulumnya mengacu ke kurikulum internasional. Sedangkan tujuh kelas lainnya merupakan kelas RSBI.

Ada banyak hal yang dapat dipetik dari studi banding ke SMA 8 Jakarta, antara lain: pertama meski sekolah ini berada di daerah DKI Jakarta, tetapi memiliki murid yang berasal dari seluruh wilayah Indonesia. Artinya secara kualitas sekolah ini telah dipercaya oleh masyarakat untuk menitipkan anaknya menjadi pintar.

Kedua, di pintu masuk sekolah berdiri bangunan mesjid dengan arsitektur yang megah. Sebuah bangunan dengan arsitektur modern yang menghabiskan biaya sekitar 1 milyar. Bangunan mesjid ini menjadi ikon SMA Negeri 8 Jakarta, sehingga menamakan dirinya “sekolah di dalam mesjid”. Di tempat ini pula berbagai aktivitas keagamaan dilangsungkan. Mesjid bukan sekadar simbol tetapi juga membawa implikasi terhadap pelaksanaan pendidikan di SMA 8, antara lain setiap pagi mulai pukul 06.30 sebelum dimulai pelajaran dilakukan pembacaan ayat suci Al-Qur’an selama 15 menit yang dipandu dari ruang operator.

Ketiga, SMA 8 menerapkan aturan bahwa setiap guru yang mengajar di SMA 8 harus memiliki moral dan akhlak yang baik. Hanya dengan akhlak yang baik akan mampu menuntun siswa menjadi lebih baik. Untuk itu sekolah memberikan penghargaan bagi guru yang beragama islam setiap tahun ada dua orang guru yang diberangkatkan ke tanah suci, dibiayai oleh komite sekolah. Sedangkan bagi yang beragam nasrani disediakan dana untuk melakukan ziarah ke tempat kelahiran nabi Isa di Palestina.

Keempat, sistem evaluasi pembelajaran dilakukan oleh tim evaluasi, hal ini dilakukan untuk menjaga obyektifitas guru mata pelajaran dalam melakukan penilaian terhadap peserta didik. Remedial hanya dilakukan satu kali untuk menciptakan budaya belajar bagi siswa. Namun sebelum remedi dilakukan terhadap siswa yang tidak mencapai kompetensi di berikan klinik pendidikan, ada remedial teaching dan dilanjutkan dengan ujian remedial.

Kelima, di sekolah ini tidak ada les privat mata pelajaran karena bimbingan belajar siswa ditangani oleh alumni SMA 8 yang dinamakan dengan BTA (Bimbingan Tes Alumni). Tidak adanya les yang dilakukan oleh guru pengajar menjadikan penilaian hasil belajar lebih obyektif, sehingga juga diikuti usaha gigih siswa untuk mencapai ketuntasan belajar.

Keenam, lingkungan kelas dan lingkungan sekolah tertata rapi, tidak ada gambar-gambar di dinding kelas seperti yang terlihat di SMA 1 Sumenep. semua dinding terlihat bersih hanya terdapat satu papan kecil untuk presensi siswa, dan rak untuk menempatkan daftar hadir siswa. Pot gantung dengan tanaman sirih gading bertebaran di berbagai tempat menambah keasrian sekolah ini.

Ketujuh, bagi guru yang tidak rajin masuk kelas dikenakan sangsi dipotong honor komite sekolah, sehingga memacu guru untuk rajin dan kreatif dalam melaksanakan tugas mengajar. Juga komite sekolah membrikan bantuan dana kesehatan jika guru atau staf Tata usaha menderita sakit, dengan mengganti biaya berobat yang telah dikeluarkan.

Layanan yang memuaskan, komite dan orangtua siswa bersedia memfasilitasi kebutuhan guru asal guru mau membimbing peserta didiknya menjadi lebih cerdas dan berhasil memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Guru mampu memberikan layanan prima terhadap siswa dan masyarakat (orangtua murid) sebagai imbal jasa atas kepedulian orangtua terhadap sekolah dan segenap komponen yang ada di dalamnya.

Menirukan apa yang dilakukan SMA Negeri 8 Jakarta di SMA Negeri 1 Sumenep jelas tidak mungkin, karena memang situasi dan kondisinya berbeda. Namun dari studi banding ke SMA Negeri 8 Jakarta, kami mendapat pelajaran, antara lain; pertama, pembentukan sistem di dalam sekolah amat penting sehingga semua bekerja dan berjalan dalam kmekanisme ssitem yang telah dibuat. Bila sistem yang dibuat sudah baik dan mapan, maka siapa pun pimpinan sekolah tidak berpengaruh terhadap proses pelaksanaan pendidikan di dalamnya, karena semua berjalan pada mekanisme yang ada.

Kedua, pentingnya kebersamaan antara sekolah, orangtua musrid dan masayarakat. Hanya dengan kebersamaan semua keinginan bisa tercapai. Terutama kesepahaman antara orangtua siswa dengan pelaksana pendidikan di sekolah, keterbukaan penyelenggara sekolah, dan komitmen untuk memajukan pendidikan adalah hal vital yang perlu dilakukan di sekolah tercinta, SMA Negeri 1 Sumenep.

Barangkali tidak berlebihan jika di awal tahun pelajaran ini kita memperbaharui niat, untuk mengawali kerja dengan tulus dan ikhlas demi kemajuan pendidikan dan keberhasilan anak-anak kita yang akan meraih masa depan. Niat tulus yang juga diiringi oleh doa para orangtua dan dukungan material untuk memfasilitasi kebutuhan pendidikan di sekolah. Hanya rasa percaya dan rasa saling memiliki bisa melapangkan jalan yang menjadi cita dan tujuan bersama. Allahu Akbar !!! (Hidra)

Minggu, 31 Mei 2009

RAHEMAN

Pagi itu pak Juwairi masuk dengan senyum dan binar bola matanya memancar. Tiga belas anak asuhnya di kelas enam menunggu dengan suara ramai tak bisa diam. Tak peduli. Senyum terbit dari wajah yang berbinar dengan sorot mata bercahaya, dan kemudian duduk di pojok depan sebelah selatan mulai membuka pelajaran. Hari itu jadwal di dinding yang kusam tertulis mata pelajaran IPA.

“Sekarang kita ulangan!” ingat pak Juwairi pada teman-teman sekelasku.
“Belum belajar, Pak!” jawab si Raheman yang memang tidak pernah belajar dan hanya mendengarkan materi pelajaran dalam kelas. Sekolah baginya bertemu teman sekelas, berbagi cerita dan pulang saat bel jam terakhir bendentang. Tak tinggi cita yang digantungkan. Ia hanya mengimpikan Tamat SD merantau ke Surabaya, mblater, atau jadi buruh pabrik.

Semua teman mengambil kertas ulangan. Mencatat soal yang didektekan dari depan kelas. Kami mengerjakan soal selama 60 menit dengan perasaan ringan tanpa beban. Kami tidak pernah menginginkan mendapatkan nilai terbaik dengan cara curang. Kami hanya ingin mencoba menjawab dengan jujur apa yang kami kerjakan. Kejujuran menjadi segala-galanya.

Tidak ada suara gaduh. Semua tenang mengerjakan soal-soal yang telah didiktekan. Waktu enampuluh menit berjalan begitu cepat dan kami semua menyerahkan jawaban yang telah selesai dikerjakan. Lembar demi lembar kertas jawaban dibaca pak Juwairi. Teman-temanku Nanto, Safi, Zinal, Jappar, dan Hasan membicarakan jawaban yang telah diruliskan. Mereka pada mengira-ngira perolehan nilai yang akan didapat.

Semua menduga pasti si Jappar akaan memiliki nilai paling baik. Karena dia lah bintang kelas kami. Orangnya pendiam, rapi, bersih, dan buku catatannya paling lengkap dan paling rapi. Dia jagoan mata pelajaran di eklas kami, berhitung, ipa, ips dan bahasa Indoensia, sellau mendapatkan nilai tinggi.

“Ini jawabannya Rehman,” tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara pak Juwairi dari depan kelas.
“Kenapa, pak?” tanya temnaku yang lain.
“Dari sepuluh soal hanya menuliskan satu jawaban.”
“Nomor berapa, Pak?!”
‘Tidak ada nomernya.”
“Apa jawabannya, Pak?”
“Maaf pak saya tadi malam tidak belajar.” Itu saja jawabannya Raheman. Pak Juwairi tersenyum.
“anak-anakku daripada kamu berbuat curang untuk mendapatkan nilai bagus, lebih baik kamu jujur seperti si Raheman. Saya sangat menghargai kejujurannya.”
Teman-teman sekelas tertawa sambil mengoilok-olok memanggil nama bapaknya ,” Pan Rakek...Pan Rakek...Pan Rakek”

Kami memahami kalau Raheman tidak sempat belajar setiap malam; pertama, karena kalau berangkat ke sekolah dia membawa jualan nasi dan gorengan punya budeku. Dari hasil penjualan dia mendapatkan upah sekadarnya. Kedua, jika siang hari sesampai di rumah dia menyipkan seperangkat barang ke dalam kotak untuk dibawa ke pasar membantu ayahnya berjualan batu korek api, minyak sulin untuk korek api, dan peralatan untuk memperbaiki lampu senter.
Ketiga, jika malam hari tiba di kampungnya tak ada penerangan selain cahya bintang dan rembulan. Semua maklum di jaman seperti itu kemiskinan melilit saudara-saudara kami yang ada di perkampungan,seperti juga kampung di mana Raheman tinggal; Temoran. Untuk membeli minyak tanah mereka lebih mendahulukan untuk membeli bahan makanan pokok untuk mengisi perut. Sesuatu yang lumrah ketika selesai shalat isya mereka semua menutup pintu sampai waktu subuh tiba.

Raheman, teman yang selalu meredakan ketegangan di dalam kelas. Dari wajahnya yang lancip, tulang pelipisnya mencuat dengan pandangan mata sayu. Semua yang melihat akan merasa iba. Namun dia adalah anak yang bisa bersahabat dengan siapa saja. Rendah hati dan suka memnolong sesama. Jika musim panen jagung tiba kami diajak ke rumahnya untuk membakar jagung segar yang baru dipetik dari pohonnya. Kami bakar jagung di tungku dapu yang menyatu dengan kandang sapi. Ya, dapur penduduk di kampung kami menjadi satu dengan kandang sapi. Posisi dapur selalu berada di depan rumah menghadap ke utara. Penyatuan kadang sapi dengan dapur untuk menjaga sapi dari gangguan pencuri.

Lain lagi kalau musim srikaya tiba aku diundang untuk bermain ke rumahnya dan di halaman belakang rumahnya yang berbatu-batu banyak ditumbuhi pohon srikaya yang rasanya sangat manis. Aku diperbolehkan untuk mencari memetik sendiri buah yang matang di atas pohonnya. Waktu-waktu yang menyenangkan.

Suatu ketika aku pergi ke pasar di waktu sore, karena sore itu hari pasaran hewan. Mendatangi pasar adalah salah satu acara di desa bagi anak-anak seusiaku untuk mencari hiburan. Ya, mencari hiburan menyaksikan ppenjual obat menawarkan dagangannya dengan permainan sulap yang sangat menakjubkan bagiku. Aku kagum dengan boneka yang bisa menabuh genderang dengan digerakkan batu baterei. Aku terkesima dengan mobil-mibilan yang berjalan sendiri setelah peer pendorongnya diputar. Sesuatu yang baru bagi kami, dan mungkin bagi anak-anak di kota permainan itu hal yang biasa.

Sore itu, setelah menyaksikan atraksi penjual obat dan dalam masyarakat kami dikenal sebagai “Tokang Jual Jamo”, aku mampi ke lapak tempat berjualan orangtua Raheman. Aku menghampirinya karena pas lewat di depan lapak yang menjaga Raheman. Aku diajak untuk menemaninya. Raheman sangat mahir untuk mengganti batu korek api, dengan membuka mur di bagian bawah korek, dilepaskannya per yang diujungnya tempat menempel batu korek api. Dia juga mahir memperbaiki kerusakan pada lampu senter. Jika ada orang datang meminta bantuan untuk memperbaiki senternya yang mati, dikeluarkannya batu baterai yang ada di dalam, diambilnya obeng dan dibukalah bagian tombol untuk menyalakan lampu yang menghubungkan kutub positip dan negatip sehingga lampu menyala. Kalau bagian lempengan yang menghubungkan kedua kutub yang berlawanan berkarat dibersihaknnya dengan amplas sampai hilang karatnya. Dari pekerjaan seperti itu dia mendapatkan imbalan jasa dari orang-orang membutuhkan pertolongan. Tidak terlalu besar jasa yang diperoleh, namun tarnsaski itu berlangsung dengan penuh keakraban dan ketulusan. Tidak ada patoan harga, namun pemberian yang tulus sebagai rasa terimakasih menajdi pengikat persaudaraan, karena esok hari jika mendapatkan masalaha dengan korek api dan lampu sneter akaan datnag kembali ke tempat Raheman membuka dagangan.

Setamat dari sekolah dasar aku dengar raheman merantau ke surabaya menjadi buruh pabrik. Lima belas tahun dari perpisahan itu aku bertemu di pelabuhan Kamal ketika aku mau pulang dari kuliah untuk berhari raya di kampung. Raheman bersama istri dan dua anaknya membawa beberapa kardus barang mau pulang kampung, toron. Kami berada dalam satu kendaraan. Dia bercerita kalau saat itu bekerja di pabrik sepatu. Dia banyak bercerita tentang kesulitan ekonomi yang membebabni hidupnya. Namun ia menggantungkan harapan kelak anak-anaknya bisa sekolah tinggi mendapatkan pekerjaan yang layak dan tidak mengalami nasib seperti dirinya.

Terakhir aku dengar Raheman kembali ke kampung halamannya membuka tambal ban kendaraan bermotor di tepi jalan belakang rumahnya.

Jumat, 29 Mei 2009

AKU INGIN

Aku inginkan
Setiap siswa memagang satu laptop
Di depan ada layar lebar
Ruangan ber AC
Dan full music

Siang itu musim kemarau suasana ruangan kelas amat gerah, karena ventilasinya buruk dan tempatnya gersang dikepung oleh gedung-gedung yang pengap melengkapi kegerahan dalam ruangan kelas. Aku sendiri bingung mau beraktivitas apa dalam ruangan jika suasana dalam kelas tidak memungkinkan. Lebih menyedihkan lagi aku diminta untuk memberikan materi menulis kreatif sebagai tambahan pelajaran bagi siswa kelas X.

Oke, bagaimana kalau siang ini kita mencoba menuliskan impian kita mengenai apa yang kita impi dengan sekolah yang kita cintai ini?Ajakku pada mereka.

Waktu empat puluh lima menit terasa berjalan lamban. Ada yang menerawang jauh ke dalam impian menembus langit-langit ruangan. Aku berkeliling mengamati pekerjaan mereka. Cukup menarik dari judul yang mereka tuliskan impian mereka sangat beragam. Ada yang menuliskan citacita; puisi pedas mengkritik seragam abu-abu; cinta mereka.

Meski begitu ada satu yang menarik yaitu potongan tulisan yang aku jadikan pembuka tulisan ini. Sebuah impian tetang SMAN 1 yang nyaman, modern, lengkap dan menyenangkan dalam pembelajaran. Aku terkesima mebaca impian anak yang saya lupa namanya, namun aku ingat impiannya mengenai sekolah ini. Begitulah seharusnya SMAN 1 ke depan. Tidak ada pilihan lain, sekolah ini harus banyak berbenah dengan lingkungan yang bersih, fasilitas sekolah yang yang harus terus-menerus berbenah.

Impian ini bukan isapan jempol, karena saat ini di sekolah telah memeliki laboratorium komputer, laboratorium multimedia, laboratorium fisika, kimia, biologi dan laboratorium bahasa. Serta memiliki tiga infocus dengan berbagai perangkat pembelajaran audivisual. Laboratorium Multimedia merupakan fasilitas baru bantuan dari pemerintah pusat bernilai seratus lima puluh juta rupiah dan dana sharing dari Komite Sekolah. Fasilitas yang memungkinkan untuk dapat memenuhi impian yang dikutipkan di pembuka tulisan.

Persoalannya adalah ketika impian itu menjadi harapan anak-anak kita, maka sudah seharusnya bapak dan ibu guru menyiapkan diri untuk bisa memanfaatkan aneka fasilitas yang ada. Sebab fasilitas teknologi tersebut sangat membantu kerja bapak ibu guru untuk bisa menemani dan mendampingi putra-putrinya belajar. Sekaligus kenyamanan ini dilengkapi dengan keterbukaan manjemen sehingga semua stakeholder bisa mengakses informasi yang diperlukan. Semua merasa nyaman dan memiliki, sehingga oimpian itu kemudian menjadi milik bersama untuk dapat menghasilakn produk unggul yang dibutuhkan oleh lingkungan. Produk yang mampu melahirkan pemimpin-pemimpin di masa depan. Pemimpin yang berkhlak mulia (Hidayat Raharja).

Minggu, 03 Mei 2009

SEKOLAH KAPER; 35 Tahun Yang Lalu

Oleh : Hidayat Raharja

: Terimakasih tak terhingga buat kedua orangtuaku – pendidik sejatiku
Mbah Fudhali, mbah Hadiyah, Nom Safi, Nom Zali (guru ngajiku)
Bapak Abdullah Fagi, Bapak Juwairi, Bapak Sudarmono, dan Bapak H. Abd. Gaffar Gatot (Almarhum).

Tak ada yang dapat aku kadokan buat guru-guruku tercinta yang telah membuatku bahagia di hari ini. Belualah yang telah memberikan bekal hidupku sehingga aku memahami peran dan tanggungjawabku sebagai manusia. Mereka para pendidik yang telah banyak berkorban untuk kemajuan belajar anak didiknya. Mereka tiada henti memberikan pencerahan bagi anak-anak desa seperti aku dan teman-teman di desa saat itu. Tak ada listrik – tak punya sepatu, buku terbatas dan masih dikucilkan oleh orang-orang karena sekolah kami bukan sekolah agama. Masih lekat dalam ingatanku sekolahku di SD negeri dicemooh sebagai Sekolah Kaper (Kafir).

Aku tak bisa melupakan jasa para guruku di SD karena mereka dengan pengabdian tulus dan ikhlas membuat kami menjadi mengerti dan memahami pendidikan. Pemahaman ini semakin dalam ketika aku sendiri menjadi guru di sebuah SMA yang berada di tengah kota dengan fasilitas belajar yang sangat lengkap dibandingkan dengan sekolah lain di kota ini.

Aku tak bisa membayangkan perjuangan para guru yang kusebut di awal tulisan dengan segala keterbatasan sarana dan fasilitas pantang menyerah untuk memberikan pendidikan yang terbaik buat anak didiknya.
Pertama; aku ingat pelajaran sejarah dan bahasa Indonesia yang diajarkan Bapak Moh. Yahya yang terkenal disiplin dalam mendidik bahkan cenderung dikatakan keras jika dibandingkan dengan kondisi kekinian. Namun aku takkan pernah lupa cara beliau menyampaikan materi dengan segala keterbatasan sekolah yang kami tempati. Beliau sangat kreatif, dengan hanya satu buku paket sejarah yang dipergunakan dalam satu kelas, beliau tidak menyuruh anak mencatat, tetapi beliau mengajatrkannya dengan mimik, ekspresi, dan suara lantang penuh tekanan tertentu serta dengan gerakan tubuh yang menguasai “panggung” kelas menjelaskan sejarah berdirinya kerajaan-kerajaan di jawa Timur, Perebutan Kekuasaan, dan menjelaskan proklamasi kemerdekaan yang dibacakan Soekjarno Hatta dengan penuh oratoris. Pengalaman yang takkan pernah aku lupakan bagaiman beliau berusaha untuk memudahkan anak didiknya mengerti apa yang diajarkannya.

Beliau begitu berapi-api ketika membacakan sajak-sajak Chairil anwar “AKU” saat mengajarkan deklamasi di depan kelas. Semangat yang bergelora, api semangat yang berapi-api di depan anak- didiknya yang tidak lebih dari tiga belas orang. Belasan orang murid yang dicarinya dengan susah payah blusukan ke pelosok-pelosok kampung supaya sekolah negeri ini ada muridnya. Perjuangan pantang menyerah yang beliau lakukan bersma0sama dengan bapak Asdullah Fagi memajukan sekolah negeri di desa ku.

Guru berhitung dan kesenian di kelas rendah, kelas 1 sampai dengan kelas 3. Oangnya sabar, murah senyum suka bergurau dan ada saja hal menarik yang dilakukannya; Bapak Abdullah Fagi. Kami dikenalkannya kepada teka – teki silang saat guru kelas kami absen karena ada sesuatu halangan. Dengan cekatan beliau menggambar ayam tanpa bulu (gundul) dengan leher pendek dan kakinya hanya sebelah, karena sebelahnya buntung. Gambar yang lucu, lalu kami diajaknya bernyanyai “ Ajam Tokkong” (Ayam Buntung) sebagai berikut:
Ajam tokkong
Le’er kene’
Sokona settong
Mon ajalan takadik co-loncoan
Tak tokkong tokkong
Tak tokkong tokkong

Terjemahan Bebasnya sebagai berikut:

(Ayam buntung
Leher pendek
Kakinya buntung
Kalau berjalan meloncat-loncat
Buntung buntung
Tak buntung buntung)

Tembang nyanyian yang akan selalu aku ingat saat kelas kosong atau ketika tengah jenuh belajar kami diajaknya bernyanyi “Ajam Tokkong”. Suatu metode yang sekarang cukup populer dengan Quantum Teaching ,35-an tahun yang lalu pak Fagi telah mengenalkannya kepaada kami.

Bapak H. Abd. Gafar Gatot (almarhum) semoga segala amal baiknya diterima di sisi Allah dan segala dosanya diampuniNya. Amin.
Guru yang sabar dan sangat demokratis, karena setiap memulai pelajaran selalu menanyakan murid-muridnya apa yang akan dipelajarinya. Setiap pilihan murid selalu dituruti dans etiap permintaan selalu dipenuhinya. Di alah yang mengenalkan kami pada Sinbad Si Pelaut. Bila tiba mata pelajaran keseniannya diajaknya siswa ke luar kelas ke bukit yang ada di sebelah selatan sekolah untuk menggambar sesuatu yang menarik untuk digambar oleh teman-temanku sekelas. Kami bebas menggambar dengan menggunakan pensil yang juga kami pergunakan untuk mencatat. Kami belum kenal pensil warna karena keterbatasan kami semua. Satu buku kadang diperguankan untuk catatan 3 mata pelajaran, minimal untuk dua mata pelajaran. Hal yang emnyenangkan ketika pelajaran menggambar tiba, sebab kami bebas ke atas bukit ke rumah penduduk sekitar yang kadang dikasih makanan atau sekedar buah-buahan. Kami sangat akrab dengan warga sekitar sekoalh di atas bukit yang ada di selatan sekolah kami.

Selesai menggambar kami diajak kembali ke dalam kelas dan disuruh utnuk menceritakan pengalaman yang ada dalam gambar yang kami buat. Semua tertawa. Semua bercerita.

Tahun 1974 ada droping guru besar-besaran ke berbagai wilayah Indoensia termasuk di dalamnya ke tanah Madura . Guru-guru yang kemudian dikenal dengan nama guru Inpres. Sekolah kami juga kebagian guru Inpres. Mereka datang dari daerah Bantul – Yogyakarta. Bapak Juwairi, Sudarmono dua orang guru yang mengajar di sekolahku. Mereka berdua banyak memberikan warna baru dalam sekolah kami. Kedatangan mereka disambut dengan terbuka oleh masyarakat desaku, mereka menjadi terkenal karena jauh-jauh dari Yogyakarta mau datang dan mengabdi desa kecil dengan gaji yang tak seberapa besar.

Pak Juwairi dengan kecakapannya mengajarkan aneka keterampilan dan seni, merubah suasana sekolahku, karena kemudian banyak produksi karya seni yang dihasilkannya bersama anak didiknya. Dari beliau kami kenal lampion kertas untuk hiasan; kami kenal gambar bergerak seperti dalam televisi dengan media kertas minyak dan lampu minyak tanah yang kemudian memutar gamar-gambar di kertas minyak karena pengaruh tekanan udara yang memuai akibat panas. Kami menyebutnya mainan “Televisi”. Diajarinya pula kami membuat patung kertas, kolase dan aneka bentuk prakarya dengan mempergunakan tanah lempung yang banyak melimpah di lingkungan sekolah.

Puncak karya beliau dengan anak-anak didiknya adalah sekolah kami memenangkan karnaval tujuh belas agustusan mengalahkankan Madrasah Ibtidaiyah di desa kami yang banyak siswanya dan memiliki pasukan musik drumband. “Perang Diponegoro” itulah tema karnaval yang beliau angkat. Tidak berlebihan kalau tema ini diangkat karena beliau berasal dari jawa tengah dan kami bisa menerimanya karena heroiknya Pangeran Diponegoro melawan kolonialisme.

Chalik yang dikenal dengan nama Cabang anak seorang kusir delman didaulat untuk menjadi Pangeran Diponegoro. Ia mengendarai kuda yang biasa dipergunakan menarik kusir ayahnya. Dengan pakaian jubah putih , keris di tangan dengan lantang diteriakkannya takbir menumbuhkan semangat perlawanan. Teriakan yang kemudian disambut oleh teman satu sekolah lainnya yang bercelana pendek bertelanjang dada dengan wajah dihiasi dengan langes – coreng-moreng. Tarian kolosal dan spektakuler memberikan sajian yang segar bagi masyarakat desa, bapak camat dan segenap muspika. Sampai sekarang tempik sorak penonton masih terekam dalam memori otakku. Bagaimana iringan drumband dari madrasah ibtidaiyah tenggelam ditelan hiruk pikuk perang diponegoro. Sehingga layaklah sekolah kami SD OMBEN dinobatkan menjadi juara I.

Bapak Sudarmono menjadi guru kami di kelas VI. Jarang tersenyum tetapi sangat rajin dan telaten membimbing kami belajar. Di waktu malam sehabis mengaji di langgar, kami diajaknya belajar bersam di rumah kontrakannya yang tak begitu besar. Tak ada listrik, sehingga ketika anak belajar bersama di rumahnya ia nyalakan lampu petromak dan dengan telaten menemani dan membimbing sampai pukul 21.00 wib. Kami tak membayar, tetapi pak darmono dan pak juwairi mengajarnya dengan rasa senang. Ketulusan dan niat ikhlas mereka selalu menggema dalam dada.

Kehadiran mereka semakin berkenan di hati masyarakat. Sebuah hubungan guru dengan masyarakatnya yang bisa sling mengisi, saling memberi dan bisa saling menerima. Masyarakat tidak mau ditinggalkan dan guru-guru itu tak mau mengabaikan. Mereka yang sampai kini tetap ada di desa kami membangun rumah, bermantukan orang desa tak kembali lagi ke tanah Yogya. Aku malu kepada mereka, karena betapa besar pengorbanan telah diberikan untuk mencerdaskan anak-anak didiknya. Aku takkan pernah mampu membalas jasanya.

35 tahun kemudian, saat ini kejadian ini sudah menjadi basi tak ditemukan lagi dalam sekolah kami.

Selasa, 28 April 2009

BELAJAR DAN MENGAJAR BIOLOGI YANG MEMBEBASKAN

Oleh : Hidayat Raharja*

Perlakukanlah orang lain sebagaimana mestinya, maka anda membantu mewujudkan berbagai potensi mereka – (Goethe)
Peserta didik adalah individu yang unik. Setiap individu memiliki keunggulan yang berbeda . Maka tidak berlebihan jika setiap anak memiliki potensi untuk berkembang menjadi individu yang berprestasi. Bakat-bakat yang terpendam bisa dilihat dari perilaku anak yang khas, berbeda dari yang lain Sehingga seringkali kenakalan yang ditunjukkan seorang anak merupakan gambaran kecerdasan yang dimiliki anak bersangkutan.

Kecerdasan peserta didik dapat ditunjukkan oleh kenakalannya, adalah sesuatu yang menarik untuk ditekuni dan ditelusuri pada setiap pribadi anak. Sebab, disitulah akan terlihat apa yang disenangi anak. Namun seringkali orangtua atau guru tidak suka melihat peserta didik melakukan kesalahan atau melakukan sesuatu yang tidak disukainya. Suatu larangan kadang membuat peserta didik takut untuk melakukan apa yang disukainya, dan sebenarnya itu merupakan bakat dan kecerdasannya yang harus dikembangkan.


Foto. Siswa SMA negeri 1 Sumenep tengah melakukan praktikum fermentasi /respirasi anaerob

Howard Gardner ( 2002) memaparkan ada sembilan kecerdasan yang dimiliki manusia. Multiple intelegent atau kecerdasan majemuk mencakup; kecerdasan bahasa - linguistik, cerdas logika -matematis, cerdas gambar- spasial, cerdas tubuh - kinestetik, cerdas musik- musical, cerdas bergaul - interpersonal, cerdas diri- intrapersonal, cerdas alam - naturalis, dan ada kecerdasan eksistensial.

Aneka macam kecerdasan tersebut membuka kesadaran bagi orangtua atau guru bahwa seseorang yang tidak pintar matematika, bukan berarti tidak cerdas. Sebab, bisa saja seseorang yang tidak cerdas matematika memiliki kecerdasan musikal. Bagi mereka yang memiliki kecerdasan musikal terbuka peluang untuk mengembangkan kecerdasannya menjadi sebuah profesi yang dapat menjadi sumber penghidupannya. Siapa yang akan menyangkal bahwa David Beckam memiliki kecerdasan kinestetiuk dan menjalani profesinya sebagai pesepakbola. David mendapat bayaran mahal hanya dengan keterampilannya menggiring, menendang, dan memasukkan bola ke gawang lawan. Dia menjadi bintang pop, kaya dan menjadi ikon kesuksesan pesepakbola. Apakah peserta didik yang memiliki kecerdasan kinestetik dianggap tidak cerdas dibandingkan dengan mereka yang cerdas matematika.

Suatu ketika seorang peserta didik meminta ijin kepada guru di kelas karena ia harus latihan teater untuk mengikuti festival teater tingkat nasional. Guru biologi cemberut saat siswa tersebut meminta ijin, karena beranggapan anak tersebut meremehkan mata pelajaran biologi. Sehingga, meski diijinkan tidak mengikuti pelajaran peserta didik dibebani dengan tugas yang amat memberatkan. Hal semcam ini banyak ditemui di lingkungan sekolah formal, karena masih banyak persepsi bahwa cerdas hanya sebatas pintar matematika dan mata pelajaran IPA mau pun bahasa Inggris.

Dalam perkembangan dinamika kehidupan, banyak hal yang bisa dikembangkan pada peserta didik. Dia tidak hanya dituntut untuk cakap secara akademis, tetapi perlu pula dibekali dengan kecakapan hidup (life skill). Kecakapan yang kelak akan sangat bermanfaat bagi kehidupannya di tengah masyarakat. Kecakapan yang akan sangat membantu untuk mempertahankan hidup di tengah masyarakat yang heterogen.

Kecakapan hidup tidak semata-mata terkait dengan motif ekonomi – keterampilan untuk bekerja, tetapi juga menyangkut aspek sosial budaya seperti cakap berdemokrasi, ulet, memiliki budaya belajar sepanjang hayat, pendidikan yang memberi watak dan etos.

Implementasi kecakapan hidup di dalam sekolah menengah Umum terfokus kepada lima hal:
(1) Reorientasi pembelajaran menuju pembelajaran dan evaluasi yang efektif,(2) Pengembangan Budaya Sekolah, (3) peningkatan efektivitas manajemen sekolah, (4) Penciptaan hubungan sinergis sekolah – masyarakat, dan (5) pengisian muatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat, termasuk pendidikan kecakapan vokasional ( Direktorat Dikmenum, 2002:24).

Kecakapan hidup adalah kecakapan yang dimiliki sesorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya.
Kecakapan hidup dapat dipilah menjadi 4 jenis, antara lain;
Kecakapan personal (personal skill) mencakup kecakapan mengenal diri (self awarness) dan kecakapan berpikir rasional (Thinking Skill).
Kecakapan sosial (social skill)
Kecakapan akademik (academic skill)
Kecakapan vokasional (vokasional skill)
(direktorat Dikmenum,2002. Konsep dasar dan Pola Pelaksanaan Pendidikan Beroirientasi Kecakapan Hidup (Life Skill) di SMU melalui Pendekatan Pendidikan Berbasis Luas (Broad Based Education)

Dr. Avernon Amagnensen (De Porter,2000) menjelaskan bahwa kita kita belajar; 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan dengar, 70% dari apa yang kita katakan, dan 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan.
Jika menyimak pendapat Amagnensen, penganekaragaman media dan sumber belajar akan sangat membantu penegmbangan kecerdasan peserta didik. Perkembangan peralatan teknologi memungkinkan untuk penganekaragaman pembelajaran dengan senantiasa meningkatkan peran guru sebagai fasilitator, dan menjadi partner belajar peserta didik.
Sayang, jika potensi dalam diri anak-anak kita di usia remaja terhambat perkembangannmya hanya karena persepsi guru yang keliru memaknai kecerdasan. Anggapan semacam ini perlu dicarikan solusi untuk senantiasa mengembangkan kecerdasan peserta didik yang beraneka ragam, sehingga kelak mereka bisa menyelamatkan dirinya dengan memanfaatkan berbagai kecerdasannya dalam kehidupan.

Alam membekali anak dengan kepekaaan pada keteraturan. Kepekaan yang berasal dari dalam diri bukan membedakan objek, melainkan lebih membedakan kepada hubungan antarobjek itu sendiri. Dengan demikian, kemampuannya ini membentuk keseluruhan lingkungan yang terdiri-dari bagian –bagian yang saling bergantung. Ketika seseorang dihadapkan pada lingkungan ini , dia akan dapat mengarahkan kegiatannya untuk mencapai tujuan- tujuan tertentu. Lingkungan semacam ini adalah dasar bagi kehidupan yang terintegrasi ( Maria Montessori, 1972:55).

Pandangan Montessori mengingatkan pada orangtua dan guru, bahwa anak memiliki bakat yang akan berinteraksi dengan alam lingkungannya, dan mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi berdasarkan pengalaman yang diperolehnya.

Dalam kehidupan belajar di kelas dengan aneka ragam siswa yang berbeda latar belakang dan kepentingan membutuhkan adanya suatu aturan-aturan atau keterauran sehingga mereka bisa belajar saling berinteraksi sekaligus bisa memenuhi kebutuhan bersama. Maka dibutuhkan kesepakatan-kesepakatan, penghargaan, hukuman dalam setiap permainan atau pembelajaran yang dilakukan. Sepantasnya jika ada anak yang melakukan pelanggaran untuk mendapatkan hukuman, sebaliknya bagi mereka yang berhasil melakukan sesuatu dengan baik patut mendapatkan penghargaan atau merayakannya.


Jika satu-satunya alat yang ada pada Anda adalah palu, Semua yang ada di sekitar Anda akan kelihatan seperti paku. (Abraham Maslow)
Guru menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan belajar seorang anak. Guru sebagai partner belajar perlu memahami kebutuhan dan latar belakang anak yang berbeda. Pemahaman semacam ini amat penting, karena akan berpengaruh pada yang akan dilakukan guru terhadap peserta didik. Sebagaimana yang dikemukakan Maslow, jika guru hanya memandang peserta didik dengan satu sudut pandang, maka semua kan diperlakukan sama. Guru perlu memiliki banyak alat untuk dapat membantu peserta didik mengembangkan diri dan kemampuannya, sehingga bisa berkembang secara optimal.

Peran guru sebagai fasilitator akan sangat dipengaruhi oleh kecakapan guru dalam memahami keberagaman latar belakang dan kebutuhan anak, sehingga guru harus memiliki aneka macam pilihan tindakan terhadap peserta didik yang berbeda. Pemahaman yang akan mampu melejitkan kemampuan peserta didik. Banyak alat atau strategi yang dimiliki oleh guru sehingga bisa menghidupkan suasana kelas dan memenuhi tuntutan kebutuhan yang berbeda.

Di era perkembangan teknologi ionformasi dan komunikasi yang demikian pesat, guru tidak lagi menempatkan dirinya sebagai satu-satunya sumber informasi bagi anak didiknya. Guru berada dalam posisi partner belajar siswa, personal yang mampu menemani, membimbing, dan mengarahkan siswa untuk menemukan potensi diri, sehingga anak didik memiliki pengalaman belajar yang bermakna bagi hidupnya. Pertaruhan berat bagi guru yang kepalang terbiasa dengan sikap dominan dan diktator. Namun amat mulia dan berbahagia bagi mereka yang mampu menempatkan diri sebagai partner belajar. Posisi yang demikian itu akan menciptakan suasana belajar yang bisa saling berbagi dan demokratis. Sikap terbuka seorang guru yang akan selalu bersikap terbuka untuk melakukan inovasi pembelajaran.

PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang saling asah, silih asih, dan silih asih antara sesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata.
Elemen dalam pembelajaran kooperatif ;
saling ketergantungan positif
interaksi tatap muka
akuntabilitas individual
keterampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi atau keterampilan sosial yang secara nyata sengaja diajarkan
( Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK) Nurhadi, Agus Gerard Senduk, Malang: Universitas Negeri Malang, 2000: 60)

Kemajuan teknologi telah membukakan kesempatan bagi semua orang untuk ikut berpartisipasi. Komputer telah secara efektif “Mendemokratisasi” bidang-bidang tersebut sehingga semua orang yang punya komputer pribadi, sepotong ide mampu menjadi produsen informasi secara aktif (Bengkel Kreativitas, 2002: 284). Jordan E Ayan. Bandung: kaifa)


Suatu kenyataan yang masih sering kita temukan dalam proses pembelajaran di kelas, guru masih mendominasi sebagai satu-satunya sumber informasi. Anak didik hanya sebagai obyek yang terus-mnerus dicecoki tanpa pernah diberi kesempatan untuk melakukan aktualisasi diri, dan menentukan dirinya sendiri.

Tidak sedikit guru yang selalu menumpahkan kesalahan kepada peserta didik saat hasil ujian yang dilakukan menunjukkan ketuntasan belajar yang dicapai tidak memnuhi tuntutan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Seringkali siswa yang disudutkan tidak mau belajar. Pada hal siswa sudah belajar untuk mendapatkan nilai yang terbaik. JiKA demikian masihkah sumber kesalahan hanya berpusat pada diri peserta didik? Tidak dapat saya bayangkan jika seorang siswa SMA harus melahap dan menguasai 13-17 mata pelajaran setiap minggu. Dapat dipastikan setiap siswa tidak mungkin untuk menguasai mata pelajaran sebanyak itu. Kalau tawaran Neil Postman (2002) kita telaah mampukah guru lebih unggul dari siswanya? Andai guru mempelajari tiga belas mata pelajaran selama satu minggu dan murid hanya diberi kewajiban untuk mempelajarti satu mata pelajaran, kemudian dilakukan tes sebagaimana guru melakukan tes terhadap siswanya. Apakah guru mampu menguasai tiga belas mata pelajaran yang dibebankan kepada murid-muridnya? Tentu saja tidak !

*****

Belajar Yang Mengasyikkan

Benarkah sekolah formal telah berubah menjadi penjara. Gedungnya di batasi oleh tembok-tembok yang memisahkan penghuninya dari lingkungan sekitar dan lingkungan sosialnya. Guru-gurunya laksana sipir penjara yang mengawasi setiap aktrivitas siswanya seperti yang diperintahkannya. Setiap keslaahan harus diimbali dengan hukuman fisik tanpa pernah mencari tahu duduk persoalan datangnya pelanggaran.

Kritisi yang dibangun oleh Paolo Fraire bukan sesuatu yang musathil jika sekolah hanya memandang hubungan guru dengan anak didik sebagai hubungan antara subjek dengan obyek. Guru sebagai subyek yang menguasai dan murid sebagai obyek yang dikuasai. Suatu sikap dominansi yang seringkali berwujud sebuah penindasan dan pemaksaan sehingga peserta didik menjadi tidak berdaya. Gambaran ini muncul karena sekolah pada umumnya tidak mampu memfasilitasi kebutuhan anak didik yang beraneka ragam. Peserta didik dengan latar belakang dan kemampuan yang beraneka ragam tetap diperlakukan dengan cara yang sama.

Peserta didik hanya dijadikan sebagai obyek bukan subyek yang dinamis yang bisa berkembang dan memiliki kreativitas. Anak didik hanya dilihat sebagai benda yang seperti wadah untuk menampung sejumlah rumusan/dalil pengetahuan. Semakin banyak isi yang dimasukkan oleh gurunya dalam “wadah” itu, maka semakin baiklah gurunya. Karena itu semakin patuh wadah itu semakin baiklah ia. Pada hal banyak hal yang ada dalam diri siswa yang berbeda dengan guru yang harusnya berkembang sebagai kepribadian dan karakter siswa yang unik. (Pendidikan Yang Membebaskan Menurut Paulo Freire dan Relevansinya dalam Konteks Indonesia oleh Marthen Manggeng, INTIM - Jurnal Teologi Kontekstual Edisi No. 8 - Semester Genap 2005:41)

Sekolah sebagai minisocity tidak lagi mencerminkan sebagai ruang penjara, namun sebagai ruang yang mencerminkan miniatur masyarakat. Kepala sekolah sebagai top manajer yang menjalankan roda pemerintahan dalam sekolah, guru dan staf tata usaha sebagai pelaksana kebijakan sekolah untuk melayani masyarakat sekolah, antara lain adalah anak didik yang tengah menenmpuh pendidikan dan belajar di dalamnya. Belajar hidup melalui aneka kegiatan intra kurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler, sehingga memperoleh pengaalaman hidup bermakna untuk bekal kembali ke etngah-tengah masyarakatnya.(Dinas P dan K Jatim:2004)

Sekolah tidak bisa memungkiri untuk menjadi sebuah lembaga yang mampu mengembangkan dan melejitkan sembilan potensi kecerdasan yang dimiliki oleh anak didik sehingga kelak mereka setelah keluar dari lembaga persekolahan mampu menyelamatkan diri menghadapai ancaman dan tantangan hidup. Mereka menjadi manusia yang mampu berinteraksi di tengah masyarakatnya tanpa kehilangan identitas di tengah percaturan masyarakat global.

Untuk mencapai ke arah pembentukan kepribadian yang sesuai dengan bakat dan minta atau kecerdasannya yang beraneka ragam, maka sepantasnya kalau anak didik diperlakukan tidak sama dalam belajarnya.

Pembelajaran yang dapat dilakukan dengan menempatkan siswa sebagai subyek belajar dengan aneka pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM). Tuntutan pembelajaran semacam ini adalah mutlak dilakukan untuk membebaskan anak dari tekanan-tekanan belajar yang membuat mereka ketakutan. Sebagaimana juga diamanatkan dalam UU Sisdiknas tahun 2003 bahwa, pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis(Depdiknas RI, 2003:28)


Hal ini amat menarik dilakukan, karena kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk melakukan aktualisasi diri akan ditemukan keunikan dan beraneka macam kecerdasannya. Juga hal semacam ini merupakan amanat yang termaktub dalam peraturan pemerintah mengenai guru mengenai komptensi guru yang mensyaratkan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurangkurangnya meliputi:
a. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan;
b. pemahaman terhadap peserta didik;
c. pengembangan kurikulum atau silabus;
d. perancangan pembelajaran;
e. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis;
f. pemanfaatan teknologi pembelajaran;
g. evaluasi hasil belajar; dan
h. pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya (PP 74 Tahun 2008 pasal 3 ayat 4 : halaman 6)

Ada sebuah tuntutan untuk membuat siswa bisa “hidup di atas garis”, memiliki sebuah keetrampilan hidup yang kuat, menekankan, dan mempraktikkan: integritas (ketulusan), kegagalan sebagai alat untuk mencapai kesusksesan, hidup di saat ini, berbicara dengan niat baik, komitmen, tanggungjawab, luwes atau fleksibel, keseimbangan ( De Porter 2000: 48 dan 197)


RENCANA KEGIATAN
Pada pelajaran biologi kelas XII - IIA di SMA Negeri 1 Sumenep. Penulis memiliki pengalaman yang sangat menarik di saat bekerjasama dengan siswa untuk menyajikan pembelajaran menurut kesukaan siswa.
Kegiatan ini berawal dari permasalahan kejenuhan siswa terhadap sajian materi biologi yang selama ini mereka terima. Juga dilandasi adanya perbedaan kecakapan yang dimiliki siswa sehingga perlu untuk dilakukan pembelajaran yang lebih variatif.

Pilihan pembelajaran ini dilakukan pada materi Bioteknologi. Siswa dalam kelas dibagi ke dalam sembilan kelompok, dan setiap kelompok diberi tugas menjelaskan setiap macam bioteknologi. Ada kesepakatan-kesepakatan yang tercetus pada saat itu bahwa setiap kelompok diberi kebebasan untuk menyajikan materi sesuai dengan kecerdasan setiap kelompok. Artinya dalam penyajian tersebut siswa diberi kebebasan untuk menyampaikan materi melalui bermain peran, animasi, teater, power point, melalui musikal dan semacamnya.


PELAKSANAAN KEGIATAN
Di awal minggu pada sajian kelompok yang pertama terlihat siswa masih ragu-ragu, kurang percaya diri untuk mempresentasikan hasil kerja kelompok di hadapan teman-temannya. Satu – dua kelompok menyajikan materi dengan ceramah dan diskusi. Masih belum terlihat inovasi yang mereka lakukan. Siswa yang mempresentasikan tugas hasil diskusi kelompok memegang ringkasan materi yang dijelaskan. Sajian semacam ini membuat suasana kelas jadi gaduh, karena kelompok yang lain tidak merespon dengan baik. Penyajian semacam hampir terjadi di seluruh kelas. Monoton dan kurang komunikatif, karena penyaji tidak memperhatikan audiens, sehingga audiens tidak perduli terhadap apa yang disampaikan penyaji.:
1. kelompok kurang kreatif dalam menyajikan materi
2. anggota kelompok belum tahu dengan cara apa bisa memberikan sajian yang menarik
3. kelompok diskusi yang lain sibuk dengan tugasnya sendiri

Observasi:Untuk memberikan stimulasi bagi kelompok yang akan menyajikan presentasi berikutnya secara inovatif, maka penulis menayangkan salah satu tayangan materi pelajaran (konsep) Fotosintesis yang disajikan dengan cara musikal dan teatrikal. Dua materi tersebut penulis unduh dari website –YouTube.

Saat melihat tayangan yang disajikan lewat infocus, siswa seperti terhipnotis menyaksikan tayangan berdurasi 3 menit 36 detik. “Kalian pasti bisa membuat semacam ini dengan kreativitas yang berbeda!” Ajak penulis kepada siswa dalam ruangan. Bagaimana sanggupkah kelompok yang akan tampil berikutnya untuk menyajikan presentasi yang lebih variatif dan inovatif? Dengan suara kompak siswa menyatakan kesanggupannya, “Sanggup!!!”

Pada penyajian di minggu-minggu berikutnya, mulai tampak inovasi dan kreativitas siswa untuk menyajikan tugas hasil diskusi kelompok. Salah satu kelompok yang diberi tugas untuk menjleaskan mengenai fermentasi, menyajikan materi melalui permainan peran.

Bermain Peran Peragian Tempe
Aku adalah kedelai yang telah dimasak dan terkelupas kulitnya.
Aku adalah ragi Rhizopus oligosporus
Dua pemeran tersebut bergerak ke tangah ruangan saling mendekat dan berangkulan yang menyimbulkan kedelai telah ditaburi ragi. Kedua pemeran lalu melakukan gerakan tubuh berputar perlahan, berputar semakin cepat yang menunjukkan berlkngsungnya reaksi fermentasi antara kedelai dengan ragi. Gerakan mereka kemudian terhenti dan bergandengan keluar dari arena; Akulah Tempe.

Sajian yang sangat sederhana, tetapi siswa berusaha untuk membuat alternatif penyajian selain dengan mempraktikan cara pembuatan tempe. Cara seperti ini untuk menguatkan pemahaman siswa bagi mareka yang memiliki kepekaaan kinestetik. Kelompok lain sebagai audiens merespon dengan baik apa yang telah disajikan di hadapannya. Seusai penyajian bermain peran tersebut, dilanjutkan dengan diskusi antar kelompok.

Animasi Pembuatan Beer
Sesuatu yang menarik juga tampak pada kelompok yang menyajikan fermentasi beer. Mereka menyajikan sebuah animasi dengan memanfaatkan kertas kardus sebagai papan animasi.

Salah satu kelompok di penyajian minggu berikutnya menyajikan materi mengenai pembuatan beer. Mereka berbagi peran dan selembar kardus animasi. Bagan proses pembuatan beer digambar dalam selembar karton tebal dan hubungan antar proses pada gambar di buat berlubang. Pada lubang tersebut diberikan tombol yang berguna untuk menunjukkan arah proses yang berlangsung pada proses pembuatan beer.
Sebuah permainan yang cukup menarik sehingga siswa lebih interaktif dan komunikatif dengan teman mereka yang melakukan presentasi. Kerjasama di antara kelompok untuk berbagi peran dan menjadikan suasana lebih komunikatif.



Boneka Pengolahan LimbahPada kesempatan yang lain sebuah kelompok menyajikan presentasi pengoalahan limbah menjadi biogas. Ada Boneka Sapi, Gambar eksoistem ayng ditempel di papan, peran petani yang dimainkan oleh anggota kelompok lainnya.

Presentasi dimulai dari seuah kisah percakanapan antara sapi dengan petani yang ada di tengah perladangan yang luas. Cerita kemudian berlanjut dengan tumpukan kotoran sapi yang ada di tanah lapang, dan kemudian berlanjut kepada penjelasan mengenai pengolahan limbah organik menjadi biogas.

Ide yang cukup menarik dari anak didik untuk mempresentasikan pengetahuan yang dipelajarainya dengan media yang diakrabinya.

Teatrikal Bayi Tabung
Di panggung anggota kelompok membagi peran untuk menjelaskan teknologi bayi tabung dengan berbagai peralatan keranjang, boneka, dan beberapa tulisan besar di atas karton untuk memperjelas permainan peran yang akan dilakukan.Menariknya penyajian kelompok ini dilakukan dengan mengisahkan pasangan keluarga yang merindukan kehadiran seorang anak di antara mereka. Namun, impian tersebut tidak pernah bisa terwujud, sampai kjemudian mereka memutuskan untuk ikut program bayi tabung.

Kisah kemudian berpanjut kepada teknik pembuatan bayi tabung dengan berm,ain peran, ada yang berperans ebagai ovum, sperma dan kemudian proses fertilisasi invitro dan implantasi embrio di dalam rahim. Sampai permainan berakhir ketika sang jabang bayi lahir. Kedua pasangan keluarga itu berbahagia dengan hadirnya anak hasil teknologi bayi tabung yang mereka ikuti.



Bermain Peran Kloning Domba DollyDi sudut aula sekolah beberapa siswa dalam kelompok membagi peran : domba pertama yang diambil ovumnya; domba kedua diambil sel ambing; domba ketiga sebagai ibu titipan (surrogate mother).

Permainan dimulai dengan gerakan tubuh pemeran domba pertama sambil memnunjukkan sel ovum yang digambar dalam selembar kertas ditunjukkan di hadapan audiens. Ada adegan melepas bagian inti ovum sehingga sel telur hanya tinggal wadah.

Pemeran Domba kedua bergerak ke tengah panggung dan menunjukan gerakan yang diambil sel ambing. Inti sel ambing diambil dan gerakan menunjukkan penyisipan inti sel ambing ke dalam sel telur domba pertama. Telur yang terdiri dari fusi antara inti sel ambing dan sel telur diperagakan dengan menyatunya dua pemeran dalam satu pelukan. Untuk menstimulasi telur supaya membelah maka gerakan berikutnya seorang pemeran dengan karton bergambar aliran listrik beregrak di antara dua pemeran yang berangkul sehingga rangkualn terpecah menandakan adanya pembelahan sel akibat kejutan listrik. Adegan dilakukan berulang kali yang menandakan terjadi pembelahan sel telur sehingga menjadi beberapa sel (embrio). Selanjut embriodiimplantasikan ke pemeran domba ketiga (surrougate Mother) sampai proses buinting berlangsung dan ekmudian lahir domba dolly.

Animasi Power Point
Pilihan lain yang tidak kalah menariknya dalam penyajian dengan memanfaatkan teknologi komputer. Program presentasi dalam microsoft power point. Sajian yang cukup menarik karena setiap kelompok penyaji berusaha menampilkan sajiannya secara menarik. Beberapa kelompok mampu memanfaatkan program microsoft power point secara menarik memanfaatkan fasilitas gambar, video, dan animasi secara optimal.

*****

Pengalaman belajar bersama dengan memberikan kebebasan bagi siswa untuk mengekspresikan apa yang telah dipelajarinya mengungkapkan aneka kecerdasan yang dimiliki siswa. Mereka bisa mengungkapkan kesukaan dan kecakapannya untuk memberikan penyajian yang terbaik. Banyak hal tidak terduga muncul dalam penyajian, karena aneka sumber informasi di jelajahi untuk memberikan informasi yang lengkap.



Refleksi:Dari aneka presentasi yang dilakukan siswa ditemukan beberapa catatan reflektif, antara lain:

Siswa merasa dirinya diberikan kebebasan untuk menyajikan suatu yang terbaik bagi teman-temannya.

Ada kompetisi antar kelompok siswa untuk memberikan sajian terbaik dan mudah dipahami.

Interaksi antar siswa cukup menarik, terutama setelah selesai satu kelompok presentasi, maka kelompok yang lain bersiap dengan aneka pertanyaan yang mengarah pada pendalaman materi yang telah dipresentasikan.
.
Kerjasama dalam kelompok terlihat dalam pembagian tugas yang dilakukan oleh setiap kelompok

Munculnya aneka macam kecerdasan (multiple intelegensi) yang dimiliki siswa.

Siswa mampu memanfaatkjan teknologi informasi dalam belajar mereka. Fakta ini terlihat bahwa seluruh kelompok yang melakukan presentasi menjadikan internet sebagai salah satu sumber pencarian informasi.

Sebagian kelompok sudah tidak asing dengan media pembelajaran berbasis teknologi informasi, antara lain:
a.Beberapa kelompok membuat program power point mulai dari bentuk sampai kebtuk penyajian yang mengaplikasikan program animasi dan, auido dan video.
b. beberapa kelompok membawa noteboook sendiri untuk meyakinkan penyajian yang akan mereka lakukan.
c. beberapa siswa merekam presentasi yang dilakukan dengan mempergunakan perangkat yang terdapat dalam handphone.

Sementara bagi guru pemberian kebebasan untuk mencari sumber belajar dan mempresentasikannya di depan kelas memberikan makna yang sangat siginifikan, antara lain:

Penguasaan teknologi informasi. Sbagian besar siswa telah mampu memanfaatkan berbagai sumber informasi berbasis teknologi informasi memberikan arti guru bukan sebagai satu-satunya sumber informasi dalam pembelajaran. Guru menjadi lebih leluasa untuk melakukan pembelajaran yang berorientasi kepada siswa, dan akan tampak perannya sebagai fasilitator dan partner belajar siswa.

Sangat memungkinkan informasi yang disampaikan siswa belum didapatkan guru, sehingga guru dapat sekaligus belajar dan mengembangkan wawasan bersama.

Poisisi guru sebagai partner belajar siswa, akan membuat kedudukan setara secara keilmuan, sekaligus guru bisa mengevaluasi dan mengarahkan jalannya pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk menyerap dan menyampaikan informasi secara leluasa tanpa lepas dari tujuan pembelajaran yang dilakukan.

Pengalaman semacam ini akan memperkuat peran siswa sebagai pembelajar termotivasi untuk menggali informasi dan mengembangkan diri. Siswa secara antusias mencari informasi-informasi baru yang kemudian didiskusikannya bersama di dalam kelas. Guru berperan sebagai partner, fasilitator dan motivator sehingga siswa sebagai subyek belajar dapat melakukan aktivitas secara optimal dan pembelajaran dapat berlangsung secara efeltif dan menyenangkan.

Hasil test terhdap pembelajaran dengan membebaskan anak untuk mencari sumber informasi dan mempresentasikannya sesuai dengan kecakapan atau kesuakaan yang dia lakukan secara menarik dari 163 siswa dari empat kelas rombongan belajar mencapai ketuntasan belajar 99,07engan Kriteria ketuntasan minimal 75. Hanya enam siswa yang harus melakukan program remedial.

Penutup
Belajar adalah sesuatu aktivitas yang menuntut keterlibatan seluruh aspek dalam diri peserta didik sehingga kemudian termotivasi untuk mencari dan menggali sumber informasi. Motivasi yang meniscayakan untuk memungkinkan siswa mengembangkan potensinya secara positif dan berkembang secara dinamis.

Pembelajaran yang memberikan kebebassan bagi peserta didik untuk mencari dan menggali informasi, kemudian mempresentasikan, dan mendiskusikan hasil belajarnya bersama kelompok lain dalam kelas. Perlakuan yang membawa pengaruh positif terhadap aktivitas dan hasil belajar peserta didik, antara lain:
1. Terserapnya aneka informasi yang beraneka ragam dari siswa dan tidak hanya menggantungkan informasi dari guru dan buku paket.
2. siswa mampu memanfaatkan internet dan sumber informasi lain untuk dijadikan sumber informasi dalam proses belajarnya
3. peran guru menjadi lebih tertuju kepada partner belajar dan fasiltator yang mendampingi siswa belajar, sehingga tercapai sistem pembelajaran yang egaliter atau demokratis. Siswa dan guru memeliki kedudukan yang sama, sebagai pencari dan bertukar informasi
4. terbangunnya kerjasama antar siswa baik dalam kelompok atau antar kelompok, sehingga bisa mengasah kecakapan sosial di antara mereka
5. Ketuntasn hasil belajarnya melebihi KKM yang telah ditetapkan 75, dengan prosentase ketuntasan belajar 99,07 %.
Saran

Untuk Guru:Sudah saatnya pembelajaran yang berpusat kepada guru dan perserta didik sebagai obyek harus segera ditinggalkan, karena makin banyak dan kian terbukanya sumber belajar yang bisa diakses siswa.

Siswa sebagai subyek belajar memiliki potensi yang harus bisa berkembang untuk mengaktualisasikan kemampuannya. Aktualisasi kecerdasan yang beraneka ragam ini dapat nmuncul apabila guru memberikan kesemopatan kepada siswa untuk kerja sesuai dengan kecerdasannya.

Untuk Siswa:Semakin terbukanya ruang informasi bersama kemajuan teknologi adalah peluang besar untuk mampu menyerap informasi secara positif sehingga bisa mengembangkan kecerdasan setiap siswa untuk mengaktualisasikan kecerdasannya.






Daftar Pustaka

Amstrong, Thomas. 2002. Seolah Para Juara –Yudhi Martanto (penerjemah) – Bandung: Kaifa.


Gardner, Howard.1993. Multiple Intelegences: The theory in Practice , New york: Basic Book.

Jordan E Ayan, 2002. Bengkel Kreativitas. Bandung: kaifa

Manggeng, Marthen. 2005. Pendidikan Yang Membebaskan Menurut Paulo Freire dan Relevansinya dalam Konteks Indonesia dalam INTIM - Jurnal Teologi Kontekstual Edisi No. 8 - Semester Genap 2005 halaman 41-44

Maria Montessori, 1972- The Secret Of Childhood. New York: Ballantine.

------------,2008.Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

----------,2003. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Depdiknas RI

----------,2005. Penyelenggaraan School Reform dalam Konteks MBMBS SMU- disampaikan pada workshop Bantuan Operasional manajemen Mutu (BOMM) tahun 2004 . Surabaya: Pemprov Jawa Timur – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Subdin Dikmenum.

Postman, Neil. 2002. Matinya Pendidikan Redefinisi Nilai-nilai Sekolah, Yogjakarta:Jendela.

Kamis, 26 Maret 2009

PENDIDIKAN ANTI KKN DAN ANTIKORUPSI

Rencana implementasi pendidikan anti KKN dan anti korupsi melalui mata pelajaran agama, PKn dan bahasa indonesia yang akan dilaksanakan di lingkungan dinas pendidikan dan kebudayaan provinsi Jawa Timur merupakan sebuah respon terhadap upaya pemberantasan korupsi yang merajalela di negeri ini.

Jika diumpamakan tindakan KKN dan Korupsi laksana penyakit, dapat dikategorikan penyakit kanker kronis dan belum ditemukan terapi yang mampu menuntaskan penyakit tersebut sampai ke akar-akarnya.

Dalam konteks pendidikan dan budaya, akutnya tindakan KKN dan Korupsi di negeri ini
Merupakan sebuah indikasi gagalnya pendidikan moral dan akhlak mulia yang sebenarnya merupakan tujuan mulia yang diamanahkan pendidikan nasional kita. Kegagalan yang banyak disebabkan karena pendidikan moral hanya dibebankan kepada guru agama dan PKn, pada hal setiap mata pelajaran memiliki tanggungjawab untuk menumbuhkan dan menanamkan nilai-nilai akhlak mulia.

Jangan-jangan dimunculkannya pendidikan antikorupsi dan anti KKn hanyalah sebuah jargon yang dalam implementasinya akan banyak memberikan beban verbalistik bagi anak didik kita. alangkah baiknya jika semua mata pelajaran yang diampukan dalam pendidikan formal untuk mengimplementasikan pendidikan antiKKN dan antiKorupsi melalui materi yang relevan. Hal ini pantas dilakukan karena secara hakikat pendidikan nasional menghendaki terbentuknya insan yang bertakwa dan berakhlak mulia.

Pendidikan antikorupsi dan antiKKN memerlukan ketauladanan dari para pelaku pendidikan di sekolah dan para pejabat pemerintahan. Kita butuh figur bukan slogan.